
Beberapa hari kemudian...
Pagi itu, Naisha terlihat malas - malasan didalam kamarnya. Sedangkan Aamir pergi kemesjid karena ada acara pengajian, dan dialah yang menjadi penceramahnya. Awalnya Aamir ingin mengajak Naisha untuk ikut serta menghadiri pengajian tersebut, akan tetapi tidak jadi karena Naisha ternyata sedang haid.
Mungkin itu juga salah satu faktor yang menyebabkan Naisha bawaannya jadi malas untuk ngapain - ngapain. Padahal beberapa hari belakangan ini, Naisha terlihat sangat semangat dan antusias dalam belajar dan mengkaji tentang islam lebih dalam lagi.
Aamir dengan kesabarannya itu, membimbing Naisha pelan - pelan, mengajarinya dengan lembut dan penuh pengertian. Tidak pernah sekalipun Aamir merasa jenuh ataupun kesal dalam mengajari Naisha yang benar - benar semuanya seperti kembali dari nol. Yah.. Naisha menyadari dirinya sudah terlalu jauh tersesat dan terlena dengan kehidupan duniawi yang hanya sementara ini.
Abi dan Umi Naisha merasa bahagia atas perubahan Naisha yang sudah terlihat nyata. Mereka bersyukur, karena Apa yang mereka harapkan sejak dulu akhirnya menjadi kenyataan. Dan Abi Naisha pun tidak lupa mengucapkan beribu - ribu terimakasih kepada Aamir yang telah mampu merubah Naisha, dalam waktu yang singkat malahan menurutnya. Lebih cepat dari yang pernah dilakukan oleh Ustad Ghufron terhadap anaknya Pak Daud waktu dulu.
Beberapa saat kemudian, karena suntuk di didalam kamar tidak ngapa - ngapain, maka Naisha pun memutuskan untuk menghidupkan televisi untuk menonton. Dan selang beberapa menit kemudian, terdengar beberapa langkah kaki yang berjalan menuju ke depan pintu kamarnya. Naisha sempat penasaran juga siapa yang datang, belum sempat Naisha menebak - nebak siapa yang datang, pintu kamarnya malah terbuka lebar oleh dua orang yang ia kenali. Siapa lagi kalau bukan Mely dan Tari.
"Hallo Naisha..." sapa mereka hampir berbarengan. Naisha langsung merasa salah tingkah dengan kedatangan temannya yang tak diduga - duga itu.
"Kalian, kenapa datang kerumah aku gak ngabari dulu sih?" tanya Naisha dengan nada dan wajah yang tidak senang akan kedatangan mereka berdua.
"Loh, Biasanya kami sering juga datang kerumah lu tanpa ngabari lu, Nai. Tapi, gak pernah lu bertanya seperti ini." protes Tari yang merasa tersinggung dengan ucapan Naisha.
"Bukan begitu, Tari. Maaf.. Aku cuman.."
"Cuman apa, Nai? Cuman mau menghindar dari kami ya?" potong Mely dengan wajah yang cemberut.
__ADS_1
"Katanya kamu diluar kota, tapi ternyata apa? Kamu gak kemana - mana kan?" lanjut Mely lagi dengan kesal.
"Aku.. Aku sudah pulang tadi malam." kata Naisha.
"Jangan bohong lah, Nai. Kami sudah tanya sama asisten rumah tangga lu, katanya lu gak ada keluar kota yang ada lu pergi kerumah orang tuanya Aamir dihari lebaran pertama. Kenapa lu bohong sama kita berdua sih, Nai?" tanya Tari dengan mengintrogasi Naisha.
Naisha menghela nafas panjang, ia tidak bisa lagi mengelak ataupun menyangkal. Karena percuma saja, dia seakan sudah tertangkap basah. Mau tidak mau, Naisha terpaksa harus menceritakan semuanya kepada kedua temannya itu.
"Iya, Maaf Tari, Mely.. Aku memang sudah berbohong." ujar Naisha dengan wajah yang tertunduk karena merasa bersalah.
"Kenapa, Nai? Apa alasannya kamu berbohong dengan kami berdua?" todong Tari lagi yang seakan tak sabar mendengar penjelasan dari Naisha. Dan untuk kedua kalinya, Naisha menarik nafas panjang sebelum akhirnya ia menceritakan semuanya kepada mereka berdua. Semua yang telah terjadi pada dirinya. Perubahan dan juga niat awalnya menikah dengan Aamir yang sudah tidak berlaku lagi dan malahan.. Sudah berpindah haluan. Naisha yang ingin menjalani rumah tangga yang serius dengan Aamir. Dan bertekad untuk menjadi seorang wanita muslimah seperti yang diinginkan dan diharapkan oleh Abinya dan juga Aamir, suaminya.
Tentu saja mendengar penjelasan Naisha yang lumayan panjang itu, membuat Tari dan Mely langsung menggeleng - gelengkan kepalanya, tanda tidak setuju dan kecewa dengan keputusan Naisha tersebut.
"Iya, Nai. Kok semudah itu sih Aamir mempengaruhi kamu, Nai? Kamu gak ingat tujuan utama kamu menikah dengan Aamir untuk apa? Sekarang kok malah terbalik, pasti Aamir ada ilmu nya ni sehingga membuat kamu jadi berubah haluan seperti ini." kata Mely dengan wajah kecewanya itu.
"Tidak Mely, Tari.. Jangan salah kan dan libatkan Aamir. Karena Aamir gak salah." kata Naisha yang membela Aamir.
"Nah, kan lihat.. Kamu malah membela Aamir, kamu memang diguna - guna sama Aamir nih kelihatannya." ujar Mely lagi dan kemudian menggonyang - gonyangkan bahu Naisha.
"Sadar donk, Nai. Sadar..!!" kata Mely.
__ADS_1
"Iihh.. Apaan sih kamu Mel? Aku ni sadar, sangat - sangat sadar dengan apa yang aku lakukan. Kamu gak perlu melakukan itu." kata Naisha dengan kesal.
"Dan lu juga sadar kalau lu mulai jatuh hati sama si Aamir itu?" ketus Tari dengan galak.
"Ya.. Aku belum tahu perasaan aku gimana dengan Aamir, cuman.. hati kecilnya ku memaksa aku untuk berubah, untuk mengikuti keinginan dan harapan dari Abi aku. Itu aja kok, Tar." kata Naisha mencari pembelaan.
"Pernikahan kamu dengan Aamir bagaimana? Apakah kamu akan selamanya dengan Aamir?" tanya Mely lagi yang masih belum puas dengan jawaban dari Naisha. Naisna langsung terdiam.
"Ngak bisa jawab kan kamu, Nai? Terus, jujur deh sama kami beberapa hari yang lalu kamu ada di Mol kan sama Aamir? Dan kamu sengaja menghindar dari kami, kenapa Nai? Karena kamu takut ketahuan lagi bersama Aamir dan yang parahnya.. Pakaian yang kamu gunakan waktu itu Lo..." kata Mely kemudian berhenti sejenak untuk menarik nafas panjang.
"Iya, Iya.. Aku akui aku salah. Maaf karena aku gak jujur sama kalian berdua, Maaf. Aku cuman, tidak ingin saja kalian meledek aku, mencegah aku. Maaf.. Tar, Mel. Tapi, bagaimanapun juga.. Kalian teman aku, sudah lama kita bersahabat dan selalu bersama. Aku juga butuh kalian mendukung keputusan aku ini." kata Naisha dan entah kenapa matanya mulai berkaca - kaca.
"Naisha, kami gak pernah menginginkan kamu berubah. Kami ingin Naisha yang apa adanya, jadilah diri kamu sendiri. Jangan mau berubah karena paksaan dari orang lain, apalagi orang itu Aamir." kecam Mely yang masih belum Terima dengan keputusan Naisha.
"Aamir gak pernah maksa aku, Mel. Malahan Aamir memberi aku banyak ruang untuk bisa memilih dan berpikir, mungkin.. Sudah saatnya Aku kembali. Sudah saatnya aku menuju ke CahayaNya. Ya.. Sudah waktunya, Aku harap kalian bisa memahami dan menerima keputusan aku ini.." tutur Naisha dengan berlingan air mata. Mely dan Tari tidak berkata apa - apa lagi, mereka memilih diam meskipun wajah mereka masih menggambarkan ketidaksejuan...
...🍓🍓🍓🍓🍓...
BERSAMBUNG...
.
__ADS_1
.
.