Jalan Menuju CahayaMu

Jalan Menuju CahayaMu
BAB 41 (MEMBERIKAN YG TERBAIK)


__ADS_3

Hari berganti hari dengan begitu cepat, tidak terasa sudah enam bulan Naisha dan Aamir menikah. Dan hampir selama itu pula Naisha hijrah dan berubah menjadi wanita yang lebih baik lagi dari sebelumnya. Atas saran dari Aamir Naisha mulai mengikuti kajian - kajian bersama wanita - wanita muslimah dimesjid ataupun di tempat lainnya. Naisha tampak antusias belajar dan mengkaji ilmu agama yang selama ini ia buta sekali akan itu.


Tentu saja Abi dan Umi Naisha sangat mendukung aktifitas positif yang diikuti Naisha hampir setiap harinya. Apalagi dengan kesibukan aktifitassnya itu, membuat Naisha jadi jarang berkumpul dengan Tari dan Mely. Bukannya Naisha tidak mau lagi berteman dengan mereka, akan tetapi Naisha yang tidak mau menghabiskan waktunya untuk melakukan perbuatan yang sia - sia ataupun yang tidak ada manfaatnya. Kecuali jika sekali - sekali, Naisha ikut juga sama mereka meskipun Naisha selalu menegaskan tidak mau pulang malam dan pergi atas izin dari suaminya, Aamir. Lama kelamaan Tari dan Mely menjadi malas dan engan untuk mengajak Naisha lagi.


Sedangkan Aamir saat ini disibukkan dengan proses pendaftaran kuliah S2 nya. Yah.. Seperti janji yang pernah diberikan oleh Abi Naisha bahwa ia akan mengkuliahkan Aamir sampai ke jenjang yang tinggi agar setelah lulus Aamir bisa mengajar ataupun menjadi dosen.


"Kamu bagus sekali kalau jadi dosen, Aamir. Kamu punya skill dan kemampuan dibidang itu. Makanya Abi main kuliahkan kamu, lagi pula.. Kamu sudah berhasil merubah Naisha, anggap saja ini sebagai tanda rasa terimakasih Abi ke kamu." jelas Abi Naisha saat itu ketika Aamir hendak menolak tawaran Abi Naisha yang ia rasa tidak pantas untuk ia Terima.


Aamir bersyukur dan berterimakasih kepada Abi Naisha atas semua kebaikannya, karena memang.. Setelah selesai S1 dari jalur beasiswa, Aamir pernah mempunyai keinginan untuk melanjutkan S2 karena dia memang bercita - cita ingin menjadi dosen di jurusan dakwah ataupun bahas Arab yang


dikuasainya. Sedangkan untuk menjadi dosen minimal pendidikan harus S2. Karena kendala biaya yang tidak ada, ditambah lagi beasiswa pun belum memadai untuk itu, makanya Aamir kubur dulu impian nya itu sejenak dan ia memilih untuk menjadi ustad, guru ngaji dan marbot di mesjid Takwa. Walaupun gajianya tidak besar, namun cukup untuk membiayai dirinya dan juga ibu dan adiknya Syifa.


Sedangkan mengenai kuliah Naisha, atas saran dan dukungan dari Aamir maka Naisha pun juga akan kembali menyelesaikan kuliahnya yang sudah lama terbengkalai. Naisha sebenarnya malas dan juga gak yakin apakah otaknya masih mampu menerima perkuliahan nantinya. Tapi, lagi. - lagi Aamir selalu memberikan kata - kata semangat untuk Naisha sehingga menimbulkan rasa kepercayaan didalam diri Naisha.


"Bismillah Naisha, aku akan bantu kamu juga semampu aku. Yang penting kamu bertawakal, berdoa, InshaAllah.. Niat baik akan mendatangkan kebaikannya juga. Karena sayang sekali Naisha, Abi kamu sudah menghabiskan banyak uang untuk biaya kuliah kamu, tapi kamunya tidak kuliah dengan serius. Padahal diluar sana, kita bisa melihat banyak orang yang tidak seberuntung kamu, punya keinginan untuk kuliah tpi tidak mempunyai biaya. Jadi, selagi Allah memberikan keberuntungan ini kepada kamu, manfaatkan lah sebaik mungkin Naisha. Dengan begitu, kita sudah termasuk Hamba Allah yang memiliki rasa syukur yang tinggi." jelas Aamir saat itu yang membuat Naisha langsung tersentuh hatinya dan akhirnya memutuskan untuk kembali melanjutkan kuliahnya.

__ADS_1


Setelah Abi Naisha tahu Naisha akan melanjutkan kuliahnya lagi, lelaki paruh baya itu langsung bersorak bahagia. Tidak dapat diungkapkan rasa bahagia yang ia rasakan saat itu. Lagi - lagi Aamir mendapatkan nilai plus dimata Abi Naisha. Aamir yang banyak memberikan perubahan yang berarti pada hidup Naisha.


"Alhamdulilah.. Pak Marwan, semuanya diluar dari dugaan kita ya. Padahal kita menduga butuh waktu berbulan - bulan atau bahkan bertahun - tahun untuk membuat Naisha berubah, tapi ternyata.. Aamir mampu merubah Naisha lebih cepat dari pada Ghufron malahan. Ini sesuatu yang harus kita rayakan pak Marwan." kata Pak Daud sesaat setelah mereka selesai sholat maghrib berjama'ah.


"Ya pak Daud, Alhamdulilah.. Saya juga berterimakasih juga sama pak Daud. Karena ini semua berkat saran pak Daud juga. Kalau Pak Daud tidak menyarankan hal ini dari awal, belum tentu anak saya itu bisa berubah seperti saat ini." kata Pak Marwan.


"Jadi sebagai rasa terimakasih, saya akan mengundang Pak Daud sekeluarga untuk makan malam dirumah saya besok malam. Ajak juga Anak Pak Daud dan juga ustad Ghufron, suaminya." ujar pak Marwan yang langsung disambut baik oleh Pak Daud.


Sedangkan dirumah, Aamir baru pulang kuliah karena memang Aamir mengambil jalur khusus yang lebih cepat untuk kelulusan. Makanya kuliah terkadang sampai malam dan hampir setiap hari, ia juga disibukkan dengan banyak tugas yang harus ia selesaikan.


Aamir masuk kedalam kamar dengan langkah gontai, terlihat sekali ia agak kelelahan dan juga kurang tidur beberapa hari belakangan ini. Saat Aamir masuk kedalam kamar, ia mendapati Naisha yang juga ada didalam kamar dan tengah menghadap laptop.


"Iya, Nih. Tapi, aku lagi buntu.. Mau bikin proposal tapi gak tahu mau mulai dari mana." keluh Naisha dengan memijit keningnya yang mulai berdenyut.


"Memang proposal tentang apa, coba aku lihat." kata Aamir dan Naisha langsung memperlihatkan judul proposal yang akan diajukan nya.

__ADS_1


"Ooh.. kebetulan aku punya beberapa buku referensi untuk judul kamu ini, Naisha. Nantik aku ambilkan di kamar mesjid ya karena buku - buku aku masih ada disana dan sebagian juga ada dirumah ibuk. Dan.. mengenai proposal kamu ini, Inshaallah akan aku bantu kamu ya jadi kamu jangan merasa stress atau gimana - gimanaa lagi." kata Aamir yang langsung saja membuat Naisha tersenyum kegirangan.


"Alhamdulilah.. Makasih banyak Aamir.. Wah.. Aku beruntung sekali punya suami pintar seperti kamu, Aamir." ucap Naisha dengan tersenyum lepas.


Yah.. Hampir semua tugas Naisha dikampus, Aamir selalu ikut serta untuk membantunya bahkan bisa dibilang Aamir lah yang lebih banyak mengerjakannya karena Naisha memang tidak begitu paham dengan itu semua. Jika dihadapkan dengan tugas - tugas kuliah, Naisha akan langsung panik atau bahkan stress dan pusing. Karena itulah, Aamir yang terlalu sayang dengan Naisha tidak ingin melihat istrinya stres dan pusing. Maka dari itulah, ia rela menyisihkan waktunya yang padahal sudah sangat padat untuk membantu tugas - tugasnya Naisha sampai selesai.


Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, dan Aamir baru saja menyelesaikan Bab I proposalnya Naisha. Sedangkan Naisha, sudah sekitar setengah jam yang lalu tetidur pulas diatas tempat tidurnya. Aamir tidak tega membangunkan Naisha, yang akhirnya membiarkan istrinya itu tidur dan jadinya dirinya lah yang menyelesaikan sendiri tugas Naisha tersebut.


Setelah keluar dari kamar mandi dan berwudhu, Aamir kemudian membaringkan tubuhnya disamping Naisha. Sebelum ia tidur, Dipandanginya wajah cantik Naisha yang tetap terlihat sangat cantik saat tidur. Seuntai senyuman manis lalu tergambar diparasnya Aamir, kebahagiannya sudah mulai ia raih, bersama Naisha.. Yang akan ia jadikan bidadarinya didunia ini. Ya.. Aamir akan terus bertekad untuk memberikan yang terbaik untuk Naisha, istrinya. Kemudian, Aamir mengecup kening Naisha dengan perlahan - lahan, dan ketika itu pula ia bisikkan doa - doa dengan khidmat di ubun - ujungnya Naisha...


...🌺🌺🌺🌺...


BERSAMBUNG...


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2