Jalan Menuju CahayaMu

Jalan Menuju CahayaMu
BAB 61


__ADS_3

Aamir masih diam, karena dia benar - benar bingung mau menjelaskan dari mana. Kalau ditanya benar atau tidak, jawabanya iya.. Benar!! Memang benar dirinya yang ada di video yang sudah disebarkan oleh Rozi dan Shera. Tapi, semua itu bukan seperti yang mereka pikirkan. Aamir harus meluruskan ini semua, karena ini terkait nama baiknya. Citra dirinya yang selama ini dikenal dengan laki - laki baik dan sholeh. Aamir tidak ingin orang - orang menjadi salah sangka terhadapnya.


"Maaf sebelumnya.. Abi, Umi.." kata Aamir yang akhirnya membuka pembicaraan. Padahal sebelumnya Naisha ingin dia yang menjelaskan tapi Aamir buru - buru mencegahnya melalui tatapannya, sebagai tanda bahwa Aamir lah yang hatus bertanggung jawab untuk menjelaskan kepada kedua orang tua Naisha kejadian yang sebenarnya.


"Apa yang tersebar di video itu memang benar saya, tapi.. Samuanya tidak seperti yang ada dipikiran orang - orang. Itu hanyalah sebuah jebakan yang dilakukan untuk membuat rumah tangga saya dan Naisha berantakan." kata Aamir dengan suara yang lantang. Matanya menelusuri setiap wajah orang - orang yang ada didalam ruangan tersebut.


Mendengar pengakuan dari Aamir barusan, membuat Pak Marwan langsung merubah posisi duduknya dan kemudian kembali menatap Aamir dengan wajah yang serius.


"Jebakan apa maksud kamu, Aamir?" tanya Pak Marwan dengan penasaran. Begitu juga Umi Sofia dan kedua teman Naisha yang langsung saja memasang telinga mereka baik - baik, mereka semua penasaran dengan apa yang akan dikatakan Aamir selanjutnya.


Aamir menarik nafas panjang berkali - kali, sebelum ia menceritakan semuanya, ia sempatkan untuk melihat kearah Naisha yang juga sedang memandangnya dengan tersenyum tipis. Bagaimana pun, apa yang ia ceritakan ini adalah suatu aib dan keburukan dari istrinya dimasa lalu. Tapi, mau tidak mau Aamir harus mengatakan juga untuk meluruskan kesalhapahaman yang sudah menyebar luas disana.


"Baiklah, Abi.. Umi.. Sebenarnya apa yang menimpa kami saat ini semua adalah ulah dari Rozi dan adiknya, Shera.." kata Aamir dan berhenti sejenak saat melihat Tari dan Mely langsung saling pandang saat mendengar nama Rozi disebut oleh Aamir.


"Siapa itu Rozi?" tanya Abi Naisha dengan tidak sabar.


Maka saat itu pula Aamir langsung menceritakan semuanya dari awal. Dimulai dari pertemuan dan perkenalan singkat mereka dengan Shera setelah itu saat Aamir dipukul hingga ia tak sadarkan diri dan saat bangun ia sudah berada dikamarnya Shera. Aamir ceritakan semuanya secara detail, tanpa ada ditambah ataupun di kurang - kurangi sedikitpun.


Ketika cerita Aamir sudah sampai disaat ia menolong Naisha, barulah Naisha yang mengambil alih untuk melanjutkan ceritanya lagi. Ia menjelaskan ke Abi dan Umi nya tentang siapa Rozi dan apa yang membuat laki - laki itu menjadi begitu jahat dan ingin mencelakai Naisha.


Abi dan Uminya Naisha langsung mengurut - ngurut dada mendengar cerita Naisha dan Aamir yang begitu dramastis dan juga menegangkan. Tapi, mereka juga tidak menyangka semua itu terjadi akibat ulah dan kelakuan Naisha yang pernah meninggalkan luka yang begitu dalam dihati keluarganya Rozi sehingga membuat dua kakak beradik itu menyimpan dendam dan berniat ingin menghabisi Naisha.


"Ya Allah, Naisha.. Abi tidak menyangka ternyata kamu lah biang kerok dari semua ini. Begitu teganya kamu waktu dulu itu terhadap Rozi dan keluarganya.. Tidak habis pikir Abi sama kamu, Naisha." keluh Abi Naisha dengan menggeleng - geleng kan kepalanya. Begitu juga dengan uminya yang hanya bisa mengelus dada dan juga menghela nafas panjang. Sedangkan Naisha sendiri hanya bisa tertunduk pasrah, malu dan juga merasa bersalah yang teramat dalam. Karena akibat ulahnya dimasa lalu itu malah menjadi bumerang bagi rumah tangga nya dengan Aamir saat ini. Aamir yang menanggung semuanya, Aamir pasti malu sekali saat ini. Diluar sana, orang - orang pasti lagi membicarakan Aamir. Nama baik Aamir yang jadi ancamannya. Naisha sungguh merasa bersalah terhadap Aamir.


"Naisha benar - benar menyesalinya, Abi. Naisha juga gak menyangka akan seperti ini jadinya," ujar Naisha dengan terisak - isak menyesali perbuatan buruknya waktu itu.


"Menyesal saja tidak cukup Naisha, seharusnya kamu berinisiatif dari awal meminta maaf dengan keluarganya Rozi, sebelum akhirnya dia membuat rencana untuk Balas dendam seperti ini." kata Abi Naisha dengan nada kesal.


"Iya, Abi. Naisha tau Naisha salah dan terlalu cuek dengan itu semua. Naisha pun tidak tahu akan seperti ini jadinya." kata Naisha dengan nada memelas.

__ADS_1


"Ya sudah, sekarang ini.. Kita tetap harus buat laporan ke kantor polisi karena bagaimana pun juga perbuatan yang dilakukan si Rozi itu sudah diluar batas." putus Abi Naisha akhirnya.


"Tapi, Abi.. Menurut Naisha kita jangan melaporkan Rozi dulu.." kata Naisha dengan mencegah Abinya.


"Kenapa tidak, Naisha? Kamu sekarang ini dalam bahaya, bagaimana kalau dia nekat dan kembali akan mencelakai kamu lagi? Memang hidup kamu bisa tenang dihantui oleh dia terus - terusan. Padahal sudah jelas dia mempunyai keinginan untuk membunuh kamu?" kata Abi Naisha dengan gusar.


"Iya, Naisha tahu Abi kalau Naisha dalam bahaya. Tapi, Naisha gak mau saja Rozi akan bertambah benci ke Naisha jika kita melaporkan dia kekantor polisi dan akhirnya dia masuk penjara. Pasti akan lebih runyam lagi, Abi. Dendam dia ke Naisha akan semakin bertambah - tambah, dan juga bagaimana dengan adiknya si Shera itu? Dia sudah kehilangan kedua orang tuanya, cuman Abangnya yang ia punya saat ini. Pasti ia akan sangat menderita jika abangnya mendekam di penjara, dan yang pastinya lagi.. Dia akan semakin menyalahkan Naisha, semakin membenci dan dendam ke Naisha.." jelas Naisha dengan mengebu - gebu.


"Jadi kamu maunya bagaimana, Naisha?" tanya Abi Naisha akhirnya. Naisha langsung terdiam setelah Abinya bertanya seperti itu. Ia sebenatnya juga belum tahu harus bagaimana dan berbuat apa saat ini.


"Abi, Umi.. Jujur sebenarnya Aamir lebih merisaukan keadaan Naisha saat ini, karena sudah dua kali Naisha hampir celaka. Tidak bisa diungkapkan dengan kata - kata rasa cemas dan khawatir yang Aamir rasakan saat ini. Namun, terlepas dari itu semua.. ada baiknya juga kita menerima apa yang menjadi keinginan dan keputusan Naisha itu. Akan tetapi, kita tetap harus lebih waspada lagi, terutama diri Aamir sendiri yang lebih fokus untuk menjaga Naisha. InshaAllah.. Kita akan mendapat solusi yang terbaik atas permasalahan ini." kata Aamir dengan kata - kata bijaknya.


"Oke, baiklah.. Abi tidak akan melaporkan dia ke kantor polisi. Tapi, terpaksa untuk sementara waktu ini kamu jangan kemana - mana dulu Naisha, kamu dirumah saja. Meskipun ada keperluan mendesak ingin keluar rumah, kamu harus pergi bersama Aamir. Kemanapun itu, Aamir harus ada disamping kamu." tekan Abi Naisha yang langsung dijawab dengan anggukkan kepala oleh Naisha.


"Ehemmm... Maaf jika kami ikut campur ya, Om dan Tante.." kata Tari yang sedari tadi dirinya dan Mely hanya menjadi pendengar saja.


"Kenapa lagi? Kalian gak punya kepentingan lagi disini saya rasa, lebih baik kalian pulang saja." kata Abi Naisha yang malah mengusir dua wanita itu.


"Om Marwan, lebih baik lihat dulu deh video ini, baru bisa menyimpulkan dan mencari solusi yang terbaik, Tapi kalau menurut saya.. Solusi terbaik dari permasalahan ini adalah dengan menyuruh Naisha berpisah dengan Aamir. Karena apa? Kerena nama Aamir sudah buruk dimana - mana, dia sudah bikin keluarga Oom malu. Gitu kalau menurut saya, Om. Mudah - mudahan diterima ya, hehe.." ucap Tari yang menyerocos panjang lebar.


Akan tetapi, Pak Marwan tak menanggapi sedikitpun perkataan Tari yang menurutnya malah memperkeruh masalah.


"Naisha, tolong kamu selesaikan dan sekaligus beri sedikit pemahaman ke teman - teman kamu ini, Abi mau ke mesjid. Aamir kamu ikut Abi.." ucap Abi Naisha dan kemudian langsung saja berjalan ke luar, yang diikuti juga dengan Aamir dibelakangnya.


"Tari, Mely, sudah ya.. Aku mintak tolong kalian jangan menyudutkan Aamir seperti tadi, karena Aamir tidak salah sama sekali." pinta Naisha ke teman - temannya.


"Tapi, Sha.. Kamu sudah lihat videonya belum? Parah lo Naisha apa yang dilakukan Aamir dalam video itu, aku lihatnya saja sampai merasa gimana gitu." kali ini Mely yang ikut - ikutan mempengaruhi Naisha.


"Aku gak perlu melihat video itu, karena aku percaya dengan suami aku. Dan.. Aku tahu duduk permasalah dari ini semua, jadi aku mintak tolong kalian berdua jangan ikut campur lagi ya. Maaf sebelumnya, aku mau keatas dulu." pamit Naisha dan kemudian langsung naik keatas kamarnya meninggalkan Tari, Mely dan Umi Sofia diruang tamu mewahnya tersebut.

__ADS_1


🌿🌿🌿🌿


Naisha masuk kedalam kamarnya dengan hati yang gondok. Bagaimana tidak, video rekayasa yang dibuat oleh Rozi dan Shera sudah tersebar kemana - mana. Dan Naisha pun yakin, Semua orang yang melihat video tersebut pasti akan menghujat Aamir.


"Ya, Allah.. Aku harus meluruskan ini semua. Kasihan suami aku. Dia gak salah apa - apa." lirih Naisha dengan terisak - isak.


Bersamaan dengan itu pula, ponsel Naisha berdering. Ada sebuah nomor tak dikenal yang menelponnya. Dengan malas - malasan, Naisha memencet tombol menerima panggilan pada layar ponselnya.


"Iya, Assalamualaikum,.." ucap Naisha dengan suara yang parau.


"Hallo Naisha ku yang cantik dan seksi..." ucap seseorang di seberang sana, dan Naisha seperti mengenal suara itu.


"Rozi?" lirih Naisha dengan suara kagetnya itu.


"Iya, sayang... Senang ya kamu bisa selamat.. Tapi, jangan harap kesenangan mu itu akan berlangsung lama, Naisha. Karena aku.. Tidak akan membiarkan kamu hidup dengan tenang.." kata Rozi dengan setengah mengancam.


"Rozi, sudahlah.. Akhiri kekonyolan yang kamu buat ini. Aku bisa saja melaporkan kamu kekantor polisi, tapi tidak aku lakukan karena aku masih memikirkan nasib kamu dan Shera nantik bagaimana. Tapi, aku mintak tolong.. Kamu lupaka dendam kamu itu, kita berdamai saja ya.." pinta Naisha lagi.


"Oke.. Tapi, ada syaratnya Naisha..." kata Rozi laku diakhiri dengan tawa kecilnya.


"Apa syaratnya?" tanya Naisha dengan penasaran.


.


.


.


.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


.


__ADS_2