
"Ya, Allah.. Astaghfirullah.. Siapa yang telah memotong - motong videonya jadi seperti ini, Naisha? Ini tidak seperti yang kamu pikirkan, Demi Allah.. Tadi itu Aku dan Husna lagi mengangkat meja dan tiba - tiba saja si Husna mau terjatuh ketika menaiki tanjakan pintu. Ya.. Aku reflek megang dia, Naisha. Kejadiannya begitu cepat, jadi aku seperti gak sempat berpikir. Aku berupaya bagaimana agar dia tidak terjatuh. Itu aja Naisha. Aku gak ngapain - ngapain.. Kamu percaya sama aku kan, Naisha?" jelas Aamir apa adanya. Saat itu mereka sudah masuk kedalam mobil, namun Naisha belum menjalanlankan mobilnya. Ia memperlihatkan video itu ke Aamir yang sempat dikirimkan oleh Tari tadi kepadanya.
Naisha diam saja, tapi dari wajah masih terlihat keragu - raguan terhadap Aamir.
"Naisha, kamu tau aku bagaimana aku kan? Aku gak mungkin melakukan hal - hal berbau dosa seperti itu. Ini videonya dipotong - potong, Naisha. Jadi terlihat seolah - seolah aku sedang memeluk Husna. Padahal gak begitu ceritanya." Aamir masih berusaha menjelaskan kepada Naisha agar mempercayai apa yang ia katakan.
"Ya, mungkin aku juga salah. Karena reflek menyentuh dia, tapi.. Percayalah Naisha demi Allah aku gak pernah berniat melakukan sesuatu yang tidak - tidak. Itu hanya reflek dan tidak sengaja, aku juga sudah mintak maaf sama Husna. Dan dia memaklumi karena aku yang gak sengaja." sambung Aamir lagi.
"Naisha.." panggil Aamir karena Naisha hanya diam saja. Naisha diam seribu bahasa, walaupun didalam hati ia sedang menimbang - nimbang apakah benar apa yang dikatakan oleh Aamir itu. Jika ia, apa maksud Tari menunjukkan video yang setengah - setengah ini kepadanya? Apakah Tari sengaja membuat Naisha marah ke Aamir.
"Kamu dekat sama Husna?" akhirnya Naisha bersuara juga. Ia bertanya seraya melirik Aamir dengan tatapan tajamnya.
"Aku dengan Husna biasa saja Naisha, sama dengan teman - teman yang lainnya. Aku juga jarang malahan berbicara dengan dia, kami bicara seperlunya saja jika ada sesuatu yang memang harus dibahas mengenai komunitas pengajian kami dimesjid Takwa. Kami gak pernah membahas masalah pribadi ataupun keluarga dan yang lebih menjurus ke hal pribadi. Tidak pernah Naisha." jelas Aamir lagi.
"Oh ya? Yakin gak pernah?" tanya Naisha lagi dengan penuh selidik.
"Iya, yakin." jawab Aamir. Naisha langsung tersenyum kecut.
"Coba kamu ingat - ingat, apa yang kamu lakukan sebelum kamu datang kerumah sakit menyusul aku?" tanya Naisha yang memancing Aamir untuk mengingat.
"Hhhmm... Tadi aku.. Dimesjid, dan.." Aamir berhenti sejenak saat ia ingat setelah sholat ashar tadi ia melihat Husna juga teman dan remaja putri lainnya yang melakukan kajian dimesjid. Dan setelah itu, Aamir memulai pembicaraan ke Husna perihal perasaan Rohan. Ya.. Rohan meminta setengah memohon ke Aamir untuk menyampaikan ke Husna tentang perasaannya, karena Rohan memang belum mempunyai keberanian untuk itu. Sebagai seorang teman dekat, Aamir pun tidak tega melihat Rohan yang galau dan uring - uringan karenanya. Karena itulah, Aamir langsung saja bicara blak - blakan ke Husna.
Aamir paham sekarang, mengapa Naisha menjadi begitu marah dan curiga terhadapnya. Pasti tadi sore istrinya itu juga melihat Aamir sedang berbicara dengan Husna diteras mesjid. Aamir yakin dengan kesimpulannya sendiri. Karena saat itu, Aamir juga sempat melihat mobil Naisa terparkir didepan mesjid.
Maka, Aamir jelaskan semuanya kepada Naisha. Atas kesalahpahamannya dan apa yang ia bicarakan dengan Husna. Mendengar penjelasan dari Aamir tersebut, Naisha terlihat beberapa kali menarik nafas panjang. Ada perasaan lega yang menyelimuti hatinya.
"Nah, begitulah cerita yang sebenarnya Naisha ku..." tutur Aamir dengan lembut setelah ia selesai menjelaskan semuanya panjang lebar.
"Oke, cukup masuk akal." kata Naisha akhirnya dan kemudian menghidupkan mobilnya. Tapi, Aamir menahan tangan Naisha. Dan Naisha menoleh kearah Aamir, pandangan mereka langsung beradu.
"Terimakasih ya Naisha, kamubsudah mempercayai aku dan juga.. sudah cemburu... Karena aku tahu, kamu cemburu dan mencurigai aku seperti ini karena kamu sudah mulai mencintai aku kan? Aku bahagia Naisha, sangat - sangat bahagia." kata Aamir dengan senyum dan tatapan mautnya itu yang mampu membuat hati dan perasaan Naisha meleleh.
__ADS_1
Naisha yakin, wajahnya pasti bersemu merah saat ini. Karena itu, Naisha langsung saja mengalihkan wajahnya dan melepaskan tangannya yang dipegang Aamir tersebut.
"Apaan sih, aku gak cemburu." kata Naisha dengan suara yang bergetar karena menahan rasa groginya. Sedangkan Aamir hanya tersenyum simpul menanggapi elakkan dari istrinya itu.
Beberapa saat kemudian, mereka pun pergi dari rumah sakit dan menuju pulang kerumah Naisha. Sesampainya dirumah, karena sudah jam 11 malam Naisha dan Aamir pun langsung ke kamar untuk segera tidur.
"Kamu langsung istirahat ya Naisha, besok pagi ada ujian lagi kan?" tanya Aamir.
"Iya, ini juga mau tidur." sahut Naisha.
"Terus tadi pagi bagaimana ujiannya? Kamu telat berapa lama?" Aamir bertanya kembali.
"Aku nggak telat." jawab Naisha.
"Syukurlah... Aku khawatir sekali tadi pagi, takut kamu telatnya kelamaan." kata Aamir dengan menghela nafas lega.
"Ya gimana mau telat, ujiannya aja di tunda, heheh.." kata Naisha dengan cengir kudanya.
"Ngak tiba - tiba, sudah ada pemberitahuannya tadi malam. Tapi, akunya aja yang gak baca jadi ya gak tahu deh.." jawab Naisha.
"Oohh.. Syukurlah Naisha, mau ditunda atau gimana yang penting kamu mudah - mudahan bisa melanjutkan ujiannya dengan baik besoknya." kata Aamir yang sedikitpun tidak menyalahkan Naisha. Padahal Naisha sendiri sadar bahwa dirinya juga salah telah memarahi Aamir atas kecerobohannya sendiri.
"Sha.. Ini apa ya?" tanya Aamir seraya mengangkat kotak yang berisi handphone.
"Oh itu, Handphone untuk kamu." kata Naisha dengan datar.
"Untuk aku?" Aamir mengulang jawabannya Naisha dengan bertanya.
"Iya, kenapa Aamir? Kamu gak mau, atau gak suka ya?" tanya Naisha lagi.
"Gak mungkin aku gak mau apalagi gak suka, Naisha. Aku cuman.. Ngak nyangka saja kamu perhatian sekali ke aku dengan memberikan HP ini." kata Aamir dengan tersenyum tipis. Naisha pun ikutan tersenyum juga.
__ADS_1
"Iya, supaya kamu gak ada alasan lagi telat jemput aku. Kan penyebabnya tadi pagi karena HP kamu tiba - tiba matikan?" tanya Naisha. Dan Aamir hanya manggut - manggut mengiyakan.
Setelah itu, karena rasa kantuk sudah menguasai mereka maka merekapun akhirnya tidur dengan begitu lelap.
Keesokan harinya, Sebelum subuh Aamir sudah bangun dan kemudian membangunkan Naisha juga untuk sholat berjamaah.
"Sha.. Naisha, bangun yuk.. Kita sholat subuh sama - sama." ajak Aamir sembari mengelus - elus lembut rambut Naisha yang tergerai indah.
"Aduuh.. Masih ngantuk, Aamir. Jam berapa emangnya nih?" tanya Naisha seraya membuka matanya yang masih terasa sangat berat.
"Masih jam setengah 5, kamu kecepatan bangunin aku, Aamir.." kata Naisha dengan setengah merajuk.
"Ya.. Gak apa - apa, kita kan bisa ngaji dulu sebelum sholat." ucap Aamir lagi.
"Hhmmm... Biasanya gak pernah kamu ngajak aku ngaji sebelum subuh, biasanya kan setelah sholat subuh baru kita ngajinya." kata Naisha lagi dengan cemberut.
"Ya.. Aku tahu, cuma.. Mulai sekarang kita harus melatih diri kita untuk bangun sebelum adzan subuh, kalau kamu gak mau ngaji setidaknya kamu bisa belajar atau baca buku. Nah, kebetulan besok kamu ujian, ada baiknya kamu belajar Naisha." tutur Aamir dengan memberikan saran.
"Aduuh.. Aamir, lagi ngantuk begini kamu suruh belajar. Mana bisa masuk ke otak aku, yang ada malah terpental keluar lagi." kata Naisha dengan geram.
"Coba dulu, kamu belum pernah mencobanya kan? Mana bisa kita tahu Kalau tidak belum pernah mencobanya," kata Aamir yang masih sabar menasihati Naisha.
"Iih.. Iya deh," kata Naisha akhirnya dan kemudian dengan malas - malasan ia berjalan kekamar mandi untuk mencuci mukanya. Sedangkan Aamir hanya tersenyum lebar karena sudah berhasil membuat Naisha menjadi istri yang penurut. Meskipun agak dipaksakan, tapi tidak apa bagi Aamir. Awalnya terpaksa tapi lama - Lama akan jadi terbiasa, Batin Aamir..
...🌺🌺🌺🌺...
BERSAMBUNG...
.
.
__ADS_1
.