
"Nai.. Kamu kenapa sih ngusir Aamir dari ruangan rawatan kamu?" tanya Umi Sofia sesaat setelah dokter selesai memeriksakan keadaan Naisha lalu keluar dari sana.
"Malas saja Naisha lihat dia Umi," jawab Naisha dengan kesal.
"Jangan gitu Naisha, Aamir kan suami kamu. Seharusnya Aamir menjaga dan menemani kamu saat ini bukan malah diluar." kata Umi Sofia dengan menasihati Naisha.
"Umi Kan ada yang nemani Naisha, Kenapa? Umi Gak mau jaga Naisha ya?" ketus Naisha asal - asalan.
"Bukan gitu, Naisha.. Umi cuman kasihan sama Aamir. Lagi pula kan.." Belum sempat Umi Sofia menyelesaikan kalimatnya, Naisha malah memotongnya.
"Aahhh... Sudahlah Umi, jangan bahas dia lagi. Oya, Abi mana? kok gak sampai - sampai?" tanya Naisha yang langsung saja mengalihkan pembicaraan. padahal Umi Sofia hendak memberitahu Naisha bahwa Aamir lah yang telah menolong dirinya tadi malam. Tapi, kalimat itu belum sempat terucap dari lisannya Umi Sofia.
"Abi kamu masih dijalan, tapi sebentar lagi sampai kok sayang," jawab Umi Sofia.
"Baguslah Abi cepat sampai. Dengan begitu, Abi bisa langsung kekantor polisi untuk melaporkan si Ferdi brengsek itu." kata Naisha dengan rasa geram dan sakit hati jika mengingat apa yang telah diperbuat Ferdi terhadapnya tadi malam.
Naisha merasa sangat menyesal karena telah menerima ajakan Ferdi untuk keluar bersama lelaki itu tadi malam. Ternyata, Ferdi sudah mempunyai niat yang buruk terhadapnya. Hampir saja Naisha dilecehkan oleh lekaki itu. Untung saja Naisha bisa kabur dan lepas dari cengkeramannya Ferdi waalaupun dia akhirnya harus masuk kedalam jurang.
Naisha kembali mengingat saat ia berada dipinggir jurang itu. Setelah Ferdi pergi, Naisha berteriak minta tolong tapi tidak ada yang mendengar teriakannya. Karena Naisha pun tahu jalan itu sangat sepi dan gelap, tidak mungkin juga ada mobil ataupun motor yang kebetulan lewat disana tengah malam buta saat itu.
Cukup lama juga Naisha bergelantungan disana, sampai akhirnya ia merasa kelelahan untuk berteriak, belum lagi ia merasa tubuhnya sakit dan semakin melemah. Sampai akhirnya Naisha tidak ingat apa - apa lagi. Dan Saat Naisha membuka mata tadi, ia sudah berada saja disini. Dirumah sakit dan ditemani oleh Aamir. Lantas, siapa yang telah menolongnya dan kemudian membawanya kerumah sakit? Pertanyaan itu akhirnya terlintas juga dipikiran Naisha.
"Umi..." Naisha memanggil Umi Sofia yang sedang duduk di sofa dan terlihat sibuk dengan ponselnya.
__ADS_1
"Iya, Naisha." jawab Umi Sofia langsung dan kemudian berjalan mendekati Naisha.
"Ada apa? Apa yang bisa Umi lakukan untuk kamu, Naisha?" tanya uminya.
"Ngak ada, Naisha cuman ingin bertanya saja, Umi." ujar Naisha dengan wajah yang serius.
"Iya, mau tanya apa Naisha?" tanya Uminya lagi dengan tatapan tak kalah serius juga dengan Naisha.
"Eee...Itu, maksud Naisha.. Siapa yang membawa Naisha kerumah sakit, Umi? Siapa orang yang telah menyelamatkan Naisha dari jurang?" tanya Naisha seraya menatap dalam - dalam wajahnya uminya itu.
"Nah, itu dia.. Tadi Umi mau menyampaikan sama kamu Naisha, tapi kamu sudah keburu marah dan emosi duluan." kata Umi Sofia.
"Maksudnya?" tanya Naisha dengan kening berkerut.
"APPAA??" jerit Naisha seakan tidak percaya bahwa Aamir lah si penyelamat itu.
"Iya, Naisha. Aamir yang sudah menolong kamu." ulang Umi Naisha lagi.
"Kok bisa sih?" Naisha kembali bertanya dengan nada seakan tak Terima Bahwa Aamir lah orangnya.
"Ya bisa donk, Naisha. Kenapa tidak? Kamu saja yang tidak pernah merasakan betapa pedulinya Aamir sama kamu, Naisha. Malam tadi, Aamir sibuk mencari - cari kamu kesana kemari. Bertanya ke Umi, dan juga ke teman kamu yang bernama Tari itu, dimana keberadaan kamu. Karena dia risau setelah tau kalau kamu pergi dengan laki - laki yang bernama Ferdi itu. Perasaan Aamir yang peka dan adanya firasat juga bahwa laki - laki yang bersama kamu itu memiliki niat yang tidak baik terhadap kamu. Makanya Aamir berusaha mencari kamu Naisha. Dan akhirnya, atas izin Allah sehingga menggerakkan langkah kaki Aamir untuk sampai di jalan yang sepi itu. Aamir masuk kedalam jurang sana, setelah itu mengangkat tubuh kamu keatas, kemudian menelpon Umi dan menyuruh Umi untuk menghubungi Ambulan. Begitulah kronologinya kamu bisa berada dirumah sakit sekarang ini, Naisha." jelas Umi Sofia panjang lebar.
Naisha langsung terdiam dengan wajah yang datar, tanpa ekspresi apapun. Naisha pun tdak tahu harus bersikap bagaiamana setelah ini jika berhadapan dan bertemu dengan Aamir nantinya...
__ADS_1
...ππππ...
Beberapa menit kemudian, Abi Naisha pulang dari luar kota. Ia kemudian masuk kedalam kamar rawatan Naisha dengan tergesa - gesa dan diikuti juga oleh Aamir di belakangnya.
Abi Naisha tampak cemas, sepanjang perjalanan pulang tadi ia tidak bisa tenang. Karena Kepikiran tentang keadaan Naisha, ia takut Naisha terluka parah. Tapi, setelah sampai dan melihat Naisha sudah sadar dan berbincang - bincang dengan Umi Sofia, bisa membuat perasaan Abi Naisha sedikit lega. Meskipun rasa amarah tetap menggebu - gebu dihatinya terhadap laki - laki yang sudah membuat anak satu - satunya itu menjadi terluka dan celaka seperti ini.
"Setelah ini, Abi akan membuat laporan ke kantor polisi. Kamu ikut dengan Bapak ya Aamir, kamu sebagai saksi. Pokoknya paling lambat besok si lekaki jahanam itu harus mendekam didalam penjara." kata Abi Naisha dengan raut kegeraman diwajahnya.
"Dan untung saja kamu datang disaat yang tepat Aamir, bapak berterimakasih sama kamu karena sudah menyelamatkan Naisha. Jika kamu tidak ada saat itu, entah bagaimana nasib Naisha nantiknya." kata Abi Naisha seraya menepuk halus pundak Aamir. Sebelum itu, Umi Sofia sudah menceritakan panjang lebar tentang kronologi kejadian yang menimpa Naisha kepada Abi Naisha.
"Tidak perlu berterimakasih pak, karena sudah menjadi kewajiban Aamir dalam menjaga dan melindungi Naisha. Lagi pula, Naisha sudah menjadi tanggung jawabnya Aamir sekarang Pak. Aamir juga minta maaf karena sudah lengah dan lalai dalam menjaga Naisha. Untuk kedepannya, Aamir akan lebih ekstra lagi dalam menjaga Naisha, Pak. InshaAllah." kata Aamir dengan tersenyum tipis. Kemudian Aamir melirik sekilas kearah Naisha yang ternyata juga sedang melihat kearahnya. Pandangan mereka sempat beradu persekian detik, sampai akhirnya Naisha buru - buru mengalihkan pandangannya dari Aamir karena entah kenapa melihat tatapan maut dan tulus yang diberikan oleh Aamir itu, mampu membuat getaran tersendiri dihati Naisha.
"Itu Makanya Naisha, Abi sudah peringati kamu jauh - jauh hari bukan? Kamu jangan mau diajak jalan dengan laki - laki yang tak jelas seperti Ferdi itu contohnya. Sudahlah sayang, buang jauh - jauh sifat buruk kamu itu. Abi ingin kamu berubah, apalagi saat ini kamu sudah menikah. Tolong kamu hargai Aamir sebagai suami kamu, kamu harus nurut sama dia. Aamir ini jodoh yang terbaik untuk kamu, Naisha. Sebab itu, mulai sekarang coba lah kamu buka hati kamu agar bisa menerima Aamir. Dan juga menerima segala bimbingan nasihat yang akan Aamir berikan untuk kamu nantiknya, Naisha. Kamu bisa kan, sayang??" ujar Abi Naisha panjang lebar dengan setengah memohon dan berharap kali ini Naisha benar - benar mau berubah...
...πΏπΏπΏπΏ...
BERSAMBUNG..
.
.
..
__ADS_1