
"Bagaimana Aamir, apakah kamu bersedia?" todong Pak Marwan langsung dengan wajah yang penuh harap. Aamir hanya bisa terdiam dan tertegun dengan pertanyaan yang ditodongkan oleh Pak Marwan tersebut. Namun, beberapa saat kemudian iapun sadar dari ketertegunannya, bahwa dua orang yang ada dihadapannya saat ini tengah menunggu jawaban darinya.
"Maaf Pak Marwan, Pak Daud... Bukannya saya lancang dan ingin buru - buru menolak tawaran dari Pak Marwan ini. Tapi, saya merasa ilmu saya masih sangat kurang jika dihadapkan dengan situasi seperti ustad Ghufron. Saya sendiri sebenarnya masih ragu dengan kemampuan saya sendiri, saya takut nantik malah mengecewakan Pak Daud dan juga Pak Marwan jika tidak berhasil merubah anak Pak Marwan seperti yang diingin kan oleh bapak berdua ini." kata Aamir dengan rasa tidak percaya dirinya.
"Ustad Ghufron awalnya dulu juga berkata begitu, Aamir. Dia merendahkan diri dan menganggap dirinya tidak mampu, tapi nyatanya yang terlihat.. Dia lebih dari kata mampu malahan. Dan.. Bapak sangat yakin kemampuan kamu lebih kurang sama dengan ustad Ghufron, Jadi sebenarnya kamu itu mampu cuman tidak percaya diri saja dan terlalu merasa rendah diri." kata Pak Daud berpendapat.
"Kenapa bapak begitu yakin dengan saya?" tanya Aamir yang merasa aneh dengan sikap Pak Daud yang seakan menganggap dirinya mampu.
"Kalau ditanya kenapa, bapak juga gak bisa jawab secara detail Aamir. Yang jelas bapak mengikuti kata hati saja, sebab hati bapak sudah condong ke kamu dan itu sudah cukup menjadi dasar yang membuat bapak yakin dengan kemampuan kamu." jelas Pak Daud yang diakhir dengan sebuah senyuman.
__ADS_1
"Terimakasih atas kepercayaan dan keyakinan Pak Daud dan juga Pak Marwan terhadap saya. Saya sungguh sangat - sangat menghargai itu. Tapi, satu hal lagi yang mengganjal dihati saya yaitu.. Tentang anak Pak Marwan yang akan dijodohkan ke saya. Apakah ia bersedia dan mau menerima saya sebagai calon suaminya? Apakah dia mau saya bimbing dari nol? Karena menurut saya, jika sesuatu hal itu dimulai dengan keterpaksaan akan malah tidak baik efeknya. Saya sejatinya juga tidak suka memaksa seseorang untuk berbuat seperti apa yang saya inginkan." ujar Aamir yang lebih ditujukan kepada Pak Marwan. Mendengar penuturan panjang dari Aamir tersebut, membuat Pak Marwan langsung tersenyum simpul.
"Menjawab pertanyaan dari Aamir ini, ada baiknya jika Aamir bertemu dulu dengan anak saya itu. Dan Setelah bertemu nantik, Aamir bisa menilainya sendiri. Apakah Aamir mampu atau tidak. itu tergantung kata hati Aamir yang menjawabnya. Dan mengenai apakah anak saya mau atau tidaknya dijodohkan dengan Aamir, biarlah itu menjadi urusan saya sebagai orang tua dalam memberi penjelasan dan pencerahan untuk dia. Aamir tidak usah memikirkan hal itu." jelas Pak Marwan dengan perlahan - lahan.
"Oh, begitu ya Pak." Aamir menanggapi seraya mengangguk - anggukkan kepalanya tanda setuju dengan pendapat dan masukan dari Pak Marwan tersebut.
"Oke akan saya atur, nantik saya kabari kamu lagi ya Aamir ya." kata Pak Marwan seraya menatap kearah Aamir.
"Iya, Pak." sahut Aamir.
__ADS_1
Setelah itu, karena tidak ada lagi yang dibahas maka Pak Daud dan Pak Marwan pun pamit pulang kerumah mereka masing - masing. Jadi tinggallah Aamir seorang diri dimesjid dengan hati dan perasaan yang masih teramat galau dengan tawaran yang sama sekali tidak bisa ia tolak begitu saja.
Seperti yang Aamir katakan tadi, bahwa ia yang tidak percaya diri akan kemampuannya dan kegigihannya, apakah bisa seperti ustad Ghufron atau malah sebaliknya? Lagi pula, tawaran menikah yang mendadak ini sedikitpun tidak pernah terlintas dipikirannya. Apalagi menikahi wanita yang jauh dari kata shaliha, yang tentu saja tidak sesuai dengan kriteria yang selama ini Aamir idam - idam kan.
Sebagai seorang laki - laki yang sudah lama berada didalam lingkungan islami dan aktif mengikuti kajian sampai detik ini, tentu saja Aamir berharap bisa menikahi wanita yang juga sama - sama mendalami aktifitas postif seperti dirinya. Menikahi wanita shaliha, wanita muslimah, berakhlak mulia, yang merupakan gambaran dan kepribadian yang sesuai dengan dirinya.
Tapi, Allah seakan memberikan ujian baru untuk Aamir. Apakah memang ini rencana Allah buat Aamir? Melakukan sebuah jihad dengan menikahi wanita yang jauh dari kata shaliha, lalu berjuang merubah wanita itu? Meskipun dari nol ia melakukannya? Entahlah.. Aamir tidak tahu harus berbuat apa. Ia masih sangat galau. Kegalauan yang membuatnya belum bisa mengambil keputusan apapun.
...🏓🏓🏓🏓...
__ADS_1