Jalan Menuju CahayaMu

Jalan Menuju CahayaMu
BAB 54


__ADS_3

Keesokan harinya, Naisha dan Aamir menghabiskan waktu siang mereka didalam kamar hotel saja karena cuaca diluar sana tidak mendukung untuk mereka pergi jalan - jalan keluar.


"Hhhmm.. Hujan - hujan begini, enaknya makan yang hangat - hangat ya." celetuk Naisha yang lagi baring - baring diatas tempat tidurnya.


"Kamu mau pesan makanan? Biar aku telponkan petugas hotelnya. Mau pesan apa?" tanya Aamir yang baru selesai mendengar murotal Qur'an dari handphonenya.


"Iya, pesan mie rebusnya sepertinya enak. Kamu pesan juga gak sayang?" tanya Naisha lagi.


"Bolehlah, aku pesan kan dua ya." kata Aamir dan kemudian ia pun menelpon pelayan hotelnya.


Setelah itu, sembari menunggu pesanan mereka sampai, Aamir berpindah tempat dan ikutan baring juga disamping istrinya itu.


"Sayang.. Umur kamu berapa ditahun ini?" !tanya Aamir tiba - tiba.


"Ha? Kenapa emangnya, tiba - tiba tanyain umur aku, Aamir..?" Naisha balik bertanya dengan tawa kecilnya.


"Ya.. apa salahnya aku tau umur istri aku yang cantik jelita ini berapa.." kata Aamir yang akan memegang hidung mancung nya Naisha. Namun, Naisha langsung buru - buru menghindarinya.


"Hhhmmm... Iya deh, suami aku yang tampan.. Umur aku sekarang, InshaAllah di bulan depan nih tepat 24 tahun." kata Naisha.


"Jangan lupa ya siapkan kado untuk aku bulan depan." lanjut Naisha lagi dengan tertawa lepas.


"InshaAllah, nantik aku siapkan. Tapi, Tanggal berapa sayang kamu ulang tahunnya?" tanya Aamir lagi. Dan Naisha kemudian menyebutkan tanggal kelahirannya dengan lengkap.


"Nah, kamu tau gak kenapa aku tiba - tiba tanya umur kamu berapa?" tanya Aamir lagi yang langsung dijawab dengan gelengan kepala oleh Naisha. Dia juga bertanya - tanya kenapa suaminya itu bertanya perihal umur.


"Karena ternyata.. Aku lebih tua tiga tahun dari kamu, Naisha.." kata Aamir.


"Oh ya? Aku pikir kita sebaya lo, ternyata kamu lebih tua ya, tapi gak kelihatan deh. Wajah kamu masih baby face banget, Aamir. Kamu awet muda..." komentar Naisha terlihat agak kaget. Ia memang tidak pernah bertanya tentang berapa umur Aamir, karena Naisha menduga selama ini Aamir sebaya dengan dirinya atau bahkan masih di bawahnya.


"Benaran aku awet muda? Aku jadi tersanjung nih kamu puji seperti itu," ungkap Aamir dengan tersenyum simpul.


"Benaran.. Kalau gak percaya coba kamu tanya ke orang - orang, teman kamu atau siapa gitu kek. Suruh mereka nebak umur kamu berapa, pasti tebakan mereka dibawah usia kamu sekarang ini." kata Naisha dengan yakin.


"Iya sayangku, aku percaya kok. Gak mungkin Naisha ku yang cantik ini berkata sesuatu yang tidak sesuai dengan kata hatinya," kata Aamir dengan balik memuji Naisha dengan kata - kata romantisnya.

__ADS_1


"Kamu gak cocok ngomong gitu lo Aamir, terdengar kaku,hehehe..." kata Naisha dan kembali tertawa lepas. Aamir juga ikutan tertawa.


"Ya aku memang gak bisa romantis, Naisha, ini aku lagi belajar dan berusaha untuk bersikap romantis sama kamu, istri aku. Karena setahu aku perempuan itukan paling suka kalau diromantisin, Benar gak begitu..?" ujar Aamir dengan tersenyum salah tingkah.


"Gak semua perempuan kali yang suka diromantisin, Aamir.." ujar Naisha dan kemudian mendorong pelan tubuh Aamir.


"Iya, Iya.. Nah terkait yang tadi itu maksud aku.. Bagaimana kalau panggilan kamu ke aku diubah.. jangan panggil nama kalau bisa sayang.." kata Aamir dengan memberi saran.


"Jadi panggil apa donk? Abang? Mas? Kakak? Atau.. Apa nih?" tanya Naisha yang langsung memberikan opsi.


"Panggil Abang saja gak apa - apa," kata Aamir dengan tersenyum lebar.


"Ok, siip.. Mulai hari ini aku akan panggil suami aku dengan sebutan Abang Aamir yang tampan dan menawan, hehe.." kata Naisha lalu tertawa kegirangan.


"Kalau aku panggil kamu sayang aja ya? Biar lebih romantis, hehe.." kata Aamir dengan menggoda Naisha.


"Iihhh... Dari tadi romantis - romantis saja yang dibahas," ujar Naisha dan kembali mendorong tubuh Aamir.


"Karena cuaca mendukung mungkin sayang jadi pengen nya romantis - romantisan sama kamu.." kata Aamir kemudian melihat Naisha dengan tatapan mautnya.


"Ya gak apa - apa, emang ada larangan ya kalau gak boleh romantisan di pagi hari? Gak ada kan sayangku???" tanya Aamir lagi masih dengan tatapan menggodanya itu.


"Iya, Iya.. Tapi ni perut sudah berteriak - teriak mintak maaf lo. Lapar banget.. Mana nih kok belum sampai pesanan kita ya.." kata Naisha dan kemudian memegang perutnya yang keroncongan.


"Bentar aku telpon lagi orangnya." kata Aamir, tapi baru saja Aamir akan menelpon, tiba - tiba ia mendengar suara orang yang mengetuk pintu kamar mereka.


"Nah, itu pesanannya datang. Aku ambilkan dulu ya." kata Aamir dan kemudian menuju ke pintu.


Saat ia membuka pintu, ternyata bukan petugas hotel yang datang melainkan seorang wanita. Dan wanita itu ternyata adalah Shera.


"Hai, Maaf.. Aku ganggu waktunya sebentar." kata Shera sembari menyapa Aamir dengan ramah.


"Iya, ada apa ya?" tanya Aamir dengan datar.


"Aku mau mintak tolong sama kalian, telpon dikamar aku gak bisa digunakan lagi. Entah kenapa ya? Padahal kemarin sudah diperbaiki sama petugas hotelnya." keluh wanita tersebut.

__ADS_1


"Jadi, mau pinjam telpon lagi ya?" tanya Aamir dengan nada dingin.


"Iya, benar. Boleh ya aku masuk?" tanya Shera. Tanpa menunggu persetujuan dari Aamir, perempuan itu langsung saja menerobos masuk kedalam kamar Aamir dan Naisha.


"Hai.. Kamu Shera.." sapa Naisha ketika melihat Shera yang datang. Naisha agak kaget juga dengan kehadiran Shera yang tiba - tiba itu.


"Iya, Maaf ya Naisha aku mengganggu waktu kalian. Aku mau pinjam telpon lagi boleh kan??" tanya Shera dengan membetulkan letak kaca matanya itu.


"Ya tentu boleh donk, silahkan aja dipakai." kata Naisha yang masih merespon baik kehadiran Shera disana. Sedangkan Aamir terlihat biasa saja. Bukannya dia tidak ramah tapi begitulah sikap Aamir terhadap wanita yang bukan mahramnya. Sama seperti dengan Naisha dulu, awalnya sangat cuek tapi setelah menjadi suaminya Naisha, Aamir bisa sangat romantis dan memberikan perhatian yang penuh kepada Naisha.


Beberapa saat kemudian, pesanan Aamir dan Naishapun sampai. Melihat makanan itu, membuat Shera menjadi ngiler.


"Ada dua mie rebus, boleh gak untuk saya yang satunya lagi? Saya lapar banget nih Naisha.. Entar yang pnya kamu atau suami kamu dipesan lagi, boleh ya?" tanya Shera dengan setengah memelas dan memohon kepada Naisha.


"Ee... Gitu ya," Naisha jadi serba salah, lalu ia melirik kearah Aamir untuk meminta persetujuan.


"Gak apa - apa, mienya dikasih untuk dia saja. Punya aku nantik juga gak apa - apa." kata Aamir akhirnya mengalah.


"Alhamdulilah, terimakasih ya Naisha dan juga suaminya Naisha." ucap Shera dengan melihat Aamir dan Naisha secara bergantian.


"Mas.. Buatkan satu lagi yang seperti ini juga dan antar kesini lagi ya?" perintah Naisha kepada pelayan tersebut.


"Oya, aku boleh makan disini kan? Dikamar aku sendirian soalnya, jadi.. suntuk juga sih sendirian dikamar. Kata orang makan itu akan lebih nikmat jika makan bersama - sama, kalau sendiri makanan yang enak pun bisa jadi gak enak. Ternyata memang benar pepatah itu, karena aku sudah merasakannya.." Shera malah nyerocos panjang lebar. Naisha dan Aamir hanya bisa saling pandang melihat sikap tetangga sebalah hotel mereka itu..


...🌺🌺🌺🌺...


BERSAMBUNG...


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2