
Sedangkan didalam mobil, Naisha kembali menyakinkan dirinya bahwa video yang di lihatkan oleh Tari itu tidak seperti yang ada dipikiran teman - temannya. Pasti ini sebuah kesalahpahaman, dan karenanya Naisha putuskan untuk bertanya langsung ke Aamir bagaimana cerita sebenarnya.
Akhirnya Naisha sampai lah didepan mesjid takwa, lalu ia melihat motor Aamir terparkir didalam halaman mesjid. Naisha kemudian hendak turun dari mobilnya tapi niatnya itu malah tertunda saat ia melihat Aamir yang baru saja keluar dari mesjid bersama.. Husna. Mata Naisha langsung memperhatikan mereka dengan seksama. Aamir tampak berbicara sesuatu dengan Husna dan wanita itu terlihat menundukkan wajahnya dengan tersipu malu.
Tentu saja melihat pemandangan itu mampu membuat hati Naisha panas membara. Ditambah lagi ucapan Tari yang mengomporinya tadi kembali terniang - niang di ingatannya.
"Ngapain mereka berdua - duaan di mesjid?" ujar Naisha bertanya tanya didalam hati.
Naisha perhatikan terus gerak gerik mereka dari Dalam mobil, sesaat kemudian mereka berhenti di tepat didepan pintu masuk mesjid. Dan kali ini posisi mereka saling berhadapan. Aamir terus mengucapkan sesuatu, entah apa yang ia katakan kepada Husna yang sejak tadi hanya tersipu malu dan juga tersenyum - senyum tidak jelas.
Naisha tidak tahan melihat gelagat mereka yang mencurigakan itu, meskipun tidak terjadi sentuhan fisik. Tapi, bukankah Aamir selalu mengatakan bahwa ia sangat menjaga komunikasi dengan lawan jenis. Namun, kenyataannya apa? Aamir malah berbicara panjang lebar dengan Husna tanpa ada batasan dan tidak ada juga orang ketiga diantara mereka.
Naisha sudah geram sekali ingin turun dari mobil dan melabrak mereka berdua. Akan tetapi, telpon dari uminya membuat Naisha mengurungkan niat tersebut.
"Iya, Umi. Ada apa?" tanya Naisha dengan nada tak bersahabat.
"Naisha, Staf di kantor Abi nelpon umi, katanya Abi mendadak pingsan di kantor dan sekarang mereka mau bawa Abi kerumah sakit. Umi Ini mau nyusul langsung kerumah sakit, kamu dimana?" serbu Umi Sofia langsung dengan nafas memburu.
"Apaa?? Abi pingsan??" teriak Naisha dan kemudian langsung menghidupkan mobilnya. Dan detik kemudian, mobil Naisha pun melaju kencang meninggalkan mesjid.
Sedangkan didepan Mesjid tadi, Aamir baru sadar bahwa ada mobil yang terparkir didepan mesjid. Dan.. Mobil itu ia kenali sebagai mobil Naisha.
"Apa memang mobil Naisha tadi itu ya? Apa cuma mirip saja?" batin Aamir bertanya - tanya.
Karena tidak ingin menduga - duga, maka Aamir pun mencoba menghubungi Naisha. Tapi, ternyata HP Aamir mati lagi.
"Ya, Allah.. Ternyata HP aku mati lagi." lirih Aamir pelan tapi terdengar jelas juga oleh Husna yang ada di sampingnya.
"Kenapa, Aamir?" tanya Husna dengan bingung.
__ADS_1
"Ee.. Husna, kita sambung nantik saja pembicaraan kita ya? Aku mau pulang dulu isi daya baterai HP aku ini. Takutnya Naisha nelpon dan meminta jemput." kata Aamir yang langsung diiyakan oleh Husna.
Sebelum Aamir menuju parkiran, keluarlah dari dalam mesjid beberapa orang wanita yang merupakan teman Husna dan remaja mesjid takwa, ternyata mereka baru saja selesai kajian rutin setiap minggu bagi muslimah.
Setelah pamit dengan mereka semua, Aamir kemudian menuju ketempat motornya terparkir dan detik kemudian dia pun langsung menuju kerumah mertuanya.
Selang beberapa menit, Aamir sampai dirumah dan ia melihat mobil Naisha memang tidak ada dirumah. Berarti memang mobil Naisha lah yang ia lihat tadi didepan mesjid, tapi.. Kenapa Naisha pulang tidak mengabarinya? Bukannya seharusnya Naisha masih ujian jam segini? Apa jangan - jangan...
"Aduuh..." Aamir mengeluh kesal dan langsung saja kekamar untuk mengisi daya hpnya yang memang sudah bermasalah itu.
Saat didalam kamar, tanpa sengaja Aamir melihat sebuah kotak HP yang masih disegel dan terletak dimeja riasnya Naisha.
"HP siapa ini? Apa Naisha beli HP baru atau apa mungkin.. Naisha membelikannya untuk aku?" tanya Aamir kepada dirinya sendiri seraya mengisi daya ponselnya.
Saat hpnya sedang dicas dan sudah hidup, lalu dengan beruntun panggilan dan juga chat masuk kedalam sana. Aamir langsung saja memeriksa satu persatu. Dan.. Memang benar dugaannya, ada banyak panggilan dan chat dari Naisha disana. Aamir langsung menghubungi nomor Naisha, tapi sekarang giliran nomor Naisha yang tidak aktif.
Tidak berapa lama kemudian, Bik Sari datang dan memberitahu bahwa Naisha dan Umi Sofia sekarang ini ada dirumah sakit.
"Kata Umi Sofia tadi Pak Marwan yang masuk rumah sakit karena mendadak pingsan saat kerja dikantor. Dan karyawannya yang membawa pak Marwan kerumah sakit den Aamir." jelas Bik Sari yang membuat Aamir langsung saja mengucap berkali - kali.
"Ya, Allah.. Pak Marwan.." desis Aamir dengan wajah prihatin dan juga risau. Dan setelah itu, Aamir bertanya ke Bik Sari mereka membawa Pak Marwan kerumah sakit yang mana. Bik Sari memberitahunya dan tanpa basa - basi lagi Aamir langsung saja bergegas kerumah sakit.
Beberapa saat kemudian, Aamir tiba di ruang UGD rumah sakit tersebut. Dari kejauahan, Aamir melihat Naisha dan Umi Sofia sedang berdiri menunggu diluar pintu dengan gelisah.
"Naisha, Umi.." ujar Aamir dengan nafas tersengal - sengal karena dari parkiran menuju ke UGD ia berlari kecil yang menyebabkan ia jadi agak sesak nafas.
"Aamir.. Kamu nyusul kesini juga ya.." hanya umi Sofia saja yang menyahut panggilannya. Sedangkan Naisha melIhat Aamir dengan tatapan datar.
"Iya, Umi. Tadi bik Sari yang memberitahu Aamir. Jadi, bagaimana keadaan pak Marwan Umi? Dan Bagaimana kejadiannya sampai - sampai pak Marwan pingsan?" tanya Aamir dengan nada khawatir.
__ADS_1
"Lagi diperiksa sama dokter, tapi Alhamdulilah Abi Naisha sudah mulai sadar, Aamir. Dan gak ada yang lihat kejadian sebenarnya bagaiamana, karena karyawan Abi Naisha menemukan Abi Naisha sudah terletak tak sadar kan diri didepan pintu kamar mandi diruangan kerjanya." Jawab Umi Sofia dengan suara paraunya itu.
"Alhamdulilah, syukurlah.. Semoga pak Marwan tidak kenapa - napa ya Umi," doa Aamir yang langsung saja diaminkan oleh Umi Sofia.
Bersamaan dengan itu pula, seorang dokter keluar dari ruang IGD tersebut dan meminta Umi Sofia untuk masuk kedalam. Awalnya Naisha ingin masuk juga, tapi dokter menyarankan agar gantian untuk masuk kedalam sana.
"Umi duluan ya Naisha, gak apa kan?" tanya Umi Sofia yang langsung dijawab dengan anggukkan kepala oleh Naisha.
Setelah Umi Sofia masuk kedalam sana, maka tinggallah Aamir dan Naisha diluar. Aamir lalu duduk disamping Naisha yang sedikitpun tidak memandang Aamir ataupun mengeluarkan suaranya untuk sekedar menyapanya.
"Sha, aku mintak maaf.. Karena HP aku kehabisan baterai lagi. Tapi, setelah ini.. Aku akan mengganti baterai hp aku." ujar Aamir dengan suara yang pelan. Namun, Naisha diam tak berkutik.
"Naisha, aku benar - benar mintak maaf karena gara - gara aku kamu jadi telat ujiannya. Aku merasa bersalah, Sha. Maaf ya.." lanjut Aamir lagi yang masih terus - terusan meminta maaf ke Naisha. Karena ia tahu akan kesalahannya itu.
Tapi, lagi - lagi Naisha tak menanggapi. Jangankan menanggapi, melihat kearah Amair pun ia tidak mau. Sehingga membuat Amair semakin merasa serba salah.
"Naisha..." panggil Aamir dengan suara yang lembut seraya menyentuh pundak istrinya itu.
"Turunkan tangan kamu...!!" akhirnya Naisha mengeluarkan suara juga tapi dengan nada ketus. Aamir langsung menurunkan tangannya dengan sangat yakin bahwa Naisha benar - benar marah terhadapnya.
"Ya, Maaf Naisha." Kata Aamir pasrah dengan menyandarkan punggungnya kebelakang kursi.
Setelah itu, Naisha kemudian berpindah tempat duduk agak jauh dari Aamir. Aamir hanya bisa melihat Naisha dengan tatapan bersalahnya itu.
...💐💐💐💐...
BERSAMBUNG...
.
__ADS_1
.
.