
"Akhirnya kamu datang juga menemui aku, Naisha. Salut aku dengan keberanian kamu.." kata Rozi sesaat setelah Naisha sampai ke sebuah cafe yang telah ditentukan oleh Rozi untuk mereka bertemu.
Naisha memberanikan dirinya untuk pergi menemui Rozi sendiri, tanpa diketahui oleh siapapun termasuk Aamir maupun Abinya. Sebenarnya ini sesuatu yang sulit bagi Naisha, Ia harus pergi keluar rumah tanpa pamit dengan Aamir dan ia pun tahu bahwa ini suatu kesalahan atau bahkan dosa atas keputusan mendadak nya ini. Tapi, Naisha melakukan ini karena Rozi telah berjanji akan mengakhir semua kegilaannya jika Naisha mau datang menemuinya di kafe ini untuk yang terakhir kalinya.
Rozi bilang, ada sesuatu hal penting yang ingin ia sampaikan ke Naisha. Dan tanpa rasa curiga dan takut sedikitpun, Naisha malah menerima tawaran Rozi itu. Maka jadilah saat ini mereka duduk berdua di kafe yang pengunjungnya tidak terlalu ramai dan terletak agak jauh dari pusat kota.
"Iya, aku mencoba memberanikan diri untuk bertemu dengan orang yang sudah hampir membunuh aku." ucap Naisha dengan tersenyum tipis.
"Oh ya. ..? Kenapa kamu tidak takut ketemu dengan aku lagi, Naisha? Seharusnya kamu trauma dan menghindar dari aku sebisa mungkin bukan?" tanya Rozi dengan tatapan tajam nya itu melihat Naisha.
"Iya, kamu benar.. seharusnya aku takut dan menghindar untuk bertemu dengan kamu. Tapi, entah kenapa.. Timbul sebuah keyakinan dihati aku ini bahwa kamu tidak akan mengulangi lagi perbuatan jahat kamu itu ke aku." kata Naisha dengan tersenyum lebar. Sebisa mungkin ia mencoba untuk terlihat biasa saja, walaupun tidak dipungkiri ada juga sedikit rasa cemas dihatinya.
"Kenapa kamu bisa yakin kalau aku tidak akan mencelakai kamu, Naisha?" tanya Aamir lagi dengan pandangan tidak lepas dari Naisha.
"Ya.. Karena aku tahu kamu sebenarnya bukan laki - laki yang jahat, Rozi. Malahan sebaliknya, kamu seorang laki - laki yang memiliki hati yang lembut dan begitu peduli dengan orang lain." jawab Naisha dengan bawaannya yang tenang itu. Rozi langsung tertawa keras mendengar ucapan Naisha barusan.
"Hahahahaha...Naisha.. Naisha.. Kamu sudah salah menilai aku tau tidak? Kamu bilang aku lelaki berhati lembut, cih..Yang ada sekarang ini, Hati aku itu keras sekali.. Lebih keras dari batu, tau kamu?" kata Rozi seraya melotot kan matanya dengan garang. Namun, sedikitpun Naisha tidak takut dengan kegarangan yang ditampakkan oleh Rozi tersebut.
"Aku yang sekarang bukanlah aku yang dulu. Aku tidak sebodoh dulu lagi, Naisha. Yang bisa dimanfaatin dan dipermainkan oleh seorang wanita... yang padahal, wanita itu... teramat aku cintai, dan wanita itu.. Adalah kamu, Naisha.. Ya.. kamu..." lanjut Rozi lagi dengan nada ketus dan juga masih dengan tatapan yang tajamnya itu.
"Tapi bagi aku, kamu masih tetaplah seperti Rozi yang dulu. Tidak ada yang berubah. Hati kamu tetap baik dan tulus. Aku tahu, Kamu tidak akan mengecewakan apalagi menyakiti orang - orang disekitar kamu, apalagi orang itu pernah singgah dihati kamu walaupun hanya sesaat." kata Naisha yang sedikitpun tidak menampakkan rasa cemas dan takut dari wajahnya nya.
"Jangan terlalu mendramatisir, Naisha. Karena tidak berpengaruh sedikitpun bagi aku. Hati aku ini.. Sudah membeku tau gak kamu?" kata Rozi seraya memegang bagian dadanya.
"Iya, aku tahu. Karena itu aku kesini, untuk kembali mencairkan hati kamu yang sudah membeku itu." ucap Naisha dengan pelan namun menyakinkan.
"Pintar sekali kamu berkata - kata ya Naisha.." kata Rozi dengan menyunggingkan senyumnya.
"Rozi.. Aku datang kesini, bertemu dengan kamu tanpa sepengetahuan siapapun, aku sudah berdosa sebenarnya, pergi Menemui laki - laki tanpa izin suami aku. Apalagi laki - laki itu hampir mambunuh aku.." kata Naisha dengan suara yang pelan.
__ADS_1
"Karena itulah.. Aku mohon, kamu beritahu saja cepat apa yang ingin kamu beritahukan ke aku. Setelah itu, sesuai kesepakatan kita tadi.. Kamu harus pergi dan jangan lagi mengganggu kehidupan aku dan juga suami aku." kata Naisha yang menagih janji Rozi tadi saat ditelpon.
"Sabar donk Naisha sayang... Aku akan memberitahu kamu, tapi sebelum itu.. biarlah aku menikmati sejenak kebersamaan kita ini. Karena sudah lama juga kita tidak berdua - duaan seperti ini kan?" kata Rozi dengan pandangan menggodanya itu.
"Rozi, aku ini wanita yang sudah bersuami. Tidak lagi sebebas dulu, Aku sudah hijrah. Jadi, aku mintak Tolong... kamu hargai aku sebagai seorang wanita muslimah, bukan malah menganggap aku wanita liar seperti waktu dulu itu..." kata Naisha yang merasa tidak Terima ditatap dengan tatapan nakal yang ditampakkan kan oleh Rozi kepadanya.
"Ya... Ya.. Ya.. Kamu sudah Hijrah? Siapa yang bawa kamu Hijrah? Suami kamu yang bernama Aamir itu? Seorang ustad yang menurut aku.. Bukan tipe kamu Naisha, kok bisa... Kamu jadi terpikat dengan pesona ustad jadul itu ha?" tanya Rozi dengan tiba - tiba malah meledek dan menjelek - jelekkan Aamir.
"Aku gak suka kamu menghina suami aku seperti itu, Rozi. Jika disandingkan kalian berdua, sangat jauh sekali perbandingannya. Aamir lebih dari segala - galanya ditimbang kamu." kata Naisha dengan wajah yang cemberut.
"Eeiitss... Kamu jangan bandingkan aku dengan dia ya. Aku juga gak suka, Naisha." kata Rozi terdengar marah.
"Oke, kita tinggalkan tentang Aamir. Sekrang, cepat kamu beritahu saja.. Apa yang ingin kamu beritahu ke aku, karena aku gak punya waktu, aku ingin segera pulang.." pinta Naisha.
"Okey.. Aku ingin menunjukkan ini kepada kamu, Naisha." kata Rozi dan kemudian mengeluarkan sebuah benda dari dalam tasnya.
"Apa itu?" tanya Naisha penasaran.
Setelah Naisha membuka kotak hitam tersebut, dan ternyata isinya adalah sebuah gelang yang berwama hijau dan terbuat dari batu giok.
"Ini maksudnya apa Rozi?" tanya Naisha dengan heran memandang benda tersebut
"Aku cuman ingin kamu tahu, Naisha.. Dimana .. dihari Ibuk aku mendengar pembicaraan kamu bersama teman - temannya kamu itu, sebenarnya ibuk ingin bertemu dengan kamu dan memberikan gelang ini untuk kamu. Karena dia tau kalau kamu hari itu sedang berulang tahun, dan... kala itu ibuk tidak tahu mau memberi kado apa untuk kamu.. Satu - satu benda berharga yang ia miliki saat itu ada lah ya gelang ini. Maka gelang inilah yang ingin ia berikan ke kamu sebagai tanda sayangnya dia terhadap kamu dan berharap kamu bisa menjadi pendamping aku nantiknya..." kenang Aamir yang membuat mata Naisha langsung berkaca - kaca.
"Tapi, apa balasan yang kau berikan ke ibuk aku Naisha? Niat baik dan ketulusannya ke kamu seakan sia - sia setelah mendengar kata - kata menyakitkan itu meluncur indah dari lisan kamu yang berbisa itu, Naisha." kata Aamir dengan sorot kebencian yang tergambar jelas pada matanya.
"Aku mintak maaf, Rozi.. Sudah berkali - kali aku memohon sama kamu agar memaafkan kesalahan aku itu. Aku sungguh sudah menyesalinya." kata Naisha dengan nada memelas.
"Disaat - saat terakhir ibuk aku pun dia ingat kamu Naisha, Ibuk menyuruh aku agar membawa kamu kerumah, saat itu aku belum tahu kalau ibuk mendengar ucapan kamu yang menyakitkan itu, tapi saat aku memohon sama kamu agar datang kerumah aku untuk menemui ibuk, tapi apa yang kamu lakukan saat itu? Kamu malah mengusir aku dan merendahkan aku didepan orang - orang.." l
__ADS_1
Rozi masih melanjutkan ucapannya yang mengebu - gebu itu.
"Iya, Rozi.. Aku tahu... Aku sungguh menyesal, aku sungguh minta maaf, kata apa lagi yang harus aku ucapkan untuk menebus segala kesalahan aku terhadap kamu, Rozi? Atau.. Apa yang harus aku lakukan agar aku bisa menebus segala kesalahan aku itu, Rozi?" tanya Naisah dengan berlinangan air mata.
"Hanya ada satu cara yang bisa kamu lakukan untuk menebus kesalahan atas perbuatan kamu itu, Naisha." kata Rozi dengan wajah yang serius.
"Iya, apa Rozi? Jika aku mampu, akan aku lakukan. Jika kamu meminta ganti rugi pun aku bersedia untuk membayarnya.." kata Naisha yang malah keceplosan berkata seperti itu, padahal ia tidak berniat untuk mengatakannya. Akan tetapi, sudah terlanjur terucap dan perkataan Naisha yang terakhir itu malah membuat Rozi tersinggung.
"Ini bukan perihal nominal, Naisha. Keluarga aku tidak serendah itu. Jangan mentang - mentang kamu berasal dari keluarga yang kaya raya jadi bisa seenaknya kamu menilai segala sesuatu nya dengan uang dan uang. Kami masih ada harga diri, dan yang jelas aku tidak butuh dengan uang kamu itu. Tidak sudi sepeserpun aku menerimanya, paham kamu?" kecam Rozi dengan marah.
"Iya, Maaf Rozi. Aku gak bermaksud merendahkan kamu ataupun menghina kamu. Aku mintak maaf." kata Naisha yang sadar akan keceplosan nya dengan berkata begitu. Sedangkan Rozi hanya diam saja dengan wajah merah padam.
"Jadi, apa Rozi? Apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahan aku itu?" tanya Naisha lagi yang tak sabar ingin tahu apa keinginan laki - laki ini. Karena Naisha ingin ini semua selesai dengan baik, dia dimaafkan dan bisa kembali hidup tenang bersama Aamir. Tidak ada lagi yang membebani dirinya.
"Apa yang aku mintak ini adalah apa yang diinginkan oleh ibuk juga Naisha.." ujar Aamir seraya menatap wajah Naisha dengan erar.
"Iya, apa itu Rozi? Kamu katakan saja, jika aku mampu.. Aku akan melakukannya, aku akan memenuhi keinginan terakhir almarhumah ibuk kamu. Agar beliau bisa tenang dialam sana." kata Naisha dengan mendesak Rozi agar segera mengatakan apa yang menjadi keinginan terakhir ibuknya.
"Ibuk ingin.. Aku dan kamu.. Menikah, Naisha. Ya.. menikah, kita harus menikah.. Tapi kamu harus cerai dulu dengan Aamir.." kata Rozi akhirnya dengan menyunggingkan senyum getirnya itu.
"Itulah keinginan terakhir ibuk yang harus kamu penuhi, Naisha." lanjut Aamir lagi dengan tatapan mautnya itu. Naisha langsung terdiam dengan menelan ludahnya yang terasa sangat pahit..
.
.
.
BERSAMBUNG...
__ADS_1
"JANGAN LUPA BERI LIKE DAN KOMENTARNYA YA.. TERIMAKASIH SUDAH SETIA MEMBACA..