Jalan Menuju CahayaMu

Jalan Menuju CahayaMu
BAB 48 (TIDAK DIPEDULIKAN)


__ADS_3

Abi Naisha sudah sadar dan sekarang sudah dipindahkan di ruang rawatan biasa. Dokter mengatakan Abi Naisha mengalami tekanan darah yang tinggi sehingga membuat ia jatuh pingsan.


"Abi gak pernah dengerin apa kata Naisha sih, Abi itu punya riwayat tensi tinggi, jadi harus rutin memeriksakan kesehatan, jangan kecapean apalagi sampai terlalu memposir tenaga dan bergadang. Abi sudah jarang periksa kesehatan, apalagi minum obat penurun tensi." omel Naisha setelah beberapa saat Abi Naisha dipindahkan diruang rawatan. Didalam sana ada juga Umi Sofia dan Aamir.


"Naisha, Abi kamu sakit kok malah diomelin sih?" tegur Umi Sofia dengan suara yang lembut.


"Biar aja Umi, omelan Naisha ini demi kebaikan Abi. Biar untuk selanjutnya Abi gak lalai lagi dengan kesehatannya." kata Naisha membela diri.


"Iya, Sofia. Biar saja, Naisha benar kok. Aku yang kurang memperhatikan kesehatan aku beberapa hari belakangan ini padahal aku juga sudah merasa badan aku agak lain tapi tetap dipaksa juga bekerja bukan pergi kedokter untuk memeriksakan kesehatan." kata Pak Marwan dengan tertawa kecil.


"Hhmmm.. Pokoknya setelah Abi keluar dari rumah sakit, Naisha gak mau tahu ya, Abi harus istirahat total dulu selama 1 minggu. Dirumah saja, oke?" kata Naisha dengan suara yang tegas.


"Waduh, satu minggu? Kelamaan itu Naisha sayang, Tiga hari saja ya? Pasti suntuk lah Abi dirumah selama 1 minggu," keluh Abi dengan menawar.


"Tidak ada kata tawar menawar Abi," kata Naisha yang langsung menolaknya mentah - mentah.


Setelah Naisha mengatakan penegasan seperti itu, Abi Naisha tak berkutik lagi karena ia tahu bagaimana jika Naisha sudah bersikeras mengatakan sesuatu hal pasti tidak akan bisa diprotes - protes lagi apalagi ini terkait kesehatan Abinya. Karena dulu juga pernah seperti ini, gara - gara Abi Naisha yang kurang peka akan kesehatannya, Abi Naisha sempat dirawat selama 3 hari dirumah sakit karena kesehatannya menurun, dan disitu Naisha merasacemas sekali. Takut Abinya kenapa - napa, dan kejadian serupa terulang lagi saat ini sehingga membuat Naisha lebih ekstra lagi dalam menjaga Abinya.


Setelah itu, Naisha kembali mengobrol - ngobrol santai dengan Abi dan Uminya. Sedangkan Aamir yang padahal ada diantara mereka, tidak diikutsertakan Naisha dalam obrolan mereka tersebut. Aamir hanya diam mendengarkan, saat Aamir ingin menanggapi ketika Abi Naisha melirik kearah Aamir, Namun.. Naisha malah langsung dengan cepat memotong ucapan Aamir agar tidak dilanjutkan nya lagi. Naisha memang tidak memberikan Aamir untuk berbicara.


Dari situ saja Aamir sudah bisa merasakan bahwa Naisha begitu marah pada dirinya.


"Aamir, kenapa diam aja dari tadi?" akhirnya Abi Naisha bertanya juga ke Aamir.


"Ee.. Ya gak kenapa - napa, Pak." jawab Aamir dengan tersenyum tipis. Aamir tidak tahu harus menjawab apa, sedangkan Naisha bersikap seakan - akan Aamir tidak ada disana. Itu yang membuat Aamir menjadi serba salah dalam bersikap.


"Kalian baik - baik saja kan?" tanya Pak Marwan seraya melirik kearah Naisha dan Aamir secara bergantian. Pak Marwan curiga telah terjadi sesuatu diantara Naisha dan Aamir, karena sejak tadi Naisha sedikitpun tidak ada mengajak Aamir untuk berbicara.


"Ya, Pak. Baik - baik saja," Aamir yang menjawabnya dengan sedikit gelagapan, sedangkan Naisha hanya membuang muka dengan ekspresi tidak senang. Pak Marwan curiga dengan gelagat mereka berdua yang terlihat agak lain, tapi pak Marwan tidak mau melanjutkan menanyai tentang kecurigaannya itu.


Setelah malam hari tiba, Pak Marwan menyuruh Naisha dan Amir pulang kerumah.

__ADS_1


"Ngak, Abi. Naisha di rumah sakit saja jagain Abi, biar Umi Sofia saja yang pulang." tolak Naisha langsung dengan sudut matanya sempat melirik kearah Aamir yang juga melihat kearah Naisha.


"Kamu pulang saja, Naisha. Istirahat dirumah, karena besok pagi - pagi kamu kan ujian. Biar saja Umi kamu yang jagain Abi dirumah sakit. Kamu pulang sama suami kamu, Aamir." kata Abi Naisha yang menyuruh Naisha untuk pulang.


"Aamir.. Kamu ajak Naisha pulang ya." lanjut Pak Marwan seraya melihat kearah Aamir.


"Iya, Pak. Naisha, yuk kita pulang.." ajak Aamir dengan perlahan - lahan berjalan mendekati Naisha.


"Naisha pulang sendiri saja!!' ketus Naisha dan kemudian pamit ke Abi juga Umi nya. Setelah itu, ia pun keluar dari ruangan Abinya dengan langkah buru - buru tanpa mempedukikan ajakan dari Aamir tadi.


"Aamir.. Kalian lagi bertengkar ya?" tanya Umi Sofia setelah Naisha pergi.


"Hhmm.. Cuman ada sedikit ketidaksengajan yang Aamir lakukan dan membuat Naisha marah Umi," kata Aamir dengan wajah yang tertunduk lesu.


"Biasa itu, Aamir. Dalam rumah tangga biasa terjadi seperti ini. Ya sudah.. Kamu susul lah Naisha, kamun bujuk dia untuk pulang bersama - sama dengan kamu, jangan sampai dia pulang sendiri." kata Abi Naisha.


"Baik, pak. Terimakasih, Aamir akan bujuk Naisha. InshaAllah semuanya akan baik - baik saja Pak." ucap Aamir dan kemudian menyalami tangan kedua mertuanya, setelah itu barulah ia keluar dan menyusul Naisha dengan setengah berlari menuruni anak tangga.


"Niasha, tunggu sebentar..." kata Aamir dengan memegang tangan Naisha setelah ia sampai disana.


"Lepas." ucap Naisha seraya menatap dengan kesal. Aamir langsung melepaskan tangan Naisha yang tak sengaja ia pegang.


"Naisha, aku boleh pulang dengan kamu? Karena tadi, aku kerumah sakit pakai ojek. Karena kamu tau sendirikan motor aku ini surat - suratnya gak lengkap jadi aku gak berani bawa motor itu keluar dari komplek." jelas Aamir.


"Kenapa gak pulang pakai ojek aja lagi?" tanya Naisha dengan nada ketus.


"Sudah malam, Naisha. Gak ada lagi ojek yang mangkal disini." kata Aamir beralasan.


"Itu.. taksi banyak parkir disana, kamu naik taksi saja." kata Naisha lagi dengan mengarahkan dagunya kearah taksi yang berjejer dipinggir jalan.


"Aku gak bawa dompet, Naisha. Tadi aku bawa uang pas untuk ongkos ojek saja." kata Aamir lagi apa adanya.

__ADS_1


"Ya sudah, terserah kamu mau pulang pakai apa. Aku gak peduli." ketus Naisha dan kemudian masuk kedalam mobilnya, Tapi lagi - lagi Aamir mencegat Naisha agar tidak masuk dulu kedaalm mobil.


"Naisha, jangan lama - lama donk marahnya sama aku. Aku kan sudah mintak maaf sama kamu, aku tahu aku salah dan sudah lalai. Aku akui itu, Naisha. Dan aku janji untuk kedepannya tidak akan aku ulangi. Jadi, aku harus bagaimana lagi agar kamu mau memaafkan kesalahan aku tadi pagi, Naisha?" tanya Aamir dengan nada memelas. Namun, yang ditanya malah membuang muka seakan tidak peduli.


"Apa kamu tega melihat aku pulang jalan kaki?" lanjut Aamir lagi dengan menaikkan satu alisnya.


"Naisha..." panggil Aamir dengan suara yang lembut. Ia masih berusaha untuk membujuk Naisha agar mau memaafkannya.


"Ini bukan perihal tadi pagi, Aamir." kata Naisha akhirnya dengan rasa geram.


"Jadi.. Maksudnya, kamu marah bukan karena aku telat ngantar kan kamu kekampus?" tanya Aamir lagi untuk lebih mempertegas kan.


"Bukan.. Tapi karena yang lain." kata Naisha dengan wajah yang cemberut.


"Karena apa Naisha? Beritahu aku jika aku ada salah, Naisha. Agar aku tahu dan bisa memperbaiki kesalahan aku itu, ." kata Aamir. Tapi, Naisha kembali bungkam.


"Kalau kamu mendiamkan aku dan menghindar seperti ini, malah membuat aku jadi bingung Naisha. Karena.. Aku memang tidak tahu apa kesalahan aku, kalau bukan karena tadi pagi. Apa kita - kira kesalahan aku terhadap kamu, Naisha?" tanya Aamir lagi dengan wajah penuh kebingungan.


"Apa Kamu gak sadar sudah berbuat suatu pengkhianatan terhadap aku, Aamir??" tanya Naisha dengan wajah yang sudah di penuhi dengan amarah.


"Pengkhianatan? Aku?" Aamir menggeleng - gelengkan kepalanya karena tidak paham kemana arah pembicaraan Naisha tersebut.


"Jangan berpura - pura polos lah kamu, Aamir. Coba kamu ingat - ingat apa saja yang telah kamu lakukan hari ini yang membuat aku sakit hati jika melihatnya.." ujar Naisha lagi. Amair terdiam dengan mencoba melakukan apa yang Naisha suruh..


...🌹🌹🌹🌹...


BERSAMBUNG...


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2