Jalan Menuju CahayaMu

Jalan Menuju CahayaMu
BAB 35 (TERPESONA)


__ADS_3

"Aamir.. Mana Naisha? Kenapa belum turun - turun juga? Sudah jam berapa nih?" tanya Pak Marwan ke Aamir. Saat itu mereka sudah berada diteras rumah dan bersiap - siap akan ke mesjid untuk sholat idul Fitri. Namun, Naisha yang sejak tadi mereka tunggu - tunggu tidak kunjung datang dan menampakkan wajahnya.


"Tadi katanya mau ke toilet sebentar Pak, Tapi.. Gak apa biar Aamir susul aja Naisha kekamarnya ya pak?" kata Aamir.


"Iya, kamu susul aja dia. Takutnya dia malah ketiduran lagi," kata Pak Marwan.


Aamir kemudian setengah berlari menaiki tangga menuju kekamarnya Naisha, saat ia sudah didepan pintu kamar, Aamir langsung membuka pintu kamar Naisha yang ternyata di kuncinya.


"Naisha.. Sha.. Kamu sudah siap belum? Abi dan Umi sudah menunggu kamu tuh dibawah.." ujar Aamir seraya mengetuk - ngetuk pintu kamarnya Naisha.


"Iya.. Iya.. sebentar lagi," sahut Naisha setengah berteriak dari dalam kamarnya.


Aamir mengiyakan dan menunggu Naisha di depan pintu.Tidak berapa lama kemudian, pintu terbuka lebar dan Naisha pun keluar dari kamar.


Aamir yang kebetulan membelakangi pintu, lalu langsung saja membalikkan badannya. Dan.. Seketika itu juga Aamir langsung terperanjat kaget karena melihat penampilan Naisha yang sangat berbeda. Aamir terpana, terpesona dan terbuai dengan wanita cantik bak bidadari yang ada di hadapannya saat ini. Apalagi yang membuat Aamir tidak berhenti mengucap syukur didalam hatinya yaitu saat menyadari bahwa Naisha memakai baju gamis pemberiannya tadi malam. Yah.. Naisha benar - benar memberi sebuah kejutan untuk Aamir. Senyuman kebahagiaan langsung saja mengembang di paras tampannya Aamir.


"Hai, Aamir..!!" Naisha menegur Aamir karena merasa tidak Terima dipandangi seperti itu.


"Eh, Iya Naisha." ucap Aamir yang baru sadar dari keterpersonaannya.


"Kenapa lihat aku seperti itu? Aku aneh ya? Atau lucu?" tanya Naisha yang kemudian melihat dirinya dengan panik.

__ADS_1


"Aduuhh... Aku ganti aja deh bajunya, aku gak mau pakai." kata Naisha merajuk dan kemudian ingin masuk kembali kedalam kamar. Tapi, Aamir dengan cepat mencegah Naisha untuk masuk kedalam sana dengan memegang tangannya.


Naisha kemudian menatap kearah tangannya yang sedang dipegang Aamir, begitu juga Aamir yang mengikuti arah pandang Naisha. Dan ketika itu juga Aamir sadar dan kemudian buru - buru melepaskan tangannya yang memegang tangannya Nasiha.


"Maaf Naisha, maksud aku.. Kamu jangan ganti bajunya. Karena.. kamu cocok kok pakai baju itu. Kamu kelihatan lebih anggun dan juga.. sangat cantik.." puji Aamir lalu menatap Naisha dengan penuh arti.


"Tapi, kenapa tadi kamu senyum - senyum gak jelas? Seakan - akan meledek aku, kamu bohong kan Aamir? Pasti aku kelihatan jelek dan tua kan pakai gamis ini?" tanya Naisha yang masih belum percaya diri.


"Ngak, Naisha. Kamu sudah salah sangka. Aku tadi itu senyum - senyum bukan berarti aku meledek kamu. Tapi, sebaliknya.. Aku merasa kagum, terpesona dan senang melihat penampilan kamu yang seperti ini Naisha. Penampilan yang MasyaAllah.. begitu indah dipandang karena pakaian tertutup ini sudah sesuai dengan syariat dan tuntutan didalam islam." ungkap Aamir masih dengan sorot kebahagian dimatanya.


"Iihhh... Tapi, gerah juga lama - lama lo Aamir. Aku ganti ajalah lagi ya," kata Naisha dan kemudian akan masuk kembali kedalam kamar. Tapi, belum sempat Naisha membalikkan badannya, tiba - tiba saja suara teriakan Abinya Naisha yang memanggil mereka berdua terdengar dari bawah.


"Iya, Pak.. Kami segera kebawah sekarang." Aamir langsung menyahut panggilan dari mertuanya itu.


"Iya.. iya.. Tapi, Aamir.. Aku kurang nyaman nih.." keluh Naisha sembari berjalan dibelakangnya Aamir.


"Itu karena belum terbiasa saja, Naisha. Kalau sudah terbiasa pasti kamu akan nyaman." tutur Aamir dan Setelah itu Naisha tidak berkata apa - apa lagi. Dengan langkah gontai ia menuju kebawah. Dan saat dibawah, Naisha hanya bisa pasrah dipandangi dengan tatapan heran sekaligus kagum oleh Abi dan Umi nya. Naisha hanya bisa tertunduk malu dengan menyembunyikan wajahnya.


...💕💕💕💕...


Tidak dapat diungkapkan lagi rasa bahagia Aamir dihari yang suci ini, karena Aamir sudah berhasil melunakkan hati Naisha yang sekeras batu itu. Aamir yakin ini awal yang baik, dan perlahan - lahan namun pasti iapun bisa merubah NaiSha menjadi seperti yang mereka inginkan.

__ADS_1


Saat sebelum sholat dimulai tadi, Pak Marwan tiada henti mengucapkan rasa syukur dan terimakasihnya kepada Aamir karena melihat perubahan Naisha beberapa hari belakang ini yang mulai terlihat nyata. Seperti tadi, Naisha mau berpenampilan syar'i dengan kerudung panjang yang menutupi dadanya. Pak Marwan sampai meneteskan air mata karena terharu melihat perubahan anak gadisnya yang selama ini tidak mau menggunakan hijab.


Setelah selesai sholat, mereka berempat berjalan menuju ke arah tempat mobil mereka diparkiran. Tapi, orang tua Naisha berhenti sejenak dihalaman mesjid tersebut ketika beberapa orang warga sekitar menyapa dan menyalami mereka. Sedangkan Aamir juga terlihat berhenti karena diajak mengobrol oleh teman - temannya. Naisha yang sejak tadi risih dengan tatapan beberapa pasang mata milik tetangganya, lantas langsung saja berlari kecil menuju ke mobil dan detik kemudian masuk kedalam mobil tersebut dengan menggerutu.


"Iihhh... Menyebalkan, kenapa si mereka - mereka para tetangga julid itu melihat aku seperti melihat hantu aja!!" kata Naisha melampiaskan kekesalan hatinya setelah berada didalam mobil.


Naisha kemudian mengambil kaca dari dalam tasnya dan setelah itu melihat wajahnya didepan kaca tersebut.


"Ya ampun.. Apa sih yang telah aku lakukan hari ini? Jika Tari dan Mely lihat aku berpakaian seperti ini, pasti mereka kaget sekali. Mereka gak boleh tahu pokoknya, memalukan deh, aduuh..." keluh Naisha dan kemudian ingin membuka kerudung syar'i nya itu. Tapi, tindakan tersebut urung dilakukannya ketika melihat Aamir berjalan mendekati mobil dan detik kemudian ia membuka pintu lalu masuk dan duduk disamping Naisha.


"Naisha, kenapa kamu masuk duluan kedalam mobil?" tanya Aamir.


"Aku malas saja ngelihat pandangan ibuk - ibuk itu ke aku." jawab Naisha dengan nada kesal.


"Emangnya kenapa dengan ibuk - ibuk itu, Naisha?" tanya Aamir semakin heran.


"Kamu gak perhatikan ibuk - ibuk yang tinggal sekitar rumah pada melihat aku lama sambil saling berbisik - bisik gitu? Pasti mereka sedang membicarakan penampilan aku yang aneh ini kan? Kamu bohong, Aamir. Kamu bilang cantik, bagus, tapi nyatanya apa?" omel Naisha dengan nafas yang sudah naik turun.


"Naisha.. Itu perasaan kamu saja, mungkin mereka memang sedang perhatikan kamu, Naisha. Tapi, mereka begitu bukan berarti menganggap penampilan kamu aneh, malah sebaliknya.. Mereka terpesona dengan kamu dan juga kagum dengan perubahan kamu ini. Percayalah sama aku, Naisha. Kamu sama sekali gak kelihatan aneh. Sejatinya, beginilah seorang muslimah itu Naisha. Wanita yang bisa menjaga dirinya dengan menutup aurat secara sempurna. Yang terpenting Ridho dan sudut pandang Allah terhadap kamu, Naisha. Jadi, sekarang ini kamu Jangan berpikir yang aneh - aneh ya, tetaplah percaya diri.. Oke?!!" jelas Aamir dengan kalimat panjangnya itu yang ternyata mampu menyejukkan hati Naisha. Padahal tadi Naisha ingin membuka dan melempar hijabnya itu, tapi mendengar kalimat tulus yang diucapkan Aamir barusan, membuat Naisha membatalkan niatnya buruknya tadi.


'Apakah ini? Kenapa rasanya begitu menyejukkan dijiwanya?' batin Naisha berkeluh. . .

__ADS_1


...💓💓💓💓...


BERSAMBUNG...


__ADS_2