
Dimalam takbiran, Naisha hanya dirumah saja. Sedangkan Umi dan Abinya sekitar setengah jam yang lalu pergi keluar, mereka awalnya ingin mengajak Naisha untuk keluar. Akan tetapi, Naisha menolaknya dengan alasan ia malas dan ingin tidur lebih awal malam ini.
Naisha kemudian masuk kedalam kamar dengan langkah gontai, saat ia sampai didepan pintu kamarnya, tiba - tiba Naisha ingat Aamir. Sejak tadi siang, Naisha belum bertemu dengan Aamir. Terakhir Naisha melihat Aamir sedang sibuk di mesjid dan waktu berbuka tadi pun Aamir tidak ada. Kata Abi, Aamir berbuka di mesjid. Tapi, kenapa ia tidak mengabari Naisha? Dan sudah jam segini pun dia tidak pulang - pulang, sesibuk apa sih dia di mesjid? Naisha hanya bisa mendumel didalam hatinya.
Naisha lalu membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. Dengan posisi telentang, Naisha kemudian menatap langit - langit kamarnya tanpa mengedipkan matanya. lagi - lagi pikiran Naisha membawanya untuk memikirkan Aamir, dan yang lebih parahnya, wajah Aamir seakan tergambar dilangit - langit kamarnya itu. Naisha langsung terduduk dengan menghela nafas pendek.
"Iihhh... Kenapa sih aku ini? Kenpa harus mikirin Aamir si belagu itu? Naisha.. Naisha.. Sudahlah, pikiran kamu mulai meracau tak jelas. Parah ni.." ujar Naisha yang berbicara pada dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudian, HP Naisha berdering Kencang. Naisha kemudian buru - buru mengambil hpnya yang terletak diatas meja, sontak saja hati dan pikirannya berharap yang menelponnya itu adalah Aamir. Tapi, saat ia melihat ke layar HP yang ternyata bukan Aamir yang menelpon, Naisha langsung merasa kecewa.
Naisha menolak panggilan dari nomor laki - laki yang sedang melakukan PDKT dengan dirinya. Naisha malas meladeni laki - laki itu saat ini. Makanya Naisha mencuekkan panggilan darinya tersebut.
"Assalamu'alaikum, Naisha.." beberapa menit kemudian, terdengar suara Aamir yang mengucapkan salam seraya memgetuk pintu kamarnya. Naisha langsung bergegas turun dari tempat tidur untuk membukakan pintu kamar yang memang di kuncinya dari dalam.
Setelah pintu dibuka, seuntai senyuman tulus milik Aamir kembali dilemparkannya kearah Naisha.
"Kamu belum mau tidur kan Naisha? Kok pintunya dikunci?" tanya Aamir.
"Belum," jawab Naisha singkat lalu masuk kedalam dan kemudian kembali duduk di tepi ranjangnya. Aamirpun mengikuti Naisha dari belakang.
"Kamu kenapa gak ikut Abi dan Umi keluar, Naisha?" tanya Aamir lagi yang kini sudah berdiri disamping Naisha dengan kedua tangannya berada di belakang punggung.
__ADS_1
"Aku lagi malas, ngak pengen kemana - mana." jawab Naisha dan kemudian pura - pura sibuk dengan hpnya.
"Hhhmm.. Sepertinya kamu kurang semangat malam ni Naisha, ada apa? Besok kan hari lebaran, seharusnya kita sekarang ini menyambutnya dengan suka cita. Jangan malah sebaliknya, karena Inilah hari kemenangan kita sebagai umat islam, Naisha." jelas Aamir dengan lembut. Naisha langsung menghela nafas pendek.
"Ya sudah, biar kamu bisa semangat.. Aku ada hadiah untuk kamu Naisha.." kata Aamir dan kemudian menyodorkan sebuah bingkisan yang sejak tadi disembunyikan Aamir dibelakang punggungnya.
"Apa ini? Aku gak lagi ulang tahun, Aamir. Kenapa memberi hadiah segala?" protes Naisha. Kendatipun demikian, Naisha cukup penasaran juga dengan isi didalam bungkusan yang disodorkan Aamir tersebut.
"Memberi hadiah tidak harus dihari ulang tahun, Naisha. Anggap saja pemberian aku ini sebagai hadiah karena kamu sudah menyelesaikan puasa kamu 3 hari kemarin dengan baik," kata Aamir dengan tersenyum lebar.
"Hhhmmm.. Kamu meledek aku ya Aamir?" ketus Naisha yang kurang setuju dengan pendapat Aamir itu.
"Lah, kok meledek? Tidaklah Naisha.. Aku gak pernah sedikitpun berniat untuk meledek kamu, malahan sebaliknya aku sangat bersyukur dengan itu semua. Nah, ini diambil hadiahnya. Mudah - mudahan kamu suka ya dengan hadiah aku." kata Aamir kembali menyodorkan hadiah tersebut. Dengan ragu - ragu, Naisha akhirnya mengambil hadiah pemberian dari Aamir.
"Iya, iya.." sahut Naisha. Dan dengan perlahan - lahan Naisha membukanya. Setelah sampul terbuka, Naisha berhenti sejenak menatap ragu kotak yang Naisha belum ketahui apa isinya.
"Buka aja Naisha.." kata Aamir karena melihat Naisha agak tertegun menatap kotak tersebut. Naisha hanya menganggukkan kepalanya. Dan setelah kotak itu dibuka, Naisha langsung terperanjat kaget melihat isi didalamnya yang ternyata adalah sebuah gamis Syar'i bermotif bunga yang cantik dan cukup elegan dan lengkap juga dengan kerudung berukuran panjang. Naisha kemudian menelan ludahnya seraya menatap Aamir dengan tatapan nanar.
"Apa maksudnya ini Aamir? Kamu ngasih aku gamis ini? " tanya Naisha dengan ekspresi tak suka.
"Iya, Naisha. Gamis ini untuk kamu.." jawab Aamir.
__ADS_1
"Hah?? Kamu gak salah ngasih? Apa kamu gak mikir kalau aku.. Gak mungkin bisa menerima hadiah ini." sungut Naisha dengan menggeleng - geleng kan kepalanya.
"Kenapa gak mungkin, Naisha?" Aamir malah bertanya.
"Karena untuk apa? Untuk dipajang? Sebab aku gak mungkin memakainya," kata Naisha dengan menaikkan sedikit nada bicaranya. Naisha terlihat agak kesal, sedangkan Aamir masih dengan bawaannya yang tenang itu mencoba untuk meredakan kekesalan Naisha tersebut.
"Naisha... Maaf jika pemberian aku ini membuat suasana hati kamu semakin menjadi tidak baik. Sungguh aku tidak bermaksud demikian. Nah, sekarang ini.. aku berharap kamu Terima saja dulu pemberian aku ini ya. Mengenai kamu belum mau memakainya atau gimana, itu urusan nantik saja. Semoga saja suatu saat nantik hati kamu tergerak untuk memakainya. Itu saja harapan aku, aku gak akan memaksa kamu kok, Naisha. Karena yang aku tahu bahwa sesuatu yang dilakukan dengan keterpaksaan tidak akan mendatangkan keberkahan. Ya..walaupun, awalnya sempat juga terlintas dipikiran aku untuk berharap melihat kamu memakai gamis ini saat lebaran esok hari, tapi itu cuman sekedar harapan saja kok, Naisha." jelas Aamir yang ditutup dengan senyuman tulus yang mengembang dibibirnya.
"Kamu sudah tau jawabannya, Aamir. Aku gak bakalan memakai gamis itu." tegas Naisha dan kemudian meletakkan kotak tersebut diatas tempat tidurnya dengan agak kasar. Setelah itu, Naisha kembali pura - pura sibuk dengan ponselnya.
Aamir hanya tersenyum tipis, dan kemudian ia pun beranjak juga dari tempat Naisha. Saat Aamir masuk kedalam kamar mandi, Naisha melirik kearah kotak yang berisi gamis Syar'i tadi. Lama ia menatap benda itu dengan segala rasa yang berkecamuk dihatinya. Gamis berwarna biru muda itu sebenarnya sangat cantik dan terkesan cukup mewah, tidak dipungkiri Naisha juga memuji selera Aamir yang bagus dalam memilih pakaian untuk wanita. Tapi, jika dipakaikan kepadanya.. Apakah pantas? Apakah akan terlihat bagus juga? Aahh... Tidaklah.. Jangan berpikiran untuk memakainya Naisha, didalam mimpi pun Ia tidak ingin memakainya. Kata pikiran Naisha yang meronta - ronta menolaknya, tapi.. Tidak dengan hatinya yang malah berkata lain...
...💘💘💘💝💝...
BERSAMBUNG...
"YUK TETAP BERI DUKUNGANNYA DENGAN LIKE DAN KOMENTARNYA YA.."
.
.
__ADS_1
.