Jalan Menuju CahayaMu

Jalan Menuju CahayaMu
BAB 50


__ADS_3

Keesokan harinya, Pak Marwan sudah diperbolehkan pulang karena kondisi tubuhnya yang sudah mulai membaik. Namun, Pak Marwan tetap dianjurkan oleh Dokter untuk istirahat dirumah beberapa hari kedepan karena mengingat tekanan darahnya yang masih tinggi dan Dokter juga menganjurkan Pak Marwan untuk meminum obat penurun tensi nya secara rutin serta memeriksan tensi nya secara berkala kerumah sakit ataupun di klinik terdekat.


Naisha, Aamir dan Umi Sofia lah yang menjemput Pak Marwan sore itu. Saat dimobil, Pak Marwan duduk didepan sedangkan Naisha, Amir dan Umi Sofia bertiga dibelakang. Dan.. Mobil itu dikemudikan oleh supir mereka yang bernama pak Dahlan.


"Bagaimana Naisha, Aamir.. Apakah Kalian berdua sudah baikan?" tanya Pak Marwan tiba - tiba ke mereka berdua seraya menoleh sebentar kearah belakang. Melihat Naisha dan Aamir secara bergantian.


"Baikan? Kami gak ada bertengkar kok, Abi." Naisha menjawabnya dengan tertawa kecil sedangkan Aamir hanya senyum - senyum saja.


"Hhhmmm.. Berarti sudah baikan ya, senang Abi mendengarnya kalau memang begitu." kata Abi Naisha yang menyimpulkan sendiri atas pertanyaannya.


"Aduh, Abi.. Kan sudah Naisha bilang kami gak ada bertengkar.." protes Naisha dengan wajah yang cemberut.


"Kalau gak bertengkar, terus kemarin kenapa kamu cuekkan Aamir, ngak ngajak dia ngobrol. Saat Aamir mau ngeluarkan suara, kamu malah memotongnya, gak memberi kesempatan Aamir untuk berbicara" ujar Abi Naisha lagi dengan mengingatkan kejadian tadi malam itu.


"Ooh.. Itu, Gak ada apa - apa.. Cuman Naisha agak ngambek sedikit saja kok Abi, tapi sekarang tidak lagi." kata Naisha lagi seraya menyenggol bahu Aamir agar membantu dirinya untuk berbicara.


"Iya, Pak. Cuman ada kesalahpahaman saja kemarin itu, tapi.. sekarang sudah selesai kok, gak ada masalah lagi. Alhamdulillah.." jawab Aamir dengan antusias.


"Alhamdulillah jika kesalahpahaman seperti yang kalian bilang itu sudah selesai dan sudah diatasi dengan baik. Abi cuman gak mau saja kalian bertengkar lama - lama, apapun masalahnya kalau bisa diselesaikan saat itu, ya selesaikan. Jangan lari dari masalah, dan yang terpenting juga.. Komunikasi jangan putus. Semua hal bisa dibicarakan dengan baik - baik dan dengan kepala dingin juga tentunya." jelas Abi Naisha yang menasihati mereka.


"Iya, InshaAllah Pak.. Aamir juga mempunyai prinsip seperti itu sejak dulu. Mudah - mudahan saja kami lebih bisa memahami satu sama yang lain." tutur Aamir sembari melihat Naisha dengan tatapan penuh kasih sayangnya.


"Iya, Abi. Kalau Aamir memang tidak diragukan lagi lah. Dia dewasa banget, apapun itu selalu berpikiran jernih. Ya.. Beda sama Naisha yang kadang masih kekanak - kanakan, suka lari menghindar dan merajuk tak jelas, heheh..." ujar Naisha dengan terkekeh menertawakan dirinya sendiri.


"Ngak lah, Naisha. Malahan Kamu sekarang lebih bisa mengendalikan diri kamu, tidak gampang emosi. Ya.. Kalau merajuk sekali - sekali gak maslah, asal jangan berlarut - larut saja." kata Aamir menimpali ucapan Naisha.


"Alhamdulillah, syukurlah.. Abi senang kalian bisa saling membela dan mengasihi satu sama yang lain. Teruslah seperti ini ya Aamir, Naisha. Akur - akur saja. Semua hal bisa dibicarakan baik - baik, dan Abi yakin kalian cukup dewasa untuk mengatasi permasalahan yang akan menjadi tantangan bagi rumah tangga kalian kedepannya.." ucap Abi Naisha yang langsung di iyakan oleh Aamir dan Naisha.

__ADS_1


"Cuman.. Satu lagi pinta Abi ke kalian berdua ya..." kata Abi Naisha setelah itu berhenti sejenak, sengaja membuat Naisha dan Aamir jadi penasaran.


"Apa Abi?" tanya Naisha dan Aamir hampir bersamaan.


"Kalian Menikah sudah lebih dari 6 bulan, tapi.. belum ada ya tanda - tanda kalian akan memberikan Abi dan Umi seoarang cucu." ujar Abi Naisha kemudian tersenyum dengan lebar. Naisha dan Aamir langsung merasa salah tingkah.


"Bagaimana, Sofia? Apa kamu sudah siap menjadi seorang nenek?" tanya Abi Naisha ke Umi Sofia yang sejak tadi hanya diam saja.


"Tentu sudah siap donk, Mas. Itu suatu hal yang sangat kita tunggu - tunggu malahan." jawab Umi Sofia tak kalah antusiasnya dengan suaminya itu.


Naisha dan Aamir hanya diam saja karena tidak tahu mau berkomentar apa. Dengan sekali - sekali mereka saling pandang.


"Nah, Abi rasa kalian butuh menghabiskan waktu untuk kalian berdua saja. Jauh dari keluarga, jauh dari lingkungan kerja maupun perkuliahan. Jadi fokus hanya kalian berdua saja.." kata Abi Naisha lalu kembali berhenti sejenak berkata - kata.


"Maksudnya gimana, Abi?" Naisha bertanya dengan mengerutkan keningnya karena bingung dengan perkataan setengah - setengah dari Abinya itu.


"Iya... Abi pengen setelah kalian selesai dengan urusan kampus kalian masing - masing, alangkah baiknya kalian pergi berbulan madu kemana gitu.. Agar Kalian bisa lebih fokus dengan dunia kalian berdua saja dulu, Ya.. Mana tau saja dengan begitu kalian akan diberi kemudahan untuk mendapatkan momongan dengan cepat." jelas Abi Naisha yang membuat Naisha dan Aamir langsung saling pandang dengan wajah cangar - cengir mereka.


"Ya.. Benar itu, Naisha. Kamu dan Amir pikirkan mau kemana tempat kalian berbulan madu. Biar Abi atur dan siapkan semuanya." suruh Abi Naisha.


"Hhmmm.. Kemana ya?" kata Naisha seraya memandang kearah Aamir yang terlihat lebih bingung dan tidak tahu harus kemana.


"Kalau sudah tahu mau kemana, kabari Abi ya. Biar Abi yang urus semua keberangkatan kalian." tutur Abi Naisha yang langsung ditanggapi dengan kata - kata siap oleh Aamir dan Naisha.


Beberapa saat kemudian, akhirnya mereka pun sampai dirumah, dan telah berada didalam kamar. Naisha langsung membaringkan badannya diatas ranjang.


"Hari ini gak ada ujian ya Naisha?" tanya Aamir yang juga duduk disamping Naisha.

__ADS_1


"Hhhmmm... Ngak ada, besok terakhir ujiannya. Dari jam 7 pagi sampai jam 11 siang." kata Naisha dengan menghela nafas pendek.


"Setelah itu, selesai?" tanya Aamir dengan menaikkan satu alisnya.


"Ya.. Selesai. Kenapa emangnya? Apa jangan - jangan Kamu mau kita pergi bulan madu seperti yang Abi suruh tadi ya?" tebak Naisha seraya tersenyum manis.


"Ya.. Benar, tapi itupun kalau kamu gak keberatan, Naisha. Aku juga tidak memaksa harus pergi, semuanya tergantung kamu." ujar Aamir terdengar pasrah.


"Kenapa begitu, Aamir? Seharusnya kamu juga mesti mempertahankan apa yang ingin kamu lakukan, Aamir. Kamu itu kan kepala keluarga, pemimpin, jadi semua keputusan itu ada ditangan kamu, bukan ditangan aku." kata Naisha dengan gaya sok dewasanya itu.


"Oke, baiklah Naisha yang cantik jelita.. Jika kamu maunya seperti itu. Jadi, bagaimana kalau minggu depan kita berangkat untuk.. Ber-Bulan Madu." kata Aamir dengan semangatnya.


"Asyikkk.. Oke Suami ku yang tampan, jadi bagusnya kita kemana nih?" tanya Naisha lagi.


"Nah, kalau masalah tempatnya dimana aku serahkan sama kamu, Naisha. Aku benar - benar angkat tangan karena gak tau dan gak pernah juga pergi ketempat yang jauh - jauh sana." kata Aamir.


Naisha kemudian membuka hpnya dan lalu sibuk mencari tempat - tempat yang menurutnya bagus untuk dikunjunginya bersama Aamir.


'Nah, kalau kesini saja kita bagaimana, Aamir?" tanya Naisha yang kemudian menunjukkan gambar didalam hpnya tersebut.


"Wow, bagus.. Naisha. Ya sudah disana saja, pemandangannya bagus, dan banyak juga tempat wisatanya speertinya," komentar Aamir akhirnya.


"Oke, nantik aku beritahu Abi kalau kita akan pergi ketempat ini.." ujar Naisha seraya tersenyum lebar dan seakan tak sabar untuk sampai ketempat yang indah dan jauh dari keramaian dan kebisingan orang - orang diluar sana.


...💕💕💕💕...


BERSAMBUNG...

__ADS_1


.


.


__ADS_2