
Malam itu, Aamir dan Naisha baru saja pulang dari makan malam di sebuah restoran mewah yang tidak begitu jauh dari hotel tempat mereka menginap. Dan saat mereka sudah berada di Koridor menuju kamar mereka, tiba - tiba saja hp Naisha berdering, ternyata receptionis hotel tersebut yang menelpon Naisha.
"Oh, oke mbak.. Saya segera turun kebawah. Iya gak apa - apa.." tutur Naisha.
"Kenapa sayang?" tanya Aamir setelah Naisha mengakhiri panggilan telpon tersebut.
"Ini, mereka bilang salah ngasih kunci kamar. Yang ini bulan kunci kamar kita, bang." kata Naisha dengan menunjukkan kunci tersebut ke Aamir.
"Owalah, kok bisa salah sih.. Ya sudah biar aku saja yang kebawah jemput kunci kamarnya ya." kata Aamir yang kemudian akan menuju ke lift untuk turun kebawah, namun Naisha malah langsung mencegah Aamir.
"Jangan bang, biar Naisha saja yang jemput kuncinya. Bang Aamir tunggu disini aja ya." kata Naisha.
"Tapi," Aamir tak sempat mencegah Naisha, dan akhirnya wanita itu pun berlalu saja dari sana dan turun menggunakan lift. Sedangkan Aamir hanya diam mematung ditempatnya, menunggu Naisha dengan sekali - sekali melihat ke kanan dan ke kiri.
Beberapa detik kemudian, pintu kamarnya Shera tiba - tiba terbuka sedikit. Tapi, tidak ada siapapun yang keluar dari sana. Awalnya Aamir mencoba untuk cuek saja, tidak menghiraukan hal tersebut. Namun, rasa penasarannya Mulai muncul saat Aamir melihat seorang laki - laki yang mencurigakan keluar dari kamar Shera. Aamir tidak dapat melihat jelas wajah laki - laki itu, karena ia menggunakan masker hitam dan juga menggunakan topi yang menutupi sebagian wajahnya. Yang membuat Aamir semakin curiga adalah ia melihat sebuah benda yang dipegangnya dan langsung buru - buru ia sembunyikan didalam jaketnya ketika ia sudah berada diambang pintu. Benda itu adalah.. sebuah pisau yang ada noda merahnya.
Melihat benda yang dipegang jelas laki - laki itu membuat Aamir takut jika benar laki - laki itu mempunyai niat yang tidak baik terhadap Shera.
Awalnya Aamir tidak ingin suudzon ataupun ingin mencari tahu siapa laki - laki itu, dan digunakan untuk apa pisau yang ia pegang. Namun, Aamir ketidakingintahuan Aamir itu langsung hilang ketika ia mendengar sebuah suara rintihan meminta tolong dari dalam kamar Shera. Aamir segera bergegas masuk kedalam sana. Ia curiga, laki - laki yang keluar barusan tadi sudah berbuat sesuatu yang jahat terhadap Shera. Namun, baru saja selangkah kaki Amir masuk kedalam kamarnya Shera, tiba - tiba saja dari arah belakangnya.. Aamir merasakan sebuah hentaman kuat yang mengenai pundaknya sehingga membuat Aamir langsung jatuh pingsan.
...ππππ...
Naisha keluar dari lift dengan bersenandung kecil, dan di saat dirinya di Koridor menuju ke kamarnya, hati Naisha langsung tersentak saat ia tidak mendapati Aamir disana. Padahal Naisha baru pergi beberapa menit dan meminta Amir untuk menunggunya didepan pintu, namun laki - laki itu malah menghilang entah kemana. Naisha malah yakin ia Aamir pergi karena sesuatu hal, bukan karena keinginan dari dirinya sendiri.
"Bang.. Aamir, kemana sih? Kok tiba - tiba menghilang ya? Apa dia turun kebawah juga?" Naisha bertanya - tanya didalam hatinya.
__ADS_1
Kendatipun demikian, Naisha tetap membuka pintu kamar dan masuk kedalam. Naisha kemudian membaringkan badannya diatas tempat tidur dengan jari jemarinya langsung saja menghubungi nomor HP nya Aamir.
Sudah Dua kali panggilan, namun tidak diangkat - angkat telpon dari Naisha tersebut. Tentu saja, hal ini membuat Naisha menjadi heran dan juga penasaran.
"Bang Aamir, kemana sih?" gerutu Naisha dengan sedikit membesarkan suaranya. Dan kemudian ia mengirimkan beberapa chat, dengan Harapan Aamir akan membaca pesan darinya itu.
Padahal Naisha sudah sangat ngantuk dan kelelahan malam itu, karena seharian tadi mereka menghabiskan waktu untuk berjalan - jalan ketempat wisata yang ada dikota tersebut. Karena lelah dan ngantuk itulah yang membuat Naisha jadi ketiduran dan tidak lagi menunggu kepulangan Aamir.
Dipertengahan malam, Naisha tersentak dari tidurnya yang lelap. Ia langsung terduduk dan mendapati Aamir yang tidak ada di sampingnya.
"Bang Aamir kenaPa belum pulang juga ya?" lirih Naisha dengan melihat disebelahnya. Maka Naisha kembali menghubungi nomor Aamir, tapi kali ini malah tidak aktif. Perasaan Naisha menjadi tidak enak, takut terjadi sesuatu terhadap Aamir. Naisha terus - terusan mencoba menghubunginya lagi.
"Ngak mungkin bang Aamir pergi tanpa ngabarin aku," desis Naisha dengan wajah risaunya. Setelah itu, Naisha tidak bisa tidur lagi. Rasa ngantuknya hilang sudah, yang ada dalam pikiran nya saat ini adalah Aamir. Dimanakah keberadaan suaminya itu sampai tengah malam begini tidak pulang - pulang? dan tanpa memberi kabar juga? Sedangkan nomor HPnya malah tidak aktif?
Naisha kemudian keluar dari kamar, berharap setelah membuka pintu Aamir muncul. Tapi, semua itu tidak sesuai dengan harapannya. Sepi. Tiada siapapun diluar sana.
"Mana tahu saja mereka ada melihat bang Aamir pergi kemana gitu,." ujar Naisha dan kemudian buru - buru menuju lift.
Tapi, sayang sekali.. Saat Naisha sudah dibawah dan bertanya kepada pelayan hotel, namun.. ternyata tidak satupun diantara mereka yang melihat Aamir. Dan dengan langkah gontai, Naisha kembali ke kamarnya.
Naisha duduk ditepi ranjang dengan air mata yang tak tertahankan lagi. Akhirnya ia menangis juga, perasaan Naisha campur aduk saat ini. Ia gelisah, cemas, takut, dan juga sedih. Dan terkadang pikiran - pikiran buruk terlintas juga di benaknya. Bagaimana jika Aamir meninggalkan Naisha? Bagaimana jika apa yang dikatakan oleh Tari kemarin benar adanya? Aamir hanya mempermainkannya saja dan setelah dapat yang ia mau, lantas ia pergi meninggalkan Naisha?
Aahhh... pikiran itu terlalu picik sekali, Aamir tidak mungkin serendah itu. Naisha langsung mengeleng - gelengkan kepalanya.
Kemungkinan yang mungkin terjadi saat ini adalah, bagaimana jika ada orang yang berniat jahat terhadap Aamir.. Bahkan dirinya? Ya.. Itu masih bisa diterima dengan akal. Tiba - tiba saja Naisha teringat dengan laki - laki bermasker yang ia jumpai saat dibandara kemarin. Apa jangan - jangan laki - laki itu ada hubungannya dengan kehilangan Aamir? Jika memang ada, siapa laki - laki itu? Ada masalah apa dia dengan Aamir? Naisha tahu betul Aamir adalah laki - laki yang baik, dan mustahil dia punya musuh. Apa mungkin.. Laki - laki itu mengincar dirinya? Karena Naisha akui, dia dulunya jahat.. Suka mempermainkan laki - laki dan setelah itu mencampakkan sesuai hatinya. Apakah ini karma untuk Naisha?? Apakah ada seseorang yang ingin membalas dendam kepadanya melalui Aamir? Naisha hanya bisa menduga - duga sesuatu yang tidak pasti didalam hatinya.
__ADS_1
...πΊπΊπΊπΊ...
Aamir membuka matanya yang masih terasa berat, saat kedua bola matanya itu sudah terbuka lebar, Aamir langsung terperanjat kaget mendapati dirinya berada didalam kamar yang berbeda dengan kamarnya bersama Naisha. Dan ia semakin kaget saat Aamir menoleh kesamping dan melihat ada seoarng wanita yang tidur disampingnya, dan yang jelas wanita itu bukan Naisha.
Aamir langsung bangun dan berdiri, ketika telah berdiri itulah ia baru menyadari bahwa dia saat ini hanya menggunakan celana dalaman saja.
"Astaghfirullah, Ya Allah..." teriak Aamir dan kemudian buru - buru menutupi tubuhnya dengan selimut. Karena teriakan Aamir tadi, membuat wanita di sampingnya terbangun dengan ekspresi yang sama kagetnya dengan Aamir.
"Kamu.. Kamu ngapain ada dikamar saya?" teriaknya dengan histeris. Aamir yang bingung dan tidak tahu apa - apa, hanya mengeleng - gelengkan kepalanya. Dan Si wanita itu juga menutupi tubuh polosnya dengan selimut.
"Kamu.. kamu memperkosa saya ya?" tanyanya lagi masih dengan histeris dan wajah paniknya itu ia menuduh Aamir.
"Tidak.. Tidak.. Tidak.. Saya gak melakukan itu, saya juga bingung kenapa saya ada disini." kata Aamir lalu memegang bagian belakang kepalanya yang terasa sakit. Ia mencoba mengingat - ingat kejadian sebelumnya, tapi Aamir belum mampu mengingatnya. Semakin diingat, semakin nyeri kepalanya.
"Kamu Bohong...!!! Kamu pasti sudah melecehkan saya kan? Dasar brengsek.. Aku gak mau tau.. Kamu harus bertanggung jawab atas apa yang kamu buat terhadap aku." tegas si wanita dengan terisak - isak menahan tangisannya yang mulai pecah.
Aamir terdiam, pikirannya benar - benar kalut saat ini. Apa yang harus ia lakukan? Kenapa dia berada dikamar wanita ini? Siapakah yang telah menjebaknya??
...ππππ...
BERSAMBUNG...
.
.
__ADS_1
.