Jalan Menuju CahayaMu

Jalan Menuju CahayaMu
BAB 63


__ADS_3

"Kita nyari Naisha kemana lagi nih Aamir? Sudah keliling - keliling kota ni kita tapi gak juga ketemu Naishanya." tanya Rohan setengah menjerit agar suaranya didengar oleh Aamir.


"Entahlah Rohan, aku juga gak tahu harus kemana lagi. Sedangkan Naisha ternyata tidak membawa handphonnya. Hpnya malah ditinggal dikamar kata Umi Sofia. Jadi, Gimana aku bisa hubungi dia coba?" keluh Aamir dengan menghela nafas panjang.


"Ya sudah, kita berhenti dipinggir sana sebentar ya. Sembari istirahat dan berpikir kemana lagi kita harus mencari." kata Rohan dengan memberi usul dan kemudian memberhentikan motornya dipinggir jalan.


"Aamir.. Aku heran sama istri kamu itu, sudah tau nyawa dia dalam bahaya.. Tapi kenapa dia malah pergi keluar , tanpa ngasih tau kamu lagi. Apa gak berdosa dia tu." kata Rohan dengan nada kesal.


"Iya, Rohan. Aku juga gak tahu kenapa Naisha nekat seperti ini.. Tapi, aku yakin ada satu alasan kuat yang membuat Naisha berbuat demikian." kata Amair dengan yakin.


"Iya, tapi.. apa? Kenapa dia gak berterus terang saja sama kamu, kamu kan suaminya. Seharusnya dia bisa lebih terbuka bukan malah sembunyi sembunyi seperti ini." kata Rohan lagi. Dan kali ini Aamir hanya diam saja, meskipun didalam hati ia membenarkan perkataan temannya tersebut.


"Jadi, gimana nih? Kita cari Naisha kemana lagi?Sudah jam 10 malam sekarang." kata Rohan seraya melirik jam tangannya.


"Iya, sebentar Rohan.. Biar aku berpikir dulu ya.." kata Aamir. Dan disaat itu pula, ada yang menelpon Aamir. Nomor tak dikenal.


"Iya, Halo.. Assalamualaikum, siapa ini?" tanya Aamir kepada si penelpon.


"Walaikumusalam, Aamir.. Ini aku Naisha." Aamir langsung berdiri setelah tahu Naisha yang menelponnya.


"Naisha? Kamu.. Kamu dimana?" tanya Aamir dengan kaget namun terdengar agak lega.


"Aku.. Akan aku share alamatnya dimana. Kamu bisa jemput aku kan sayang?" tanya Naisha.


"Iya, tentu sayang.. Aku akan menjemput kamu. Tapi, kamu sama siapa sekarang ni?" tanya Aamir lagi.


"Sendirian.. ini kebetulan aku pinjam hpnya ibuk - ibuk yang ada diwarung sini." kata Naisha.


"Ya sudah, kamu kirim alamat kamu ya. Aku kesana sekarang!!" kata Aamir dan langsung di iyakan oleh Naisha.


"Dimana Naisha, Aamir?" tanya Rohan.


"Ni baru dikirimnya alamatnya, kamu tahu ini dimana kan?" tanya Aamir.


"Ooh.. Tidak begitu Jauh dari sini, ayoklah kita kesana sekarang." kata Rohan lalu Aamir pun bergegas naik keatas motornya Aamir.


Beberapa saat kemudian, sampailah mereka ditempat Naisha berada. Wanita itu terlihat duduk di sebuah warung dan tengah mengobrol santai dengan ibuk - ibuk yang punya warung.


"Naisha.. " panggil Aamir sesaat setelah ia sampai dan langsung saja turun dan kemudian berlari menuju ketempat Naisha.


"Naisha, Kamu.. Ngapain disini? Kenapa gak ngabari aku kalau kamu mau pergi? Kan sudah aku bilang sayang, Abi juga sudah mewanti - wanti kamu agar gak keluar dari rumah dulu." kata Aamir yang saat itu sudah duduk didepan Naisha. Sebenarnya Aamir ingin memeluk Naisha karena saking bahagianya bisa menemukan Naisha dalam keadaan sehat dan selamat. Tapi, Aamir coba untuk menahan rasa yang bergejolak dihatinya itu karena ia mempunyai rasa malu yang cukup tinggi dilihatin oleh orang - orang yang cukup ramai juga di warung itu.


"Bang Aamir.. Nantik dirumah aku jelaskan semuanya ya.." kata Naisha dengan suara yang pelan dengan sebuah senyuman manis yang sudah tergambar disana.

__ADS_1


"Ya sudah, kita pulang sekarang pakai taksi." ujar Aamir dan kemudian meminta tolong Rohan untuk mencari kan taksi untuk mereka berdua.


Beberapa saat kemudian, Naisha dan Aamir kini sudah berada didalam taksi.


"Sayang.. Kamu gak kenapa - napakan? Kamu baik - baik saja kan?" tanya Aamir seraya menyentuh tubuh Naisha dengan lembut.


"Seperti yang kamu lihat, Alhamdulilah.. Tidak kenapa - napa bang Aamir. Aku baik - baik saja kok." jawab Naisha dengan tersenyum lebar, menyakinkan ke suaminya itu bahwa dirinya baik - baik saja.


"Syukurlah.. Alhamdulilah.. Sebab, Aku khawatir sekali, Naisha. Takut kamu diapa - apain lagi sama si Rozi itu." kata Aamir dengan lega.


"Ngak bang Aamir.. InshaAllah, Rozi gak akan mengganggu hidup aku lagi." kata Naisha dengan yakin.


"Kenapa kamu begitu yakin, Naisha?" tanya Aamir dengan menaikkan satu alisnya.


"Ya... aku yakin, kita lihat saja nantik. Rozi pasti gak akan lagi mengganggu kita apalagi sampai berani mencelakai aku." tutur Naisha dan kali ini mengalihkan pandangannya dengan memandang lurus kedepan. Aamir tidak lagi menanggapi ucapan Naisha, yang terpenting saat ini baginya yaitu Naisha baik - baik saja dan sangat yakin tidak akan diganggu lagi oleh Rozi. Meskipun Aamir merasa ada sedikit keganjalan, tapi langsung ditepis Aamir jauh - jauh pikiran buruk itu karena ia hanya ingin memikirkan yang baik - baik saja saat ini.


Akhirnya Naisha dan Aamir sampai dirumah tepat pukul 12 malam. Dan saat mereka masuk ternyata Abi dan Umi Naisha sudah menunggu mereka di ruang tamu.


"Abi.. Umi.. belum tidur ya?" tanya Naisha dengan wajah tak berdosanya itu karena pergi tanpa pamit dan tentu saja membuat seisi rumah merisaukan nya.


"Bagaimana Abi dan Umi bisa tidur dengan tenang sedangkan anak Abi satu - satunya di luar sana tidak tahu keberadaannya dimana dan dengan siapa? Padahal.. Baru semalam dia hampir dibunuh oleh orang jahat yang masih berkeliaran bebas diluar sana." kata Abi Naisha dengan suara yang lantang.


"Iya, Abi.. Umi.. maaf kan Naisha karena pergi tanpa pamit.." lirih Naisha dengan merasa bersalah karena sudah bikin Abi dan Uminya risau.


"Hhmmm.. Naisha, tadi.. Lagi menyelesaikan masalah, Umi.. Abi... Maaf ya Naisha gak nagabarin.." jawab Naisha dan setelah itu menundukkan wajahnya. Naisha seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


"Masalah apa, Naisha? dan dengan siapa? Apa dengan laki - laki yang mencelakai kamu kemarin itu ha?" tanya Abi Naisha dengan bertubi - tubi.


"Abi, Umi.. Maaf.. Kita sambung pembicaran kita ini besok pagi ya. Lebih baik kita istirahat saja, sudah tengah malam juga ini. Abi dan Umi Tidur ya, besok kita sambung lagi pembicaraan kita." kata Naisha dengan suara pelan seraya menatap Abi dan Uminya dengan tatapan teduhnya itu.


"Kamu jangan bikin Abi penasaran Naisha, lagi pula Abi dan Umi tidak ngantuk sama sekali. Kami itu risau sama kamu, takut kamu kenapa - napa.." kata Abi Naisha dengan sedikit meninggikan nada bicaranya.


"Iya, Abi.. Umi.. Naisha tahu, Naisha sudah salah. Pergi tanpa pamit sama Abi, umi Dan juga bang Aamir. Makanya, Naisha mintak maaf. Lain kalian tidak akan Naisha ulangi lagi. Dan.. Alhamdulillah, seperti yang Abi dan Umi lihat, Naisha baik - baik saja. Jadi tak perlu lagi Abi dan Umi merisaukan Naisha, karena Naisha pun tidak akan kemana - mana lagi tanpa seizin Kalian semuanya." tutur Naisha dengan perlahan - lahan.


"Ya tetap saja, Naisha. Kami butuh penjelasan dari kamu juga." kata Abi Naisha yang masih ngotot.


"Besok Naisha jelaskan ya Abi? Naisha capek sekali nih, dan mengantuk juga..." kata Naisha setelah itu menguap beberapa kali karena menahan kantuk.


"Tidak bisa, Kamu jelaskan sekarang juga." kata Abi Naisha dengan suara yang tegas.


"Tapi, Naisha sudah ngantuk Abi.. Kelelahan juga.." kata Naisha.


"Iya Abi, Umi.. Maaf..bukannya Aamir mau gimana - gimana, cuman betul juga kata Naisha.. Ada baiknya kita istirahat saja dulu ya..Besok pagi baru kita lanjutkan lagi pembicaraan ini." kata Aamir yang mengikuti apa kata Naisha.

__ADS_1


"Baiklah, Tapi.. Benar besok pagi - pagi kamu langsung kebawah dan ceritakan kan ke kami semua." ucap Abi Naisha yang langsung dijawab dengan anggukkan kepala oleh Naisha. Setelah itu, barulah Abi dan Umi Naisha masuk kedalam kamar mereka.


"Yuk kita ke kamar Sha," ajak Aamir seraya menggandeng lembut tangan istrinya itu.


Setelah mereka berada didalam kamar...


"Bang Aamir.. Aku sampai lupa mau mintak maaf sama kamu, hehe.." kata Naisha dengan tertawa kecil.


"Mintak maaf kenapa, sayang?" tanya Aamir.


"Ya, mintak maaf karena sudah pergi dari rumah tidak izin dulu ke Bang Aamir. Karena bukannya seorang istri yang shaliha itu harus meminta izin suami kalau pergi keluar rumah kan?" kata Naisha sembari menyandarkan kepalanya di bahu Aamir.


"Ya gak apa - apa, Naisha. Sebelum kamu meminta maaf, aku sudah memaafkan kamu kok. Tapi, aku mau dengar penjelasan dari kamu dulu sebelum tidur, kamu tadi pergi kemana dan ngapain saja?" tanya Aamir yang menagih Naisha.


"Hhhmmm... Tadi itu, aku pergi menemui Rozi.." jawab Naisha dengan melihat wajah suaminya itu dengan takut - takut.


"Ha? Kamu pergi nemuin Rozi, Naisha? Ngapain? Kamu malah mengantarkan nyawa kamu ke dia?" tanya Aamir dengan nada tak percaya.


"Bukan mengantarkan nyawa sayang, tapi mengajak kompromi.." jawab Naisha masih dengan suara yang tenang.


"Kompromi bagaimana?" Aamir bertanya lagi.


"Begini sayang... Aku sudah buat kesepakatan dengan Rozi. Dia tidak akan lagi menganggu kita." kata Naisha dengan yakin.


"Kesepakatan apa, Naisha?" tanya Aamir lagi tak tahan mendengar pernyataan Naisha yang setengah - setengah.


"Ya, kesepakatan.. di mana Aku gak akan melaporkan dia ke polisi dan dia pun tidak akan mengulangi perbuatannya lagi." kata Naisha tapi kali ini tanpa melihat wajah Aamir Ia tampak sibuk mengerjakan sesuatu didekatnya.


"Sesimpel itu kesepakatannya?" tanya Aamir lagi seakan tidak percaya dengan ucapan Naisha.


"Ya, sayang.. Sesimpel itu. Makanya aku tadi itu butuh waktu ngomong berdua baik - baik dengan dia. Dan Syukurlah dia mau menerima masukan dan kesepakatan yang kami buat ini.." kata Naisha lagi.


"Ya sudahlah, sayang.. Kita sambung besok lagi ngobrolnya.. Aku ngantuk sekali nih.." ujar Naisha dan kemudian membaringkan tubuhnya ke atas tempat tidur. Dan Aamir juga ikut baring disebelah istrinya, meskipun Aamir belum puas dengan jawaban Naisha tapi tetap saja ia biarkan Naisha tidur dengan lelapnya...


.


.


.


BERSAMBUNG..


.

__ADS_1


.


__ADS_2