Jalan Menuju CahayaMu

Jalan Menuju CahayaMu
BAB 33 (MEMIKIRKAN AAMIR)


__ADS_3

Sehari menjelang hari lebaran, Aamir disibukkan dengan aktifitas dimesjid untuk persiapan takbir nantik malam dan juga Aamir sebagai salah satu petugas amil zakat juga mengharuskan dia lebih banyak menghabiskan waktu untuk berada di mesjid.


Siang itu, Naisha kembali dijemput oleh kedua temannya. Sudah sejak 2 hari yang lalu, kedua teman Naisha itu sangat gencar - gencarnya untuk mengajaknya Naisha keluar. Maka kali ini Naisha tidak bisa beralasan lagi dan akhirnya mengiyakan ajakan tersebut.


"Kita gak pergi makan deh karena kami tahu kamu pasti puasa lagi kan? Ya dah kita ke mol aja, shoping, besok kan sudah lebaran...." kata Mely saat itu. Dan jadilah sekarang Naisha sudah berada didalam mobil bersama dua sahabatnya itu. Dan ketika Mobil Tari melaju pelan melewati mesjid satu - satunya yang ada dikomplek perumahan tersebut, tanpa sengaja Naisha menoleh keluar jendela dan melihat Aamir berada diteras mesjid dengan beberapa pengurus mesjid yang lainnya.


Naisha melihat kearah Aamir dengan tatapan yang begitu dalam. Sampai - sampai Naisha tidak sadar Mely dan Tari sedang mengajaknya mengobrol. Tapi, Naisha tetap fokus dengan apa yang ia lihat. Pemandangan diluar sana benar - benar sudah mencuri perhatiannya. Ia lihat bagaimana Aamir yang begitu ramah melayani masyarakat yang datang dan juga tersneyym ikhlas dalam m


"Eehemm... Naisha.. Naisha... Nai.." panggil Mely berkali - kali, tapi tetap saja Naisha tak berkutik. Lehernya kini malah menoleh dan membalik kearah belakang karena mobil Tari semakin jauh meninggalkan mesjid tersebut. Maka Tari yang sedang menyetir langsung turun tangan, ia kamudian menyenggol pinggang Naisha dan akhirnya nya barulah Naisha tersadar dari ketertegunannya.


"Eh, Iya..Maaf, sampai mana tadi? Kalian bicara tentang apa aja tadi?" tanya Naisha dengan gelagapan.


"Kamu lihatin apa sih, Naisha? Kok fokus kali nampaknya, sampai - sampai kami ajak ngobrol ngak dengar." tanya Mely dan kemudian karena penasaranj ia pun membalikkan badannya kebelakang.


"Oohh ... Aku tahu, kamu lagi lihatin Aamir ternyata ya?" kata Mely setelah ia lihat dari kejauhan bahwa ada Aamir diteras mesjid sana. Naisha hanya diam saja, tapi wajahnya yang sudah bersemu merah itu tidak bisa disembunyikan.


"Kenapa lu perhatikan Aamir, Nai?" tanya Tari dengan curiga.


"Ngak... Ngak kenapa - napa, sudahlah.. Jangan mengintrogasi aku seperti ini, dan jangan juga tanya - tanya tentang Aamir. Aku gak suka," kata Naisha dengan kesal karena melihat tanda tanya besar diwajah masing - masing sahabatnya itu.

__ADS_1


Selang beberapa menit kemudian, akhirnya mereka sampai ketempat tujuan. Dan ketika mereka sudah berada didalam pusat perbelanjaan tersebut, maka Tari dan Mely pun langsung saja memilih - milih pakaian yang mereka inginkan dengan antusiasnya. Mely dan Tari kemudian berpencar, mencari pilihan baju mereka masing - masing. Sedangkan Naisha, ia masih tetap berdiri ditempatnya ketika awal masuk tadi. Naisha merasa tidak begitu semangat untuk memilih - milih pakaian saat ini. Padahal biasanya wanita itu paling suka berbelanja dan tidak kalah antusias juga dengan kedua temannya dalam memilih pakaian.


Pikiran Naisha saat ini sebenarnya bukan berada disini, hanya tubuhnya saja yang berada disini tapi tidak dengan hati dan pikirannya yang entah melayang kemana - mana. Naisha tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia sedang memikirkan Aamir. Ya.. Pikiran Naisha tertuju kepada Aamir, suaminya itu.


Naisha tiba - tiba juga jadi teringat tentang perkataan Aamir beberapa hari yang lalu, dimana Aamir meminta Naisha agar selalu mengabari dirinya jika Naisha ingin pergi kemanapun, baik bersama temannya ataupun berpergian sendiri. Awalnya Naisha tidak mengindahkan permintaan Aamir yang ia anggap tidak bermutu, saat itu Naisha berpikiran bahwa Abi dan Uminya saja jarang sekali ia kabari jika berpergian. Lantas, siapa Aamir yang berani - beraninya meminta hal tersebut? Apa mentang - mentang dia sudah berstatus suaminya Naisha, jadi seenaknya dia saja menyuruh Naisha ini itu. Pikir Naisha tatkala itu.


Namun, kini.. pikiran seperti itu seakan mulai menjauh darinya. Malahan, saat ini Naisha merasa tidak enak dan serba salah karena tidak mengabari Aamir bahwa dia pergi bersama teman - temannya. Sedangkan Aamir saja selalu memberitahu Naisha tentang segala hal yang akan dilakukannya. Aamir yang hendak ke mesjid, kerumah pak Daud dan kemanapun itu Aamir tidak pernah absen sekalipun dalam memberi kabar ke Naisha.


Sesaat kemudian, karena dorongan dihatinya semakin kuat, maka Naisha pun akhirnya mengambil HP dari dalam tasnya. Ia berniat ingin menelpon Aamir. Namun, baru saja Naisha mulai mencari nama Aamir pada kontak hpnya, tiba - tiba saja Tari datang dan mengejutkannya dari belakang.


"Lu ngapain malah main HP Nai?" tegur Tari dengan pandangan heran. Padahal ia pikir Naisha sudah berkeluyuran disepanjang tempat tersebut untuk mencari pakaian. Tapi, ternyata wanita itu masih berdiri di tempat yang sama pada saat mereka baru sampai tadi.


"Ee.. Gak, gak ngapa - ngapain kok Tari." jawab Naisha dengan sedikit gelagapan dan kemudian buru - buru menyimpan hpnya kedalam tas, sebelum Tari melihat nama Aamir yang terpampang nyata di hpnya saat itu.


"Curiga apaan sih, Tar? Aneh - aneh aja kamu, sudah yuk.. Kita cari bajunya, dimana tempat yang bagus?" tanya Naisha dan kemudian pura - pura sibuk untuk memilih baju.


"Disana, Nai. Bagus - bagus," kata Tari lalu menarik tangan Naisha untuk menuju kesana.


...💕💕💕💕...

__ADS_1


Aamir dari tadi tampak gelisah dengan sekali - sekali melirik jam tangannya. Rohan, yang ada disamping nya ternyata memperhatikan Aamir sejak tadi. Mereka saat itu masih sibuk mengurus penyaluran Zakat yang masih belum tuntas.


"Kenapa kamu, Aamir?" tanya Rohan sembari menatap Aamir dengan heran.


"Ee.. Aku sebenarnya ada keperluan sebentar mau pergi, cuman gak enak meninggalkan mesjid, Rohan." kata Aamir dengan setengah berbisik.


"Oohh.. Ya pergi saja Aamir kalau keperluan kamu itu memang penting. Urusan dimesjid ini biar aku dan panitia yang lain aja yang melanjutkannya." kata Rohan.


"Benaran gak apa - apa?" tanya Aamir masih dengan tak yakin.


"Iya, Aamir. Jangan terlalu merisaukannya lah, kan masih banyak panitia yang lain. Lagi pula, kamu sudah dari seminggu yang lalu sibuk - sibuk di mesjid, jadi apa salahnya kalau hari ini kamu izin pulang lebih awal." kata Rohan seraya menepuk pundak Aamir dengan halus.


"Alhamdulillah, terimakasih banyak ya Rohan atas pengertiannya." ucap Aamir.


"Oke, sama - sama, Aamir. Santai saja.." sahut Rohan.


Setelah itu, Aamir kemudian bergegas beranjak dari sama dan menuju keparkiran. Saat diparkiran, Aamir lalu menghubungi nomor seseorang.


"Assalamu'alaikum, Syifa?? Kamu dimana?" todong Aamir langsung kepada wanita yang ia telpon..

__ADS_1


...💕💕💕💕...


BERSAMBUNG...


__ADS_2