Jalan Menuju CahayaMu

Jalan Menuju CahayaMu
BAB 55


__ADS_3

Naisha bangkit dari tempat tidurnya saat mendengar suara berisik dari sebelah kamar hotelnya. Karena penasaran, Naisha langsung saja bergegas menuju ke pintu luar dengan sebelumnya menyeka air matanya yang sejak tadi tiada berhenti mengalir karena memikirkan dimana Aamir saat ini. Perasaan Naisha tidak enak, ia takut Aamir kenapa - napa. Namun, Naisha belum berani memberitahu Abi dan Uminya. Rencananya, Naisha masih menunggu 1x24 jam dahulu barulah setelah itu jika Aamir tidak juga kembali Naisha akan melapor ke orang tuanya dan kalau perlu saat itu juga ia melaporkan kehilangan suaminya ke kantor polisi.


Setelah Naisha berada diluar, Naisha melihat pintu kamar sebelah terbuka separoh. Masih dengan rasa penasaran yang sangat tinggi, Naisha kemudian berjalan perlahan - lahan kearah sana. Karena.. Suara teriakan Shera semakin kuat ia dengar. Wanita itu berbicara keras dengan histeris dan marah - marah juga.


"Shera.. Shera.. Kamu kenapa?" tanya Naisha seraya mengetuk ngetuk pintu kamar Shera, tapi Naisha tidak langsung masuk kedalam sana. Ia berdiri saja di depan pintu dengan badan yang celingak celinguk melihat kedalam. Dan.. Betapa kagetnya Naisha ketika ia tidak sengaja melihat seseorang yang sangat ia kenali berada didalam sana.


Naisha melongo, seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Tapi, apa yang ada di hadapannya saat ini adalah sosok yang nyata.


"Aamir..??" lirih Naisha dengan ekspresi terkejutnya. Mendengar suara Naisha memanggilnya, Aamir yang sejak tadi berusaha membela dirinya terhadap wanita itu langsung saja membalikkan badan dan seketika itu pula ia melihat Naisha dengan wajah kebingungan nya.


"Naisha.. Kamu, Aku.." ucap Aamir terbata - bata. Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Naisha malah langsung memotong ucapan Aamir tersebut.


"Ada apa ini? Apa yang terjadi? Kamu ngapain disini, Aamir!!!" teriak Naisha dengan berapi - api. Segala pikiran buruk sudah bersemayam di hatinya setelah melihat pemandangan dihadapannya saat ini. Pemandangan yang sungguh mengiris hati dan jiwanya. Dimana.. Ia melihat Aamir berada didalam kamarnya Shera dan mereka.. tidak berpakaian, tubuh mereka hanya ditutupi oleh selimut masing - masing.


"Aku juga gak tau kenapa aku ada disini, Naisha. Aku tadi terbangun dan tiba - tiba saja aku sudah ada disini, aku juga gak ngerti Naisha." jelas Aamir dengan wajah masih diselimuti kebingungan namun terlihat agak takut juga. Ya.. Aamir takut, setelah melihat kejadian ini Naisha akan beripikran yang tidak - tidak kepadanya.


"Jangan bohong kamu, malah berpura - pura gak tahu lagi. Padahal sudah jelas - jelas kamu telah menghancurkan hidup saya. Kamu sudah melecehkan saya." Tuduh Shera dengan menunjuk - nunjuk Aamir. Wajah Shera merah padam, ia begitu sangat marah seakan tak terima karena sudah dilecehkan oleh Aamir.


"Saya tidak melakukan apa yang kamu tuduhkan itu. Saya pun tidak tahu mengapa ada disini, saya.." Belum selesai Aamir mengucapkan kata - kata pembelaan, Shera sudah memotong ucapannya.


"Alah... Alasan saja!! Kamu pura - pura bodoh, dan gak tahu apa - apa karena kamu takut sudah ketahuan dengan istri kamu kan? Padahal sudah jelas - jelas kamu masuk kekamar saya dan memperkosa saya," kata Shera dengan melototkan matanya.


"Aku gak mau tahu, pokoknya kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang sudah kamu perbuat ke saya. Kalau tidak, saya tidak akan segan - segan melaporkan kamu ke kantor polisi, atas dugaan pelecehan dan perbuatan tidak menyenangkan." ancam Shera dan setelah itu pergi masuk kedalam kamar mandi, meninggalkan Naisha dan Aamir yang masih berdiri mematung disana.


Naisha diam dengan segala rasa yang berkecamuk didalam pikiran dan hatinya. Jiwanya seakan hancur jika apa yang telah dituduhkan Shera adalah benar. Naisha tak mampu berkata apa - apa lagi, lidahnya seakan kelu, pikirannya buntu dan hatinya sungguh sakit. Maka, Naisha pun akhirnya pergi dengan berlari keluar dari kamar Shera dan masuk kedalam kamarnya. Melihat Naisha pergi, Aamir kemudian buru - buru memakai pakaiannya yang berserakan dilantai dan setelah itu mengejar Naisha ke kamarnya.


"Sha.. Kamu tau aku gak melakukan itu kan? Demi Allah, aku gak tahu kenapa aku ada dikamar wanita itu. Aku saja, masih bingung Naisha. Aku bangun - bangun sudah ada aja disana, kamu percaya sama aku kan, Sha?" ujar Aamir yang berusaha menyakinkan Naisha.

__ADS_1


Naisha masih diam dengan mengatur debaran di jantungnya yang semakin kuat ia rasakan. Naisha benar - benar tidak tahu harus mempercayai siapa sedangkan didepan matanya sendiri ia melihat Aamir berada dikamarnya Shera.


"Sha.. Katakan sesuatu, aku mohon.. Percayalah sama aku, aku gak pernah sekalipun berniat untuk melakukan perbuatan terkutuk itu, Naisha. Kamu percaya dengan aku kan? Aku gak mungkin melakukan itu, Naisha." lanjut Aamir dengan posisi setengah duduk di hadapan Naisha. Ia pegang tangan Naisha, lalu ditatap nya erat - erat wajah Naisha yang menunduk dengan menahan butiran air mata yang hendak tumpah dari sana.


"Kamu jahat, Aamir!!" ucap Naisha dan kemudian menepis tangan Aamir yang memegang tangannya.


"Kamu.. Benar - benar tega..!!" lanjut Naisha lagi yang kali ini tidak bisa menahan air matanya yang akhirnya tumpah juga membasahi pipinya.


"Demi Allah, Naisha.. Aku tidak melakukan apapun." kata Aamir dengan bersumpah.


"Tapi, kenapa kamu ada dikamar dia? Dan.. tanpa pakaian pula?" tanya Naisha dengan sangat marah.


"Itulah yang tidak aku tahu, Naisha. Tapi.. Aku.. Ya, Aku baru ingat Naisha.." kata Aamir yang tiba - tiba mulai teringat akan kejadian sebelum ia masuk kedalam kamarnya Shera. Aamir menceritakan kejadian tadi malam saat Naisha mengambil kunci kebawah. Aamir yang melihat laki - laki keluar dari kamar Shera dengan sebilah pisau berlumuran darah disana, setelah itu ia mendengar teriakan mintak tolong dari Shera. Tanpa berpikir panjang, Aamir langsung saja kesana. Tapi, naas.. seseorang malah memukul pundak Aamir dengan sangat kencang.


"Ya begitulah yang aku ingat, Naisha. Ada seseorang yang menjebak aku. Pasti saat itu aku pingsan dan orang itu yang meletakkan aku di tempat tidurnya Shera." kata Aamir yang menyimpulkan sendiri.


"Apa buktinya ha? Apa kamu bisa membuktikan bahwa perkataan kamu itu benar, Aamir?" tanya Naisha. Dan Aamir pun langsung terdiam.


"Naisha, aku berani bersumpah. Aku gak ngapain- ngapain sama dia," kata Aamir dengan kesungguhan hatinya.


"Lalu jika tidak ngapain - ngapain, mengapa kalian tidak berpakaian ha?" tanya Naisha lagi dengan geram.


"Aku gak tahu, Naisha. Karena saat aku bangun.. Aku sudah ada disana dan tanpa pakaian. Aku juga tidak ngerti Naisha, tapi aku yakin ini pasti perbuatan orang yang memukul aku itu, Naisha." kata Aamir dengan yakin.


"Orang siapa Aamir? Tidak ada siapapun disana selain kamu dan Shera, kalau iya kamu dijebak, siapa emnangnya yang menjebak kamu? Dan apa tujuan dia?" tanya Naisha lagi dengan kesal.


"Ngak ada yang menjebak kamu, Aamir, ," tiba - tiba dari arah pintu, masuklah Shera yang sudah berpakaian rapi. Naisha dan Aamir cukup kaget dengan kedatangan Shera tiba - tiba ke kamarnya.

__ADS_1


"Sudahlah Aamir, kamu ngaku saja. Sebagai seorang laki - laki yang beriman, tidak seharusnya kamu berbohong seperti ini. Bilang saja sama istri kamu bahwa kamu tertarik juga dengan aku kan?" tanya Shera blak - blakan dan kali ini dengan tersenyum getir. Dari cara senyumnya, Naisha pun yakin dan percaya bahwa Aamir memang benar - benar dijebak oleh wanita ini.


"Apa maksud kamu dengan mengatakan itu? Seharusnya kamu yang jujur, kenapa kamu menjebak saya ha? Apa tujuan kamu?" tanya Aamir dengan suara yang tegas. Aamir sungguh marah besar kepada wanita itu.


"Hai, saya ini korban disini ya. Dan kamu.. jangan seenak hati kamu Malah menuduh saya yang menjebak kamu." katanya lagi yang merasa tidak Terima.


"Aku gak mau tahu, Naisha. Suami kamu ini sudah sangat kurang ajar sama aku. Aku gak akan tinggal diam saja, aku akan proses semua ini ke kantor polisi. Biar dia diseret ke penjara." Shera kembali mengancam Naisha.


"Tunggu dulu Shera,," cegah Naisha ke Shera.


"Aku percaya dengan suami aku, gak mungkin dia melakukan perbuatan kotor itu ke kamu. Pasti ada orang yang menjebak kita semua." kata Naisha.


"Masa bodoh dengan jebakan atau apapun itu, yang jelas.. Saat ini aku merasakan harga diri aku sudah hancur berkeping - keping. Siapa yang bisa menjamin nya ha? Karena bisa saja saat aku gak sadar, Lelaki ini menyentuh atau bahkan menyetubuhi aku," tutur Shera dan kali ini dengan terisak - isak.


"Astaghfirullah, kamu jangan sembarangan ngomong ya. Aku tegaskan ke kamu sekali lagi kalau aku gak pernah sekalipun menyentuh kamu." ucap Aamir dengan lantang.


"Dan satu hal lagi yang perlu kamu ketahui bahwa aku datang ke kamar kamu karena aku mendengar kamu teriak mintak tolong, sebelum itu aku juga lihat ada laki - laki yang keluar dari kamar kamu dengan memegang pisau yang belumuran darah. Makanya.. karena curiga, aku masuk kedalam kamar kamu yang pintunya tidak tertutup rapat. Tapi, Apa? Tiba - tiba saja ada seseorang yang memukul aku dari belakang sampai aku pingsan dan bangun - bangun sudah berada saja ditempat tidur kamu itu." jelas Aamir yang menceritakan kronologi kejadian yang sebenarnya.


"Kamu pintar ngarang cerita ternyata ya!" ledek Shera dengan tawa kecilnya.


"Jadi sekarang gini saja, kita chek CCTV. Kita lihat apakah cerita suami kamu ini benar apa tidak." tantang Shera yang langsung disetujui oleh Aamir. Sedangkan Naisha hanya diam saja, ia tampak beberapa kali memijit keningnya yang mulai berdenyut kencang. Namun demikian, ia ikut juga kebawah bersama Aamir dan Shera untuk. mengecek CCTV


Setelah sampai di bawah, Shera tampak berbicara dengan petugas hotel dan meminta persetujuan untuk melihat CCTV. Maka mereka bertiga pun dibawa kedalam ruangan untuk memantau CCTV. Saat rekaman dibuka, betapa kagetnya Aamir bahwa ternyata apa yang ia lihat tadi malam itu tidak ada sama sekali di CCTV. Yang ada cuman, saat ia masuk kedalam kamarnya Shera. Aamir terdiam dengan wajah yang panik, sedangkan Shera tersenyum penuh kemenangan...


.


.

__ADS_1


.


BERSAMBUNG. .


__ADS_2