
Hari berganti hari, tidak terasa bulan Ramadhan akan berakhir dan sebentar lagi akan memasuki bulan Syawal, Hari Rayanya Umat Muslim.
Tiga hari menjelang Ramadhan berakhir, Aamir lebih giat dalam melakukan ibadah, baik ibadah wajib maupun sunnah. Karena ia tahu bahwa ibadah yang dilakukan dibulan Ramadhan ini pahala yang didapatkan akan berlipat ganda dibandingkan dengan bulan - bulan lainnya. Makanya, Aamir agak sedih juga jika harus berpisah dengan bulan yang penuh dengan keberkahan ini.
Disamping itu, Aamir juga merasa galau karena sampai hari ini ia belum berhasil merubah Naisha menjadi Wanita shaliha yang diharapkan oleh Abinya. Sudah hampir 10 hari mereka menikah, tapi Aamir belum pernah sekalipun dianggap dan dihargai sebagai seorang suami oleh Naisha. Kendati pun demikian, Aamir masih memiliki stok sabar dan semangat yang banyak untuk tetap berjuang dengan apa yang sudah menjadi pilihannya.
Malam itu, Aamir pulang agak kemalaman karena ada beberapa kegiatan di mesjid. Sesampainya dirumah, Aamir langsung saja naik keatas menuju kamarnya Naisha. Ia masuk dan membuka pintu kamar Naisha dengan perlahan - lahan, karena Aamir tidak mau membangunkan Naisha yang mungkin saja sudah tidur dengan lelap.
Tapi, ternyata.. dugaan Aamir salah. Naisha belum tidur. Aamir malah mendapati Naisha sedang video call dengan seorang laki - laki dengan begitu mesranya. Tiba - tiba saja rasa cemburu membakar jiwa Aamir tatkala melihat pemandangan tersebut, sedangkan Naisha terlihat cuek dan tidak peduli saat Aamir memandangnya dengan pandangan protes dan tidak setuju dengan apa yang ia perbuat terang - terangan di depan Aamir.
Aamir sengaja menunggu Naisha selesai berbincang dengan laki - laki itu, Aamir duduk disofa dengan tatapan tak lepas dari istrinya. Sampai akhirnya, Naisha pun selesai telponan. Barulah Aamir mendekat dan duduk di tepi ranjangnya Naisha.
"Ngapain duduk disini?" tanya Naisha dengan tatapan herannya itu melihat Aamir malah duduk diranjangnya. Karena selama menikah, Aamir tidak sekalipun diizin kan oleh Naisha untuk tidur diatas tempat tidurnya. Aamir biasanya tidur disofa kamar dan pernah juga ia tidur disofa luar beberapa kali karena saat itu Naisha dengan sengaja mengunci pintu kamarnya agar Aamir tidak dapat masuk.
"Naisha, kamu masih saja berhubungan dengan laki - laki lain, apa kamu gak takut kejadian yang menimpa kamu kemarin itu terulang lagi?" tegur Aamir dengan nada lembut.
"Ha? Pertanyaan apa ini, Aamir? Kamu mendoakan agar kejadian kemarin itu terulang lagi pada aku ya?" tanya Naisha dengan asal - asalan.
"Tidak, Naisha. Bukan gitu maksud aku," sanggah Aamir dengan cepat.
"Begini, Naisha.. Aku cuman tidak mau kamu terlalu cepat percaya dengan laki - laki, apalagi yang baru kamu kenal. Aku sarankan kamu jangan mudah terpedaya dan menuruti kemauan mereka ya. karena itu bisa saja membahayakan diri kamu, Naisha. Aku gak mau kamu kenapa - napa," tutur Aamir dengan penuh perhatian. Tapi, bukan Naisha namanya jika tidak menertawakan setiap ucapan serius yang keluar dari lisannya Aamir.
"Hahahahha... Kamu itu lucu ya Aamir, sok tahu dan sok bijak sekali." kata Naisha masih dengan tertawa keras.
__ADS_1
"Naisha, sebagai suami aku hanya berusaha menasihati kamu, terserah jika kamu anggap ini sebagai lelucon semata. Tapi, yang perlu kamu ketahui Naisha, ketika kamu hilang waktu itu, aku sangat cemas. Aku khawatir dan takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap kamu. Aku juga tidak berhenti berdoa agar kamu diberi keselamatan, dan syukurlah aku bisa menemukan kamu saat itu. Makanya, untuk sekarang ini.. Aku mohon sama kamu Naisha agar lebih berhati - hati lagi dalam bertindak dan mengambil keputusan, apalagi jika kamu berniat untuk pergi dengan laki - laki yang belum jelas. Kamu sudah berstatus seorang istri sekarang, Naisha. Jadi.. selain mendatangkan dosa, tidak pantas juga kamu pergi berdua dengan laki - laki lain.." ucap Aamir dengan panjang lebar.
"Eh, Aamir...Sudah mulai banyak bicara kamu sekarang, ya! Jangan mentang - mentang kamu yang nolongin aku kemarin itu jadi kamu seenaknya ngatur - ngatur hidup aku. Ngak semudah itu, Aamir!!' ketus Naisha dengan kesal.
"Naisha, aku bukan mau mengatur hidup kamu. Aku cuman ingin melindungi dan menjaga kamu. Karena Aku gak ingin wanita yang sudah menjadi istri aku ini malah terjebak ke perbuatan
yang tidak baik dan malahan bisa menjerumuskan kamu ke lubang kenistaan." kata Aamir yang masih semangat menyirami kalbu Naisha dengan kalimat - kalimatnya.
"Cih, peduli apa kamu dengan hidup aku? Mau aku terjerumus atau tidak itu bukan urusan kamu, Aamir. Mau dosa kek, apa kek. Gak ada urusannya sama kamu, Jadi jangan sok menggurui aku!!" Naisha masih belum Terima dengan apa yang Aamir katakan.
"Tentu aku peduli, Naisha. Sebab ketika aku menikahi kamu dan Ketika ijab kabul itu diucapkan maka tanggung jawab aku sebagai suami adalah terhadap istri aku yaitu kamu, Naisha. Segala yang dilakukan istri, suami wajib mengetahui. Dan juga Wajib mendidiknya menjadi wanita yang taat pada aturan Allah. Suami wajib mengingatkan istri ketika istri melakukan kesalahan dalam syariat atau kesalahan yang dapat menjerumuskannya kedalam lubang dosa. Begitulah Naisha, jadi jika kamu mengatakan apa yang kamu lakukan bukan urusan aku itu salah besar Naisha. Semua hal yang kamu lakukan akan menjadi urusan aku juga sekarang..." jelas Aamir dengan panjang lebar.
Naisha ingin membantah lagi ucapan Aamir, tapi diurungkan nya niat itu karena ia tidak tahan dengan tatapan Aamir yang begitu teduh dan dalam yang ia berikan ke Naisha. Naisha pun langsung mendengus kesal dan kemudian mengalihkan wajahnya.
"Maaf, Naisha. Ya udah, kamu Istirahatlah lagi karena hari sudah larut malam. Oya, Ramadhan tinggal 3 hari lagi ni, Naisha. Apa kamu mau aku bangunin sahur nantik?" tanya Aamir dengan berharap Naisha mengatakan iya.
"Ngak." jawab Naisha singkat dan padat.
"Nantik akan tetap aku bangunin ya, karena.. Sayang sekali rasanya jika kita tidak puasa, Naisha. Dan.. Belum tentu juga kita bisa bertemu dengan bulan Ramadhan ditahun depan, umur gak ada yang tahu, Naisha." tutur Aamir tanpa peduli dengan jawaban tidak yang dilontarkan oleh Naisha barusan. Tapi, Naisha tak menanggapi penuturan Aamir tersebut.
Selang beberapa menit kemudian akhirnya mereka pun tidur ditempat masing - masing. Dan beberapa jam kemudian, waktu sahur pun masuk. Aamir biasa bangun lebih cepat dari waktu sahur untuk melaksanakan sholat tahajud 4 rakaat, setelah itu barulah ia ke bawah untuk makan sahur. Namun, sebelum Aamir turun ke bawah, ia pun berjalan ke arah tempat tidurnya Naisha.
"Naisha, Sha.. Bangun yuk, kita sahur.." kata Aamir yang membangunkan Naisha dengan suara yang pelan.
__ADS_1
Naisha kemudian menggeliatkan badannya sembari membuka mata perlahan - lahan.
"Apaan sih?" ketus Naisha setelah matanya terbuka dan melihat Aamir ada di sampingnya.
"Maaf ya Naisha, aku mengganggu tidur kamu. Tapi, sekali ini saja.. Kamu mau ya ikut sahur sama aku.." pinta Aamir setengah memohon.
"NGAK." jawab Naisha lalu lagi - lagi menutup wajahnya dengan bantal kemudian mendorong tubuh Aamir agar menjauh darinya.
"Aku tunggu kamu dibawah ya Naisha, aku.. Sangat berharap kamu mau menurut sama aku, suami kamu.. Ya Naisha?" kata Aamir masih dengan lembut dan sabar mengajak Naisha.
Aamir kemudin turun kebawah, dan diruang makan sudah ada Pak Marwan dan Umi Sofia yang menunggunya. Aamir pun langsung bergabung bersama mereka.
Mereka lalu mulai menikmati makan sahur dengan sekali - kali mengobrol. Dan.. Selang beberapa menit kemudian, terdengar suara kaki melangkah dari atas tangga menuju kebawah. Sontak saja mereka bertiga langsung menoleh kearah tangga, dan betapa kagetnya mereka ketika melihat Naisha lah yang turun dari tangga, lalu perlahan - lahan menuju keruang makan. Aamir tersenyum bahagia melihat Naisha datang, setidaknya ini awal yang baik bagi Aamir untuk mululuhkan hati Naisha yang keras itu.
...🌺🌺🌺🌺...
BERSAMBUNG...
"JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAKNYA DENGAN LIKE DAN KOMEN YA.."
.
.
__ADS_1