Jalan Menuju CahayaMu

Jalan Menuju CahayaMu
BAB 26 (MENOLONG NAISHA)


__ADS_3

Meskipun Aamir tidak tahu harus mencari Naisha kemana, akan tetapi ia tetap mengendarai sepeda motornya kearah yang sesuai dengan kata hatinya saja. Dengan sekali - sekali Aamir juga melihat ke kanan dan ke kirinya, mana tahu saja ia melihat mobil yang sesuai dengan ciri - ciri yang disampaikan oleh Rohan tadi.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah 12 malam, Tapi Aamir masih belum juga menemukan titik terang akan keberadaan Naisha. Kendati pun demikian, Aamir tetap tiada henti berdoa didalam hatinya agar Allah memberinya petunjuk dimana Naisha saat ini berada.


Beberapa saat kemudian, akhirnya doa Aamir terkabulkan. Ia melihat mobil yang sama persis dengan yang Rohan ceritakan, flat mobilnya pun sama. Tidak salah lagi, itulah mobil yang dimaksud Rohan.


Mobil itu baru keluar dari sebuah jalan yang tak beraspal dan juga gelap karena tidak ada lampu penerang disana, Aamir langsung memarkirkan motornya di pinggir jalan dan matanya tidak lepas melihat kearah mobil yang akan berbelok kearah kiri. Namun, mobil itu berhenti sejenak menunggu kendaraan lain yang lumayan ramai berlalu lalang malam itu.


Pada saat itulah, Aamir perhatikan baik - baik wajah laki - laki yang mengendarai mobil tersebut. Dan kemudian ia juga melihat ke kursi sebelah laki - laki itu yang ternyata kosong.


"Jika benar dia laki - laki yang bersama Naisha, tapi.. Dimana Naisha saat ini? Mengapa Naisha tidak ada didalam mobilnya?" bathin Aamir bertanya - tanya.


"Apa jangan - jangan..." kata Aamir.


Karena tidak ingin menduga - duga saja, maka Aamir pun bermaksud untuk bertanya langsung ke laki - laki itu.


Sesampainya disana, Aamir kemudian turun dari motornya dan langsung menyapa lelaki itu.


"Maaf, bang... Mengganggu sebentar." ujar Aamir seraya mengetuk kaca Mobil yang setengah terbuka itu.


"Ya, ada apa?" laki - laki tersebut bertanya dengan heran sembari menuruni seluruh kaca mobilnya sehingga Aamir bisa melihat isi didalam mobil yang ternyata memang tidak ada siapapun didalam sana.


"Apakah.. Anda kenal dengan Naisha?" Aamir langsung bertanya blak - blakkan, karena dia tidak punya waktu lagi untuk berbasa - basi. Wajah Laki - laki itupun langsung berubah seketika saat mendengar nama Naisha.


"Apa? Naisha? S-saya.. Tidak kenal dengan nama itu," jawab lelaki tersebut dengan terbata - bata dan kemudian langsung mengalihkan wajahnya dari Aamir.


"Benar anda tidak kenal dengan yang namanya Naisha?" Aamir bertanya lagi dan kali ini lebih menekankan kata - katanya.

__ADS_1


"Tidak.. tidak.. Saya tidak kenal, sudah ya.. saya buru - buru." katanya dan kemudian menutup jendela mobilnya.


"Hei.. Tunggu dulu," kata Aamir dengan mencegah laki - laki itu untuk pergi. Tapi, si laki - laki berpura - pura tidak mendengar ucapan Aamir.


Aamir kemudian menyipitkan matanya dengan curiga, bahasa tubuh dan cara bicara laki - laki tersebut terlihat begitu aneh. Dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu, rasa takut dan cemas juga tergambar di wajahnya. Dan detik kemudian, lelaki itupun berlalu dari sana meninggalkan Aamir yang terdiam terpaku ditempatnya.


Sepeninggalan laki - laki itu, Aamir lalu melihat kearah jalan tak beraspal dan gelap yang baru saja dilalui oleh mobil laki - laki tadi. Entah kenapa ada sebuah dorongan didalam hati Aamir yang sangat kuat dan memaksanya untuk masuk kedalam sana. Lagi - lagi Aamir mengikuti kata hatinya, ia kembali naik keatas motor dan menuju masuk kedalam jalanan yang gelap dan sepi itu dengan harapan disana ia menemukan titik terang akan keberadaan Naisha. Ya.. Aamir sangat berharap ia bisa menemukan Naisha. Karena Aamir sudah berusaha semampu mungkin untuk mencari Naisha sejak tadi. Dan ia tidak ingin pencariannya itu sia - sia.


Beberapa saat kemudian, Aamir sudah berada di pertengahan jalan yang berbatuan tersebut. Meskipun gelap gulita dan tidak terdapat satupun rumah didalam sana, Namun Aamir sedikitpun tidak merasa takut. Tekadnya yang kuat itu untuk mencari Naisha mampu mengalahkan rasa takutnya.


Malam semakin mencekam, anginpun berhembus sepoi - sepoi ditambah lagi kilat yang tiba - tiba menyambar dilangit sana yang seakan menandakan akan turun hujan. Aamir dengan keyakinan penuh terus membawa motornya dengan pelan semakin masuk kedalam jalanan yang sepi tersebut, matanya tidak lepas memandang kearah kiri dan kanannya, menyelusuri sesuatu hal yang bisa menjadi pertanda akan keberadaan Naisha.


Ternyata usaha Aamir dalam mencari Naisha mulai menemukan titik terang. Karena Mata Aamir menangkap sebuah benda yang berkilauan terletak direrumputan. Awalnya Aamir tidak tahu itu apa, setelah ia mendekatkan motornya kesana barulah ia tahu bahwa benda itu adalah tas kecil yang biasa dibawa Naisha berpergian. Warnanya yang putih dan terdapat manik - manik dipinggir - pinggirnya lah yang membuat tas tersebet seperti bercahaya ditengah kegelapan malam itu.


Aamir langsung saja mengambil tas Naisha dengan tangan yang bergetar.


"Apa mungkin dia meninggalkan Naisha disekitar sini? Tapi, dimana Naisha sekarang? Apa yang telah ia lakukan terhadap Naisha?" tanya Aamir didalam hatinya.


Aamir mencari - cari disekitar sana, ia menggunakan senter hpnya agar bisa menerangkan langkahnya dalam mencari Naisha. Dan tidak lupa pula ia menjerit beberapa kali dengan memanggil nama Naisha.


"Naisha... Naisha... Naisha..." panggil Aamir dengan suara yang kuat.


Beberapa saat kemudian, Aamir mendengar suara rintihan pelan seorang wanita yang mengatakan minta tolong. Aamir menajamkan pendengarannya, ia dengarkan dengan baik - baik, dimana sumber suara tersebut. Sampai akhirnya, suara itu semakin jelas didengar oleh Aamir. Suara rintihan meminta tolong itu berada didalam jurang yang lumayan dalam. Aamir langsung saja bergegas dan melihat kebawah sana dengan bermodalkan lampu senter dari handphonenya.


πŸ’πŸ’πŸ’πŸ’


Sedangkan ditempat lain, terlihat Ferdi sedang mengendarai mobilnya dengan lumayan kencang. Beberapa kali ia tampak memukul setir mobilnya dengan hati yang kesal. Bagaimana tidak, ia kesal karena belum sempat melakukan aksi dan rencananya terhadap Naisha, akan tetapi wanita itu malah menjatuhkan dirinya kedalam jurang. Belum lagi, Aamir bertemu dengan seorang laki - laki yang menanyai akan keberadaan Naisha dimana. Laki - laki itu melihat Ferdi dengan tatapan penuh selidik dan curiga.

__ADS_1


"Siapa laki - laki itu? Dan.. Kenapa dia kenal dengan Naisha?" tanya Ferdi pada dirinya sendiri dengan bingung.


Setelah itu, Ferdi sampai didalam rumahnya. Ia langsung saja masuk kedalam kamarnya dengan perasaan yang tidak menentu.


"Bagaimana jika ada orang yang menemui Naisha dibawah jurang sana dan kemudian membawanya kerumah sakit?" tiba - tiba pertanyaan itu terlintas dipikiran Ferdi. Dan seketika itu pula, Ferdi merasa cemas dan takut jika Naisha masih hidup dan melaporkannya ke polisi.


"Tidak... Tidak... TIdak mungkin Naisha masih hidup, jurang itu sangat dalam. Mustahil dia masih hidup. Ya.. Aku yakin Naisha tidak bisa diselamatkan." kata Ferdi yang berbicara pada dirinya sendiri.


Kendati pun demikian, rasa cemas masih menyelimuti hati Ferdi. Apalagi saat mendengar deringan pada ponselnya dan melihat nama seseorang yang menelponnya disana.


"Tari..." lirih Ferdi dengan menyebut nama Tari.


"Kenapa temannya Naisha menelpon aku? Apa jangan - jangan.. Tari tahu aku pergi dengan Naisha malam ini?" gumam Ferdi dengan wajah yang mulai pucat karena takut..


🌼🌼🌼🌼


BERSAMBUNG...


.


.


.


"Hai.. Jangan lupa beri like dan komentarnya ya.. Terimakasih sudah setia membaca..."


.

__ADS_1


.


__ADS_2