
Naisha tidak tahan lagi, ia sangat merasa haus dan lapar. Sebenarnya ini bukan kali pertama Naisha berpuasa dibulan ini. Awal - awal kemarin dia sempat puasa sampai maghrib malahan, tapi sudah pertengahan dan penghujung bulan puasa ini Naisha seakan malas untuk bangun sahur. Ditambah lagi, Naisha selalu berkumpul dan jalan bareng dengan Tari dan Mely yang sekalipun mereka tidak pernah puasa. Ya jadilah... Naisha ikut - ikutan mereka juga.
Tapi, entah kenapa ajakan Aamir tadi malam untuk bangun sahur malah membuat Naisha luluh dan akhirnya turun juga untuk makan sahur. Naisha juga tidak tahu dan mengerti kenapa ia menjadi begini, padahal Naisha sudah berusaha untuk cuek dan kembali tidur. Tapi, sialnya dia malah tidak bisa tidur. Rasa kantuknya hilang seketika, dan bisikan - bisikan halus malah datang merayunya untuk turun kebawah.
Kini Naisha berada di dapur, ia membuka lemari dapur dan memeriksa apakah ada makanan disana. Ternyata makanan sudah lengkap dimasakkan oleh Asisten rumah tangganya.
"Hhhmmm..." Naisha menghirup aroma wangi lauk pauk yang banyak dan terlihat lezat itu.
"Masa bodoh Ah, yang penting aku mau makan. Lapar.." kata Naisha kemudian membuka pintu kulkas dan mengambil minuman didalamnya.
Saat Naisha akan meminum air didalam botol tersebut, tiba - tiba saja Aamir datang dan langsung menegur Naisha.
"Naisha, jangan diminum..!! Kamu kan lagi puasa," cegah Aamir. Naisha dengan spontan langsung meletakkan kembali botol air minum kemeja dengan wajah yang kesal.
"Aku gak kuat, aku mau buka puasa aja sekarang." kata Naisha. Tapi, lagi - lagi Aamir malah mencegahnya.
"Iya, Iya Naisha. Aku tahu, memang hari ini cuaca lagi panas - panasnya dan otomatis membuat rasa haus itu semakin tak tertahankan. Tapi, sekarang ini kan sudah jam 3 sore. Masih ada sekitar 3 jam lagi untuk berbuka puasa. Tanggung lo Naisha, kamu tahan ya 3 jam lagi." kata Aamir dengan tersenyum hangat.
"Ngak bisa, entar aku mati kehausan atau kelaparan, emang kamu mau tanggung jawab ha?" tanya Naisha dengan ketus. Dan Aamir kembali tersenyum dengan manis.
"Belum pernah lah aku dengar sekalipun orang bisa mati karena menahan haus dan lapar saat puasa, Naisha. Malahan.. Dengan puasa bisa membuat tubuh kita menjadi lebih sehat. Dalam islam, segala hal yang dianjurkan dan diwajibkan itu tidak ada satupun yang mendatangkan kemudharatan, malahan sebaliknya selalu ada keberkahan dan kebaikan didalamnya." jelas Aamir ke Naisha
"Aduuh... Aku gak butuh ceramah kamu itu, Aamir. Ceramah kamu yang tak bermutu itu, Bikin aku tambah lapar dan haus tau gak?" kata Naisha dengan geram.
"Iya.. Iya.. Aku tahu, Naisha. Maaf.. Jika bikin kamu kesal. Ya sudah, kalau kamu benaran haus dan lapar, coba kamu alihkan sejenak pikiran kamu tentang itu dengan melakukan sesuatu hal.." kata Aamir lagi dengan memberikan saran.
"Melakukan apa emangnya?" tanya Naisha yang merasa kepo juga dengan saran apa yang akan Aamir berikan.
__ADS_1
"Dengan membaca Al-Quran contohnya..." jawab Aamir, Naisha langsung mendengus dengan kesal.
"Bisa gak sih ngasih saran itu jangan yang aneh - aneh. Yang ada aku bakalan tambah haus, energi aku akan terkuras." kata Naisha lagi.
"Oh ya? Kok kamu bisa sangat yakin begitu membaca Al-Quran bisa membuat energi terkuras? Emang kamu sudah pernah membuktikannya ya Naisha?" tanya Aamir dengan mengerutkan keningnya. Naisha langsung terdiam, ia bingung harus menjawab apa.
"Hhhmm.. Kalau gak dijawab, bearti belum pernah coba kan? Kalau begitu, marilah kita coba buktikan sama - sama. Kamu mau?" tanya Aamir lagi.
"Mau apa?" tanya Naisha dengan kedua alisnya itu hampir beradu.
"Membaca Al-Quran bersama aku." jawab Aamir lalu tersenyum dengan tulus dan sangat manis.
Naisha kembali diam, tidak menolak ataupun mengiyakan. Seharusnya ia dengan tegas langsung mengatakan tidak mau, tapi entah kenapa lagi - lagi lidahnya seakan kelu untuk mengatakan kata tidak kepada Aamir. Malahan, Naisha malah mengikuti langkah laki - laki itu menuju ke ruang sholat yang ada didalam rumah Naisha.
...🌸🌸🌸🌸...
Akhirnya waktu maghrib dan berbuka puasa pun tiba, Naisha yang sudah tidak sabar sejak tadi untuk berbuka langsung saja bergegas menuju kedapur dan meraih minuman berwarna yang sudah disediakan disana. Hanya dengan membaca basmallah, Naisha langsung saja meminumnya sampai habis tak tersisa. Aamir dan kedua orang tua Naisha yang melihatnya hanya bisa terpana dengan tersenyum tipis.
"Ya mau gimana lagi Abi, Naisha gak tahan. Haus benget. Bik.. Bikin kan Naisha minuman yang seperti tadi satu lagi donk." pinta Naisha ke pembantunya.
"Jangan kebanyakan minum, Naisha. Nantik perut kamu bisa kembung, belum juga diisi makanan. Nantik malah kenyang karena minuman saja," tegur Abinya lagi. Tapi, Naisha tak menghiraukan teguran dari Abinya itu. Kendatipun demikian, orang tua Naisha tersenyum puas kearah Aamir, karena Aamir sudah mulai berhasil memberikan sedikit perubahan pada diri Naisha. Walaupun baru sediki, tapi.. Tidak mengapa bagi Abinya Naisha. Sedikit perubahan pada diri Naisha kearah yang lebih baik, merupakan suatu yang berharga baginya yang patut untuk disyukuri.
Setelah itu, Naisha yang kekenyangan setelah makan kemudian berjalan pelan menuju ke kamarnya. Sesampainya didalam kamar, ia langsung menjatuhkan badannya keatas tempat tidur.
"Aduuh.. Kalau kekenyangan seperti ini gak nyaman juga ternyata," kata Naisha yang berbicara pada dirinya sendiri.
"Iya, karena kamu makan dan minumnya terlalu berlebihan Naisha, makanya jadi gak nyaman." tiba - tiba saja Aamir yang baru keluar dari kamar mandi, langsung saja menanggapi ucapan Naisha barusan masih dengan suaranya yang lembut.
__ADS_1
"Hhhmmm...." gumam Naisha yang seakan malas untuk menanggapi ucapan laki - laki itu.
"Kamu mau ikut aku Tarawih gak, Sha?" tanya Aamir kemudian yang sudah rapi dengan menggunakan baju koko putihnya itu.
"Gak Ah, aku gak mau." Naisha langsung menolak dengan tegas.
"Ya udah, gak apa - apa. Memang sholat Tarawih itu gak diwajibkan, hukumnya sunnah. Tapi, sunnahnya ini sangat dianjurkan, jadi sayang sekali kalau ditinggalkan, Naisha. Besok kamu Tarawih ya? Mumpung masih ada satu hari lagi," kata Aamir yang kembali mengajak Naisha. Tapi, Naisha hanya diam saja.
Beberapa menit kemudian, Adzan Isya berkumandang. Naisha yang sedang asyik menonton televisi dikamarnya, tiba - tiba disamperin Aamir lagi. Naisha melihat sekilas kearah Aamir, ia pikir laki - laki itu akan segera kemesjid karena sudah adzan. Tapi, dia sama sekali tidak keluar dari kamar dan malahan berdiri disamping Naisha dengan tatapan teduhnya itu. Naisha menjadi risih dipandangi seperti itu.
"Ngapain sih kamu, Aamir?" akhirnya Naisha bertanya dengan kesal.
"Mumpung Aku mau sholat isyanya dirumah saja, Hhmm.. apakah kamu mau aku imamkan sholat isya, Naisha?" tanya Aamir dengan menawarkan diri. Naisha langsung tertegun dengan tawaran yang diberikan oleh Aamir tersebut.
"Kalau Iya, berwudhulah dulu Naisha. Aku tunggu kamu, kita sholat bersama - sama." lanjut Aamir lagi seraya tersenyum lebar.
"Kalau mau sholat, sholat ajalah sendiri, jangan ajak - ajak aku. Mau aku sholat ataupun tidak, biarlah itu menjadi urusan aku. Bukan urusan kamu, Aamir." kata Naisha.
"Seperti yang telah aku katakan ke kamu kemarin Naisha, bahwa seorang suami bertanggung jawab dalam membimbing istrinya kejalan yang baik dan benar. Dan itulah yang sedang aku lakukan saat ini, mengajak istri aku untuk melaksanakan sebuah kewajiban sholat. IniIah salah satu bentuk rasa tanggung jawab aku itu, Naisha. Dan juga.. Bentuk rasa kasih sayang aku ke kamu, sebab aku tidak ingin kamu terus - terusan berdosa karena meninggalkan ibadah sholat, Naisha." tutur Aamir dengan nada suara yang terdengar sangat tulus.
"Hah??" Hanya kata itu yang mampu keluar dari mulut Naisha yang sedikit melongo, ia mencoba untuk mencerna kembali ucapan Aamir yang terakhir - terakhir tadi. Apa itu tadi? Rasa kasih sayang Aamir terhadap dirinya? Kalimat itu tetdengar begitu menggelikan di telinga Naisha, namun tidak dengan hatinya yang malah tersentuh dengan kalimat tulus tersebut...
...🌺🌺🌺🌺...
BERSAMBUNG...
.
__ADS_1
.
.