Jalan Menuju CahayaMu

Jalan Menuju CahayaMu
BAB 36 (KERUMAH AAMIR)


__ADS_3

Dihari lebaran pertama itu, dirumah Naisha sudah ramai berdatangan tamu baik dari keluarga Abinya maupun Uminya. Pagi sampai siang hari, Naisha masih menggunakan baju gamis pemberian Aamir dengan kerudung panjang menjuntai didadanya. Tentu saja semua mata keluarga besar tersebut tertuju kepada Naisha, mereka tidak menyangka saja Naisha yang kontras dengan penampilan yang biasanya seksi ternyata bisa juga berpenampilan sangat tertutup seperti itu. Meskipun ini moment hari raya tapi pakaian syra'i yang digunakan Naisha itu sangat mencuri perhatian orang - orang.


"Biasanya dia gak berlebihan seperti itu lah, memang pakai hijab juga sih tapi hijabnya pasti dililit nya kebelakang bukan malah dijulurkan ke dadanya." ucap Rini, Sepupu Naisha dari pihak Abinya yang bergosip dengan Sonia, sepupu dari pihak ibunya.


"Iya, bukannya dia senang memamerkan keseksiannya ya. Sepertinya dia memang sudah berubah lah Rin, suaminya kan ustad pantas sajalah dia berubah." Sonia ikut menimpali.


Naisha tahu sekali jika saat ini ia tengah digosipkan oleh mereka - mereka yang datang berkunjung ke rumahnya. Namun, sebisa mungkin Naisha mencoba untuk tidak mempedulikannya. Ia bisa begitu karena perkataan Aamir tadi seakan menambah rasa percaya dirinya. Namun, hal ini membuat Naisa terheran - heran juga, karena entah kenapa efek dari perkataan Aamir tadi sangat berarti bagi Naisha.


Saat jam sudah menunjukkan pukul 12 siang, tamu - tamu yang datang tadi saat ini berkumpul di ruang makan untuk menikmati makan siang yang sudah disiapkan oleh Asisten rumah tangganya Naisha.


Naisha awalnya ingin bergabung juga disana, akan tetapi diurungkannya niat tersebut saat ia melihat Aamir bergegas menuju keluar rumah dengan handphone berada di tangannya. Ternyata laki - laki itu hendak menerima telpon dari seseorang, Naisha yang penasaran lantas mengikutinya sampai ke teras rumah.


"Iya, Bu. Sebentar lagi Aamir pulang ya, Aamir izin dulu dengan mertua dan istrinya Aamir." kata Aamir sebelum akhirnya ia mengakhiri panggilan tersebut.


Naisha mendengar pembicaraan terakhir Aamir dengan ibunya. Kemudian, saat Aamir membalikkan Badannya, ia terkejut melihat Naisha yang sudah berdiri di belakangnya.


"Naisha? Sejak kapan disini?" tanya Aamir.


"Sejak tadi." jawab Naisha dengan santai.


"Oohh... Ya udah, kita kedalam yuk." ajak Aamir dan kemudian mulai melangkah menuju pintu masuk.


"Rumah orang tua kamu dimana, Aamir?" tanya Naisha tiba - tiba sehingga membuat langkah Aamir langsung terhenti.

__ADS_1


"Rumah ibu dari sini sekitar 1 jam setengah Naisha, daerah perdesaan sekar indah." jelas Aamir.


"Jadi kamu mau pulang ketempat ibu kamu ya?" tanya Naisha lagi. Aamir langsung mengangukkan kepalanya.


"Iya, nantik setelah Abi kamu selesai melayani tamu, barulah aku minta izin untuk pulang ketempat ibu, Naisha." kata Aamir.


"Kelamaan, Aamir. Sampai sore tamu gak akan ada selesai - selesainya. Mereka akan terus berdatangan, mending kamu temuin Abi sekarang dan setelah itu kita pergi." kata Naisha dengan semangat. Aamir langsung melongo mendengar perkataan Naisha yang tak terduga itu.


"Tunggu.. Tunggu dulu, tadi kamu bilang apa? Kita? Maksudnya, bagaimana ya Naisha?" tanya Aamir lagi untuk memastikan karena ia takut salah tanggap


"Apanya yang bagaimana, Aamir? Sudahlah, jangan banyak tanya lagi.. Aku mau siap - siap dulu, dan kamu temui Abi sekarang!" perintah Naisha dan setelah itu ia pun beranjak dari sana.


"Apa ini artinya, Naisha mau ikut aku kerumah ibu?" tanya Aamir didalam hatinya. Setelah yakin dengan pradugaannya itu, barulah seuntai senyuman langsung mengembang dibibirnya Aamir...


...💕💕💕💕...


"Iya, sama - sama. Tapi, kamu jangan kegeeran ya Aamir.. Aku mau menemani kamu karena aku itu malas dirumah bertemu keluarga aku yang julid - julid itu. Jadi, mending aku keluar aja dari rumah..." kata Naisha beralasan. Bagi Aamir, apapun itu alasan Naisha ia tidak menghiraukannya yang terpenting Naisha sudah mau ikut dengan dia untuk bertemu ibuk dan juga adiknya. Itu sudah cukup membuat Aamir merasa bahagia.


"Gak apa - apa, Naisha. Pasti ibuk nantik senang melihat kamu datang, karena dari kemarin - kemarin ibuk ingin sekali ketemu dan mengobrol sama kamu Naisha." kata Aamir.


"Iya ya.." lirih Naisha dengan cengiran halus. Didalam hati, Naisha menyadari juga betapa sombongnya dia saat itu ketika Ibu Aamir ingin bertemu dan mengobrol dengan Naisha setelah sesaat acara akad nikah mereka selesai. Tapi, Naisha malah menolaknya dan langsung saja masuk kedalam kamar. Menantu macam apa dia ini ya? Tapi, wajar juga Naisha begitu.. Karena ia tidak pernah menginginkan pernikahan ini apalagi menikah dengan laki - laki seperti Aamir yang dianggapnya kaku dan belagu.


Tapi, setelah menikah dengannya, Aamir tidak lah sekaku dan sebelagu yang Naisha pikirkan. Laki - laki itu cukup dewasa, perhatian, peduli dan sabar. Dan.. Semakin kesini, Naisha seakan mulai lupa dengan tujuan dan misi awalnya dulu waktu menikah dengan Aamir. Benarkah demikian? Naisha benar - benar tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya saat ini.

__ADS_1


"Sha, Syifa pasti senang juga ketemu kamu. Apalagi melihat kamu memakai gamis pilihannya ini," kata Aamir yang membuyarkan lamunan Naisha.


"Siapa Syifa?" tanya Naisha dengan mengerutkan keningnya.


"Syifa itu adik aku, Sha. Adik aku satu - satunya, dan dia baru saja tamat pesantren dan sekarang mau lanjut kuliah." jelas Aamir.


"Oohh.. Jadi baju ini dia yang milih ya?" tanya Naisha.


"Iya, Naisha. Maaf sebelumnya, Sha.. Aku sebenarnya gak paham dalam memilih gamis yang agak kekinian dan berkelas, seperti yang Syifa bilang. Kalau menurut aku, semuanya bagus - bagus. Tapi, Ternyata tidak sesimple itu. Ada banyak yang harus dipertimbangkan dalam memilih, Makanya aku minta tolong Syifa saja yang carikan gamis untuk kamu, Sha.." jelas Aamir apa adanya.


"Hhhmmm... Sudah ku duga, Aamir. Aku juga heran dan kurang yakin gamis ini pilihan kamu. Padahal aku sempat memuji selera kamu lo tadi malam" kata Naisha. Aamir hanya tersenyum tipis menanggapinya.


Setelah itu, tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka. Naisha terlihat fokus menyetir, Aamir pun juga tidak ingin menggangu fokus Naisha makanya ia hanya diam saja.


Setelah 1 jam setengah perjalanan, akhirnya sampai mereka di sebuah perkampungan tempat orang tua Aamir tinggal. Awalnya Naisha agak ragu untuk masuk kedalam, takut mobilnya tidak muat. Tapi, Aamir mengatakan jalan tersebut bisa juga dilalui oleh mobil akhirnya Naisha pun melewatinya.


"Nah, disimpang itu belok kiri Sha. Rumah ibuk aku itu yang sebelah kanan.." tunjuk Aamir kesebuah rumah kayu yang jauh dari kata mewah. Naisha diam seribu bahasa melihat kediaman mertuanya itu.


...💕💕💕💕...


BERSAMBUNG...


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2