
Pak Marwan mengetuk pintu kamar Naisha dengan perlahan - lahan seraya memanggil namanya. Sekali panggilan, tidak ada sahutan. Pak Marwan semakin mengeraskan suaranya dan kali ini mengetuk pintu dengan agak keras.
"Iya, Iya Abi...." jawab Naisha dengan kesal seraya berjalan kearah pintu dan kemudian membukanya.
"Ada apa sih, Bi? Mengganggu saja!! Naisha sudah mau tidur nih." ketus Naisha dengan wajah kesal.
"Jangan pura - pura ngak tahu Naisha, pakai bilang mau tidur segala lagi. Kan tadi siang sudah Abi katakan kalau kamu akan dipertemukan dengan laki - laki yang akan dijodohkan dengan kamu. Dan kebetulan, dia sudah datang dan menunggu kamu tu dibawah sekarang." kata Pak Marwan dengan suara yang tegas.
"Iihhh... Apaan sih Abi, siapa juga yang mau ketemu dengan tu orang? Sudahlah.. Suruh pulang aja dia." kata Naisha dan kemudian hendak kembali masuk kedalam kamarnya, Namun Abi Naisha malah menahan tangan Naisha.
"Sekali ini saja Abi mohon sama kamu, Nai. Ikuti apa perintah Abi, jangan membantah!!" ujar Abi Naisha dengan suara yang tidak seperti biasanya. Abi Naisha terlihat lebih garang dan lebih tegas saat ini.
"Iya - iya, tapi sebentar saja ya. Cuman saling say hello doank.. setelah itu Naisha ke kamar lagi." kata Naisha dengan cuek karena ia sedang malas berdebat juga dengan Abinya. Namun, Abi Naisha tidak mengiyakan ataupun menyanggahnya.
Setelah itu, mereka berdua turun kebawah dengan Pak Marwan yang berjalan di bagian depan dan diikuti oleh Naisha dibelakangnya.
Dari atas tangga, Naisha melihat Pak Daud dan seorang pemuda berpakaian rapi duduk sambil menundukkan wajahnya sehingga Naisha tidak dapat melihat jelas wajah pemuda itu. Tapi, kendatipun demikian Naisha tidak mempedulikannya. Ia sama sekali tidak tertarik, seperti apapun rupa laki - laki yang akan dijodohkan kedirinya, tetap Naisha tidak peduli akan hal itu.
Akhirnya Naisha dan Abinya sudah berada diantara dua orang tamu itu, namun si pemuda masih juga belum mengangkat wajahnya. Dan detik kemudian, Pak Daud menyenggol bahu pemuda tersebut agar ia segera mengangkat wajahnya dan memandang Pak Marwan dan juga Naisha yang sudah berdiri didepan mereka. Dan setelah pemuda itu mengangkat wajahnya, barulah Naisha kaget tatkala melihat wajah pemuda yang tidak asing baginya.
Mulut Naisha langsung menganga dengan mata yang melotot kaget memandang wajah laki - laki yang berada disebelah pak Daud. Begitu juga dengan si lelaki tersebut, yang tidak kalah kagetnya dengan Naisha. Bahkan mulutnya tampak komat - kamit mengucapkan sesuatu yang tidak jelas tertangkap oleh telinga Naisha.
__ADS_1
"Ehemmm... Sepertinya mereka sudah saling kenal nih Pak Marwan." gumam Pak Daud dengan senyum - senyum tidak jelas. Pak Marwan mengerutkan keningnya, ia sungguh bingung dengan situasi saat ini. Sedangkan Naisha dan Aamir tampak saling pandang dengan ekspresi wajah mereka yang sama - sama kaget dan seakan tidak menyangka akan dipertemukan disini.
"Kalian memang sudah saling kenal ya?" Pak Marwan akhirnya bertanya dengan melihat Aamir dan Naisha secara bergantian. Naisha dan Aamir pun menganggukkan kepala mereka dengan serentak.
"Abi, jangan bilang jika laki - laki yang akan dijodohkan sama Naisha adalah.. Dia," ujar Naisha dengan mata yang masih melotot tajam melihat kearah Aamir.
"Memang dia, Naisha. Abi memang akan menjodohkan kamu sama Aamir." jawab Abi Naisha.
"Apaa??? Tidak.... Tidak... Ngak beres ini," kata Naisha sembari menggeleng - gelengkan kepalanya.
"Ngak beres kenapa, Naisha? Aamir ini pemuda yang sholeh, baik dan inshaAllah bisa membimbing kamu menjadi wanita shaliha, seperti yang Abi inginkan." kata Abi Naisha dengan keyakinan tinggi.
"Abi, Naisha tidak mau dijodohkan dengan Dia. laki - laki kaku, dingin, cuek, Belagu, ngak jelas, dan bahkan gak suka dengan wanita." ketus Naisha asal - asalan sehingga membuat mereka yang ada disana langsung beristighfar sambil mengelus - elus dada.
"Kamu duduk lah dulu, kita mulai pembicaraan kita dengan baik - baik." lanjut Abi Naisha lagi. Dan Naisha pun akhirnya duduk tepat didepan Aamir, mereka saat ini cuman terhalang sebuah meja panjang yang ada didepan mereka.
"Aamir, benar kamu sudah kenal sebelumnya dengan anak saya Naisha?" tanya Abinya Naisha ke Aamir.
"Iya, benar pak." sahut Aamir dengan cepat.
"Sejak kapan kamu kenal dengan Naisha, Aamir?" tanya Abi Naisha lagi. Namun, kali ini bukan Aamir yang menjawabnya, tapi Pak Daud lah yang menjawab dan bercerita panjang lebar ke mereka tentang apa yang sudah Aamir ceritakan tadi ke dirinya. Pak Daud mengulang semua itu dengan sangat sempurna. Pak Marwan yang mendengarkannya, seakan terpana dengan sekali - sekali menggelengkan kepalanya lalu menatap tajam kearah Naisha. Dia sungguh merasa geram dan tidak habis pikir, bahwa bisa - bisa anak gadisnya itu berbuat demikian. Menggoda laki - laki sholeh seperti Aamir.
__ADS_1
Sedangkan Naisha hanya bisa pasrah dan tertunduk malu ditempatnya, ia tidak berani melihat kearah Abinya yang mungkin sangat marah dengan apa yang telah ia perbuat ke Aamir beberapa hari belakangan ini di Mesjid. Dan terlepas dari itu semua, Naisha juga merasa sakit hati dan kesal terhadap Aamir yang menceritakan tentang semua perbuatannyanya kepada pak Daud.
"Dasar tukang ngadu, cowok belagu..!!" umpat Naisha didalam hatinya.
Setelah selesai pak Daud bercerita, Abi Naisha langsung menarik nafas panjang dengan matanya tidak lepas melihat kearah Naisha yang hanya diam menunduk.
"Naisha..!!" panggil Abi Naisha dengan suara yang agak keras. Naisha langsung mengangkat wajahnya dan melihat Abinya dengan menggigit bibir bagian bawahnya.
"Abi tidak mau tahu apa sebenarnya niat kamu datang ke mesjid beberapa kali dan menemui Aamir, entah itu cuman keisengan kamu saja atau malah sebaliknya. Tapi, yang jelas Naisha.. Apa yang kamu inginkan ke Aamir akan segera menjadi kenyataan. Abi akan tetap menikahi kamu dengan Aamir," kata Naisha dengan tegas dan lantang. Naisha langsung memasang wajah protesnya, sedangkan Aamir hanya diam saja dengan wajah yang datar, entah menyetujui ataukah menolaknya?
"Tapi, Abi... Naisha gak mau, Abi gak bisa maksa - maksa Naisha seperti ini donk." protes Naisha dengan gusar.
"Abi tidak meminta persetujuan kamu, Naisha. Yang terpenting Aamir mau dan menyanggupinya. Benarkan Aamir?" kata Abi Naisha dengan melihat kearah Aamir dengan tersenyum hangat. Aamir yang masih merasa bingung, tidak tahu harus berkata apa tapi melihat senyuman hangat yang diberikan pak Daud itu sehingga membuat dirinya tidak tega jika mengatakan tidak. Maka, iapun menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Naisha benar - benar geram melihat tingkah Aamir tersebut. Namun, tiba - tiba saja sebuah ide cemerlang muncul dipikirannya. Sebuah ide yang langsung membuatnya tersenyum lebar...
...🌸🌸🌸🌸...
BERSAMBUNG...
.
__ADS_1
.
.