Jalan Menuju CahayaMu

Jalan Menuju CahayaMu
BAB 19 (KEKHAWATIRAN AAMIR)


__ADS_3

Aamir masih berusaha untuk memulai pembicaraan baik - baik dengan Naisha, walaupun berkali - kali pula dibalas dengan ucapan yang kasar bahkan makian dan hinaan yang ia dapatkan dari mulutnya Naisha. Namun, Tetap tidak membuat Aamir menyerah dan goyah begitu saja, karena dari awal Aamir menerima perjodohan ini dia sudah tahu apa konsekuensi yang akan ia Terima nantinya. Aamirpun sadar bahwa inilah tantangan awal pernikahan yang harus ia hadapi dengan ikhlas dan sabar.


Malam itu, Aamir baru saja pulang dari mesjid setelah selesai melaksanakan sholat tarawih dan witir bersama pak Marwan dan jamaah mesjid lainnya. Setelah sampai dirumah, Pak Marwan langsung beristirahat karena besok pagi - pagi beliau akan berangkat ke luar kota untuk urusan pekerjaan.


"Aamir, kemungkinan bapak agak lama berangkat keluar kotanya. Jadi, bapak titip Naisha sama kamu ya. Walaupun sekarang tanggung jawab menjaga Naisha memang sudah pindah ke tangan kamu, tapi tetap saja Bapak sebagai Abinya masih merasa bertanggungjawab juga untuk memastikan Naisha dalam koridor yang aman. Bapak harap kamu bisa lebih ekstra sabar lagi ya menghadapi segala tingkahnya, dan pelan - pelan kamu gayomi dia. Bapak yakin kamu bisa lebih membimbing Naisha dengan baik ditimbang bapak, Aamir" ujar Pak Marwan saat mereka di perjalanan pulang menuju ke rumah.


"InshaAllah, Pak. Aamir akan mengusahakannya sebaik mungkin. Aamir mintak doanya ya Pak semoga niat baik kita ini dilancarkan dan dimudahkan oleh Allah." kata Aamir dengan wajah yang penuh keyakinan.


"Aamiin.. Aamiin.." sahut pak Marwan langsung dengan suara yang lantang.


Setelah itu, Aamir menuju kekamar Naisha. Sebelum berangkat ke mesjid tadi, Naisha masih ada dikamar sedang menonton film Korea kesukaannya. Ketika itu, Aamir sempat mencoba mengajak Naisha untuk ke mesjid, tapi ajakannya langsung ditolak mentah - mentah oleh Naisha.


Sesampainya didalam kamar, ternyata kosong. Naisha tidak ada disana. Aamir kemudian berjalan kearah kamar mandi untuk memastikan Naisha ada didalam atau tidak. Ternyata tidak ada juga.


"Naisha kemana ya?" Aamir bertanya dengan dirinya sendiri sembari mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia bermaksud untuk menelpon Naisha dan menanyai keberadaan wanita itu.


Namun, lebih dari tiga kali Aamir mencoba menghubungi nomor Naisha, tetap sekalipun tidak diangkatnya. Entah sengaja atau bagaimana, Aamir pun tidak tahu. Karena saat Aamir cek diaplikasi Whatshapp, ternyata Naisha tengah online. Dan Aamir pun yakin Naisha sengaja tidak mau menerima telpon darinya.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum, Naisha.. Kalau boleh aku tahu, kamu sekarang lagi dimana ya?"


Akhirnya, Aamir mengirim pesan singkat tersebut. Dan ternyata langsung dibaca oleh Naisha. Tapi, tidak juga dibalasnya.


"Naisha, kalau boleh aku memberi saran yang baik. Jika mau keluar ataupun pergi sama teman - teman kamu, tolong kabari aku ya.."


Karena pertanyaannya tidak dijawab, maka Aamir pun mengirim pesan lagi ke Naisha. Selang beberapa detik kemudian, lagi - lagi pesan singkat dari Aamir cuman dibaca saja oleh Naisha. Aamir menunggu beberapa menit dan berharap Naisha membalas pesannya itu. Walaupun hanya satu kata singkat saja, sudah cukup membuat hatinya lega. Tapi, ternyata itu hanyalah harapan kosong bagi Aamir. Naisha tidak juga membalas pesan darinya.


"Naisha, jangan pulang larut malam ya. Aku menunggu kamu, segeralah pulang..."


Aamir menghela nafas panjang setelah mengirim pesan yang selanjutnya. Bagaimanapun rasa cemas dan khawatir dihati Aamir tetap ada untuk Naisha.


"Ya, Allah.. Apa Naisha biasa pulang jam segini ya?" Aamir hanya bisa bertanya - tanya pada dirinya sendiri. Karena Aamir pun merasa tidak enak jika harus membangunkan mertuanya yang ia yakini pasti sudah tidur. Dan..Tidak ada yang bisa Aamir lakukan saat ini selain menunggu kepulangan Naisha dengan terus berdoa tiada henti yang ia panjatkan di dalam hatinya. Ya.. Aamir Berdoa agar istrinya itu segera pulang dalam keadaan baik dan juga selamat.


Akhirnya doa Aamir terkabul, beberapa menit kemudian terdengar bunyi mobil yang berhenti didepan rumah. Aamir langsung bergegas melihat ke jendela siapa yang datang. Dan ternyata, Naisha pulang diantar oleh Kedua temannya. Melihat Naisha yang datang, membuat perasaan Aamir sedikit lega. Tapi, kelegaan itu hanya sesaat saja karena Aamir langsung syok tatkala melihat Naisha berjalan dari pintu pagar menuju kepintu masuk rumah dengan badan yang sempoyongan, wanita itu seakan tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya sehingga beberapa kali hampir terjatuh keteras. Melihat hal itu, Aamir langsung saja bergegas menyusul Naisha kebawah.


"Naisha, Ya Allah... Kamu kenapa?" tanya Aamir setelah sampai dibawah dan membukakan pintu. Aamir langsung menghampiri Naisha yang masih berjalan dengan tertatih - tatih, Ia pegang tangan wanita itu. Naisha yang baru sadar akan kebedatangan Aamir langsung saja menepis tangan Aamir dengan kasar dan juga dengan mata yang melotot.

__ADS_1


"Hei, Berani ya kamu pegang - pegang tangan aku." bentak Naisha dengan garang.


"Maaf.. Maaf..Naisha. Tapi, aku mau bantu kamu. Tadi aku lihat kamu hampir terjatuh," kata Aamir membela diri. Tapi, Naisha tidak mempedulikan ucapan Aamir tersebut, dia hanya melotot kan matanya dengan gusar dan kemudian kembali berjalan masuk kedalam. Namun, baru satu langkah ia berjalan, tiba - tiba saja tubuh Naisha hendak ambruk dan jatuh dilantai teras rumah tersebut. Tapi, untungnya sebelum itu Aamir dengan sigap langsung meraih tubuh Naisha.


"Ya Allah, Naisha.. Kamu kenapa? Naisha.. Naisha.. Bangun.." kata Aamir yang berusaha membangunkan Naisha yang ternyata sudah pingsan.


Melihat Naisha yang tidak kunjung sadar, maka Aamir pun menggendong tubuh Naisha masuk kedalam rumah hingga menuju keatas kamarnya. Beberapa saat kemudian, Aamir sampai dikamar dan meletakkan tubuh Naisha keatas kasur dengan pelan - pelan dan juga dengan nafas ngos - ngosan. Walaupun tubuh Naisha tidak begitu berat, tapi karena kamar mereka berada di lantai atas yang mengharuskan ia menaiki tangga sehingga membuat tenaga Aamir lumayan terkuras juga.


Setelah itu, Aamir mengambil minyak kayu putih dan kemudian ia letakkan di hidung Naisha dengan harapan wanita itu segera sadar dari pingsannya karena menghirup bau minyak tersebut. Dan saat wajah Aamir berada di jarak yang dekat dengan wajah Naisha, ketika itulah ia baru menyadari dan mencium bau sesuatu yang menyengat yang keluar dari helaan nafas istrinya itu. Tapi, Aamir tidak tahu bau apa itu karena memang ia tidak pernah menciumnya. Namun, pikiran buruk malah terlintas di benaknya dan Aamirpun menduga Naisha telah meminum minuman terlarang dan ia tengah mabuk saat ini. Jantung Aamir langsung berdesir hebat saat pikiran itu terlintas di benaknya.


"Ya, Allah.. Naisha, Sebebas inikah hidup kamu?" lirih Aamir seraya memandang wajah cantik Naisha penuh dengan rasa keprihatinan.


...💕💕💕💕...


BERSAMBUNG...


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2