
Malam pertama Aamir tinggal dan tidur dirumahnya Pak Marwan, belum membuahkan hasil apapun untuk membuat Naisha menurutinya. Jangankan menurutinya, mendengar perkataannya saja Naisha tidak mau. Wanita itu malah menutup telinganya rapat - rapat dengn menggunakan bantal. Dan alhasil, Aamir gagal total membangunkan Naisha untuk sahur dini hari tadi.
"Naisha, kamu tahu kan puasa itu wajib bagi Umat Muslim? Cuman 1 bulan dalam setahun kita diperintahkan Allah untuk berpuasa, Tapi..kenapa kamu tidak mau menjalankannya? Apa Kamu tidak takut dosa, Naisha? Kamu tidak sedang halangan seperti yang kamu bilang ke Abi kamu kan?"
Pagi itu, Naisha yang baru saja selesai dan keluar dari kamar mandi langsung saja ditodong dengan pertanyaan tersebut oleh Aamir. Tentu saja, siraman rohani di pagi hari itu membuat mood Naisha menjadi tidak baik.
"Eh, bawel...!! Ini masih pagi, jangan rusak mood aku dengan celotehan kamu yang tidak berguna itu ya. Karena percuma, gak akan ngaruh apa - apa bagi aku." umpat Naisha dengan jutek.
"Astaghfirullahal'azim, Naisha. Bicaralah yang sopan, bagaimanapun aku ini sudah menjadi suami kamu. Kamu gak sepantasnya berbicara kasar seperti itu," tegur Aamir dengan suara yang tenang. Namun, bukannya mintak maaf, Naisha malah tertawa dengan keras.
"Hahahahahaha...Suami? Sakit banget telinga aku dengar ucapan sok wibawa kamu itu, Aamir. Suami.. Suami.. Cih.. Suami apaan.. Aku gak pernah merasa menjadi istri kamu, hihihihii..." ketus Naisha dengan ekspresi mencibir dan meledeknya.
__ADS_1
"Naisha, jika kamu tidak mau menganggap aku sebagai suami kamu. Lantas kenapa kamu mau menerima perjodohan ini? Seharusnya kamu menolaknya kan saat Abi menyuruh kamu untuk menikah dengan aku." kata Aamir masih dengan bawaanya yang tenang itu.
"Eh, itu urusan aku. Terserah akulah, suka - suka aku donk. Kamu gak usah tanya - tanya kenapa, yang jelas sekarang ini.. kamu tinggal tunggu saja tanggal mainnya ya. Nantik kamu bakalan tahu sendiri kenapa aku mau menikah dengan laki - laki kaku dan belagu seperti kamu, Aamir." kecam Naisha dengan melototkan matanya.
Setelah itu, Aamir tidak lagi membalas ucapan Naisha. Hanya helaan nafas berat yang keluar dari lidannya, didalam hati Aamir berusaha menguatkan dirinya agar mampu bertahan dengan sikap Naisha yang keras ini.
"Baru satu hari, Aamir. Sabar.. Tenang.. Coba lagi pelan - pelan.." bathin Aamir yang menenangkan hatinya.
"Naisha.." panggil Aamir saat dirinya sudah disamping wanita itu.
Naisha berhenti sejenak mempoles dirinya, dengan jelingan matanya yang sombong itu ia melirik Aamir dengan tatapan sinis. Namun, ia sama sekali tidak menjawab panggilan dari suaminya itu.
__ADS_1
"Kamu.. Kemarin bilang, kalau kamu ingin belajar tentang islam kan? Dan..Kamu mau belajarnya dengan aku kan, Naisha?" tanya Aamir dengan suara yang lembut, dan iapun semakin mendekatkan dirinya ke Naisha.
Naisha langsung menyunggingkan senyum sinis nya setelah mendengar pertanyaan dari Aamir tersebut, dan detik kemudian dia membalikkan badannya dan ketika itu pula wajah Naisha berhadapan langsung dengan Aamir. Namun, Naisha belum mengeluarkan suara. Hanya tatapan garang yang sedang ia tunjukkan ke Aamir.
"Jadi, sekarang lah waktu yang tepat. InshaAllah aku akan membimbing kamu, Naisha. Kita sama - sama belajar, Kamu mau belajar sama aku kan?" Aamir masih melanjutkan ucapannya. Ia sedang berusaha membujuk wanita yang ada dihadapannya ini. Namun, ternyata bujukan yang barusan ia lakukan itu tidak berarti apapun bagi Naisha. Buktinya, setelah kata terakhir yang diucapkan oleh Aamir itu membuat Naisha berdiri dan dengan gerak cepat langsung saja menolak tubuh Aamir dengan sangat kuat, sampai - sampai Aamir bergeser beberapa langkah kebelakang.
"AKU GAK BUTUH ITU LAGI...!!" Teriak Naisha dan setelah itu keluar dari kamar, dengan sebelumnya Naisha sempat menendang pintu kamarnya dengan kuat juga.
"Ya, Allah.." desis Aamir yang benar - benar tidak menyangka Naisha akan bertindak kasar seperti itu.
...💟💟💟💟...
__ADS_1