
Naisha membuka matanya perlahan - lahan, saat matanya sudah terbuka ia mendapati dirinya sudah berada didalam kamar, tepatnya diatas tempat tidurnya seorang diri. Kemudian, mata bulat Naisha langsung saja melirik jam dinding dikamarnya yang sudah menunjukkan pukul 5 subuh.
Naisha kemudian memijit keningnya yang terasa berdenyut sambil mencoba memulihkan kembali ingatannya tentang kejadian malam tadi.
Naisha ingat malam tadi ia pulang dari sebuah cafe diantar oleh Tari dan Mely. Dan disaat mereka di cafe, Naisha iseng minum minuman beralkohol, bukan cuman satu gelas, lebih dari 3 gelas malahan. Padahal teman - temannya sudah melarang Naisha, namun entah mengapa malam tadi ia begitu penasaran untuk mencoba minuman keras tersebut.
Alhasil Naisha pulang dengan keadaan yang tidak menentu, ia merasakan kepalanya sakit, berdenyut dan pandangannya semakin lama semakin tidak jelas, belum lagi tubuhnya seakan berat, sampai - sampai Naisha tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya sendiri dalam berjalan. Naisha baru tahu bahwa beginilah rasanya kalau sedang mabuk karena minuman keras.
Setelah itu, Naisha kembali merunuti ingatannya lagi hingga dirinya sampai dirumah dan.. Bertemu dengan Aamir. Yah.. Naisha baru ingat bahwa Aamir sempat mencoba menolongnya ketika Naisha hampir terjatuh. Naisha juga sempat memarahi laki - laki itu dan sampai akhirnya.. Naisha tidak ingat apa - apa lagi.
Naisha kini sudah mengangkat tubuhnya dengan posisi setengah duduk, dan seketika itu pula ia membuka selimut yang menutupi tubuhnya dan.. Betapa kagetnya Naisha saat ia melihat dirinya memakai baju tidur yang padahal sudah lama tersimpan dilemari dan tidak pernah lagi dipakainya. Naisha mengerutkan keningnya tanda bingung.
"Masak tadi malam aku milih baju ini sih untuk dipakai tidur?" Naisha bertanya pada dirinya sendiri masih dengan ekspresi yang bingung dan tidak yakin ia yang memakai baju itu ke tubuhnya.
Bersamaan dengan itu pula, Bik Lasmi, Pembantu di rumah Naisha pun masuk dengan sebelumnya mengucapkan salam. Karena pintu kamar Naisha tidak terkunci, maka Bik Lasmi langsung masuk saja kedalam dengan membawa makanan dan segelas susu untuk Naisha.
"Alhamdulillah.. Non Naisha, akhirnya Non sudah sadar ya?" ucap Bik Lasmi dengan girang.
__ADS_1
"Apa? Sadar? Memangnya Naisha kenapa kok pertanyaannya aneh gitu?" tanya Naisha dengan heran.
"Iya, Non. Kata Den Aamir tadi malam Non Naisha sempat pingsan diteras depan rumah, sepulang dari main sama teman - teman Non." jelas Bik Lasmi. Naisha langsung melongo dengan matanya yang melotot kaget.
"Naisha pingsan? Jadi.. Yang bawa Naisha kekamar, Bik Lasmi ya?" tanya Naisha yang berharap Bik Lasmi lah yang membawanya kekamar dan mengganti bajunya.
"Bukan Non, bibik Mah baru tadi diberitahu Sama Den Aamir sebelum dia pergi kemesjid." sanggah Bik Lasmi.
"Beritahu apa?" Naisha kembali bertanya.
"J-Jadi.. yang bawa Naisha kekamar siapa? Dan.. siapa pula yang memakaikan Naisha baju jelek ini?" tanya Naisha lagi dengan wajah kesalnya melihat baju yang tidak lagi disukainya itu.
"Kok pakai tanya lagi sih, Non." kata Bik Lasmi dengan tersenyum simpul.
"Ya jelas donk yang bawa Non kekamar dan menggantikan baju Non Naisha adalah suami Non sendiri, den Aamir yang tampan dan sholeh itu, hihihi.." ucap Bik Lasmi dengan gayanya yang centil itu.
"Hahh?? Apa?? Laki - laki kaku dan belagu ituuu??" tanya Naisha setengah berteriak sehingga membuat bik Lasmi terperanjat kaget sambil menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Ngak benar nih, berani - berani nya dia nyentuh aku!" umpat Naisha didalam hatinya. Naisha masih menggerutu tak jelas dengan wajah yang kesal dan gondok nya itu. Bik Lasmi yang melihat wajah Naisha berubah garang seperti itu, langsung saja pamit keluar dari kamarnya Naisha.
"Bisa - bisanya dia gendong aku? Iiihhh... Dasar, laki - laki brengsek. Mencari kesempatan dalam kesempitan, dan.. Ini.. Berarti baju aku dia yang gantikan. Kurang ajaaaarrrr....!!" Naisha berteriak histeris membayangkan bagaimana bajunya dilepas oleh Aamir.
"Ngak bisa dibiarkan, Pelecehan ini namanya." kata Naisha dengan geram dan kemudian ia turun dari tempat tidur dan hendak menuju keluar menyusul Aamir. Namun, baru saja Naisha sampai didepan pintu, Aamirpun nongol didepan sana dengan wajah polosnya.
"Naisha, kamu sudah sadar?Alhamdulillah.." ucap Aamir yang langsung bersyukur. Tapi, tidak dengan Naisha. Wanita itu yang sudah tersulut emosi langsung saja melayangkan sebuah pukulan yang keras tepat di pipinya Aamir. Bukan hanya sekali, tapi dua kali. Kiri dan kanan. Tentu saja Aamir yang mendapatkan serangan iba - tiba itu merasa sangat kaget sehingga tidak sempat sama sekali untuk menghindarinya. Ia hanya bisa pasrah menerima dua buah pukulan sekaligus di pipinya. Sebuah Tamparan yang kuat dari istrinya sendiri...
...💕💕💕💕...
BERSAMBUNG...
.
.
.
__ADS_1