
Keesokan harinya, seperti yang sudah direncanakan oleh Abi Naisha bahwa ia akan mengundang keluarga Pak Daud untuk makan malam bersama dirumah mereka. Acara syukuran yang rencana awal diadakan kecil - kecilan saja tapi atas usulan dari Umi Sofia dimana ia mengusulkan untuk sekalian saja mereka buat halal bihalal dirumah mereka karena mumpung masih suasana lebaran. Usulan dari Umi Sofia langsung disetujui oleh Pak Marwan dan jadilah mereka mengundang para tetangga dekat disekitaran komplek, pengurus mesjid dan juga keluarganya Aamir dikampung.
Sampailah disore hari, dimana keluarga terdekat Pak Marwan sudah mulai tampak berdatangan di rumahnya Pak Marwan. Begitu juga Ibu Aamir dan Syifa yang baru sampai tepat menjelang masuk waktu maghrib.
"Naisha, ibuk sama Syifa sudah sampai tuh, ada dibawah sekarang. Yuk kita kebawah," ujar Aamir yang memberitahu Naisha dan kebetulan Naisha ada didalam kamar.
"Oh ya? Sebentar ya Aamir, bilang sama ibuk dan Syifa.. aku siap - siap dulu ya. Skeitar 10 menit lagi aku turun kebawah, Oke?" kata Naisha dan kemudian bergegas memilih gamis terbaiknya yang ada didalam lemari. Aamir mengiyakan dan kemudian ia pun kembali turun kebawah.
Ibu Aamir yang bernama Ibu Mira itu tampak sedang berbincang - bincang hangat bersama Umi Sofia, mereka terlihat sangat akrab walaupun baru beberapa kali bertemu.
"MasyaAllah, buk Mira. Ibuk beruntung sekali memiliki anak yang baik budi seperti Aamir. Lelaki yang sholeh, pintar dan rajin juga.." puji Umi Sofia sembari menyentuh lembut pundak Ibu Mira.
"Alhamdulilah, Tapi Bu Sofia juga beruntung sekali mempunyai anak secantik Naisha. Sudah cantik, lemah lembut, shaliha lagi." kata Ibu Mira yang juga memuji Naisha.
"Iya, buk. Itu semua berkat Aamir, karena Aamir lah yang sudah merubah Naisha menjadi seperti saat ini." Kata Umi Sofia dengan tersenyum simpul.
"Maksudnya, buk? Bagaimana ya? Saya kurang paham." kata Ibu Mira yang jelas saja tidak tahu bagaimana aslinya Naisha sebenarnya." kata Ibu Mira dengan bingung.
"Lah.. Emangnya Ibu Mira gak tahu ya sifat Naisha sebenarnya seperti apa. Aamir gak pernah cerita ke ibu Mira ya?" tanya Umi Sofia dengan heran. Ibu Mira hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak tahu, karena memang Aamir tidak pernah mengadukan apapun perihal Naisha, apalagi yang buruk - buruk.
Pembicaraan mereka terpotong saat Aamir datang dan bergabung diantara mereka. Setelah itu, Umi Sofia pamit sebentar keluar karena ada tamu lain yang datang, ia bermaksud untuk menyambut tamu tersebut.
"Buk, Sudah lapar? Mau Aamir ambilkan makanan sekarang?" tanya Aamir ke Ibuknya.
__ADS_1
"Nantik saja, Nak. Setelah sholat maghrib." jawab Ibuk Aamir.
"Kalau kamu bagaimana Syifa?" tanya Aamir yang mengalihkan pandangannya ke Syifa yang lagi mencicipi cemilan yang dihidangkan disana.
"Ni Syifa sudah cicipi ini, jadi makan nasinya nantik aja bang.." sahut Syifa.
"Oo ya sudah, nantik ambil sendiri saja ya!" kata Aamir.
"Oke Abangku, Siip.." jawab Syifa dengan semangat.
"Oh iya, Aamir.. Tadi Ibuk sempat berbincang - bincang dengan buk Sofia dan dia bilang kalau kamu sudah berhasil merubah Naisha. Itu maksudnya apa ya Aamir? Ibuk gak mengerti, memang Naisha nya kenapa? Sampai - sampai buk Sofia pun bertanya apa ibuk gak tahu sifat Naisha dulunya seperti apa?" tanya Buk Mira dengan suara yang setengah berbisik karena suasana disana yang sudah mulai ramai, takut saja pembicaraan mereka ada yang mendengarnya.
Aamir terdiam sejenak, memang benar. Ibuknya dan juga Syifa tidak pernah tahu mengenai sifat dan keburukan Naisha dulu terhadapnya, karena bukan Aamir yang tak mau jujur tapi lagi - lagi Aamir yang menganggap itu adalah aib Naisha, dan Naisha sendiri adalah istrinya maka Aamir memiliki kewajiban untuk menyembunyikan aib itu sebisa mungkin, bukan malah sebaliknya, menyebarluaskan aib tersebut ke orang - orang termasuk ibuk dan adiknya sendiri.
"Ya Allah, Aamir.. Ibuk gak pernah menyangka kamu menjalani hal yang sulit seperti ini di awal - awal pernikahan kamu. Tapi, syukurlah itu tidak berlangsung lama. Allah Maha Baik Nak, Dia memampukan kamu untuk merubah seseorang yang dulunya jauh dari kata baik tapi sekarang InshaAllah sudah menjadi baik. Ibuk benar - benar bangga sama kamu, Nak. Semoga ini bisa menjadi amal jariah juga bagi kamu. Hidup kamu di penuhi keberkahan dan keselamatan.." ujar ibuk Aamir dengan memberikan doa - doa terbaiknya untuk Aamir.
"Aamiin... Allahumma 'Aamiin.." sahut Aamir dengan hati yang khusuk.l
Setelah itu, adzan maghrib pun berkumandang. Aamir izin ke ibuknya untuk sholat dimesjid sedangkan Ibuknya dan Syifa sholat di mushola rumahnya Naisha.
Setelah mereka selesai sholat, Naisha yang juga sudah sholat langsung saja menghampiri mertua dan adik iparnya di mushola kecil yang ada didalam rumahnya.
Naisha menyapa hangat mereka bedua dengan tersenyum lepas. Ia salami mereka juga dengan begitu hangat.
__ADS_1
Setelah itu, mereka mengobrol - ngobrol sejenak. Ibu Aamir tidak berhenti memuji Naisha yang malam itu kelihatan sangat cantik menggunakan gamis hitamnya. Naisha hanya tersipu malu menerima pujian dari mertuanya tersebut.
Beberapa saat kemudian, acara pun dimulai. Ustad Ghufron yang kebetulan hadir malam itu, dimintai untuk memimpin membaca doa syukurannya.
Naisha duduk diantara mertua dan istrinya ustad Ghufron yang bernama Anandita. Wanita bercadar itu terlihat kurang ramah karena beberapa kali Naisha mencoba menyapanya tapi entah kenapa ia selalu membuang muka. Entah mungkin dia tidak mendengar atau Naisha saja yang terlalu sensitif. Lagi pula, Naisha bukan tidak kenal dengan dia. Anandita merupakan kakak kelasnya saat Naisha masih SMA. Karena mereka bertetangga, jadi mereka selalu pergi dan pulang sekolah berbarengan. Mereka sempat dekat dan akrab saat itu, sampai akhirnya Anandita lulus dan melanjutkan kuliahnya kekota lain. Setelah itu, mereka jarang bertemu dan berkomunikasi lagi.
Meskipun jarang bertemu, tapi Naisha selalu mendapatkan informasi mengenai Anandita dari Abinya. Dulu.. Anandita lebih kurang sama dengan dirinya, dari segi penampilan yang selalu mengedepankan kemodisan dan keseksian malahan. Anandita yang susah diatur, yang sesuka hatinya dalam bertindak, yang sombong dan bahkan hidupnya terlalu bebas. Sampai - sampai Pak Daud, Ayahnya selalu mengeluhkan hal itu ke Abi Naisha.
Sampai akhirnya, Naisha mendapatkan kabar bahwa Anandita dinikahkan Ayahnya dengan seoarang ustad Muda saat itu yang tinggal di mesjid. Dan dialah suaminya sekarang, ustad Ghufron. Yang memiliki wajah yang tampan dan dikenal banyak orang sebagai ustad yang ramah dan baik hati. JAdilah sekarang, Ustad Ghufron mampu merubah Anandita 180 derajat malahan. Anandita bukan hanya menutup auratnya secara sempurna, bahkan dia mampu menutup wajahnya dengan bercadar yang Naisha akui dirinya pasti tidak sanggup sampai melakukan seperti yang Anandita lakukan. Dan Naisha merasa jalan hidupnya kini lebih kurang sama dengan Anandita.
Setelah acara doa selesai, maka dilanjutkan dengan makan bersama. Naisha tidak ikut makan karena ia belum merasa lapar, ia memilih kedepan teras rumahhnya untuk mencari udara segar dimalam hari yang lumayan gerah itu.
Saat tiba didepan pintu keluar, Naisha melihat Anandita sedang telponan dan.. Wanita itu terlihat sesegukan. Anandita seperti sedang menangis.. Naisha penasaran, sebenarnya ia tidak berniat untuk menguping, akan tetapi.. Ia tidak sengaja mendengar sebuah kalimat yang meluncur jelas dari lisannya Anandita. Kalimat yang membuat Naisha langsung terpana dengan mata yang terbelalak kaget...
...🌺🌺🌺🌺...
BERSAMBUNG...
.
.
.
__ADS_1
.