Jalan Menuju CahayaMu

Jalan Menuju CahayaMu
BAB 59


__ADS_3

Naisha kehabisan cara untuk membujuk Rozi yang sudah dikuasai oleh amarah dan dendam yang telah mendarah daging di dirinya itu. Dan satu - satunya cara yang bisa Naisha lakukan saat ini adalah dengan berdoa. Naisha kemudian memejamkan matanya. Ia Berdoa di dalam hati, meminta pertolongan dari Allah dengan harapan Allah mendatangkan seorang penolong yang bisa menyelamatkan Naisha dari kebringasan Rozi.


Ternyata doa dan harapan yang Naisha panjatkan dihatinya terkabul dengan cepat. Saat pisau itu akan melayang ke tubuhnya, tiba - tiba saja terdengar sebuah suara sepeda motor yang berjalan kearah mereka. Sontak saja Naisha dan Rozi menoleh serentak kearah sana. Dan Mata Naisha langsung berbinar - binar bahagia setelah tahu siapa yang datang menolongnya. Ya. Ternyata yang datang adalah Aamir, ia tampak berboncengan dengan seorang pria. Setidaknya kedatangan Aamir itu membuat Naisha bisa sedikit bernapas dengan lega.


Aamir datang disaat yang tepat, karena jika terlambat saja sedikit ia datang, entah apa yang akan terjadi pada Naisha. Pasti pisau yang tajam itu sudah ditancapkan Rozi keperutnya.


Sedangkan Aamir yang Melihat Naisha akan dicelakai oleh laki - laki itu, dengan cekatan ia langsung turun dari motor dan kemudian mendorong badan Rozi dengan kencang sehingga pisau yang ada di tangannya pun terlepas. Bersamaan dengan itu pula, dua orang polisi juga terlihat datang kearah mereka.


Melihat ada polisi yang datang, maka Rozi kemudian buru - buru mengambil pisaunya dan setelah itu kabur dari sana menggunakan sepeda motornya. Awalnya Aamir ingin menghadang Rozi agar tidak pergi dan kabur dari sana, akan tetapi ia dicegah oleh Naisha. Maka Dengan begitu, Rozi pun bisa kabur dengan secepat kilat.


"Kenapa kamu biarkan dia pergi, Sha?" tanya Aamir yang tidak menyetujui keputusan Naisha untuk membiarkan Rozi untuk kabur dari sana.


"Biar saja dia pergi, Aamir. Nantik aku ceritakan sama kamu.." kata Naisha dan setelah itu berdiri perlahan - lahan, Aamir kemudian membantu Naisha berdiri.


"Kamu gak apa - apa kan? Apa ada yang terluka?" tanya Aamir dengan nada risau. Ia melihat Naisha dari atas ke bawah, untuk memastikan istrinya itu dalam keadaan baik - baik saja.


"Ya gak apa - apa, Alhamdulilah.. Rozi belum sempat melukai aku kok." kata Naisha dengan mengucapkan rasa syukur.


"Alhamdulilah, syukurlah Naisha. Aku khawatir sekali dengan kamu. Aku takut kamu kenapa - napa." kata Aamir dan kemudian menarik tubuh Naisha ke dalam pelukannYa. Ia memeluk tubuh istrinya itu dengan sangat erat, dan Naisha pun juga membalas pelukan dari Aamir tersebut.


"Iya Aamir... Untung saja kamu cepat datang dan menemukan aku disini. Kalau kamu telat sedikit saja, entah apalah yang akan terjadi kepada aku." kata Naisha yang mulai terisak - isak.


"Tapi, siapa laki - laki itu Naisha? Kamu kenal dengan dia? Kenapa dia mau mencelakai kamu?" tanya Aamir bertubi - tubi.

__ADS_1


"Nantik aku ceritakan ke kamu ya Aamir. Lebih baik sekarang kita kembali lagi ke hotel." kata Naisha yang langsung di iyakan oleh Aamir.


Beberapa saat kemudian, Naisha dan Aamir sudah sampai dikamar hotel mereka. Naisha langsung membaringkan badannya keatas tempat tidur, setelah itu ia menarik nafas panjang.


"Hampir saja aku mati, Aamir." desis Naisha dengan mata yang berkaca - kaca. Dengan posisi telentang Naisha memandang langit - langit kamarnya. Aamir kemudian mendekati Naisha dan duduk di sampingnya.


"Siapa laki - laki itu, Naisha?" todong Aamir lagi dengan pertanyaan ke Naisha. Sepanjang perjalanan menuju hotel tadi, sebenarnya Aamir begitu penasaran dan seakan tak sabar untuk mendengar cerita Naisha tentang laki - laki itu.


"Aku sudah melakukan sebuah kesalahan yang sangat fatal dimasa lalu aku Amir, sehingga membuat orang lain menyimpan dendam terhadap aku." kata Naisha dengan terisak - isak. Ia tak mampu lagi membendung air matanya yang akhirnya tumpah juga. Aamir dengan sigap langsung memeluk tubuh istrinya itu.


"Aku jahat Aamir, gara - gara aku.. Dia jadi kehilangan ibuknya. Aku telah meninggakan luka yang begitu dalam dihatinya, Aku..." Naisha seakan tak mampu untuk meneruskan ucapannya, dadanya seakan sesak jika kembali mengingat apa yang telah ia perbuat waktu dulu itu.


"Naisha, sayang... Tenangkan diri kamu dulu ya. Kamu ceritakan ke aku pelan - pelan. Setelah agak tenang, mulailah bercerita.. Oke?" kata Aamir dengan mengelus - eleus rambut Naisha dengan lembut.


Rozi sudah banyak cerita tentang Naisha ke ibuk dan adiknya. Dimana ia yang selalu memuji Naisha didepan keluarganya dan beranggapan bahwa Naisha gadis yang sangat baik dan tepat untuk dirinya. Tentu saja ibuk Rozi percaya dan tidak sabar ingin bertemu dengan Naisha saat itu.


Padahal ternyata Naisha tidak pernah serius dalam menjalani hubungannya dengan Rozi. Naisha yang saat itu hanya ingin mempermainkan Rozi, ia sengaja pura - pura menerima dan menyayangi laki - laki itu tapi nyatanya itu semua hanya sandiwara. Ia sudah terlanjur berjanji kepada kedua temannya untuk membuat Rozi tergila - gila bahkan sampai cinta mati kepadanya. Setelah memastikan Rozi sudah berada didalam genggamannya, maka Naisha pun dengan perlahan - lahan namun pasti langsung mencampakkan Rozi. Membuang laki - laki itu dari dalam hidupnya. Bahkan menghinanya, merendahkannya. Dan sampailah di satu titik dimana tak sengaja omongan dia bersama teman - temannya didengat oleh ibunya Rozi. Dari situlah dendam Rozi terhadap Naisha mulai muncul.


"Begitulah ceritanya, Aamir." kata Naisha yang akhirnya selesai juga menceritakan semua tentang hubungannya dulu bersama Rozi.


Di Sepanjang Naisha bercerita tentang keburukannya itu, Aamir hanya bisa mengucap istighfar berkali - kali. Karena ia tidak menyangka Naisha akan setega itu, tapi.. kendatipun demikian Aamir salut kepada istrinya itu karena mau jujur dan menceritakan sebuah aib yang seharusnya disembunyikan.


"Aku memang jahat dulu sama dia, Aamir. Pantas saja dia benci dan dendam sama aku, makanya aku tadi membiarkan dia pergi tanpa mengatakan apapun ke polisi. Bukannya aku ingin melindungi dia, tapi aku lebih kasihan ke adiknya nantik jika Rozi tertangkap. Mereka sekarang ini tinggal hanya berdua saja, Dan jika Rozi ditangkap polisi.. Maka dia dan adiknya itu akan semakin membenci dan dendam ke aku, Aamir." ungkap Naisha dengan rasa serba salah.

__ADS_1


"Iya, sayangku.. Aku paham dan mengerti posisi kamu saat ini dan akupun salut dengan kamu yang mampu berbesar hati dengan tidak melaporkan dia. Tapi, menurut aku.. Bagaimanapun perbuatan dia sudah termasuk perbuatan kriminal sayang, perbuatan yang telah membahayakan kamu. Apalagi ia berniat untuk membunuh kamu. Ini harus dilaporkan Naisha, kalau tidak kamu tidak akan tenang. Pasti ada saja celah untuk dia kembali mengulangi aksinya itu. Kamu harus melaporkan dia, Naisha." jelas Aamir yang memaksa Naisha untuk melaporkan perbuatan Rozi itu kekantor polisi.


"Ngak Aamir, aku akan pastikan dia tidak akan mengulangi perbuatannya seperti tadi. Aku harus ketemu dengan dia ataupun.. Adiknya.." kata Naisha dan kemudian menghapus sisa - sisa air mata yang menetes di pipinya.


"Untuk apa ketemu dengan dia, Naisha? Bertemu dengan dia sama saja kamu mau menyerahkan diri kamu untuk dicelakai lagi olehnya. Tidak Naisha.. Kamu jangan menemui dia, Bahaya sayang. Aku gak mau kamu kenapa - napa." kata Aamir yang langsung tidak menyetujui niat Naisha tersebut.


"Aku ingin menyakinkan dia bahwa aku bukanlah Naisha yang seperti dulu. Aku sudah berubah, aku mau minta maaf ke dia dan juga adiknya. Aku butuh kata maaf dari mereka berdua, Aamir. Jika tidak, hidup aku bakalan tidak tenang. Aku akan terus - terusan dihantui rasa bersalah." kata Naisha dan kembali lagi menangis dengan terisak - isak.


"Iya, Naisha... Aku paham. Tapi, kita kan gak tahu dia ada dimana sekarang? Mending kita pindah hotel aja, karena disini sudah gak aman lagi, Sha." saran Aamir kepada Naisha. Namun, Naisha tidak langsung menyetujui saran dari Aamir tersebut.


"Naisha, sayang.. Aku tahu kamu sudah menyesali perbuatan kamu ke keluarganya Rozi. Tapi, terkadang kata menyesal dan maaf saja tidak mampu menyembuhkan lukanya dihati orang yang pernah kita sakiti. Itulah pentingnya kita untuk menjaga lisan kita, menjaga ucapannya kita dari perkataan yang tidak baik dan menyakiti hati orang yang mendengarnya. Karena kita pun gak tau berhadapan dengan tipe orang yang mana. Jika dia memiliki sifat pemaaf, Alhamdulillah kita bisa dimaafkan nya. Tapi, jika sebaliknya.. Dia mempunyai sifat pendendam, bagaimana? Seperti yang dilakukan oleh Rozi saat ini. Sudah cukup jelas dia niat sekali ingin mencelakai kamu Naisha, dia datang jauh - jauh ke kota ini, kamudian dia dan adiknya menginap dihotel yang sama dengan kita., bersebelahan malahan. Dia menjebak aku, pasti dia yang memukul aku malam itu sampai pingsan. Kemudian memfitnah aku tidur dengan adik aku. Semuanya itu dia lakukan untuk membalaskan dendamnya ke kamu. Dia yang tidak ingin melihat kamu bahagia, tapi sebaliknya.. ia ingin melihat kamu menderita, Naisha.." jelas Aamir panjang lebar.


Mendengar kalimat panjang dari suaminya itu membuat Naisha berpikir sejenak dan akhirnya membenarkan juga.


"Apa kita pulang saja, Aamir? sudah tidak aman lagi kita disini, meskipun pindah hotel pasti Rozi akan mencari kita juga." kata Naisha dengan khawatir.


"Iya, Kita pulang Naisha. Kita siap - siap sekarang," kata Aamir dan kemudian mulai mengemas - ngemas barangnya. Dan bersamaan dengan itu pula, Saat mereka berkemas tiba - tiba saja ada yang mengetuk pintu kamar mereka dengan berkali - kali. Naisha dan Aamir pun saling pandang dengan wajah yang panik.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG..


__ADS_2