Jalan Menuju CahayaMu

Jalan Menuju CahayaMu
BAB 43 (HATI YG GALAU)


__ADS_3

Saat tiba didepan pintu keluar, Naisha melihat Anandita sedang telponan dan.. Wanita itu terlihat sesegukan. Anandita seperti sedang menangis.. Naisha penasaran, sebenarnya ia tidak berniat untuk menguping, akan tetapi.. Ia tidak sengaja mendengar sebuah kalimat yang meluncur jelas dari lisannya Anandita. Kalimat yang membuat Naisha langsung terpana dengan mata yang terbelalak kaget.


"Kamu.. Sejak kapan kamu ada disini?" Saat Anandita menoleh kebelakang, ia mendapati Naisha berada tepat berdiri dibelakangnya. Anandita lansgung saja mematikan telponnya itu.


"Ee.. Maaf, Kak..jangan salah paham dulu.." ujar Naisha yang sudah melihat sorot ketidaksenangan dari matanya Anandita.


"Kamu menguping pembicaraan saya ya!" ketus Anandita dengan meninggikan nada bicaranya. Naisha tidak menyangka akan diketusin oleh seorang Anandita yang dikenali orang - orang dengan kelemahlembutan nya itu. Yang Naisha lihat malah sebaliknya, dia seperti Anandita dimasa dulu.. Jauh sebelum dia memutuskan untuk hijrah.


"Kak Dita, maaf saya gak punya niat untuk menguping pembicaraan kakak. Kebetulan saya mau keluar, dan saya gak sengaja.. Jadi terdengar apa yang kak ucapkan terakhir tadi. Tapi, saya janji.. Saya gak akan membeberkan kemana - mana kok kak, maaf ya kak." kata Naisha dengan merasa tidak enak sudah mendengar apa yang dikatakan oleh Anandita barusan tadi.


"Ya sudah jika kamu sudah terlanjur mendengarnya," kata Anandita terdengar pasrah dan kali ini sudah menurunkan sedikit nada bicaranya.


"Tapi, aku mau pesan satu hal sama kamu, Naisha." lanjut Anandita lagi dengan nada serius. Mata bulat dan beningnya itu lalu menatap Naisha dengan tatapan tajam.


"Apa tu kak?" tanya Naisha penasaran. Anandita terlihat menarik nafas panjang sebelum akhirnya dia berujar.


"Kamu berhati - hatilah dengan laki - laki yang selalu mengatasnamakan agama dalam segala hal, padahal itu hanya ingin menutup kedoknya saja. Karena pada dasarnya itu semua ia lakukan demi kesenangan sendiri dan hawa nafsunya semata. Dia Sengaja memberikan cinta, mengubar janji setia, tapi ternyata.. setelah kita termakan cinta itu, dia dengan mudahnya mendua..." ucap Anandita dengan suara yang bergetar.


Hati Naisha langsung tersentak mendengar ucapan Anandita yang begitu memilukan itu. Naisha bisa merasakan kepedihan yang tengah dirasakan oleh kakak tingkatnya. Naisha pikir selama ini dia bahagia tapi ternyata.. ia menyimpan beban dan masalah yang begitu besar, yang orang - orang tidak ketahui. Malahan orang - orang menganggap sebaliknya.


"Semoga saja, apa yang menimpa aku ini.. tidak terjadi juga ke kamu ya Naisha. Karena aku tahu, proses awal kita sama, tapi kita gak tahu akhirnya bagaimana.." kata Anandita dengan tertawa kecil. Setelah mengatakan itu, ia lalu berlalu dari sana dan masuk kedalam rumah Naisha, bergabung dengan tamu yang lainnya. Naisha hanya terdiam dan merenungi setiap kata yang Anandita lontarkan barusan tadi.

__ADS_1


🌸🌸🌸🌸


Saat akan tidur dimalam itu, Naisha tidak bisa memejamkan matanya. Sebenarnya ia sudah sangat mengantuk, tapi saat ia memejamkan matanya, perkataan Anandita tadi malah terniang - niang di telinganya sehingga membuat Naisha kembali membuka mata.


"Ma... Dita gak bisa menerima ini semua, apa kurang Dita sehingga bang Ghufron sampai tega mendua seperti ini. Dia sudah menikah.. menikahi wanita itu, Ma. Tanpa sepengetahuan Dita..!!"


Itulah kalimat yang keluar dari lisan Anandita yang tertangkap jelas oleh telinga Naisha. Yang membuat Naisha benar - benar kaget dan tak menyangka bahwa ustad Ghufron bisa setega itu kepada Anandita. Dia sudah menikah lagi, tanpa sepengetahuan dari Anandita. Bagi Naisha, itu sama saja dengan pengkhianatan didalam pernikahan. Itu fatal, sangat - sangat fatal bagi seorang ustad seperti Ustad Ghufron.


Berkali - kali Naisha membalikkan badannya, miring ke kiri dan ke kanan. Ia terlihat begitu gelisah, cemas dan khawatir. Bagaimana tidak? Anandita jelas telah mewanti - wanti Naisha agar berhati - hati dengan laki - laki yang mengatasnamakan agama dalam segala hal. Apa maksud dari itu? Bukannya bagus jika mengkaitkan segala sesuatu dengan agama, tapi.. Jika menikah lagi atas dasar agama apakah bisa ditolerin? Ya.. Pasti, Pasti itu yang dimaksud Anandita. Dada Naisha langsung bergemuruh hebat saat hal itu telingas dipikirannya.


"Naisha.. kamu belum tidur ya?" tegur Aamir saat ia membuka ternyata Naisha belum tidur.


"Ee.. Iya, belum bisa tidur Aamir.." jawab Naisha dengan pelan. Aamir langsung memposisikan tubuhnya dengan setengah duduk dan kemudian menatap Naisha dengan tatapan teduhnya.


Naisha diam sejenak. Menimbang - nimbang apakah ia harus bercerita ke Aamir tentang apa yang ia dengar tadi dari Anandita. Tapi, tidaklah.. Naisha sudah berjanji tidak akan membeberkan kepada siapapun. Lebih baik dia menyembunyikannya dari Aamir.


"Sha? Kok malah diam?" tegur Aamir yang ternyata masih menanti jawaban dari Naisha.


"Gak lagi mikirin apa - apa kok Aamir, ini mungkin efek kebanyakan minum kopi makanya aku gak bisa tidur, hehhe.." ujar Naisha beralasan.


"Kamu minum kopi?" tanya Aamir dengan mengerutkan keningnya dengan tak yakin.

__ADS_1


"I-ya.. Tapi, Capucino kok Aamir bukan kopi hitam biasa. Sudah lama juga gak minum, tadi malam pengen aja.." kata Naisha lagi.


"Hhhmm.. Ya sudah, kalau kamu belum bisa tidur, aku temanin kamu sampai kamu tertidur." kata Aamir dengan tersenyum hangat.


"Aamir, kamu kalau sudah ngantuk tidur aja. Aku gak apa - apa kok sendirian," tolak Naisha.


"Ngak apa Naisha, aku temanin kamu sampai bisa tidur." ucap Aamir masih menatap Naisha dengan tatapan mesranya itu. Naisha menjadi serba salah ditatap seperti itu.


Naisha akui bahwa semakin hari hatinya semakin terpaut pada Aamir. Mungkin awal - awal pernikahan dulu dia biasa saja, belum tumbuh benih - benih rasa kasih dan sayang itu. Tapi, semakin kesini.. Naisha merasa kan dirinya mulai terhanyut akan pesona Aamir, pada kebaikannya, ketulusannya, perhatiannya, dan segala hal yang Aamir lakukan untuknya. Inilah salah satu tanda bahwa Naisha sudah mulai jatuh hati terhadap Aamir.


Namun, peringatan dari Anandita tadi mampu membuat hati Naisha menjadi galau dan bahkan takut.


"Dia Sengaja memberikan cinta, mengubar janji setia, tapi ternyata.. setelah kita termakan cinta itu, dia dengan mudahnya mendua.. "


Kalimat dari Anandita yang begitu dalam namun menyesakkan itu kembali terniang - niang dibenak Naisha. Karena persis, Aamir sudah memberikannya cinta dan kasih sayang, dan Naisha pun mulai menerima cinta itu dengan sepenuh hatinya, kasarnya bisa dibilang bahwa Naisha sudah termakan cintanya Aamir.... Tapi, akankah Aamir juga mendua? Seperti ustad Ghufron yang terkenal dengan lelaki sholeh dan memiliki pemahaman agama yang bagus? Naisha tidak tahu, semuanya seakan maish blur dibenak Naisha...


...🌺🌺🌺🌺...


BERSAMBUNG...


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2