
Bersamaan dengan itu pula, dari arah pintu masuk tampak Pak Daud datang dengan langkah kaki yang tergopoh - gopoh.
"Ada apa ini ya ribut - ribut? Suaranya kedengaran sampai keluar." kata Pak Daud setelah berada diantara mereka berdua.
Naisha langsung melihat kearah Pak Daud yang juga sedang melihatnya dengan tatapan agak sedikit kaget.
"Kamu kalau tidak salah.." Pak Daud berhenti sejenak saat menyadari jika ada Aamir juga disana.
"Huhh.. Sudahlah, Gak penting." kata Naisha dan kemudian bergegas pergi meninggalkan Mereka berdua. Tentu saja Naisha kenal dengan Pak Daud yang merupakan teman dekat Abinya. Pak Daud juga sering datang kerumahnya untuk sekedar berbincang - bincang dengan Abi Naisha. Makanya, Naisha menjadi malas untuk melanjutkan aksi yang sudah direncanakannya tadi.
"Jangan sampai Pak Daud mengenalinya, mudah - mudahan saja ia tidak ingat aku." gumam Naisha didalam hati. Karena jika Pak Daud sampai mengenalinya, sudah dapat dipastikan Pak Daud akan mengadu ke Abinya tentang kedatangan Naisha kemesjid untuk menemui Aamir.
Setelah kepergian Naisha, Pak Daud yang penasaran langsung saja menanyai perihal Naisha ke Aamir, ada keperluan apa wanita itu sehingga ia ada didalam mesjid. Aamir yang polos dan lugu itu, langsung saja bercerita panjang lebar ke Pak Daud. Ia ceritakan secara detail, dari awal ia bertemu Naisha sampai kejadian yang terakhir ini.
"MasyaAllah.. Sungguh tiada yang tahu bagaimana takdir Allah itu memainkan perannya terhadap manusia." lirih Pak Daud seketika itu juga, tentu saja pernyataan Pak Daud barusan tersebut terdengar aneh di telinga Aamir.
"Maaf, Pak Aamir. Maksud bapak apa ya?" akhirnya Aamir bertanya.
"Ahh.. Nantik saja Aamir, secepatnya kamu pasti akan tahu apa maksud dari perkataan bapak ini. Oya, nantik malam setelah tarawih, Pak Marwan mengundang kita kerumahnya dan sekalian mengenalkan kamu dengan anak Pak Marwan. Dan disitulah, semuanya akan terungkap." ucap Pak Marwan lalu tersenyum dengan misterius. Kening Aamir langsung berkerut bingung, ia sama sekali tidak paham apa maksud dari Pak Daud itu. Belum sempat Aamir bertanya lagi, Pak Daud malah bergegas pergi dari sana.
...ππππ...
__ADS_1
Tibalah dimalam harinya, waktu dimana diadakan pertemuan antara Aamir dengan anak gadisnya Pak Marwan.
"Ayok, Aamir. Pak Marwan sudah menunggu kita dirumahnya." ajak Pak Daud yang memanggil Aamir yang masih terlihat sibuk berbincang - bincang dengan pemuda yang tadarusan malam itu.
"Iya Pak," sahut Aamir dan kemudian bergegas berjalan keluar mesjid.
"Aamir, biasa saja wajahnya. Kamu kelihatan tegang sekali." celetuk Pak Daud yang memperhatikan wajah Aamir yang sejak tadi terlihat tegang dan kaku.
"Oh, tidak Pak. Saya cuman lagi berpikir saja." kata Aamir dengan tersenyum tipis.
"Pikirkan apa, Aamir?" tanya Pak Daud. Aamir hanya diam saja.
"Kamu lagi mikirin bagaimana paras dan rupanya anak gadis Pak Marwan itu ya?" goda Pak Daud yang membuat Aamir langsung salah tingkah.
"Bagaimana apanya, Aamir? Sudahlah, kamu jangan galau - galau. Jalanin aja dulu apa adanya, mudah - mudahan saja setelah bertemu dengan anaknya Pak Marwan nantik, kamu bisa berubah pikiran dan malahan ingin cepat - cepat menikahinya." kata Pak Daud kemudian tertawa dengan keras. Aamir hanya tersenyum tipis menanggapinya, dalam hati ia bertanya - tanya juga. Mengapa Pak Daud bisa seyakin itu ya? Sedangkan dirinya sendiri, merasa tidak yakin dan tidak percaya diri sama sekali.
Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka berdua sampai dirumah megahnya pak Marwan. Entah mengapa, tiba - tiba saja perasaan Aamir menjadi agak lain. Apalagi ketika Pak Daud memencet bel rumah Pak Marwan, yang langsung saja terdengar suara langkah kaki orang yang datang kearah pintu untuk membukakan pintu. Seketika itu pula Pak Marwan muncul dari balik pintu dengan sebuah senyuman yang sudah merekah dibibirnya.
Mereka saling sapa dengan hangat. Setelah itu, Pak Marwan mempersilahkan tamunya untuk masuk dan duduk diruang tamu yang megah itu. Kemudian mereka berbincang - bincang sejenak sampai akhirnya Pak Daud membuka inti pembicaraan dan pertemuan mereka pada malam itu.
"Hhhmmm... Pak Marwan ada baiknya kita pertemukan sekarang saja Aamir dengan anaknya Pak Marwan. Tampaknya Aamir sudah tidak sabar ni ingin ketemu dengan calon istrinya. " kata Pak Daud sembari menyenggol lembut lengannya Aamir yang sejak tadi lebih banyak termenung. Namun, Aamir hanya menanggapinya dengan tersenyum tipis.
__ADS_1
"Oke, sebentar ya Aamir. Saya panggilkan dulu, dia masih dikamar sepertinya...." kata Pak Marwan lalu berdiri dan berjalan menuju keatas, tempat kamar anak gadisnya itu.
Sepeninggalan pak Marwan, Pak Daud kembali mengajak Aamir mengobrol - ngobrol santai untuk mengusir suasana yang ia rasa mulai terasa tegang.
"Aamir, santai saja. Ini baru pertemuan biasa kok, jangan tegang gitu wajahnya." tegur Pak Daud sembari tersenyum kecil melihat Aamir yang mulai gelisah.
"Ya pak," sahut Aamir dengan tersenyum tipis setelah itu menundukkan wajahnya.
Selang berapa menit kemudian, terdengar langkah kaki dari arah tangga menuju kebawah. Aamir yakin yang datang adalah Pak Marwan bersama putrinya. Aamir masih menundukkan wajahnya, sampai Akhirnya Pak Marwan dan juga putrinya sudah berada diantara mereka.
"Aamir, itu Pak Marwan bersama anak gadisnya." kata Pak Daud pelan dengan kembali menyenggol bahunya Aamir dengan maksud agar Aamir segera mengangkat wajahnya dan melihat 2 orang yang datang tersebut.
Perlahan - lahan Aamir mengangkat wajahnya, dan betapa kagetnya Aamir saat matanya menangkap wajah seorang wanita yang tidak asing baginya. Aamir lantas mengucap istighfar beberapa kali didalam hatinya sembari menelan ludahnya yang terasa sangat pahit...
...πΊπΊπΊπΊ...
BERSAMBUNG...
.
.
__ADS_1
.