Jalan Menuju CahayaMu

Jalan Menuju CahayaMu
BAB 15 (MEMINTA ARAHAN)


__ADS_3

Keesokan harinya, Aamir pergi kerumah Ustad Ghufron. Karena tadi malam dia sudah janjian dengan Ustad Ghufron untuk ketemuan dan membicarakan mengenai perjodohan nya dengan Naisha. Aamir menceritakan sedikit tentang perjodohan itu, karena tidak leluasa mengobrol lewat telpon maka dari itu Ustad Ghufron pun menyarankan agar mereka ketemuan saja dan menyuruh Aamir untuk datang kerumahnya.


Baru saja Aamir akan mengeluarkan sepeda motornya dari halaman mesjid, tiba - tiba saja sebuah mobil merah berhenti tepat didepan mesjid. Dan Aamir kenal siapa pemilik mobil tersebut yang sengaja diparkirkannya didepan jalan mau masuk ke mesjid sehingga menghalangi motor Aamir yang hendak lewat.


Beberapa detik kemudian, Naishapun keluar dari mobil dengan gayanya yang anggun. Kemudian ia melepaskan kaca mata hitamnya itu, lalu melihat Aamir dengan tatapan sinis.


"Hai, Aamir... Calon Suami aku, hihihihi...." ucap Naisha dan kemudian langsung mencibir dengan gaya seolah - olah ingin muntah mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya sendiri.


"Maaf, mobilnya bisa digeser sedikit? Karena menghalangi motor saya yang mau keluar." tanpa menanggapi sapaan dari Naisha tersebut,


Aamir malah berkata demikian dengan nada dingin sehingga membuat Naisha menjadi kesal.


"Aamir, aku ini lagi menyapa kamu. Apa salahnya kamu balik menyapa aku. Bukannya sebentar lagi kita akan menikah ha?" ketus Naisha dengan suara yang keras.


"Iya, Maaf Naisha. Aku sedang buru - buru. Jadi tidak sempat mengobrol dengan kamu." kata Aamir beralasan, tapi itu bukan alasan semata saja karena Aamir takut telat datang kerumahnya Ustad Ghufron. Sebab Salah satu prinsip yang dipegang teguh oleh Aamir sampai saat ini adalah ia yang tidak ingin ngaret jika berbuat janji dengan seseorang. Pasti akan selalu diusahakannya untuk datang tepat waktu, ataupun jika ia terpaksa telat karena sesuatu hal pasti Aamir tidak lupa untuk mengabari orang yang bersangkutan.


"Memang mau kemana sih? Buru - buru sekali," tanya Naisha yang merasa penasaran. Namun, Aamir tidak langsung menjawabnya.

__ADS_1


"Kamu mau kemana, Aamir?" Naisha kembali bertanya karena Aamir masih saja bungkam.


"Kerumah Ustad Ghufron." akhirnya Aamir menjawab juga dengan jujur dan apa adanya.


"Hah? Ustad Ghufron.. Menantunya pak Daud itu kan?" tanya Naisha lagi, dan Aamir hanya menganggukkan kepalanya.


"Ngapain, Aamir? Ooohhh... Aku tahu, aku tahu.. Pasti kamu pengen tanya ke Ustad Ghufron kan bagaimana caranya bisa merubah istrinya itu yang dulu lebih kurang seperti aku ini menjadi wanita shaliha, baik dan patuh tentunya. Iya kan?" tanya Naisha yang diakhiri dengan tawa kecilnya.


"Ya memang itu rencana saya." lagi - lagi Aamir menjawab pertanyaan dari Naisha dengan jujur.


"Jangan mimpi kamu ya Aamir." kecam Naisha dengan membesarkan matanya yang bulat itu.


"Tidak ada yang tau kedepannya bagaimana, Naisha. Semuanya tergantung pada usaha dan doa dan juga.. Takdir dari Allah tentunya. Jika Allah menghendaki, tidak ada yang tidak mungkin dimataNya." kata Aamir dengan bijak. Namun, Naisha langsung tertawa terbahak - bahak.


"Oke kita lihat saja nantik, kita buktikan apakah kamu berhasil atau tidak? Tapi, sebelum itu... Siap - siap saja lah ya menanggung rasa malu..." kata Naisha dan kembali tertawa dengan keras. Setelah Naisha mengatakan kalimat terakhir itu yang tidak jelas maksudnya apa, maka Naisha pun berlalu dari sana.


...🍁🍁🍁🍁...

__ADS_1


Aamir kini sudah berada dirumah Ustad Ghufron. Setelah berbasa - basi sejenak dengan menanyai kabar masing - masing, maka pembicaraan pun beralih tentang perjodohan Aamir dengan Naisha.


"Aamir, saya sebenarnya juga sudah dengar cerita kamu dari istri Saya Rizna. Karena dua hari yang lalu ia pulang kerumah orang tuanya dan disana orang tuanya cerita ke Rizna bahwa mereka memberi tantangan ke salah satu Ustad muda yang tinggal di mesjid sana untuk menikahi seorang wnaita yang sifatnya lebih kurang seperti Rizna waktu dulu sebelum hijrah.." cerita Ustad Ghufron dengan semangatnya.


"Dan.. Mendapat telpon dari kamu tadi malam, saya sudah bisa tebak bahwa kamu pasti ingin bertanya bagaimana aku dulunya bisa berhasil mendidik Rizna menjadi wanita yang shaliha seperti yang diinginkan oleh kedua orang tuanya," lanjut Ustad Ghufron lagi kemudian tersenyum dengan lebar sehingga menampakkan lesung pipi diwajahnya.


"Iya, Ustad. Jujur.. sebenarnya saya tidak ingin berada di situasi seperti ini. Situasi yang malah membuat saya merasa beban untuk menjalaninya, Saya tidak yakin bisa dan mampu untuk melakukan seperti apa yang sudah Ustad lakukan ke putrinya pak Daud." ungkap Aamir dengan wajah galaunya yang ia lihafkan ke Ustad Ghufron.


"Yakinkan diri kamu dulu Aamir, niatkan segala sesuatu yang akan kamu lakukan itu ikhlas karena Alllah semata. Karena tatkala diawal kita sudah meniatkan yang baik - baik, inshaAllah di pertengahan hingga akhir kamu akan memetik kebaikan dan keberkahan juga. Mengenai apa yang saya lakukan, sama.. Seperti guru - guru mengajari santri dan santriwati nya saat dipesantren, ajarilah dia dengan lemah lembut, sentuh hatinya, beri ia contoh, pemahaman, tapi bukan berarti kita mengguruinya. Pelan - pelan kita rangkul dia, apalagi jika wanita itu memang belum pernah sama sekali mendapatkan ilmu agama, pasti kita akan memulainya dari nol. Jadi intinya selalu sabar dan berusaha untuk mendapatkan hatinya, jika hatinya sudah kita dapati, dia sudah mulai terbuka dengan kita maka kita akan mudah masuk kedalam hidupnya bahkan merubah dirinya dan kehidupannya menjadi lebih baik lagi. Itulah yang aku lakukan Aamir, semoga kamu juga bisa melakukannya dan bahkan lebih dari itu." jelas Ustad Ghufron panjang lebar.


Aamir menarik nafas panjang setelah mendengarkan saran dan masukan dari Ustad Ghufron barusan. Saran yang begitu indah, karena memang benar adanya... Semua itu tergantung dari niatnya. Yang pertama yang harus Aamir lakukan adalah dengan memperbaiki niatnya dulu, ya.. Mudah - Mudahan saja Niat ikhlas karena Allah Semata akan memberinya jalan kemudahan serta kemampuan untuk merubah Naisha menjadi wanita shaliha seperti yang orang tuanya harapkan...


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2