Jalan Menuju CahayaMu

Jalan Menuju CahayaMu
BAB 57


__ADS_3

Naisha kini sudah berada didepan hotel, sedang menunggu taksi untuk membawanya menuju ke bandara. Karena Naisha ingin pulang hari ini juga kerumah orang tuanya. Ia tidak peduli dengan Aamir yang masih tinggal diatas sana, yang jelas rasa sakit hati dan kecewa dihatinya lebih besar dari pada rasa kepedulian terhadap laki - laki itu.


Meskipun Naisha tau Aamir tidak memiliki cukup uang untuk pulang sendirian ke kota asal mereka. Tapi, tetap saja Naisha nekat meninggalkan Aamir disana.


Naisha masih menunggu taksi, kepalanya celingak celinguk melihat ke kanan dan kiri. Tapi, tidak ada satupun taksi yang terlihat disana. Dan beberapa saat kemudian, ada sebuah motor berhenti tepat. didepan Naisha.


"Kak.. Mau naik ojek?" tawar lelaki bermasker hitam itu.


"Antar ke bandara bisa?" tanya Naisha yang tidak punya pilihan lagi karena taksi tak kunjung muncul di dekatnya.


"Tentu bisa donk kak" jawabnya dengan antusias. Dan tanpa berpikir panjang lagi, Naisha pun naik keatas motor si tukang ojek tersebut.


Beberapa detik kemudian, mereka pun berlalu dari sana menuju ke jalan raya. Bersamaan dengan itu pula, Aamir keluar dari hotel dan tentu saja dari kejauhan ia melihat Naisha berboncengan dengan seorang laki - laki.


"Naisha..." panggil Aamir dengan berteriak. Tapi, teriakan dari Amair itu sia - sia belaka, Naisha sama sekali tidak mendengarnya. Andai pun ia mendengar, sudah dipastikan Naisha tidak akan menghiraukan panggilan dari Aamir itu.


Aamir kemudian mencari - cari kendaraan yang bisa ia tumpangi. Dan di seberang sana, ia melihat ada tukang ojek yang lagi mangkal. Maka, Aamir pun menyebrang ke seberang sana.


"Bang.. Arah sana ya bang, agak ngebut ya. Saya mau ngejar istri saya." kata Aamir yang langsung saja di iyakan oleh si tukang ojek.


Sedangkan ojek yang ditumpangi Naisha sudah jauh meninggalkan hotel. Naisha sedikit merasa heran karena jalanan sekarang ini agak berbeda dengan jalanan pada saat pertama kali supir taksi membawanya dari bandara ke hotel.


"Ini kita lewat jalan mana ya? Kok jalannya berbeda dengan yang kemarin waktu pertama aku sampai disini?" akhirnya Naisha bertanya si abang tukang ojek.


"Iya, kak. Ini jalan alternatif, karena kalau jalan yang biasanya kita lewati itu jam - jam segini pasti macet." jelasnya. Naisha mangut - mangut saja, mempercayai apa yang dikatakan si tukang ojek itu.


Akhirnya Sudah lebih setengah jam mereka diperjalanan, akan tetapi mereka belum juga sampai ke bandara. Padahal setahu Naisha, melewati jalan yang biasa itu tidak sampai setengah jam sudah sampai.


"Kenapa gak sampai - sampai ya?" tanya Naisha agak berteriak karena angin yang kencang membuat suaranya tidak tetdengar jelas.


Tapi, tidak ada jawaban dari si tukang ojek. Maka, Naisha bertanya lagi dengan suara yang lebih besar dan kencang.


"Bang.. Kenapa lama sekali sampainya?Apa kita gak salah jalan nih?" tanya Naisha lagi dengan berteriak lebih kencang.

__ADS_1


"Sabar ya kak, saya akan antar kakak ketempat tujuan dengan selamat kok." jawabnya kemudian malah menambah laju kendaraannya.


"Jangan kencang - kencang donk..!!" protes Naisha karena memang Naisha yang tidak biasa naik motor apalagi sekencang ini. Tentu saja ia merasa takut, takut jatuh ataupun tabrakan dengan kendaraan yang lain.


"Saya bilang jangan kencang - kencang, Paham gak sih??" Naisha menjerit seraya memukul - mukul helm si tukang ojek. Tapi, sedikitpun laki - laki itu tidak bergeming. Ia masih mengendarai motor tersebut dengan sesuka hatinya dan semakin ngebut malahan. Naisha yang panik akhirnya menyuruh laki - laki itu memberhentikan motornya.


"Stop.. Stop.. berhenti disini..!!!" kata Naisha masih memukul - mukul helm si lelaki. Tapi, tetap sama.. Ia tidak mau memberhentikan motornya malahan ia membelokkan motornya kearah jalanan yang sepi, keluar dari jalan raya. Tentu saja, Naisha semakin panik dan takut. Perasaannya mengatakan bahwa dirinya dalam bahaya.


"Kamu mau bawa kau kemana? Hai.. Berhenti aku bilang.. Kalau gak aku lompat nih..!!" ancam Naisha yang sudah mengambil aba - aba untuk melompat.


"Lompat saja kalau kamu berani, Naisha.." desis laki - laki itu dengan menyebut nama Naisha. Dan Naisha langsung terperanjat kaget, laki - laki ini tahu namanya, berarti.. Dia kenal dengan Naisha?Tapi, siapa dia sebenarnya?


"Kamu siapa? Kenapa kamu tau nama aku ha?" tanya Naisha dengan gusar.


"Tentu aku tahu nama kamu, jangan kan nama.. Wajah cantik mu itu saja masih lekat diingatan aku, Naisha." katanya dengan berteriak.


Naisha kemudian mendengus dengan kesal, meksipun ia penasaran siapa laki - laki ini. Tapi, Naisha tak ingin ambil pusing memikirkan siapa dia. Yang jelas, Naisha ingin pergi dan kabur darinya. Tapi, Apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia melompat? Namun, Naisha tidak punya keberanian untuk itu, sedangkan laki - laki ini sudah jauh membawa Naisha meninggalkan jalan raya. Dan.. Sekarang mereka malah memasuki perkebunan sawit yang sepi. Tidak ada kendaraan dan juga rumah warga yang terlihat disana. Naisha semakin cemas, hanya doa yang bisa aja panjatkan saat ini.


"Hai.. Kamu dengar gak sih?" jerit Naisha dan kali ini mendorong tubuh laki - laki itu sehingga tubuhnya agak terhentak kearah depan.


"Diam saja kamu dibelakang sana, Naisha. Apa kamu mau kita jatuh ha?" teriaknya dengan setengah membentak.


"Biar saja jatuh, aku akan mendorong kamu lebih kencang lagi kalau kamu tidak juga menghentikan motor ini." ancam Naisha masih dengan berteriak.


"Coba saja kalau kamu berani..!!" tantangnya. Karena ditantang seperti itu, membuat Naisha menjadi nekat. Ia kini bukan mendorong tubuh laki - laki itu, melainkan.. Ia menggelitik kedua pinggangnya. Tentu saja laki - laki itu merasa kegelian pada pinggangnya. Akhirnya usaha Naisha untuk membuatnya menghentikan motor itu berhasil juga. Dengan menahan rasa geli, laki - laki itu memperlambat laju kendaraannya dan bahkan dengan perlahan - lahan ia menghentikan motornya dipinggir jalanan yang sepi tersebut.


Setelah motor berhenti, tanpa dikomando Naisha langsung saja berlari dan kabur dari sana. Karena ia tahu dirinya berada dalam bahaya saat ini. Ia tidak peduli siapa dan kenapa laki - laki itu melakukan ini kepadanya? Yang jelas saat ini Naisha harus kabur dan lari sekencang - kencangnya mungkin menuju ke jalan raya yang tadi.


Laki - laki itu mengejar Naisha. Naisha yang tahu dirinya dikejar, tidak lengah ia pun langsung berlari lebih kencang lagi dengan berteriak - teriak mintak tolong. Walaupun ia tidak melihat siapapun didepan sana, tapi tetap saja ia berharap ada seseorang yang mendengar teriakannya ini.


Laki - laki berjaket hitam itu semakin mendekati Naisha, dan detik kemudian ia berhasil menangkap tubuh Naisha dari belakang. Naisha memberontak tapi cengkeramannya terlalu kuat, sehingga Naisha tak bisa melepaskan dirinya dari pegangan laki - laki itu.


"Mau kemana kamu cantik??" tanya nya dengan tatapan liarnya itu menatap Naisha. Karena jarak yang dekat, Naisha agak terpana karena ia seperti mengenali tatapan itu. Ya.. Naisha mencoba mengingat - ingat siapa kah dia? Sampai akhirnya ia pun teringat siapa sosok lelaki yang ada dihadapannya ini.

__ADS_1


"Rozi??" lirih Naisha dengan suara yang tertahan, ia agak ragu - ragu. Apakah benar dugaannya bahwa laki - laki ini adalah Rozi.


"Akhirnya kau mengenali aku juga Naisha." kata laki - laki itu, dan kemudian melepas maskernya dengan tangan sebelahnya. Dan tangan sebelahnya lagi masih mencengkram Naisha dengan begitu kuat.


"Ya Allah, kamu benar - benar Rozi. Apa - apaan ini Rozi? Lepaskan tangan aku!!" perintah Naisha dengan berusaha melepaskan pegangan tangan Rozi pada tangannya.


"Aku gak akan melepaskan kamu, Naisha." gumamnya dengan tatapan nanarnya itu.


"Kamu benar - benar sudah gila ya? Untuk apa kamu melakukan ini semua? Dan.. Kamu mengikuti aku sampai di kota ini, untuk apa Rozi?" tanya Naisha dengan menggeleng - gelengkan kepalanya tak percaya Rozi akan senekat ini.


"Ngak perlu kamu tanyakan lagi untuk apa aku datang, Naisha. Seharusnya kamu tau sendiri apa tujuan aku datang kesini." katanya yang diakhiri dengan tawanya yang menggelegar itu.


"Lepaskan tangan aku, Rozi. Kamu sama saja seperti teman mu si Ferdi itu. Apa kamu mau menyusul dia ke penjara ha?" tanya Naisha dengan gusar. Rozi langsung tertawa dengan terbahak - bahak.


"Naisha.. Naisha.. Kamu memang gak sadar juga ya? Kamu dengan seenaknya bisa hidup senang dan bahagia dengan suami ustad mu itu, apa kamu gak mikir sudah banyak menyakiti dan mengecewakan perasaan laki - laki lain ha? Yang katanya sudah hijrah, tapi.. Kamu tidak memulai hijrah kamu dengan meminta maaf kepada orang - orang yang pernah kamu sakiti, itu yang namanya Hijrah ha?? Yang hijrah cuman penampilan kamu saja, tapi tidak dengan hati kamu yang tetap busuk dan kotor." ungkap Rozi yang malah menyudutkan Naisha dan kemudian mencengkram tangan Naisha dengan lebih kencang lagi.


"Rozi.. Lepas, sakit..tahu gak?" desis Naisha dengan meringis kesakitan.


"Rasa sakit ini gak seberapa dibandingkan rasa sakit yang dirasakan oleh ibuk aku, Naisha" katanya lagi dengan wajah penuh kemarahan.


"Ibuk kamu? Kenapa dengan ibuk kamu, Rozi?" tanya Naisha yang memang tidak paham kenapa Rozi mengkaitkan ini semua dengan ibuknya.


"Seharusnya kau cari tahu Naisha apa yang terhadi, ini lah akibatnya jika kau tak pernah peduli dengan orang lain, padahal orang lain itu tulus menyayangi kamu. Tapi, apa yang kau balas ha? Perkataan dan tingkah laku yang menyakitkan itu yang malah kau tunjukkan ke kami. Tak kah kau sadar Naisha sudah banyak meninggalkan luka dihati keluarga aku ha??" kata Rozi dengan mata tajamnya itu mulai memerah karena menahan amarah yang sudah menggebu - gebu.


Naisha terdiam dengan pikiran kalut tak menentu. Dalam keadaan terhimpit itulah, ia seakan diingatkan lagi dengan kejadian lama saat ia masih berpacaran dengan Rozi. Suatu hal yang telah ia perbuat, ternyata meninggalkan luka yang dalam terhadap Rozi dan juga keluarganya..


,


,


,


BERSAMBUNG..

__ADS_1


__ADS_2