Jalan Menuju CahayaMu

Jalan Menuju CahayaMu
BAB 58


__ADS_3

"Rozi, aku mohon biarkan aku pergi. Aku tahu, aku salah. Sudah keterlaluan sama kamu waktu dulu. Dan.. sekarang, aku mintak maaf. Kita damai saja ya? Kita lupakan saja apa yang pernah terjadi diantara kita, Ya Rozj?" pinta Naisha yang berusaha mengajak Rozi untuk bernegosiasi.


"Mudah sekali mulut manis mu berkata seperti itu, Naisha. Maaf kamu bilang ha ? Dan Apa tadi, Damai? Cih.. Setelah apa yang kamu perbuat, seenaknya saja kamu mengajak Damai. Apa dengan kata - kata Damai saja bisa membuat ibuk ku yang sudah berbeda alam dengan aku bisa kembali lagi ha?" tanya Rozi dengan mata yang melotot. Apalagi saat mengucapkan kata ibuknya, tampak sekali kemarahan tergambar diwajahnya itu.


"Apa? Ibuk kamu.. sudah meninggal dunia?" tanya Naisha dengan nada tak percaya. Karena setelah putus dari Rozi, Naisha tidak tahu lagi tentang laki - laki itu apa lagi tentang keluarganya.


"Iya, dia meninggal karena jatuh sakit. dan sakitnya itu.. Karena kamu, Naisha." jawab Rozi seraya menunjuk kearah Naisha.


"Ha? Gara - gara aku? Kenapa kamu menyalahkan aku atas meninggalkan ibuk kamu, Memang aku berbuat apa?" tanya Naisha yang merasa heran atas tuduhan yang dilayangkan oleh laki - laki itu.


"Kamu memang tidak pernah sadar Naisha, atau apa mungkin urat kesadaran kamu itu sudah putus ha?" ucap Rozi dengan geram. Meskipun dituduh seperti itu, tidak serta merta membuat Naisha tersinggung dan marah. Ia mencoba untuk bersikap tenang.


"Rozi, Sekarang gini saja, coba kamu jelas kan ke aku dengan sejelas - jelasnya.. Apa kesalahan aku yang membuat ibuk kamu meninggal? karena selama ini, aku gak merasa telah menjadi penyebab meninggalnya ibuk kamu. Aku akui, aku sudah mempermainkan kamu, membuat kamu tergila - gila sama aku, hanya memanfaatkan kamu saja dan setelah itu mencampakkan kamu sesuka hati aku. Iya, tapi itu hanya sebatas ke kamu saja. Begitu juga dengan laki - laki lain, aku gak pernah melibatkan keluarga mereka. Baik orang tua Dan juga saudara - saudara mereka. Jadi, apa hubungan aku dengan meninggalkan ibuk kamu?" tanya Naisha dengan rasa penasaran yang menyelimuti hatinya.


"Ya.. Memang tidak ada hubungannya. Tapi, itu bagi kamu. Bukan bagi ibuk aku yang sudah menganggap kamu seperti anaknya sendiri, yang begitu menyayangi kamu, mengagumi kamu, tapi apa balasan yang kamu berikan ha? Kamu lukai hatinya dengan perkataan - perkataan yang menyakitkan." kata Rozi masih dengan wajah penuh amarahnya itu.


"Rozi, Aku gak pernah mengatakan perkataan yang tidak baik kepada ibuk kamu." kata Naisha masih membela dirinya.


"Oh ya? Didepan ibuk aku mungkin tidak pernah, tapi.. Dibelakang ibuk aku? Pasti sering kan? Kamu membicarakan tentang Aku dan ibuk aku dengan teman - teman kamu yang sama jahatnya sama kamu itu, apa namanya itu gak pernah ha?" tanya Rozi dengan tatapan penuh kebencian terhadap Naisha.


"Rozi, Aku..." belum selesai Naisha berbicara, Rozi langsung memotongnya.

__ADS_1


"Aku apa Naisha?? Ibuk aku gak sengaja mendengar pembicaraan kalian waktu itu tau tidak? Kamu dan teman - teman kamu itu menghina dan merendahkan kami. Bahkan ibuk aku pun kau jadikan bahan guyonan kalian saat itu. Ibuk dengar saat itu Naisha, Ibuk aku mendengarnya dengan sangat jelas apa yang kalian bicarakan...." cerita Rozi yang mengingatkan Naisha pada kejadian disaat dia dan kedua temannya sedang membahas tentang Rozi. Dan entah bagaiamana akhirnya pembicaraan mereka melenceng ke keluarganya Rozi termasuk ibuk Rozi. Naisha tidak ingat jelas apa saja yang sudah keluar dari mulutnya saat itu. Tapi, memang benar.. Kata - kata yang keluar dari mereka bertiga adalah perkataan yang tidak pantas. Dan pastinya akan menyakitkan hati orang yang mendengarnya saat itu.


"Rozi, maaf.. Aku benar - benar gak tahu jika ibuk kamu mendengar pembicaraan kami waktu itu. Aku mohon, maaf kan aku. Aku benar - benar menyesalinya." ujar Naisha dengan memohon kepada Rozi.


"Tidak sampai disitu saja, Naisha. Setelah mendengar perkataan kamu itu.. Ibuk jadi sakit, kamu tahu kan ibuk mempunyai riwayat tensi tinggi? Dan tensinya yang sudah terkontrol dengan baik selama ini, menjadi naik drastis gara - gara ucapan kamu yang menyakitkan itu. Ditambah lagi rasa kecewa karena selama ini Ibuk sudah mengangap kamu wanita yang baik. Malahan ibu mendambakan kamu untuk menjadi menantunya, tapi nyatanya apa? Kamu malah menginjak - injak harga diri aku dan juga ibuk aku. Disitulah awal mulai keadaan ibuk menjadi lemah, Naisha. Semuanya gara - gara kamu." lanjut Rozi lagi yang dengan mengenang ibuknya yang sudah tiada itu.


Rozi masih menceritakan panjang lebar, apa yang tidak Naisha ketahui sebelumnya. Naisha mendangarnya dengan seksama, ia tidak menyangka ucapannya saat itu menjadi sesuatu yang fatal. Bahkan membuat nyawa seseorang melayang. Naisha menyesalinya, sungguh - sungguh menyesal. Tapi, tampaknya menyesal saja tiada gunanya saat ini. Ia sudah membuat rasa dendam bersemayam dalam di hatinya Rozi terhadap dirinya.


"Rozi.. Aku mintak maaf, aku benar - benar menyesal. Apa yang harus aku lakukan agar kamu memaafkan kesalahan aku, terutama sama ibu kamu?" tanya Naisha dengan raut penyesalan di wajahnya.


"Cuman ada satu cara, Naisha." kata Rozi dan kemudian mengeluarkan sebuah benda dari saku jaketnya. Dan benda itu adalah..


"Mau ngapain kamu dengan pisau itu, Rozi?" tanya Naisha dengan wajah yang takut.


"Kamu mau membunuh aku Rozi?" tanya Naisha dengan wajah yang panik.


"Menurut kamu bagaimana? Kamu lihat pisau ini, gimana rasanya jika pisau ini tertancap tepat dihatimu yang busuk itu, Nisha?" tanya Rozi dengan tersenyum sini.


Naisha yang sudah lepas dari cengkeraman Rozi, langsung saja mundur perlahan - lahan. Mencoba Menjauh dari keberingasan lelaki itu. Dan detik kemudian, tanpa berpikir panjang lagi, Naisha pun berlari dengan sekencang mungkin dengan berteriak meminta pertolongan.


Rozi tidak tinggal diam, ia mengejar Naisha. Langkah kakinya yang begitu lebar membuat dia dengan mudah meraih tubuh Naisha dari belakang. Hingga akhirnya ia menangkap tubuh Naisha. Ia peluk erat Naisha dari belakang. Naisha memberontak, berusaha melepaskan dirinya. Tapi, tenaganya kalah kuat dengan Rozi yang memiliki tubuh yang lumayan kekar. Hingga akhirnya Naisha pun pasrah dan menjatuhkan tubuhnya ditanah.

__ADS_1


"Rozi, aku mohon.. Beri aku kesempatan, jangan bunuh aku. Aku baru memulai hijrah dan memperbaiki diri. Amal aku belum banyak, dosa - dosa aku dimasa lalu belum tentu diampuni. Apa yang bisa aku pertanggungjawabkan nantiknya? Tolong lah Rozi.. Aku tahu kamu laki - laki yang baik, ini bukan diri kamu yang sebenarnya. Kamu aslinya pemaaf dan tidak pendendam, Rozi." kata Naisha yang masih berusaha membujuk Rozi.


"Tidak Naisha, aku bukan lah Rozi yang dulu lagi.


Kau yang membuat aku jadi seorang pendendam seperti sekarang ini. Kaulah penyebabnya Naisha." gumam Rozi yang masih bersikukuh untuk membunuh Naisha.


Naisha kehabisan cara untuk membujuk Rozi yang suara dikuasai oleh amarah dan dendam yang sudah mendarah daging di dirinya.


Satu - satunya cara yang bisa Naisha lakukan saat ini hanya lah berdoa, ia memejamkan matanya. Berdoa dalam hati, meminta pertolongan dari Allah dengan harapan Allah mendatangkan seorang penolong yang bisa menyelamatkan Naisha dari kebringasan Rozi.


Ternyata doa dan harapan yang Naisha panjatkan dihatinya terkabul dengan cepat. Saat pisau itu akan melayang ke tubuhnya, tiba - tiba saja terdengar sebuah suara sepeda motor yang berjalan kearah mereka. Sontak saja Naisha dan Rozi menoleh serentak kearah sana. Dan Mata Naisha langsung berbinar - binar bahagia setelah tahu siapa yang datang menolongnya..


.


.


.


BERSAMBUNG..


.

__ADS_1


.


"TERIMAKASIH SUDAH SETIA MEMBACA SAMPAI BAB INI YA, JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENTARNYA YA..."


__ADS_2