
Pernikahan Naisha dan Aamir sebenarnya akan dilaksanakan setelah lebaran, namun Abi Naisha khawatir dan takut jika terlalu lama bisa membuat Naisha berubah pikiran. Makanya, Abi Naisha menyuruh Aamir untuk menikahi Naisha dibulan puasa ini saja, dan ketika itu pula Abi Naisha mendesak Aamir agar membawa kedua orang tua Aamir untuk datang kerumahnya dan melamar Naisha secara resmi.
Selang satu hari kemudian, Orang Tua Aamir yang berada dikampungpun datang, mereka tidak banyak bertanya dan bahkan langsung saja menyetujui pernikahan mendadak Aamir dan Naisha tersebut. Tentu saja hal itu menjadi sinyal yang positif bagi Abi Naisha. Karena ia tidak butuh energi yang banyak untuk menjelaskan panjang lebar ke keluarganya Aamir.
Maka sampailah malam ini, kedua keluarga besar Naisha dan Aamir berkumpul dirumahnya Naisha. Acara sudah selesai setengah jam yang lalu, tamu - tamu undangan pun sudah pulang. Yang tinggal saat ini hanya keluarga inti saja.
"Aamir, mana Naisha?" tanya Pak Marwan saat Aamir turun kebawah hanya seorang diri, tanpa Naisha disisinya.
"Hhmm.. Maaf Abi, Umi, Naisha sudah istirahat duluan. Karena mungkin kelelahan juga," kata Aamir yang terpaksa mengarang cerita karena ia kini merasa memiliki kewajiban untuk menjaga nama baik istrinya yang baru beberapa jam ia nikahi itu. Apalagi didepan kedua orang tuanya, Aamir tidak ingin orang tuanya tahu bagaimana sifat dan prilaku Naisha sebenarnya. Sudah dapat dipastikan, kedua orang tuanya akan merasa kecewa jika mereka mengetahui hal tersebut.
"Sudah tidur ya?" tanya Umi Sofia dengan nada tak yakin, Aamir hanya tersenyum tipis setelah itu menundukkan sedikit kepalanya. Kemudian, obrolan kedua keluarga itupun berlanjut sampai jam 11 malam dan akhirnya orang tua Aamir pamit untuk pulang. Awalnya Orang tua Naisha menawarkan agar orang tua Aamir menginap di rumah mereka. Namun, ditolak halus oleh orang tua Aamir karena mereka memilih untuk menginap di rumah saudara mereka saja. Kemudian Aamir minta izin untuk mengantarkan orang tuanya menggunakan taksi, tapi lagi - lagi Pak Marwan menawarkan agar mereka diantarkan oleh supir pribadinya saja. Dan kali ini Aamir dan orang tuanya tidak dapat menolakmenolak lagi.
Saat didalam mobil, Ibu Aamir memandang wajah anak bungsunya itu dengan agak lama. Hatinya sebenarnya sudah tersentak juga karena tadi menantunya tidak datang dan bergabung bersama mereka. Tapi, ibu Aamir berusaha untuk berpikiran positif kemudian berharap dan berdoa semoga semua baik - baik saja.
"Aamir, kalau boleh ibu tahu awal Aamir bertemu dengan Naisha bagaimana? Bolehlah Aamir cerita - cerita sedikit sama ibu." pinta Ibu Aamir dengan menyentuh bahu anaknya itu.
"Hhhmm... Awal bertemu ya Bu," Aamir berhenti sejenak seakan sedang berpikir keras. Apa yang mesti ia ceritakan ke ibunya? Apa dia ceritakan apa adanya saja, meskipun ia tahu akan membuat kedua orang tuanya kecewa. Aah.. Aamir tidak ingin mengecewakan ibunya sebenarnya tapi tidak mungkin juga dia terus - terusan mengarang cerita yang jauh dari kenyataan yang sebenarnya.
"Aamir.. Kamu cerita kan saja yang sejujurnya Aamir. Karena ibu tahu kamu anak yang jujur dan dapat dipercaya." lanjut ibunya lagi kemudian tersenyum dengan ikhlas. Melihat senyuman ikhlas dan tulus dari ibunya itu, membuat Aamir menjadi tidak tega jika harus mengarang cerita lagi. Dan akhirnya, Aamir pun menceritakan semuanya dari awal kepada kedua orang tuanya. Ya.. Ia ceritakan dari awal sampai akhirnya Aamir menikah dengan Naisha.
...❣❣❣❣...
Aamir pulang kerumah Pak Marwan sudah kemalaman. Awalnya Aamir segan pulang kesana, ia berniat untuk tidur dimesjid saja malam ini. Tapi, diurungkannya niat tersebut karena apa nantik respon tetangga dan warga sekitar, pasti akan bertambah tidak enak lagi kesannya. Baru nikah tapi kenapa sudah tinggal berpisah. Maka Aamir pun memutuskan untuk pulang kerumah Pak Marwan. Untung saja Asisten rumah tangga Pak Marwan belum tidur, ia yang membukakan pintu pagar untuk Aamir.
__ADS_1
"Terima kasih ya bik," kata Aamir yang tidak lupa mengucapkan terimakasih kepada wanita paruh baya tersebut.
Setelah itu, Aamir naik keatas tangga menuju ke kamarnya Naisha. Sesampainya ia didepan pintu kamar Naisha, lalu Aamir mengetuk pintu kamar yang ternyata sudah dikunci oleh istrinya itu dari dalam. Aamir memanggil Naisha dengan suara yang pelan namun tidak ada sahutan sedikitpun dari dalam kamar.
"Apa Mungkin Naisha sudah tidur ya," lirih Aamir yang berbicara pada dirinya sendiri. Kemudian, Aamir mencoba menghubungi nomor Naisha yang ternyata nomornya tidak aktif. Setelah itu, karena tidak ingin mengambil pusing maka Aamir putuskan untuk tidur disofa yang ada di salah satu sudut ruangan di lantai 2 tersebut.
Beberapa jam kemudian, waktu sahur pun masuk. Pak Marwan naik keatas bermaksud untuk membangunkan Naisha dan Aamir sahur. Namun, betapa kagetnya ia ketika melihat Aamir yang tertidur pulas di sofa. Pak Marwan langsung menghampiri Aamir dan kemudian membangunkannya.
"Aamir.. Aamir.. Bangun," panggil pak Marwan seraya menyentuh pelan tubuh Aamir.
Perlahan - lahan Aamir membuka matanya, dan ia pun langsung terduduk setelah tahu siapa yang membangunkannya.
"Iya, Pak." kata Aamir masih dengan wajah kagetnya.
"Oh, ngak Pak. Bukan begitu, saya yang pulang kemalaman sekali jadi Naisha sudah tidur dan tidak mendengar saya memanggilnya dari luar. Lagi pula, saya juga gak enak mengganggu tidurnya Naisha jadi ya akhirnya saya berinisiatif tidur di sofa ini saja." jelas Aamir apa adanya.
"Oh, gitu ya. Naisha kalau sudah tidur memang gitu Aamir, susah dibangunin." kata Pak Marwan.
"Iya, Pak. Tidak apa - apa, saya bisa memaklumi nya kok pak." kata Aamir dengan tersenyum lepas.
"Tapi, nantik tolong kamu biasakan dia untuk bangun subuh - subuh ya Aamir. Kamu bangunin dia bagaimana pun caranya, Bapak dan uminya Naisha sudah kewalahan sekali bangunin dia, dan ketika sahur ini contohnya." keluh pak Marwan lagi.
"Iya, Pak. InshaAllah." jawab Aamir menyanggupinya.
__ADS_1
Setelah itu, Pak Marwan mengetuk pintu kamar Naisha dengan kuat sembari memanggil Naisha dengan suara yang keras.
"Kalau tidak dengan cara seperti ini, dia gak bakalan bangun - bangun Aamir." kata Pak Marwan saat melihat pandangan heran dari Aamir.
Beberapa saat kemudian, Naisha pun keluar dengan mata yang masih mengantuk.
"Apa sih, Bi? Berisik amat." kata Naisha dengan mengucek - ucek matanya.
"Bangun, Naisha. Sudah masuk waktu sahur." kata Abi Naisha.
"Naisha gak Puasa, Abi. Naisha lagi halangan." katanya beralasan.
"Halangan? Minggu kemarin kamu gak puasa karena halangan, dan minggu ini halangan lagi??" tanya Abinya dengan gusar. Tapi, Naisha tidak menjawab pertanyaan dari Abinya. Naisha malah masuk kedalam kamar dengan wajah tak berdosa.
"Sekarang giliran kamu yang bertindak, Aamir. Tolong bawa Naisha kebawah untuk sahur ya," kata Pak Marwan dengan menepuk - nepuk pundak Aamir sembari tersenyum simpul. Aamir hanya menganggukkan kepalanya lalu tersenyum tipis.
...💕💕💕💕...
BERSAMBUNG...
.
.
__ADS_1
.