Jalan Menuju CahayaMu

Jalan Menuju CahayaMu
BAB 32 (BENTUK PERHATIAN)


__ADS_3

"Nai, keluar yuk... Jalan kemana gitu, lu gak suntuk dirumah terus?" ajak Tari. Siang itu, Tari dan Mely datang kerumah Naisha. Mereka mengobrol - ngobrol segala macam, setelah agak lama Tari yang merasa suntuk lalu mengajak Naisha untuk keluar.


"Iya, aku juga lapar nih. Cari makan aja di Mol Yuk." ujar Mely yang ikutan juga mengajak Naisha.


"Ee... Tapi," Naisha tidak langsung mengiyakan ajakan dari dua temannya itu. Ia terlihat seperti orang kebingungan dan serba salah.


"Kenapa lu Nai?" tanya Tari yang dengan curiga, ia yakin Ada sesuatu hal yang memberatkan Naisha.


"Aku gak mau keluar, aku juga gak mau makan." jawab Naisha akhrinya.


"Kenapa?" todong Tari dan Mely dengan bersamaan.


"Karena aku lagi puasa," jawab Naisha sembari menggigit bibir bagian bawahnya.


"Ha? Puasa? Gak salah lu Nai? Kesambet dimana lu, kok tiba - tiba puasa?" kata Tari dengan heran begitu juga dengan Mely, sedangkan Naisha hanya cengar cengir dengan menggaruk - garuk kepalanya yang tiba - tiba gatal.


"Ya, mumpung puasa tinggal 2 hari lagi, makanya aku pengen aja puasa.." kata Naisha beralasan.


"Tapi, aneh aja rasanya. Jangan bilang.. Lu mulai terpengaruh dengan ajakan Aamir ya, Nai." kata Tari menduga - duga, ia melihat Naisha dengan menyipitkan matanya.


"Ee... Ngak, ngak kok. Gak ada hubungannya dengan Aamir." kata Naisha tapi tidak berani menatap Tari dan juga Mely, ia mengalihkan pandangannya kesembarang tempat.


"Nai, walaupun Aamir sudah menolong lu waktu itu tapi jangan sampai lah lu jadi terpengaruh dengan bujuk rayunya Aamir. Ingat, Nai.. Tujuan lu menikah dengan Aamir itu apa? Jangan berbalik haluan pulak lu ya!!" kata Tari dengan mengingatkan.


"Iya, Iya.. Kalian tenang saja lah. Aku.. Naisha Putri Anggita, tidak akan pernah terpengaruh dengan bujuk rayu si Aamir itu. Untuk laki - laki sekelas Aamir mah gak ada apa - apa nya, gak semudah itu bisa meluluhkan hati Aku.." ucap Naisha dengan gayanya yang sombong itu. Tapi, meskipun lisannya berkata demikian tapi entah kenapa hatinya malah berkata lain. Apalagi saat ia ingat perkataan Tari saat dirumah sakit kemarin tentang Aamir.

__ADS_1


"Si Aamir sempat nelpon gue sih Nai, tanyain lu pergi dengan siapa dan kemana? Dari nada bicaranya sih gue bisa nangkap kalau dia khawatir banget sama lu Nai, suaranya bergetar, seperti orang ketakutan. Mungkin dia takut lu kenapa - napa, tapi ternyata insting dia kuat juga ya. Dia bisa tahu kalau lu dalam bahaya. Tapi, ya mungkin kebetulan aja. Yang penting sekarang ini, misi lu sudah berhasil Nai. Lu sudah berhasil membuat Aamir yang dulunya cuek dengan lu dan sekarang malah tergila - gila sama lu," jelas Tari saat itu.


Naisha memang sudah mulai bisa merasakan ketulusan hati Aamir terhadapnya. Perhatiannya, kepeduliannya, kesabarannya, keikhlasannya, ya.. Semuanya yang baik - baik ada pada diri Aamir. Naisha akui itu. Sedangkan dirinya? Kebalikan dari itu semua, Naisha yang keras hati, kasar, egois dan bersikap tidak sopan terhadap laki - laki yang sudah berstatus suami sahnya itu. Lantas apa? Bukankah memang itu rencana dan misi awalnya dulu seperti yang dikatakan Tari tadi. Jika begitu, kenapa hatinya malah ingin menentangnya? Naisha benar - benar tidak mengerti dengan hatinya saat ini. Ia tidak mau egonya kalah dengan hatinya yang mulai rapuh ia rasakan saat ini.


...🌺🌺🌺🌺...


Saat malam hari, setelah selesai berbuka puasa, Naisha langsung saja bergegas menuju kamarnya. Tapi, ternyata ada Aamir yang menguntit nya dari belakang. Naisha awalnya tidak menyadari, namun ia sadar saat akan membuka pintu dan masuk kekamarnya.


"Kamu ngikutin aku ya?" tanya Naisha ke Aamir yang sudah berdiri saja dibelakangnya. Aamir langsung tersenyum manis seraya menganggukkan kepalanya.


"Kenapa senyum - senyum?" tanya Naisha masih dengan galak.


"Ya gak kenapa - napa, Naisha. Senyum itu kan salah satu bentuk ibadah, jika dengan senyum kita bisa membuat orang senang itu nantinya akan mendatangkan pahala. Dari pada kita cemberut, dan orang jadi gak senang melihatnya, kan itu menjadi tidak baik." jelas Aamir dengan semangatnya.


"Oh gitu ya, berarti aku salah. Maaf ya Naisha." kata Aamir dan kali ini tanpa senyuman.


"Hhmm.. Ya sudah, kamu mau ngapain?" tanya Naisha lagi.


"Aku cuman ingin memberikan kamu ini, Naisha." ucap Aamir seraya menyerahkan botol kecil berisi cairan berwarna merah kecoklatan.


"Apa ini?" tanya Naisha dengan bingung.


"Madu." jawab Aamir.


"Ha? Untuk apa kamu kasih aku?" Naisha kembali bertanya.

__ADS_1


"Ini madu diberi teman aku yang baru pulang dari umroh, Naisha. Sangat bagus bagi kesehatan kita dan InshaAllah juga asli. Cobalah kamu minum, efeknya akan segera terasa. Apalagi setelah seharian berpuasa tubuh kita membutuhkan banyak cairan dan akan tergantikan dengan meminum madu ini, Naisha. Aku sudah coba, jadi kamu pun juga bisa minumnya setelah sahur nantik agar tubuh kamu dipuasa terakhir besok tidak begitu lemas." jelas Aamir dengan antusias.


"Itu teman kamu kan ngasihnya untuk kamu, kenapa kamu malah ngasih ke aku?" Naisha bertanya lagi sedangkan madu yang sudah sejak tadi disodorkan Aamir tidak kunjung diambilnya.


"Untuk aku sudah ada kok, Naisha. Sengaja aku bagi dua, setengah untuk aku dan setengah lagi untuk kamu." kata Aamir.


"Oh, tapii.. Aku sebenarnya gak begitu suka dengan madu." kata Naisha lagi.


"Yah.. Sayang sekali kamu gak menyukainya, tapi gak apa. Kamu Terima aja dulu, kamu coba cicipi sedikit demi sedikit. Mudah - mudahan saja, setelah ini kamu bisa suka dengan madu. Karena aku gak mau aja melihat kamu lemas Naisha, aku ingin kamu selalu terlihat sehat, segar, dan semangat dalm beraktifitas. Apalagi saat berpuasa dan aktifitas ibadah yang lainnya. Oya, malam ini.. Kamu jadi ikut aku Tarawih kan?" Aamir berbicara panjang lebar dengan semangatnya. Sedangkan Naisha hanya diam melongo, seakan terpana dengan segala hal yang dilontarkan oleh lelaki yang ada dihadapannya saat ini. Meskipun bentuk perhatian yang ia berikan terlihat sederhana, tapi entah kenapa itu sudah cukup membuat Naisha merasa diperhatikan.


"Ini Naisha, silahkan diambil.." Aamir kembali menyodorkan madu tersebut kearah Naisha. Lalu Naisha pandangi madu itu erat - erat, dan kemudian ia pandangi juga wajah Aamir yang lembut menawan serta dipenuhi dengan sorot ketulusan pada sinar matanya. Dan detik kemudian, Naisha akhirnya mengambil Madu itu.


"Terimakasih," ucap Naisha dengan pelan.


"Iya, Naisha. Sama - sama. Semoga bermanfaat untuk kamu ya?" kata Aamir dan kali ini dengan tersenyum bahagia.


...πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•...


BERSAMBUNG...


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2