
Naisha masuk ke kamarnya dengan bersenandung kecil dan sekali - sekali bibirnya yang tipis itu tidak berhenti menyunggingkan sebuah senyuman manis namun tampak licik. Ia baru saja selesai bertemu dengan Aamir. Sebuah rencana licik sudah tergambar dipikirannya. Rencana untuk membalas dendam atas perbuatan Aamir terhadapnya, Naisha yang merasa sakit hati atas penolakan dari Aamir tersebut. Karena Naisha tidak suka penolakan, padahal selama ini laki - laki yang selalu datang dan berlomba - lomba mendekatinya tapi beda dengan Aamir yang sama sekali tidak tertarik dengan Naisha. Itulah yang membuat Naisha menjadi geram, marah bahkan sakit hati kepada Aamir.
"Oke, Bi. Naisha mau menikah dengan dia." kata Naisha saat itu seraya mengarahkan telunjuknya ke Aamir. Tentu saja pernyataan dari Naisha yang tiba - tiba itu membuat tiga laki - laki yang ada diruangan tersebut langsung terperanjat kaget. Mereka tidak menyangka Naisha bisa menerima perjodohan ini dengan begitu cepat. Kendatipun demikian, Abi Naisha tetap merasakan lega dan bahagia juga.
"Kamu serius, Naisha?" tanya Abi Naisha dengan wajah tidak yakinnya itu.
"Ya, Serius donk. Kenapa Bi? Kok gak yakin gitu?" tanya Naisha dengan nada cuek.
"Alhamdulillah, jika Naisha setuju dengan perjodohan ini. Kami sangat bersyukur." kata Pak Daud dan kembali menyenggol bahunya Aamir. Aamir yang masih belum sadar atas keterkagetannya tadi, hanya bisa terdiam dengan wajah tanpa ekspresi.
Obrolan mereka berlanjut, namun Naisha pamit untuk masuk kedalam kamar.
Didalam kamar, Naisha menghubungi kedua temannya dan mengajak mereka untuk ketemuan malam itu juga.
Selang beberapa menit kemudian, Mely dan Tari datang dan langsung menuju ke kamarnya Naisha.
"Nai, ada apa sih, Malam - malam nyuruh kami datang kesini?" tanya Tari dengan nada sewot. Meskipun mengomel mereka tetap juga datang kesana.
"Kalian tau tidak, laki - laki yang akan dijodohkan Abi dengan aku itu ternyata.. Aamir." jerit Naisha dengan ekspresi kagetnya.
"Apaa?? Benaran Nai?" tanya Mely dengan menjerit juga.
__ADS_1
"Lu gak bercanda kan Nai?" tanya Tari yang tidak kalah kaget juga dengan Mely.
"Iya, serius. Tadi baru saja akun ketemua dengan dia dibawah." kata Naisha dengan cuek.
"Dimana? Kami gak ada ngelihat dia dibawah." kata Mely.
"Mungkin dia sudah pulang, dia datang sama pak Daud." kata Naisha yang kini sudah membaringkan badannya keatas ranjang.
"Jadi, gimana ceritanya Nai? Kenapa Abi kamu malah menjodohkan kamu dengan Aamir?" tanya Mely yang ikutan duduk ditempat tidur empuknya Naisha.
"Begini ceritanya..." Ucap Naisha yang berhenti sejenak untuk menarik nafas panjang, setelah itu barulah ia menceritakan kronologis awal mula Abi Naisha menjodohkannya dengan Aamir. Kedua teman Naisha mendengarkannya dengan serius dan semangatnya.
Jadi lu mau aja dinikahkan sama Aamir itu, Nai? Lu terima dia jadi calon suami lu?" tanya Tari dengan wajah tak percayanya.
"Kamu sadar gak sih Nai dengan apa yang kamu lakukan ini? Kamu mau menikah? Dengan laki - laki seperti Aamir? Ya Aampuunnn..." kata Mely dengan menggoncang - goncang kan bahu Naisha berharap sahabatnya itu sadar.
"Ihhh.. Sakit tahu, Mel.." ucap Naisha yang gantian mendorong tubuhnya Mely.
"Kalian pasti tahu kan kalau aku itu gak suka penolakan. Dan beberapa hari ini kalian lihat bagaimana usaha aku untuk menaklukkan si Aamir belagu itu. Tapi, apa yang terjadi? Bukannya ia takluk, malahan dia membuat aku sakit hati dengan sikap dia yang sok itu. Karena itulah.. Aku ingin membalas dendam ke dia, dan satu - satu cara untuk membalas dendam ke dia adalah... dengan menikah, Ya... Menikah dengan si Aamir belagu itu.." kata Naisha dengan semangat.
"Lah, aku masih gak paham deh, Nai. Gimana caranya kamu balas dendam dengan si Aamir, emang harus menikah dengan dia ya? Apa gak ada cara lain? Coba kamu pikir, kamu itu akan dinikahi lo dengan laki - laki kaku seperti Aamir. Hidup kamu gak akan bisa sebebas sekarang ini, pasti akan penuh dengan aturan - aturan yang mengikat kamu. Iihhh.. membayangkan nya saja aku sudah ngeri." kata Melly dengan berdelik ngeri.
__ADS_1
"Hahahaha... Kalian gak perlu risau lah, mana mungkin aku mau dijadi istri yang bisa diatur - atur oleh dia. Tapi, sebaliknya.. Aku akan membuat dia stres dan menyesal pernah menikah dengan aku." ujar Naisha lalu tersenyum penuh kemenangan. Tari dan Mely yang tadi heran dan bingung, akhirnya ikutan tersenyum juga. Karena mereka yakin, Naisha pasti sedang menyusun sebuah rencana indah didalam benak dan pikirannya. Dan mereka sebagai sahabat, apa lagi yang bisa mereka lakukan selain mengikuti dan mendukung rencana Naisha dengan sepenuh hati.
...🌼🌼🌼🌼...
Aamir masuk kedalam kamarnya dengan perasaan dan pikiran yang kacau. Pertemuannya dengan anak gadis pak Marwan tadi yang ternyata adalah Naisha, benar - benar membuat debaran dihatinya tidak kunjung berhenti. Apalagi saat Naisha menyetujui perjodohan mereka, padahal Aamir berharap Naisha langsung menolak mentah - mentah rencana Pak Marwan itu.
Berkali - kali Aamir mengucap istighfar didalam hatinya, ia yang seakan tak mampu berkata apa - apa lagi setelah Naisha menyetujui perjodohan mereka. Saat itu pula, Pak Marwan bertanya kepada Aamir, kapan ia akan melamar Naisha secara resmi bersama kedua orang tuanya. Ditanya seperti itu, membuat Aamir langsung menelan ludahnya dengan ekspresi datar. Ia belum siap sebenarnya, tapi dipaksa untuk siap.
"Kalau bisa secepatnya ya Aamir, takutnya nantik Naisha malah berubah pikiran, maklumlah Naisha itu masih labil dan mudah berubah - ubah." lanjut Pak Marwan lagi. Dan Aamir yang tidak tahu harus beralasan apa lagi, akhirnya hanya bisa menganggukkan kepalanya dengan pasrah.
Lagi pula, Aamir merasa segan dan tidak sampai hati juga menolak kemauan dua laki - laki paruh baya yang sudah baik terhadap Aamir. Apalagi pak Daud yang telah memberikannya pekerjaan sebagai marbot di mesjid Takwa tersebut, ditambah lagi sebelum itu Pak Daud mengatakan bahwa Pak Marwan berjanji akan mengkuliahkan Aamir jika ia bersedia menikah dengan Naisha. Tapi, bukan berarti Aamir mengambil kesempatan dalam situasi ini. Dia cuman tidak tega saja menghancurkan keinginan dan niat baik seorang Ayah yang ingin membuat putri kesayangan bisa berubah menjadi wanita yang shaliha.
Tapi, masalahnya Aamir belum punya kepercayaan diri yang tinggi.. Apakah ia mampu untuk merubah sifat Naisha yang sangat jauh dari kata Shaliha. Entahlah.. Aamir tidak tahu sebelum ia mencobanya, tapi setidaknya Aamir harus berguru dan bertanya ke Ustad Ghufron. Yah.. Aamir memikirkan hal itu, setelah yakin dengan apa yang terlintas dipikirannya itu. Maka, disaat itu juga Aamir langsung menghubungi nomor Ustad Ghufron. Kebetulan Aamir punya nomor handphonenya dan ada beberapa kali juga mereka sempat berkomunikasi melalui telepon.
.
.
.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
.