Jalan Menuju CahayaMu

Jalan Menuju CahayaMu
BAB 62


__ADS_3

Aamir dan Pak Marwan tiba di mesjid. Dan saat mereka masuk kedalam mesjid, semua mata langsung tertuju kearah mereka. Mereka semua Memandang Pak Marwan dan Aamir dengan tatapan agak lain. Melihat cara pandang mereka, Aamir sudah dapat menduga bahwa dirinya lah yang menjadi penyebab orang - orang menjadi lain terhadapnya.


Pak Marwan kemudian mengajak Aamir untuk bergabung dengan jamaah mesjid tersebut. Dengan agak sungkan, Aamir pun duduk diantara mereka semua, disana ada Pak Daud dan juga Rohan. Aamir lansgung duduk di samping Rohan.


"Aamir.. Yang sabar ya, Aku akan mendukungmu karena Aku tidak percaya dengan video itu. Pasti video itu editan kan? Itu bukan kamu kan Aamir? Mustahil itu kamu.." kata Rohan dengan setengah berbisik.


"Iya, terimakasih ya Rohan karena sudah meme percayai aku.." ucap Aamir dengan tersenyum tipis.


Setelah itu, Pak Marwan menjelaskan kepada jamaah mesjid agar tidak mudah percaya 100℅ dengan video tentang Aamir yang tersebar saat ini.


"Itu hanya editan saja, karena ada orang yang tidak senang dengan rumah tangganya Aamir dan Naisha. Jadi mereka menjebak Aamir seolah - oleh berbuat mesum dengan wanita yang ada divideo itu. Tapi sebenarnya saat itu Aamir sedang tidak sadarkan diri. Dan gerakan tangan dan sentuhan - sentuhan itu tidak benar, hanya editan saja." jelas Pak Marwan antusis dengan berusaha membersihkan nama Aamir yang sudah sempat buruk dimata orang - orang.


Jamaah mengucap istighfar berbarengan setelah itu saling bergumam satu sama yang lain.


"Siapa orang jahat itu, Aamir?" tanya Rohan masih dengan berbisik ditelinga Aamir.


"Ceritanya panjang Rohan, nantik setelah ini aku cerita ke kamu ya." kata Aamir.


"Oke, kita ke kamarnya Farel saja habis ini." kata Rohan yang langsung ditanggapi dengan anggukan kepala oleh Aamir.


Pak Marwan masih terlihat menanggapi pertanyaan dari jamaah yang masih penasaran dengan video itu, dan dengan hati terbuka dan juga kesabaran penuh, Pak Marwan langsung saja menjawab setiap pertanyaan yang mereka ajukan. Aamir saat itu tidak banyak bicara, palingan hanya tersenyum tipis dengan sesekali menjawab ataupun menanggapi singkat pertanyaan dari para jamaah. Karena Aamir sudah mempercayai semuanya kepada pak Marwan untuk menjelaskan permasalahan ini. Aamir pun merasa sangat bersyukur karena mertuanya itu tidak mudah terpengaruh dan terprovokasi dengan itu semua. .


Beberapa menit kemudian, karena waktu sholat sudah masuk, Maka mereka semua bubar dan bersiap - siap sholat. Sedangkan Aamir pergi keluar untuk berwudhu. Rohan juga mengikuti Aamir ke tempat wudhu.


"Jadi bagaimana respon Naisha setelah melihat video itu, Mir?" tanya Rohan yang berjalan disamping Aamir. Tampaknya Rohan tidak sabar ingin mendengar cerita dari Aamir secara langsung.


"Ya tentu saja.. Awalnya Naisha marah besar ke aku, Rohan. Dia sempat tidak percaya dengan penjelasan aku, tapi untung saja semuanya langsung terbongkar dengan begitu cepat. Nasib baik masih berpihak ke aku, atas pertolongan Allah juga tentunya." ungkap Aamir yang di akhir dengan rasa syukurnya.


"Terbongkar bagaimana, Aamir?" tanya Rohan dengan mengerutkan keningnya karena bingung sekaligus penasaran dengan cerita Aamir selanjutnya.


"Sudah, Rohan. Kita sambung nantik ceritanya, Oke? Aku mau berwudhu dulu," ucap Aamir dan kemudian masuk kedalam kamar mandi. Rohan hanya bisa menggaruk - garuk kepalanya dengan rasa penasaran yang teramat dalam.


Setelah selesai sholat, Rohan kembali menghampiri Aamir untuk menagih cerita.


"Kamu gak langsung pulang kan Aamir? Ayok kita ke kamarnya Farel," ajak Rohan sembari merangkul bahunya Aamir.


"Sebenarnya aku ingin segera pulang, kasihan Naisha sendirian dirumah." kata Aamir.


"Lah.. Dirumah kan ada mertua kamu dan yang lainnya, gak sendirian juga istri kamu itu Aamir." kata Rohan yang terus mendesak Aamir agar tidak pulang dulu. Dan akhirnya, dengan berat hati Aamir pun mengikuti langkah kaki Rohan menuju ke kamarnya Farel.

__ADS_1


Sebelum mereka masuk kembali kedalam mesjid, tiba - tiba saja dari arah belakang ada yang memanggil mereka. Sontak saja mereka langsung membalikkan badan dan melihat siapa yang datang memanggil mereka.


"Eh, Husna..?" ucap Rohan yang langsung salah tingkah saat melihat Husna dan temannya ada di belakang mereka.


"Maaf kami mengganggu waktu kalian, kami cuman mau menyampaikan rasa prihatin kami ke kamu Aamir, atas kejadian yang tengah viral saat ini. Dan saya pribadi.. tidak percaya dengan video itu, semuanya tampak jelas rekayasa nya. Saya kenal kamu Aamir, Aamir yang aku kenal gak akan melakukan perbuatan melampaui batas seperti itu.." ungkap Husna sembari melihat Aamir dengan tatapan sendunya.


"Iya, Aamir. Kami mendukung kamu, kamu yang sabar ya.. semoga masalah ini segera terselesaikan dengan baik. Dan orang yang telah memfitnah kamu bisa mendapat ganjaran atas perbuatannya." ujar teman Husna yang bernama Lili itu.


"Aamiin.. Terimakasih banyak atas dukungan kalian berdua ya.." kata Aamir seraya melemparkan senyum hangatnya kearah wanita muda tersebut. Setelah itu, Aamir pun pamit dan masuk kedalam mesjid.


Lebih dari satu jam Aamir berada didalam kamar nya Farel bersama Rohan juga tentunya, untuk memenuhi keinginan Rohan yang ingin mendengar secara langsung kejadian sebenarnya seperti apa. Aamir ceritakan apa adanya, akan tetapi tentang aib Naisha dimasa lalu ia tutupi sebisa mungkin. Aamir sangat menjaga istrinya itu, ia tidak ingin orang - orang tahu tentang perbuatan Naisha yang melampaui batas di waktu dulunya.


Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, maka Aamirpun pamit ke Rohan dan Farel, karena keasyikan mengobrol dengan mereka berdua tadi membuat Aamir jadi lupa untuk mengabari Naisha. Maka, sebelum pulang Aamir memutuskan untuk menelpon Naisha. Namun, belum sempat ia menghubungi Naisha, tiba - tiba saja ada panggilan lain yang masuk ke hpnya dan ternyata telpon itu dari Abi Naisha.


"Aamir, kamu dimana?" tanya Abi Naisha dengan suara yang terdengar agak panik.


"Iya, Pak. Maaf.. Aamir serkarang masih di mesjid, tapi ini sudah mau pulang pak." jawab Aamir sedikit gugup karena ia tahu sudah salah tidak memberi kabar mertuanya itu ataupun Naisha bahwa ia masih dimesjid.


"Kamu masih dimesjid? Jadi, Naisha dimana? Ada bersama kamu kan?" tanya Abi Naisha dengan nada risau ia bertanya keberadaan Naisha. Mendengar pertanyaan dari Abi Naisha barusan itu, membuat darah Aamir langsung berdesir hebat.


'Naisha tidak ada dirumah, kemana dia?' batin Aamir.


"Ya... Naisha tidak ada dikamarnya, Abi pikir dia pergi sama kamu. Ya sudah.. Kamu pulang lah sekarang," suruh Abi Naisha yang langsung di iyakan Oleh Aamir.


"Iya, Abii.. Amir pulang sekarang juga." ujar Aamir.


"Aku pulang dulu ya, Rohan, Farel.." pamit Aamir dan kemudian buru - buru keluar dari kamar Farel. Dan Rohan langsung mengikuti Aamir.


"Aamir.. Aku ikut sama kamu ya? Kamu mau cari Naisha kan? biar aku antar, pakai motor aku saja.." tanya Rohan dengan menawarkan dirinya. Tapi, Aamir tak menjawabnya. Ia sudah kepalang panik dan takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap Naisha. Kendatipun demikian, ia tetap naik juga keatas motornya Rohan.


Beberapa saat kemudian, Aamir dan Rohan sampai dirumah Pak Marwan. Aamir turun dari motor dan kemudian dengan berlari kecil masuk kedalam rumah mewah itu. Rohan juga mempercepat langkah kakinya untuk menyusul Aamir.


"Aamir, Kamu gak tahu Naisha kemana?" todong Pak Marwan saat Amair baru saja masuk kedalam rumah.


"Tidak Pak, Naisha tidak ada bilang apa - apa sama Aamir." jawab Aamir denagn nafas tersengal - sengal.


"Aduuh... Gimana sih kamu Amir? Kan sudah Abi bilang kamu jaga Naisha, jangan biarkan dia keluar rumah dulu. Nih Abi telpon dia juga gak diangkat - angkat." keluh Pak Marwan dengan mencoba menghubungi Naisha.


"Maaf, Pak... Tadi dijalan Aamir coba telpon Naisha juga, tapi tidak diangkat - angkatnya Pak." kata Aamir dengan wajah cemas nya.

__ADS_1


"Apa sudah ditanya dengan Umi Sofia ataupun Bik Sari pak? Mana tahu mereka ada lihat Naisha keluar." kata Aamir.


"Gak ada Aamir, mereka gak tahu kemana Naisha karena Naisha gak ada pamit sama siapapun dirumah ini.." kata Abi Naisha.


"Iya, Aamir. Tadi Umi sempat berbincang sama Naisha didalam kamar, terus Umi tinggal sebentar untuk sholat tapi setelah Umi selesai sholat dan kembali kekamar Naisha, Naisha nya sudah gak ada." ucap Umi Sofia yang baru keluar dari kamar dan langsung bergabung bersama mereka.


"Ya, Allah.. Kemana Naisha ya.." desis Aamir yang semakin mengkhawatirkan Naisha.


"Itulah.. Tapi, yang anehnya, Naisha pergi tidak menggunakan mobilnya. Mobilnya masih ada tu di garasi." timpak Pak Marwan lagi.


"Jadi dia pergi pakai apa, Pak?" tanya Aamir lagi.


Ya mana bapak tahu Aamir," jawab Pak Marwan dengan kesal.


"Sekrang gini saja, Aamir. Coba kamun hubungi temannya Naish si Tari dan Mely itu, mana tahu saja mereka tahu dimana Naisha." kata Umi Sofia yang memberikan saran.


"Oh, iya.. Apa Umi ada nomor HP salah satu dari mereka?" tanya Aamir ke Umi Sofia. Dan Umi Sofia pun langsung memberikan nomor HPnya Tari.


Tidak menunggu waktu yang lama, Tari akhirnya mengangkat telpon dari Aamir. Tapi, sayangnya Tari tidak tahu menahu dan tidak ingin tahu lagi tentang Naisha. Ia seperti sudah menyerah untuk mempengaruhi Naisha lagi.


"Kalau begitu Aamir akan cara Naisha sekarang Pak," kata Aamir setelah selesai telponan dengan Tari, seraya menatap Rohan yang berdiri di sampingnya.


"Iya, Saya akan menemani Aamir Pak Marwan." kata Rohan dengan semangatnya menolong Aamir.


"Ya sudah, pergilah kalian cari Naisha sekarang,. Abi juga akan usaha bertanya ke sekitaran komplek sini, mana tahu saja ada yang lihat Naisha pergi kearah mana." kata Abi Naisha.


"Ya Pak, Aamir pamit dulu. Doakan kami.. semoga bisa menemukan Naisha ya Pak, Umi.." pamit Aamir seraya menyalami kedua tangan mertuanya itu. Dan setelah itu, Aamir dan Rohan pun langsung bergegas keluar dan naik keatas motornya Rohan untuk mencari Naisha.


.


.


.


BERSAMBUNG..


.


.

__ADS_1


__ADS_2