Jalan Menuju CahayaMu

Jalan Menuju CahayaMu
BAB 60


__ADS_3

"Biar aku saja yang buka pintunya, Sha. Kamu lanjutkan saja ngemas pakaiannya ya.." ucap Aamir dan kemudian bergegas menuju ke pintu. Dan setelah pintu itu dibuka, muncul lah seraut wajah wanita berkaca mata yang telah menjebak Aamir malam tadi. Siapa lagi kalau bukan Shera.


"Mau ngapain lagi kamu datang kesini?" tanya Aamir dengan nada sinis.


"Urusan kita belum selesai, kalian gak bisa pergi begitu saja meninggalkan aku disini. Dan kamu.. Harus bertanggung jawab atas apa yang telah kamu perbuat ke aku." kata Shera tidak kalah sinis nya dari Aamir.


"Kami gak ada urusan lagi sama kamu, sudah untung kami tidak membuat laporan ke kantor polisi atas perbuatan kamu dan juga abang kamu itu. Seharusnya kalian saat ini sudah dipenjara." kecam Aamir dengan suara yang tegas.


"Hahaha.. Mana bisa kalian memenjarakan kami. Kalian mana ada bukti. Yang ada.. Aku yang akan memenjarakan kamu.. Aamir, karena sudah melecehkan aku. Kamu harus bertanggung jawab pokoknya..!!" ujar Shera dengan membesarkan matanya.


"Masih itu juga yang kamu bahas ya, sudah jelas - jelas kamu yang menjebak aku. Tidak ada yang perlu aku tanggung jawabkan, karena aku tidak salah. Aku hanyalah korban dari rencana licik kalian itu." kata Aamir dengan mengeleng - geleng kan kepalanya karena tidak mengira wanita ini tetap ngotot menuduh dirinya sudah melakukan pelecehan, malahan meminta pertanggungjawaban atas sesuatu yang tidak ia perbuat.


"Oh ya, Jadi ini apa? Aku punya bukti akurat untuk menyeret kamu ke penjara.." kata Shera seraya menunjukkan sebuah video dari dalam hpnya. Naisha yang mendengar keributan diluar, kemudian bergegas pula menuju kesana.


Aamir melihat video yang dimaksud Shera, didalam video itu memang terlihat Aamir menyentuh setiap inchi tubuh Shera dalam keadaan mata terpejam.


"Astaghfirullah,, Tidak benar ini. Aku pasti dalam keadaan tidak sadar, video ini kalian edit lagi kan seolah - olah aku melakukan perbuatan itu." tuduh Aamir dan Naisha yang sudah melihat video itu juga langsung beristighfar berkali - kali.


"Shera, sudahlah.. Jangan kamu libatkan suami aku dalam permasalahan kita. Aku sudah tau


semuanya, ini rencana kamu dan abang kamu Rozi kan untuk balas dendam ke aku?" kata Naisha dengan suara yang pelan karena ia tidak ingin permasalahannya ini didengar oleh orang lain yang juga menginap juga dihotel ini.


"Oh, baguslah kalau kamu sudah tau. Kamu cukup beruntung bisa selamat kali ini, Naisha. Tapi, lihat saja nantik.. Untuk selanjutnya abang aku tidak akan melepas kan kamu dalam keadaan hidup - hidup. Kamu akan mati, Naisha. Akan aku pastikan itu.." kecam Shera dengan menyunggingkan senyum sinis nya itu.


"Hei.. Jaga ucapan kamu ya, tidak ada yang berhak menentukan hidup dan mati seseorang. Apalagi manusia jahat seperti kalian berdua.." kata Aamir yang merasa tidak Terima dengan kalimat ancaman dari Shera itu. Sedangkan Naisha, ia seakan tak mampu untuk berkata - kata lagi. Rasa benci dan sakit hati kakak beradik tersebut sudah begitu melekat dan mendarah daging didalam diri mereka.


"Ya Allah, Ya Rabb.. Begini kah efek dari ucapan aku waktu dulu? Kalau tau seperti ini jadinya, aku akan lebih berhati - hati dalam berucap dan tidak akan mempermainkan persaan laki - laki yang sudah tulus menyayangi aku di waktu dulu ..." lirih Naisha didalam batinnya ia menangis.

__ADS_1


...🌿🌿🌿🌿...


Dihari itu juga, Aamir dan Naisha langsung check out dari hotel. Mereka pergi tanpa sepengetahuan Shera.


"Sayang.. Kamu jangan cemas ya, ada aku disini. Aku akan menjaga kamu, aku akan pastikan laki - laki itu tidak akan mencelakai kamu lagi. Kamu percaya sama aku kan, Naisha?" kata Aamir seraya memegang lembut tangan Naisha. Saat itu mereka sudah berada di dalam taksi menuju ke bandara.


"Iya, Aku percaya sama kamu.. Dan, aku juga sangat bersyukur kepada Allah karena sudah mendatangkan malaikat penolong aku didunia ini. Yaitu kamu.. Sudah dua kali kamu menolong aku dalam bahaya, terimakasih ya bang Aamir.." ujar Naisha seraya menyentuh lembut pipinya Aamir.


"Sama - sama Naisha, sudah menjadi tanggung jawab aku sebagai suami dalam menjaga dan melindungi kamu. Selain rasa tanggung jawab, aku juga sangat menyayangi dan mencintai kamu dengan setulus hati aku. Tak akan aku biarkan siapapun itu menyakiti kamu, sayang.." ungkap Aamir dengan menatap wajah Naisha erat - erat.


"Sama.. Aku juga menyayangi dan mencintai bang Aamir, dengan sepenuh hati aku juga.." lirih Naisha setelah itu tersenyum dengan lebar.


Beberapa jam kemudian, akhirnya pesawat yang mereka tumpangi sampai di kota tempat mereka tinggal.


"Abi dan Umi pasti kaget melihat kita sudah kembali. Padahal awalnya kita kan berencana bulan madunya selama 7 hari, tapi ini masih 3 hari kita sudah pulang." kata Naisha dengan wajah yang sedih. Bagaimana tidak, momen bulan madu mereka ini seharusnya menjadi sesuatu yang sangat berkesan dan sangat menyenangkan. Namun, ternyata semua nya diluar ekspektasi mereka. Bulan madu mereka malah menjadi berantakan akibat ulah Rozi dan Shera.


"Ya gak apa - apa, Sha. Lain kali kita masih bisa merencanakan untuk pergi ketempat lain lagi. Tapi, setelah masalah ini selesai tentunya. Kita ceritakan ke Abi dan umi apa adanya, kita minta pendapat dan solusi dari mereka. Ya mudah - mudahan saja mereka bisa memberikan jalan keluar yang terbaik nya bagaimana." kata Aamir yang saat itu menggenggam erat tangan kanan Naisha. Mereka sudah berada diluar bandara dan sedang mencari taksi.


Beberapa manit kemudian, mereka berdua sudah sampai dirumah Pak Marwan. Naisha agak heran ketika melihat mobil Tari ada dirumahnya.


"Ngapain Tari ada disini ya Aamiir?" tanya Naisha setelah membayar ongkos taksi.


"Mungkin dia mau nyariin kamu, sayang. Teman kamu berdua itukan memang selalu datang dan mengajak kamu keluar kan? Apa dia gak tau kalau kamu berangkat keluar kota?" tanya Aamir.


"Pastilah gak tau, karena kami gak pernah lagi berkomunikasi semenjak perbuatan dia memfitnah kamu itu Aamir, aku marah sama mereka dan menyuruh mereka agar tidak lagi ikut campur dalam rumah tangga aku." kenang Naisha atas ucapannya ke Tari beberapa hari yang lalu.


"Ya.. Bagiamanapun kamu marah ke mereka, tapi tetap hubungan silaturahim kamu dengan mereka jangan putus ya sayang.. Karena Allah tidak menyukai hamba - hambanya yang memutuskan tali persaudaraan terhadap muslim yang lainnya. Apalagi mereka berdua sudah lama kenal dan dekat dengan kamu, kemana - mana selalu bersama - sama. Kamu gak harus menghindari mereka, sayang.. Tapi sebaliknya kalau kamu mampu dan berniat.. Tuntun jugalah mereka agar sama - sama hijrah seperti kamu sekarang ini.. InshaAllah itu akan menjadi sedekah jariah bagi kamu karena sudah mampu merubah seseorang kearah yang lebih baik." jelas Aamir yang lagi - lagi memberi nasihat indahnya itu ke Naisha.

__ADS_1


"Iya suamiku yang baik hati, mudah - mudahan saja mereka mau ya kalau aku ajak. Tapi, nanti lah aku atur waktu dulu untuk itu." kata Naisha sembari mereka terus berjalan menuju ke pintu utama.


Naisha dan Aamir masuk kedalam rumah dengan sebelumnya mengucapkan salam berbarengan. Pintu rumah yang memang lagi terbuka lebar sebagai tanda adanya tamu disana, dan ternyata memang benar dugaan Naisha bahwa tamu yang datang ke rumahnya saat itu adalah Tari dan Mely.


Saat Naisha dan Aamir masuk, semua mata tertuju kepada mereka. Memandang mereka berdua dengan tatapan tajam. Ada Abi dan Umi Naisha juga disana. Mereka terlihat kaget dengan kedatangan Naisha dan Aamir secara tiba - tiba. Memang Naisha dan Aamir tidak mengabari orang tua mereka bahwa mereka akan pulang. Karena rencananya mereka akan menceritakan semuanya nantik jika sudah sampai dirumah, sebab mereka yakin pasti Abi dan Umi Naisha bertanya - tanya ada apa dan kenapa mereka pulang lebih awal dari jadwal yang sudah ditentukan.


"Naisha, Aamir.. Kalian kenapa pulang?" Pak Marwan langsung bertanya dengan tatapan herannya. Naisha dan Aamir langsung saja bergabung dan duduk dikursi tamu tersebut.


"Wah..Kebetulan sekali ini tersangkanya langsung pulang.." ucap Tari dengan tatapan sinis ny melihat Aamir dan Naisha.


"Apa ada masalah Naisha, Aamir.. Diantara kalian berdua?" tanya Abi Naisha dengaan gusar.


"Ya tentu saja ada masalah Oom, maksud kedatangan saya kesini ya.. Itu tadi, mau menunjukkan video yang lagi viral didunia maya saat ini. Judulnya saja sudah menarik banget nih.. Seorang ustad muda, sudah beristri kepergok lagi berbuat mesum dengan seorang wanita dihotel.." belum sempat Naisha dan Aamir memberi jawaban, Tari langsung saja menyerocos panjang lebar dengan mengatakan hal demikian. Ia juga melihatkan judul tersebut dari handphonenya, akan tetapi belum diklik nya video tersebut.


"Itu bukan kamu kan Aamir?" tanya Pak Marwan dengan tatapan dingin. Naisha dan Aamir langsung terdiam dengan menelan ludah masing - masing.


"Lebih baik Om lihat saja langsung, Om. Ni.. biar Om Marwan bisa langsung menilainya.." kata Tari lagi dengan tersenyum kegirangan seraya menyerahkan handphonenya.


"Saya tidak perlu melihatnya, cukup saya tanya dengan yang bersangkutan saja. Aamir.. Apa benar kamu yang ada didalam video ini?" tanya Pak Marwan dengan tatap nanarnya.


"Iya, Aamir.. Apa itu kamu? Karena tadi sudah ramai orang - orang membahas mengenai video ini. Di tempat arisan Umi juga sudah tersebar semua tentang itu, tapi.. Jujur Umi gak berani melihatnya. Kata teman Umi yang cowoknya mirip sama kamu.." kata Umi sofia menimpali.


Aamir masih diam, karena dia benar - benar bingung mau menjelaskan dari mana. Kalau ditanya benar atau tidak, jawabanya iya.. Benar!! Memang benar dirinya yang ada di video yang sudah disebarkan oleh Rozi dan Shera. Tapi, semua itu bukan seperti yang mereka pikirkan. Aamir harus meluruskan ini semua, karena ini terkait nama baiknya. Citra dirinya yang selama ini dikenal dengan laki - laki baik dan sholeh. Aamir tidak ingin orang - orang menjadi salah sangka terhadapnya..


.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG..


__ADS_2