Jalan Menuju CahayaMu

Jalan Menuju CahayaMu
BAB 7 (PAKSAAN DARI NAISHA)


__ADS_3

Sudah lewat malam hari tapi Hasbi tidak kunjung bisa tidur. Ia kepikiran dengan pertanyaan dari Pak Daud yang tiba - tiba tadi, pertanyaan mengenai apakah dirinya sudah berniat untuk menikah atau belum.


Aamir bingung mau jawab apa, sebenarnya dia belum sama sekali kepikiran untuk menikah dalam waktu dekat ini. Tapi, dia tidak ingin buru - buru memberi jawaban itu. Ia memberi kesempatan bagi Pak Daud untuk menyampaikan maksudnya yang sebenarnya secara detil.


"Jika Aamir memang telah berniat untuk menikah, Bapak sudah ada calon untuk kamu." ucapan Pak Daud tadi seakan terniang - niang kembali di telinganya. Tentu saja Aamir langsung bertanya siapa wanita itu? Tapi, Pak Daud malah menjawab sesuatu yang membuat Aamir semakin terkejut.


"Dia hanya seorang wanita biasa Aamir, biasa yang dimaksud disini adalah.. Wanita yang jauh dari kriteria shaliha. Nah, itulah tugas kamu menikah dengan dia untuk merubah wanita biasa ini menjadi wanita shaliha." jelas Pak Daud dengan perlahan - lahan agar Aamir bisa mengerti arah pembicaraannya.


"Kamu kenal dengan Ustad Ghufron kan?" tanya Pak Daud saat itu yang langsung dijawab dengan anggukkan kepala oleh Aamir. Tentu saja ia kenal dengan Ustad Ghufron. Kakak kelasnya dipesantren dulu dan saat ini telah menikah dengan anaknya Pak Daud.


Disaat itu pula, Pak Daud mulai bercerita panjang lebar bagaimana perjuangan ustad Ghufron dari sebelum menikahi anak gadisnya Pak Daud yang super susah diaturnya hingga mereka telah menikah dan alhasil Ustad Ghufron mampu dan berhasil merubah Anak Pak Daud menjadi pribadi yang shaliha.


Aamir tahu akan hal itu, karena ia mendapat cerita tersebut dari teman - temannya saat di pondok dulu. Semua orang memuji ustad Ghufron yang sudah berhasil merubah penampilan Wanita seksi yang ia nikahi itu menjadi wanita yang berpenampilan tertutup, bahkan sampai menggunakan cadar.


"Nah, jadi Bapak juga ingin kamu melakukan seperti yang Ustad Ghufron lakukan Aamir." lanjut Pak Daud lagi setelah ia selesai bercerita panjang lebar.


"Maaf, Pak.. Aduh.. Saya gak tahu harus ngomong apa ni Pak. Karena semuanya diluar dugaan saya. Pertama Bapak bertanya tentang kesiapan saya untuk menikah saja sudah cukup membuat saya kaget. Apalagi yang kedua ini, menikah dengan wanita dengan maksud untuk merubah dia menjadi wanita yang shaliha. Wah.. Saya benar - benar tidak tahu harus bagaimana Pak." kata Aamir dengan salah tingkah.


"Ngak apa Aamir, kamu pikirkan lah dulu. Mungkin ini mendadak tapi alangkah baiknya nantik saya atur waktu kamu untuk bertemu dengan Pak Marwan. Anak gadis beliaulah yang ingin dijodohkan nya sama kamu." jelas Pak Daud.


"Pak Marwan yang dermawan itu ya Pak? Yang Selalu memberikan sumbangsih lebih untuk keperluan mesjid?" tanya Aamir untuk lebih menyakinkan dirinya.


"Iya, Benar Aamir." jawab Pak Daud. Setelah itu, Pak Daud pun pamit pulang dan berjanji akan mempertemukan Aamir dengan Pak Marwan esok harinya.

__ADS_1


Aamir menguap beberapa kali, rasa ngantuk mulai menguasainya. Jam sudah menunjukkan pukul 2 dini hari. Mau tidurpun rasanya tanggung sekali, sebentar lagi akan masuk waktu sahur. Aamir malah takut jika dia tidak terbangun nantiknya, maka untuk mengusir rasa kantuk dan menunggu waktu sahur jam 3 dini hari nantik, Aamirpun mengerjakan sholat tahajud dan setelah itu disambung dengan membaca Al-Quran.


...🌺🌺🌺🌺...


"Nai, kamu yakin mau belajar mengkaji islam?" tanya Mely ke Naisha sesaat mereka sudah sampai didepan mesjid sore itu. Penampilan Naisha agak berbeda saat itu, ia menggunakan kerudung yang dilitkan di lehernya.


"Hahahaha... Pertanyaan bodoh apaan ini Mel, siapa juga yang mau belajar mengkaji islam?" kata Naisha dengan tiada berhenti tertawa.


"Terus ni penampilan kamu kok seperti ini?" tanya Mely dengan heran.


"Aduuh melyyy.. Lu gak paham juga ya, ini ni kan salah satu siasat kita untuk mendekati dan menaklukkan cowok alim yang bernama Aamir itu." kata Tari menjelaskan.


"Iya, sih. Cuman.. didalam sana nantik kamu mau ngapain? Gak mungkin kan kamu ikutan mereka - mereka yang ada didalam sana?" kata Mely dengan berdelik ngeri melihat kearah wanita - wanita muslimah yang tengah mengkaji.


Tapi, tiba - tiba saja beberapa saat kemudian Aamirpun keluar dari mesjid. Ia tampak berjalan menuju keluar halaman mesjid. Naisha yang melihat Aamir akan pergi langsung buru - buru keluar dari mobilnya dan kemudian berteriak memanggil Aamir.


"Hai, Aamir.." panggil Naisha dengan melambaikan tangannya kearah Aamir.


Aamir menoleh kearah Naisha dengan wajah yang datar. Naisha padahal sudah melemparkan sebuah senyuman manisnya kearah Aamir, tapi sedikitpun Aamir tidak membalas senyuman dari Naisha tersebut. Dengan hati yang kesal, meskipun tidak ditampakkanya lalu Naisha pun berjalan menuju ke Aamir.


"Iya, Maaf jadi mengkaji islamnya?" tanya Aamir dengan nada tidak yakin setelah Naisha berdiri di depannya.


"Jadi donk, masak gak jadi. Kamu lihat kan penampilan aku ini, sudah cocok kan untuk ikut pengajian?" tanya Naisha dengan berlenggak lenggok dan berputar - putar didepan Aamir. Sedangkan Aamir hanya bisa melongo melihat penampilan Naisha yang menurutnya masih belum pantas untuk mengikuti kajian didalam sana. Tapi, Aamir mencoba untuk memakluminya.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu silahkan masuk saja kedalam dan bergabung dengan akhwat didalam ya kak." kata Aamir mempersilahkan Naisha untuk masuk dan setelah itu buru - buru akan pergi.


"Eitsss... Tunggu dulu donk!!" Naisha lagi - lagi mencegat Aamir dengan memegang bahunya. Aamir yang kaget, langsung saja mundur beberapa langkah kebelakang.


"Bisa gak sih aku belajarnya sama kamu aja Aamir? Kamu yang ngajari aku, aku.. Aku gak pede kalau masuk kedalam." kata Naisha beralasan.


"Maaf ya kak. Saya gak bisa," tolong Aamir seraya menelungkupkan kedua tangannya didepan dadanya.


"Kenapa gak bisa? Bukannya mengajari orang kebaikan akan mendapatkan pahala. Kenapa kamu gak mau sih?" tanya Naisha dengan nada kesal. Sejak tadi dia sebenarnya sudah menahan rasa kesal dihatinya.


"Kak Naisha jika mau belajar dan mengkaji tentang islam, belajarlah dengan perempuan juga. Bukan dengan lawan jenis seperti saya, Karena saya hanya bisa mengajari sesama laki - laki saja." jelas Aamir dengan suara yang pelan.


"Lah, masak mau berbagi ilmu bisa milih - milih gitu sih?" protes Naisha dengan melotot.


"Aku maunya belajar sama kamu, Titik.." tegas Naisha dengan sedikit berteriak, sehingga suara lengkingan Naisha tersebut terdengar sampai kedalam mesjid...


...🌼🌼🌼🌼...


BERSAMBUNG...


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2