Jalan Menuju CahayaMu

Jalan Menuju CahayaMu
BAB 39 ( BERTEMU TEMAN NAISHA)


__ADS_3

Rasa syukur tiada henti Aamir panjatkan kepada Rabbnya, karena atas izinNya lah hati dan pikiran Naisha bisa terbuka dan mau menerima segala kebaikan untuk dirinya. Perubahan yang mungkin awalnya akan sulit bagi Naisha untuk beradaptasi, namun atas dukungan dan bimbingan dari Aamir, maka Naisha pun perlahan - lahan mulai mencobanya.


Beberapa hari selanjutnya, Aamir memulai merubah Naisha dari segi pakaian. Aamir mengajak Naisha untuk membeli pakaian yang tertutup lengkap juga dengan kerudung nya. Untuk proses awal ini, Aamir juga tidak menekankan Naisha harus berubah total.


"Ngak apa - apa kerudungnya gak perlu dalam - dalam, Naisha. Yang penting sesuai anjuran saja, menutup dada.." tutur Aamir saat itu ketika mereka berbelanja di mol.


"Ngak boleh dililit ke leher ya?" tanya Naisha dengan meruncingkan mulutnya.


"Ngak, Naisha." sahut Aamir dengan tersenyum manis.


"Tapi, bajunya gak mesti gamis kan Aamir??" tanya Naisha lagi karena sejak tadi toko yang mereka kunjungi hanya fokus ke gamis saja.


"Hhhmmm... Gak juga Sih Naisha, cuman lebih baiknya gamis atau kalau tidak rok. Karena kalau bercelana bagi perempuan jika diluar rumah itu juga sebenarnya tidak dianjurkan, Naisha." jelas Aamir apa adanya.


"Gitu ya? Jadi celana - celana dirumah aku itu gak ada gunanya lah lagi karena gak bisa dipakai?" ujar Naisha merasa tidak rela.


"Bisa saja dipakai, tapi ya dirumah, kan dirumah gak ada orang lain selain keluaraga kamu. Jadi ya boleh - boleh saja kalau dirumah." kata Aamir dengan suara yang lembut.


Setelah mendapatkan beberapa baju pilihan baik dari Naisha maupun Aamir, kemudian Naisha mengajak Aamir untuk makan sejenak didalam mol tersebut.


Sedang asyiknya mereka makan sambil mengobrol - ngobrol santai, tiba - tiba saja dari kejauhan Naisha melihat kedua temannya berjalan kearah tempat dimana Naisha dan Aamir makan jUga. Naisha langsung tersedak dan terbatuk - batuk melihat kedua teman dekatnya itu. Karena beberapa hari belakangan ini, Naisha menolak terus ajakan mereka untuk keluar dan berkumpul seperti biasanya bersama mereka. Naisha malah mengatakan bahwa ia pergi keluar kota ketempat keluarganya yang lain. Tentu saja, hal itu dilakukan nya karena Naisha tidak ingin kedua temannya itu tahu atas perubahan mendadak yang terjadi pada dirinya beberapa hari belakangan ini.


"Naisha, ya Allah.. Hati - hati makannya, jangan terburu - buru, kan tersedak jadinya.." kata Aamir sembari menyodorkan tisu kearah Naisha.


"Aduh, Aamir.. Aku tersedak bukan karena makan terburu - buru tapi.. Karena itu.." kata Naisha seraya menunjuk kearah kedua temannya yang sedang memesan makanan. Dan Naishapun agak mengendap - ngendap dan menyembunyikan badannya agar tidak terlihat oleh mereka berdua itu. Aamir langsung saja menoleh kebelakang dan melihat Tari dan Mely disana.


"Kebetulan sekali ada Tari dan Mely juga disini, jadi kita bisa makan bereng sama mereka." celetuk Aamir yang langsung ditatap protes oleh Naisha.


"Aduuhh... Aamir, kamu ini ya? Jangan sampai mereka tahu aku ada disini. Cepat kamu habiskan makannya, kita pergi dari sini sekarang juga." perintah Naisha dengan nada kesal.

__ADS_1


"Lah, kenapa begitu Naisha? Makanan aku masih banyak nih, gak bisa dihabiskan dengan cepat - cepat. Kalau ditinggalkan pun, kasihan.. Mubazir namanya.. Kita gak boleh Mubazir makanan, Naisha. Karena diluar sana masih banyak..." belum sempat Aamir menyelesaikan kalimatnya, Naisha langsung saja memotong pekataan dari Aamir tersebut.


"Aduuh.. Malah ceramah lagi, Ya sudah.. kamu habiskan dulu deh makanannya. Aku ke mobil duluan, aku tunggu disana, oke? Bye!!" kata Naisha dan kemudian langsung saja bergegas pergi dari sana meninggalkan Aamir yang hanya bisa melongo melihat kepergian mereka.


Aamir sebenarnya tidak tahu mengapa Naisha tidak ingin bertemu dengan kedua temannya itu. Tapi, Aamir hanya bisa menduga bahwa Naisha sebenarnya belum siap dan belum mau memperlihatkan perubahan dirinya terhadap kedua teman dekatnya itu. Ya.. mungkin saja begitu, pikir Aamir didalam hatinya.


Beberapa saat kemudian, Tari dan Mely yang sudah memesan makanan langsung menuju ke arah meja. Dan langkah mereka langsung melambat saat menyadari ada Aamir disalah satu meja ditempat makan tersebut.


"Hai, Aamir?" panggil Mely setengah menjerit. Dipanggil dengan suara melengking tersebut, Aamir hanya bisa tersenyum dengan hangat.


"Owalah Aamir.. Aamir... Pandai juga lu ternyata keluyuran di Mol ya, gue pikir lu pandainya cuman ke mesjid aja, hahahha..." ledek Tari yang membuat tawa mereka berdua pun langsung pecah. Aamir hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan mereka berdua, sedikitpun ia tidak tersinggung ataupun kesal atas ledekan yang sengaja mereka berikan ke dirinya.


"Iya nih, tapi kok sendiri aja kamu? Naisha mana?" tanya Mely.


"Hhhmmm...." Aamir hanya berguman cukup lama, ia sedang berpikir jawaban apa yang bagus ia berikan kepada dua wanita ini. Tidak mungkin juga ia berkata jujur apa adanya bahwa Naisha saat ini ada di mobil, sedang menunggunya yang belum menyelesaikan makannya. Naisha yang langsung bergegas pergi setelah melihat kedua temannya ada di mol ini juga. Tidaklah, Aamir tidak mungkin mengatakan kenyataan yang sebenarnya karena Aamir yakin, Naisha pasti akan marah jika ia memberitahu mereka berdua ini. Padahal sudah jelas - jelas Naisha sedang menghindar dari mereka.


Jadi, apa yang harus ia katakan? Tidak mungkin juga Aamir berkata bohong. Tidak.. Tidak.. Aamir selama ini terkenal dengan seorang laki - laki yang setiap omongannya bisa dipercaya oleh orang - orang. Dia laki - laki yang jujur dan berbicara apa adanya. Aamir sungguh dilema, dan akhirnya ia memutuskan untuk diam saja.


"Eh, Iya maaf... Aku gak bisa jawab," kata Aamir akhirnya.


"Lah kenapa gak bisa jawab? Aneh..!! Oh....aku tahu.. Ya jelas lah kamu gak bisa jawab, karena kamu gak diajak sama Naisha keluar kota kan? Ketempat keluarga Naisha yang kaya raya disana itu, Iyakan...???" kata Mely masih dengan nada meledeknya itu.


"Jelaslah dia gak di ajak Mel, wong dia suami yang gak dianggap. Ooppss..!!" kali ini Tari yang menimpali dan kemudian berpura - pura menutup mulut karena merasa telah keceplosan. Padahal Aamir tahu, ia tidak keceplosan tapi sengaja menyinggung Aamir seperti itu. Tapi, lagi - lagi Aamir lebih memilih untuk diam, ketimbang menjawab ataupun membalas ledekan mereka.


Karena merasa tidak ditanggapi, Mely dan Taripun pergi meninggalkan Aamir dan duduk ditempat kursi yang kosong. Aamir kembali melanjutkan makannya.


"Tar, si Aamir kenapa diam aja ya kita ledekin? Ditanya tentang Naisha pun dia gak jawab apa - apa." tanya Mely dengan heran.


"Iya, gue juga agak curiga nih dengan dia. Nah, lihat tu.. Dia lagi telponan sama siapa? Kok senyum - senyum gitu?" kata Tari dengan mata mereka tak lepas melihat Aamir yang senyum - senyum sendiri menerima telpon dari seseorang.

__ADS_1


"Gelagat nerima telponnya seperti orang yang sedang dimabuk cinta aja deh," kata Mely berpendapat.


"Dimabuk cinta? Dengan siapa?" tanya Tari seraya mengerutkan keningnya tanda bingung.


"Apa jangan - jangan dia memang lagi jatuh cinta? Atau... Wah gawat nih, Naisha harus tau kalau suaminya sudah berani bermain api dibelakang dia." kata Tari yang sudah berancang - ancang untuk menelpon Naisha.


"Eitss.. Apaan sih, memang Naisha peduli? Ya biar aja dia mau ngapain, Naisha mana peduli. Dia aja benci sama Aamir." kata Mely yang mencegah Tari untuk menelpon Naisha.


"Iya, ya." kata Tari yang mengiyakan pendapat Mely tersebut.


Beberapa saat kemudian, Aamir yang sudah selesai makannya langsung saja beranjak dari sana dan menuju kearah luar mol.


"Lu ikuti dia Mel, sampai ke parkiran sana.. Cepat.." suruh Tari seraya menolak badan Mely. Dan mau tak mau Mely mengikuti Aamir sampai kedepan gerbang pintu masuk mol.


Beberapa saat kemudian, Aamir sudah sampai diparkiran dan Mely masih mengikutinya dari kejauhan. Setelah itu, Aamir berhenti disebuah mobil yang tak asing bagi Mely. Mely menghentikan langkah kakinya sejenak seakan sedang mengingat mobil siapakah itu? Lalu matanya langsung terbelalak kaget saat seorang wanita keluar dari mobil tersebut.


"Naisha...!!" lirih Mely dengan wajah tak percayanya.


...🌺🌺🌺🌺...


BERSAMBUNG...


"TERIMAKASIH SUDAH MEMBACA SAMPAI BAB INI, DITUNGGU KONFLIK SELANJUTNYA YA.. SEMOGA TIDAK BOSAN MEMBACANYA YA..


☺😊...


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2