
Siang itu, Naisha dan kedua temannya lagi jalan - jalan dan juga shoping di pusat perbelanjaan. Saat mereka sedang sibuk memilih baju, tiba - tiba HP Naisha berdering. Dengan malas - malasan Naisha mengangkat telpon dari orang tersebut.
"Hhhmmm... Iya, Kenapa?" tanya Naisha dengan jutek. Terdengar suara laki - laki yang berbicara panjang lebar kepada Naisha dengan setengah memohon.
"Oke... Oke.. Jemput aku dirumah nantik malam, kita ketemuan dan jalan keluar.." kata Naisha dan kemudian mematikan panggilan tersebut secara sepihak.
"Siapa, Nai yang nelpon kamu?" tanya Mely seketika itu juga.
"Biasaa... Si Ferdi.." jawab Naisha dengan cuek dan kemudian kembali melanjutkan aktifitas memilih bajunya.
"Mau ngapain lagi si Ferdi nelpon lu Nai? Pasti mau ngajak balikan ni.." kata Tari yang menyimpulkan sendiri atas pertanyaannya.
"Pantang menyerah juga tu anak ya, kayaknya dia cinta mati deh sama kamu Nai. Sudah diputusin tapi tetap aja ngejar - ngejar kamu." Mely pun ikut - ikutan berkomentar.
"Ya.. Bukan Naisha namanya jika tidak bisa membuat laki - laki menjadi bucin dengan aku, hahahha..." kata Naisha dengan gayanya yang sombong. Tari dan Mely pun ikut tertawa.
"Tapi, tunggu dulu.. Tadi lu nyuruh Ferdi jemput lu ke rumah kan? Lu mau jalan dengan Ferdi ya?" tanya Tari dengan bingung.
"Yup, benar. Aku.. Mau memberi harapan palsu ke dia, setelah itu.. Aku campakkan lagi deh dia." kata Naisha dan kembali tertawa dengan keras.
"Parah lu Nai, suka memainkan perasaan cowok." timpal Tari dengan terkekeh - kekeh.
"Biarin, biar tahu rasa dia. Habisnya aku tu sudah ilfil banget dengan tu cowok.. Tapi, ya sudahlah.. Aku beri dia kesempatan terakhir untuk ngedate dengan aku malam ini, setelah itu..bye - bye good bye.. hahahaha.." ujar Naisha lagi.
"Tapi, kamu nyuruh dia jemput kerumah kan Nai? Kalau suami kamu si Aamir itu tahu kamu jalan dengan cowok gimana?" tanya Mely.
__ADS_1
"Ya biar aja dia tahu, kalau bisa nih didepan Aamir itu langsung aku perlihatkan aku sedang bermesra - mesraan dengan si Ferdi. Biar lebih greget kan?" kata Naisha lagi dengan semangatnya.
"Tidak terbayang bagaimana respon dan ekspresinya Aamir nantik Nai, ngelihat lu keluar sama cowok. Aamir itu kan cowok alim, pasti dia gak rela melihat istrinya yang cantik jelita ini pergi dengan cowok lain, iya kan? Hehe.." kata Tari yang ikut berpendapat.
"Tapi, ngomong - ngmong tentang Aamir. Sampai kapan sih lu memainkan pernikahan lu dengan Aamir, Nai? Mendengar cerita lu tentang Aamir beberapa hari ini, gue bisa menangkap kalau Aamir mulai berusaha untuk meluluhkan hati lu Nai. Dan.. mana tahu saja, Aamir juga sudah mulai mencintai lu." kata Tari dengan kata - kata sok bijaknya.
"Ya bagus donk kalau dia mulai bucin sama aku, berarti balas dendam aku ke dia berhasil. Dan setelah itu, gampanglah.. Aku tinggal campakkan saja dia lagi seperti cowok - cowok yang lainnya. Itulah akibatnya jika berani belagu dan sok dingin dengan Aku, biar tahu rasa dia. Naisha PUtri Anggita paling tidak suka penolakan, sekali saja ditolak.. Berkali - kali aku akan membuat balasan untuk dia. Biar dia lebih dari kata kapok." ucap Naisha dengan rasa geram nya. Tari dan Mely menyeringai dengan saling pandang satu sama yang lain.
...💖💖💖💖...
Malam itu, seperti biasa Aamir kembali mengisi malam nya dengan beribadah di mesjid. Apalagi masih di moment bulan Ramadhan, satu kali pun Aamir tidak pernah meninggalkan sholat tarawih dan witir berjamaah di mesjid Takwa tersebut.
Aamir saat itu sedang fokus mendengarkan santapan rohani yang disampaikan oleh salah satu ustad yang diundang untuk mengisi ceramah di mesjid tersebut. Selang beberapa menit kemudian, salah satu teman Aamir yang tinggal tak jauh dari mesjid datang dan duduk di samping Aamir.
"Ya Rohan..sejak tadi aku disini, sebelum masuk waktu sholat isya malahan. Kenapa emangnya Rohan?" tanya Aamir dengan suara yang pelan karena ia merasa tidak enak jika suara mereka nantiknya bisa menggangu ustad yang sedang memberikan ceramah.
"Aku pikir kamu lagi pergi jalan berdua dengan istri kamu itu." kata Rohan lagi. Aamir langsung terperanjat kaget.
"Jika bukan kamu, jadi siapa donk yang lagi jalan sama istri kamu, Aamir?" lanjut Rohan lagi.
"Kamu salah orang mungkin, Rohan. Bukan Naisha yang kamu lihat, mana tahu cuman mirip saja. .." kata Aamir yang masih berupaya untuk berpikiran positif.
"Tidak Aamir, aku yakin itu istri kamu. Karena aku hafal sekali wajahnya Naisha. Wajah cantiknya itu mudah sekali untuk diingat. Tapi, tadi yang laki - laki posisinya membelakangi jadi aku gak lihat jelas wajahnya, aku pikir tadi kamu..Tapi, ternyata kamu disini." kata Rohan dengan penuh keyakinan.
"Dimana kamu lihat mereka emangnya?" tanya Aamir akhirnya. Wajahnya sudah berubah menjadi panik.
__ADS_1
"Dipersimpangan jalan sana Aamir, mereka berhenti di supermarket. Kebetulan aku baru keluar dari supermarket, dan aku lihat Naisha baru keluar dari mobil dan menuju ke supermarket yang sama. Didalamnya ada laki - laki, aku pikir tadi itu kamu.." jelas Rohan apa adanya.
Aamir terdiam sejenak, ia sedang berpikir keras. Jika memang Naisha yang dilihat oleh Rohan, lalu siapa laki - laki yang sedang bersama Naisha saat itu? Meskipun Naisha tidak pernah menganggapnya sebagai suami, tapi tak dapat dipungkiri juga Aamir merasa tidak rela jika Naisha pergi dengan laki - laki lain. Dan Tiba - tiba saja, perasaan Aamir menjadi tidak enak. Ia malah jadi mengkhawatirkan Naisha.
"Rohan, aku boleh pinjam motor kamu? Aku mau menyusul Naisha," kata Aamir dengan meminta izin.
"Oh, boleh.. Aamir, nih kuncinya.." kata Rohan dengan menyodorkan kunci motor miliknya.
"Terimakasih Rohan, aku pergi dulu ya." pamit Aamir dan kemudian buru - buru keluar dari mesjid.
Saat ini, Aamir hanya mengikuti kata hatinya yang membisikkan bahwa Aamir harus menyusul Naisha. Sebelum itu, Aamir juga sempat mencoba menelpon Naisha. Akan tetapi, telpon darinya tidak kunjung diangkat oleh wanita itu. Aamir kirim pesan singkatpun, tidak juga dibaca - bacanya. Aamir juga menelpon umi Sofia, untuk memastikan apakah Naisha benar - benar tidak ada dirumah atau malah sebaliknya.
"Naisha gak ada dirumah Aamir, umi juga gak tahu dia kemana. Karena dia kalau pergi gak pernah pamit sama umi, tapi palingan dia bersama dengan teman - temannya itu.." jawab Umi Sofia.
Setelah mendapat kepastian dari uMi Sofia bahwa Naisha tidak dirumah, maka Aamir pun melajukan motornya kearah supermarket yang dikatakan oleh Rohan tadi. Ia berharap Naisha masih ada disana. Bagaimanapun, Naisha sudah menjadi tanggung jawabnya. Aamir tidak ingin Naisha semakin jatuh dan terjebak kedalam lubang yang salah. Aamir harus mencari dan menyusul Naisha.
...💕💕💕💕...
BERSAMBUNG...
.
.
.
__ADS_1