
Keesokan harinya, karena tidak terdapat luka yang serius pada Naisha, maka dokter pun memperbolehkan Naisha untuk pulang. Dan yang menemani serta menjemput Naisha pulang pagi itu cuman Aamir saja karena Abi dan Umi Naisha berhalangan untuk datang. Sebenarnya bukan karena apa - apa, mereka sengaja saja memberikan ruang dan waktu lebih banyak lagi bagi Naisha untuk bersama - sama dengan Aamir.
Tadi malam Umi Sofia memang tidur dirumah sakit dan menemani Naisha, tapi pagi - pagi sekali tadi ia pamit pulang dan menitipkan Naisha dengan Aamir. Akan tetapi, Naisha tidak tahu perihal itu karena ia masih tidur. Makanya perasaannya agak canggung saat melihat Aamir ada didalam kamar rawatan nya yang sedang berberes - beres. Kendatipun demikian, Naisha tetap cuek saja. Tidak mengajak Aamir berbicara sedikitpun. Setelah itu, Aamir pun pamit kebawah untuk mengurus adiministrasinya Naisha.
"Naisha, kamu belum sarapan ya?" tanya Aamir sesaat setelah Aamir kembali masuk kedalam kamar Naisha. Lelaki itu baru saja mengurus segala administrasi rawatan Naisha sebelum pulang.
"Belum. Ngak selera makan." jawab Naisha dengan cuek, tanpa melihat kearah Aamir. Naisha terlihat sibuk dengan ponselnya, jari jemarinya yang lentik itu sejak tadi menari - nari diatas layar ponsel hpnya itu.
"Kenapa gak sarapan, Naisha? Kan.. kamu harus minum obat pagi ini, jadi harus sarapan dulu donk." kata Aamir seraya menunjukkan 3 butir obat didalam wadahnya kearah Naisha.
"Buang aja obatnya, aku gak mau minum." kata Naisha dengan jutek.
"Lah, kenapa gak mau minum obat, Naisha? Ini obat anti nyeri, antibiotik sama vitamin yang bagus lo diresepkan sama dokter untuk kamu. Kalau gak diminum, luka kamu nantik bakalan lama sembuhnya." kata Aamir yang lagi berusaha membujuk Naisha untuk minum obat.
"Yadah letak aja situ, nantik kalau ingat aku minum." kata Naisha dengan datar.
"Hhmm.. Kalo begitu, kamu sarapan aja dulu ya." kata Aamir dan kemudian mengambil sarapan tersebut diatas meja dan kemudian membawanya ke tempat Naisha.
"Ini.. Dimakan dulu ya sarapannya, walaupun gak selera tapi setidaknya kamu makan sedikit saja. Biar setelah itu kamu bisa minum obat," ucap Aamir dengan suara yang lembut.
Aamir menyodorkan piring tersebut kearah Naisha, namun Naisha tidak kunjung menerimanya. Ia masih sibuk dan fokus dengan ponsel yang ada di genggamannya.
"Apa kamu mau aku suapin, Naisha?" pertanyaan dari Aamir barusan itu, membuat Naisha langsung menoleh sejenak kearah Aamir dengan tatapan tak senang.
"NGAK..!!" jawab Naisha dengan lantang.
__ADS_1
"Ngak apa, Naisha. Biar aku suapin kamu ya karena kamu kan lagi sibuk balas chat tu jadi biar sambilan aku suapin kamu makan, biar lebih cepat. Nah, sekarang buka mulut kamu.." kata Aamir sembari menyodorkan sendok berisi makanan kearah mulut Naisha.
Akan tetapi, bukannya membuka mulutnya, Naisha malah menepis sendok yang disodorkan oleh Aamir dengan kasar sehingga sendok itu pun terjatuh kelantai dan otomatis nasinya juga berserakan disana. Aamir sampai kaget dan tak mengira Naisha akan berbuat seperti itu.
"Kamu dengar gak sih apa yang aku bilang? Aku gak mau makan, jadi jangan paksa aku untuk makan!!" kecam Naisha dengan marah.
"Iya, Maaf Naisha. Baiklah kalau kamu gak mau makan, aku gak akan maksa." kata Aamir dengan sabar.
"Tapi, ini ada roti. Kalau kamu gak selera makan nasi, sebaiknya kamu makan roti saja, Naisha. Yang penting perut kamu gak kosong sebelum makan obat." kata Aamir seraya menunjukkan roti tersebut kearah Naisha. Mendengar hal itu, Naisha langsung menghela nafas dengan kesal tanpa menanggapinya.
Beberapa saat kemudian keadaan menjadi hening, tidak terdengar lagi perbincangan diantara mereka. Naisha diperbolehkan pulang oleh dokter pada jam 9 pagi, dan sekarang masih jam 8 pagi. Masih ada waktu sekitar 1 jam lagi. Maka dari itu, Aamir pun izin ke Naisha sebentar mau ke mushola rumah sakit untuk menunaikan sholat dhuha. Naisha tidak memberi jawaban apa - apa, hanya sebuah gumaman saja yang terdengar dari mulutnya.
"Jangan lupa dimakan roti dan diminum juga obatnya ya, Naisha." Aamir kembali mengingatkan Naisha sebelum ia pergi ke Mushola.
"Hhmm.." gumam Naisha dengan malas - malasan. Setelah itu, Aamir pun keluar dari kamar rawatan Naisha. Namun, Aamir tidak langsung pergi ke mushola, ia sengaja mengintip sejenak apa yang akan dilakukan Naisha setelah ia pergi. Ternyata, Naisha mengambil roti dan memakannya seperti yang Aamir sarankan tadi. Aamir langsung tersenyum lebar menyaksikan hal itu. Meskipun sikap Naisha masih dingin dan jutek terhadapnya, namun setidaknya Naisha sudah mulai menuruti apa yang ia sarankan. Hal sederhana itu saja sudah mampu membuat Aamir bahagia.
Setengah jam kemudian, Aamir yang sudah selesai sholat dhuha dan sarapan dikantin rumah sakit, kemudian kembali lagi ke kamar rawatan Naisha. Dan setelah sampai didepan pintu kamar, Aamir mendengar suara agak berisik dari dalam kamar. Aamir yang penasaran langsung saja membuka pintu dengan sebelumnya tidak lupa mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum," ucap Aamir dengan suara yang lantang. Tiga pasang mata langsung menoleh serentak kearah Aamir, namun tidak satupun dari mereka menjawab salam dari Aamir tersebut.
"Eh, ada si Aamir.." ucap Mely dengan terkekeh - kekeh. Entah apa yang lucu sehingga membuat dia tertawa seperti itu. Aamir hanya tersenyum tipis menanggapinya.
"Naisha, kamu sudah siap? Pak Dodi sudah menunggu kita diparkiran. Bisa kita pulang sekarang?" tanya Aamir ke Naisha.
"Kamu pulang saja duluan sama pak Dodi, aku nantik pulang sama teman - teman aku saja." kata Naisha dengan melihat ke Aamir sekilas, dan kemudian kembali melanjutkan obrolannya dengan Tari dan Mely.
__ADS_1
"Tapi, Naisha... Abi dan Umi kamu tadi menganjurkan kamu untuk pulang sama aku, itu merupakan amanah dari mereka yang harus aku lakukan." kata Aamir dengan menolak apa yang Naisha suruh.
"Ih.. Apaan sih kamu Aamir? Amanah.. Amanah.. Gak jelas, Naisha tu gak mau pulang sama kamu, lebih baik kamu pulang aja deh sendiri.." kata Mely setengah mengusir.
"Benar itu, kenapa emangnya? Lu gak percaya sama kami ya? Kami ini sudah lama bersahabat, dan gak mungkin lah kami berbuat yang aneh - aneh ke Naisha." kata Tari yang ikut menimpali.
"Maaf, bukan saya gak percaya sama kalian berdua. Cuman.. Seperti yang saya katakan tadi, orang tua Naisha sudah memberi amanah ke Saya untuk membawa Naisha pulang bersama saya dengan pak Dodi juga. Jadi, saya gak enak saja jika nantik sampai dirumah gak barengan dengan Naisha." kata Aamir memberi beralasan.
"Eh Aamir, bawel banget sih kamu. Perihal pulang saja didebatkan. Aku sudah telpon Abi, dan Abi bilang gak apa - apa aku pulang sama teman - teman aku saja." kata Naisha dengan kesal.
"Benar Abi bilang begitu, Naisha?" tanya Aamir dengan menaikkan satu alisnya. Ia seperti tidak yakin dengan ucapan Naisha barusan.
"Ya benar donk, kamu menuduh aku berbohong ya?" tanya Naisha dengan melototkan matanya.
Bersamaan dengan itu pula, Abi Naisha menelpon Aamir dan menanyakan apakah Aamir dan Naisha sudah dijalan apa belum.
"Belum, Pak. Ini baru mau berangkat.. Iya Pak, siap." kata Aamir dengan sudut matanya melirik kearah Naisha. Dan Naisha langsung membuang muka karena merasa malu sudah ketahuan berbohong..
...🌿🌿🌿🌿...
BERSAMBUNG...
.
.
__ADS_1
.