
Hari sudah mulai senja, Naisha memberi kode ke Aamir melalui jelingan matanya. Sebagai tanda ia ingin segera pulang. Aamir langsung memahami maksud kode yang diberikan oleh istrinya itu.
"Hhmm.. Buk, Aamir dan Naisha izin pulang dulu ya, gak apa - apa kan buk?" kata Aamir yang merasa tidak enak harus meninggalkan ibu dan adiknya. Padahal Aamir masih rindu dengan mereka dan ingin tinggal disana lebih lama lagi. Tapi, Aamir pun tidak ingin egois, dia juga harus memikirkan perasaan Naisha yang sepertinya tidak nyaman berada lama - lama dirumah ibuknya.
"Kalian gak nginap disini saja? Ini sudah sore lo, kalau kalian berangkat sekarang, nantik kalian sampai dirumah pasti kemalaman." ujar Ibu Aamir dengan nada tak rela ditinggal oleh Aamir dan Naisha.
"Ya gak apa - apa buk, InshaAllah aman kok. Di jalanan juga masih ramai orang - orang berkeliaran." kata Aamir menanggapi ketidakrelaan ibuknya.
"Nak Naisha, tidur disini saja ya malam ini? Mau kan? Nantik ibuk siapkan dan rapikan kamar untuk kamu, Naisha. Ada kamar kosong ni, kamar yang biasa Aamir pakai dulu. Tapi, Alhamdulilah masih sering ibu kemasi seminggu sekali, jadi masih terlihat rapi dan bersih." kata ibu Aamir seraya menatap Naisha dengan penuh harap. Naisha merasa tidak enak juga harus menolak tawaran dari ibuk Aamir yang sudah baik dengannya, tapi.. Mengingat dirinya yang akan tidur dikamar yang tidak biasa ia tiduri, mampu membuat perasaan Naisha menjadi tak menentu. Sudah dapat dipastikan, dia bakalan tidak akan bisa tidur semalaman karena merasa tidak nyaman dan tidak biasa.
"Buk.. InshaAllah, ada waktunya nantik Aamir dan Naisha datang kesini lagi dan menginap tentunya untuk beberapa hari dirumah bersama ibuk dan juga Syifa. Tapi, tidak hari ini ya buk. Lagi pula, Naishapun tidak ada persiapan bawa baju dan segala macamnya, karena..awalnya Aamir cuman mengajak Naisha untuk mengunjungi ibuk dan Syifa saja, bukan berarti harus menginap." kata Aamir lagi dengan berbicara hati - hati dan pelan - pelan terhadap ibuknya, karena Aamir tidak ingin juga membuat ibunya kecewa.
"Oohh.. Begitu ya, padahal ibuk berharap sekali kalian nginap disini malam ini. Tapi, ya sudah gak apa - apa jika memang Nak Naisha belum ada persiapan bawa pakaian dan kebutuhan yang lainnya, ibuk gak mungkin memaksa." kata Ibu Aamir kemudian tersenyum dengan ikhlas.
"Iya sih, tapi jika alasannya karena kak Naisha gak bawa pakaian, sebenarnya kak Naisha bisa aja sih pakai baju Syifa. Ukuran badan kami lebih kurang sama kan? Tapi yah.. baju Syifa bukan baju yang bermerek kak, cuman baju biasa - biasa saja, hehe.." kata Syifa yang ikut berpendapat. Naisha hanya tersenyum saja menanggapi ucapan mertua dan adik iparnya itu.
Setelah itu, Aamir dan Naisha pun pamit. Mereka kembali saling bersalaman satu sama yang lain dan beberapa menit kemudian, Naisha dan Aamirpun masuk kedalam mobil.
"Hati - hati di jalan ya Nak, jangan lupa berdoa sebelum berangkat dan jangan lupa juga kabari ibu kalau sudah sampai." pesan ibu Aamir sebelum mobil Naisha bergerak meninggalkan rumah. Aamir langsung mengiyakan pesan dari ibunya tersebut.
Beberapa menit kemudian, saat mereka sudah berada diperjalanan menuju kerumah Naisha, Aamir yang duduk dikursi depan sebelah Naisha tampak memandang wanita itu dengan penuh arti. Tidak dapat diungkapkan rasa bahagia yang menyelimuti hati Aamir malam ini karena sikap Naisha yang menurut Aamir begitu manis terhadap ibu dan adiknya. Padahal Aamir tahu betul bagaimana Naisha aslinya, tapi ternyata Naisha mampu mengendalikan dirinya untuk tidak bersikap semaunya saja.
"Naisha, terimakasih ya..." ucap Aamir tiba - tiba.
"Terimakasih untuk apa?" tanya Naisha dengan melihat sekilas kearah Aamir.
__ADS_1
"Hhhmmm... Yang pertama, karena kamu sudah mau menemani aku kerumah ibuk. Yang kedua.. Karena sikap kamu yang begitu baik dan lembut dengan ibu dan juga adik aku. Dan yang terakhir.. Terimaksih juga karena kamu mau menutup aurat kamu secara sempurna satu harian ini." jelas Aamir dengan tersenyum lebar seraya menatap Naisha dengan tatapan yang begitu menyejukkan. Naisha langsung memalingkan wajahnya karena seakan tidak tahan ditatap seperti itu oleh Aamir.
"Ahhh.. Kamu terlalu berlebihan sekali, Aamir. Biasa aja donk, aku juga gak mungkin lah bersikap yang aneh - aneh didepan keluarga kamu. Gini - gini, aku juga punya sopan santun walaupun sedikit," kata Naisha berusaha untuk cuek dan biasa saja. Padahal sebenarnya ia sedang berusaha mencairkan suasana yang sudah agak lain ia rasakan dihatinya.
"Ya.. Tetap saja aku harus berterimakasih dan memberikan apresiasi ke kamu Naisha. Dan yang terpenting juga, harapan demi harapan itu tetap ada juga dihati aku." kata Aamir dengan misterius.
"Harapan apa maksud kamu?" Naisha langsung bertanya dengan penasaran. Aamir terdiam sejenak, tidak langsung menjawab pertanyaan dari Naisha tersebut.
"Aamir?? Kok diam?" tegur Naisha yang tidak sabar menanti penjelasan Aamir terkait pernyataannya tadi itu.
"Begini Naisha, apa yang diharapkan oleh Abi kamu saat menikahi kamu dengan aku.. Begitu juga lah Harapan aku ke kamu, Naisha. Aku ingin keduanya sama - sama terwujudkan. Mungkin aku tidak terlalu pandai dalam menyusun kata - kata untuk menyakinkan kamu, Naisha. Aku yang seperti kamu bilang, terlalu kaku... Memang benar, aku yang terlalu kaku sampai - sampai aku tidak bisa mengungkapkan apa yang seharusnya aku ungkapkan ke kamu, Naisha." kata Aamir yang membuat Naisha semakin sulit untuk memahaminya. Lalu Naisha mengarahkan mobilnya ke pinggir jalan dan kemudian memarkirkan nya disana.
"Kenapa berhenti disini, Naisha?" tanya Aamir dengan heran.
"Iya, maaf Naisha.. Maksud aku begini, apa yang diharapkan oleh Abi dan Umi kamu adalah sebuah kebaikan Naisha. Mereka ingin melihat kamu berubah, menjadi wanita shaliha. Dan perubahan itu mereka tangguhkan ke aku, suami kamu. Namun.. Terlepas dari itu semua, sebenarnya aku sebagai suami kamu memang berkewajiban untuk mengingatkan kamu, membimbing kamu dan merangkul kamu ke jalan yang sesuai dengan tuntutan islam. Tapi, bukan berarti juga aku harus memaksa kan kehendak aku, memaksa kamu, terlalu terobsesi sehingga lupa bahwa kamu juga punyak hak atas hidup kamu sendiri." jelas Aamir lalu berhenti sejenak untuk menarik nafas panjang.
"Maka karena itulah, untuk saat ini yang mampu aku berikan ke kamu sebagai langkah awalnya adalah.. Dengan mencurahkan rasa.. Kasih sayang aku ke kamu, Naisha. Rasa kepedulian yang akhirnya menjadi rasa cinta yang mulai bersemi disini, dihati aku...." lanjut Aamir lagi dengan sorot matanya yang Tajam itu memandang Naisha.
"Hah??" Naisha hanya bisa melongo dan terpana mendengar pengungkapan Aamir barusan itu.
"Iya, Naisha. Sejatinya dua orang insan jika sudah terikat dengan tali pernikahan yang sakral, maka diharuskan untuk bisa menumbuhkan rasa saling menyayangi, saling mencintai, saling melindungi satu sama yang lain. Walaupun Aku sadar, Naisha. Sangat sadar dan tahu apa sebenarnya tujuan kamu mau menikah dengan aku. Bukan didasarkan keinginan untuk menuju kebaikan. Tapi, meskipun begitu.. Aku yakin niat buruk diawal tidak selama nya akan menjadi buruk juga diakhirnya. Atas izin Allah, itu semua bisa berubah. Dan.. Aku berharap kamu juga bisa merubah niat awal kamu yang tidak baik itu, Naisha. Oleh karenanya, aku berharap Kita bisa memulai pernikahan yang suci ini dengan niat yang baik, semata - mata hanya untuk mencari keridhoaanNya bukan malah sebaliknya, begitulah kira - kira maksud aku Naisha. Aku harap kamu bisa mengerti atau bahkan bisa menerima aku sebagai suami kamu, bukan orang lain apalagi musuh kamu, Naisha." jelas Aamir dengan panjang lebar. Setelah mengatakan hal itu, Aamir kini terlihat pasrah atas jawaban apa yang akan Naisha katakan. Yang penting ia telah mengungkapkan apa kata hatinya dan apa yang ia rasakan kini. Niatnya baik, dan dia yakin niat yang baik pasti ada jalan yang baik pula yang akan diberikan oleh Allah untuk dirinya.
Naisha terdiam, cukup lama juga ia diam dan seperti sedang berpikir keras. Sebenarnya jika ditelusuri dihatinya yang terdalam saat ini, sudah mulai ada terbesit keinginan untuk melangkah kearah yang seperti Abi dan Aamir inginkan. Tapi, egonya masih menentang dan meragukan semua itu, apakah ia mampu? Apakah ia bisa? Apakah ia Sanggup?? Naisha belum yakin dengan dirinya sendiri.
"Naisha, pikirkan lah dulu baik - baik.. Aku juga gak memaksakan kamu untuk memutuskan semuanya sekarang, karena aku tahu.. Ini bukan keputusan yang mudah untuk kamu." lanjut Aamir lagi dengan tersenyum tulus memandang Naisha yang masih diam tak berkutik.
__ADS_1
"Ya sudah.. Kita lanjutkan saja perjalanan pulang kita, takutnya.. nantik kita kemalaman sampai dirumah." kata Aamir lagi menyuruh Naisha untuk segera pergi. Tapi, Naisha tidak juga menghidupkan mobilnya.
"Sebentar lagi.." kata Naisha akhirnya seraya menatap Aamir dengan sorot mata yang tajam. Dan kali ini, Aamir yang kembali terdiam.
"Apakah ucapan kamu yang panjang lebar tadi bisa dipercaya Aamir? Apakah kamu benar - benar menyayangi aku dengan tulus?" tanya Naisha yang tak lepas menatap wajah Aamir.
"I-Iya, Naisha.. Aku memang,.."
"Stop dulu Aamir, dari tadi kamu sudah banyak bicara. Jawab Iya atau tidak saja tanpa embel - embel yang lain." potong Naisha dengan garang.
"Iya, Naisha." jawab Aamir akhirnya dan kemudian kembali diam.
"Aku sebenarnya tidak yakin dengan diri aku sendiri, dan aku juga masih bingung harus ikut kata hati atau ego aku saat ini. Kamu tahu kan bagaimana aku, Aamir? Aku ini wanita yang keras kepala dan susah diatur, jadi.. Ya.. jika kamu memang mampu dan sanggup untuk mengubah aku, silahkan kamu coba.. Aku tidak melarangnya," kata Naisha akhirnya dan kemudian mengalihkan wajahnya dari Aamir. Ia kembali menatap lurus kedepan.
"Aku akan coba melakukan apa yang kamu dan Abi aku harapkan.." lirih Naisha dengan suara yang pelan. Aamir langsung bersyukur seketika itu juga didalam hatinya..
...🍒🍒🍒🍒...
BERSAMBUNG...
.
.
.
__ADS_1