Jalan Menuju CahayaMu

Jalan Menuju CahayaMu
BAB 52


__ADS_3

Perjalanan lebih kurang 1,5 jam menggunakan pesawat, akhirnya mengantarkan mereka di sebuah kota yang terkenal dengan tempat wisata yang indah dan juga sangat menarik untuk dikunjungi.


Setelah turun dari pesawat, Naisha dan Aamir langsung saja menuju keluar dari bandara untuk mencari taksi dan mengantarkan mereka ke hotel yang sudah dipesankan oleh Abi Naisha sebelumnya.


"Aamir, sebentar..." kata Naisha yang tiba - tiba saja menghentikan langkah kakinya.


"Kenapa, Sha?" tanya Aamir sembari menatap istrinya itu.


"Mau pipis, aku ke toilet sebentar ya." kata Naisha dengan wajah yang meringis karena menahan pipis.


"Ya sudah, aku antar ya kamu ke toilet," kata Aamir tapi ditolak langsung oleh Naisha.


"Eits... Jangan Aamir, toiletnya dekat itu kok. Kamu tunggu saja." kata Naisha dengan mencegah Aamir dan kemudian bergegas berlari ke toilet.


Sesampainya Naisha di lorong menuju pintu toilet, Naisha kemudian berjalan buru - buru kearah petunjuk toilet wanitanya, namun.. Tiba - tiba saja dari arah belakang ada seseorang yang menyenggol Naisha dengan kuat dari belakang. Tentu saja senggolan yang kuat itu membuat tubuh Naisha agar terhentak kedepan. Naisha kemudian menoleh kebelakang dan ingin melihat siapa yang telah mendorongnya. Akan tetapi, seseorang itu sudah berbelok ke lorong toilet yang satunya lagi. Yaitu Toilet laki - laki. Naisha hanya bisa menatap kepergian dengan wajah bingung, namun karena tak tahan lagi ingin pipis makan Naisha pun berlari kecil masuk kedalam toilet wanitanya.


Setelah selesai pipis, Naisha kemudian keluar dan menuju ketempat Aamir menunggunya. Namun, lelaki yang sempat menyenggol nya tadi juga keluar dari toilet bersamaan dengan Naisha. Karena Naisha melihatnya, maka Laki - laki bertopi dan bermasker itu langsung saja buru - buru meninggalkan lorong toilet tersebut.


"Siapa ya dia? Kenapa tadi dia menyenggol aku dengan kuat, kayaknya sengaja deh." lirih Naisha yang berbicara sendiri.


"Sudah selesai?" tanya Aamir yang dijawab dengan anggukkan kepala oleh Naisha. Sedangkan wajah Naisha masih diselimuti rasa penasaran juga kebingungan dengan sosok laki - laki yang mencurigakan itu.


"Kenapa Naisha?" saat didalam taksi, Aamir bertanya kepada Naisha karena melihat wajah istrinya itu agak lain dan berubah. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Hhhmmm... Gak, Gak apa - apa Aamir." kata Naisha dengan tersenyum tipis.


"Aamir gak perlu tahu lah, mungkin orang itu cuman iseng aja. Ya.. Gak penting juga Naisha kamu memikirkan nya, sudahlah lupakan saja.." batin Naisha mengingatkannya.

__ADS_1


"Kalau ada apa - apa cerita donk, Sha. Jangan disimpan dan dipendam sendiri saja ya!" tutur Aamir seraya memegang lembut tangan Naisha.


"Iya, suami aku yang bawel.." sahut Naisha langsung dengan tertawa lepas.


Beberapa saat kemudian, mereka sampai di sebuah hotel mewah dan berada dekat dengan pantai. Aamir yang memang belum pernah menginap di tempat yang mewah seperti ini, langsung merasa takjub dengan mata yang berbinar - binar. Sedangkan Naisha terlihat biasa saja karena dia juga sering berpergian keluar kota dan menginap dihotel bersama Abi dan Umi nya.


Setelah Naisha check in, kemudian pegawai hotel tersebut mengantarkan mereka ke lantai 3, dimana mereka akan nginap dan tidur beberapa hari mendatang disana, yang sudah disiapkan khusus oleh Abi Naisha.


Saat didalam lift, ternyata ada seseorang laki - laki yang juga masuk bersama mereka dengan sebuah koper ditangannya. Dan.. Naisha langsung terperanjat kaget saat ia merasa tidak asing dengan laki - laki itu. Ya.. Laki - laki itu adalah laki - laki yang sama yang dengan sengaja menyenggol nya saat ditoilet bandara tadi. Naisna yakin dia orang yang sama karena pakaian dan penampilannya sama persis. Rasa curiga dihati Naisha pun semakin kuat bahwa lelaki ini ada maksud tertentu dengan mengikutinya sampai kesini.


"Tapi, mungkin saja cuman kebetulan Naisha dia menginap dihotel ini juga." kata hati Naisha yang mencoba berpendapat.


"Ini mencurigakan, Naisha. Dia kan sempat menyenggol kamu dengan kuat. Pasti ada sebab dan akibatnya itu." pikiran Naisha malah membantahnya.


Antara hati dan pikiran Naisha sedang berdebat hebat saat ini. Sehingga tanpa ia sadari, ia dan Aamir sudah keluar dari lift dan saat ini sudah berada didepan pintu kamar mereka.


"Eh, iya.." kata Naisha yang sadar dari lamuannya.


"MasyaAllah, luas juga ya kamarnya sayang. Bakalan betah dikamar sepertinya ni, sangat nyaman sepertinya." komentar Aamir sembari membaringkan tubuhnya keatas tempat tidur.


"Yuk kesini Naisha.. Baring didekat aku.." ajak Aamir seraya menepuk nepuk tempat tidur disebelahnya.


"Lah.. Langsung baring aja nih, entar deh.. Aku gerah, mau mandi dulu." tolak Naisha dan kemudian masuk kedalam mandi.


Beberapa saat kemudian, Naisha sudah selesai mandi dan ia tampak sedang mengeringkan rambut dengan handuknya. Sedangkan Aamir terlihat sedang menonton televisi. Lalu bersaman dengan itu pula terdengar ada yang mengetuk pintu kamar mereka. Dan Aamir langsung berdiri dan bergegas membukakan pintu kamar.


Tapi, saat pintu itu sudah dibukanya, tidak ada siapapun di luar sana. Aamir merasa heran, ia menoleh ke kiri dan ke kanan tapi tetap saja tidak melihat sosok manusia di Koridor kamar hotel tersebut.

__ADS_1


"Siapa, Aamir??" tanya Naisha setengah teriak dari dalam sana.


"Ngak ada siapa - siapa," jawab Aamir seraya mengangkat bahunya dan kemudian menutup pintu kamarnya kembali.


"Tapi, tadi terdengar ada yang ngetuk pintu lo." ujar Naisja yang mendengar jelas ada yang mengetuk pintu kamar mereka.


"Iya, tapi gak ada siapa - siapa." kata Aamir tanpa curiga sedikitpun. Sedangkan Naisna wajahnya langsung berubah panik. Ia teringat dengan laki - laki yang ia jumpai di toilet bandara dan juga di lift hotel tadi. Apakah mungkin...


"Sayang, kita makan apa siang ini?" tanya Aamir yang lagi - lagi membuyarkan lamunan Naisha tentang laki - laki tadi.


"Hhmmm.. Kamu mau kita makan diluar apa pesan saja dan diantar kekamar?" tanya Naisha dengan mengajukan pilihan.


"Bagusnya gimana sayang? Aku sih yang mana baiknya saja, makan diluar boleh atau makan dikamar juga boleh." kata Aamir.


"Ya sudah, kita makan diluarnya entar malam aja lah ya. Untuk siang ini kita pesan saja makanan dihotel." putus Naisha akhirnya yang langsung di iyakan oleh Aamir.


Selang beberapa menit kemudian, Pesanan merekapun sampai. Aamir yang mengambil makanan mereka keluar.


"Alhamdulilah, mari kita makan sayang.." ajak Amir dan meletakkan makanan tersebut keatas meja. Naisha juga bergegas kesana karena ia sudah merasa sangat lapar. Tapi, baru saja mereka akan menikmati makan siang, tiba - tiba saja pintu kamar mereka kembali diketuk dan kali ini dengan ketukan agak kencang dan berulang - ulang kali. Aamir dan Naisha pun langsung saling pandang..


,


,


,


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2