
Setelah 1 jam setengah perjalanan, akhirnya sampailah mereka di sebuah perkampungan tempat orang tua Aamir tinggal. Awalnya Naisha agak ragu untuk masuk kedalam, takut mobilnya tidak muat. Tapi, Aamir mengatakan jalan tersebut bisa juga dilalui oleh mobil akhirnya Naisha pun melewatinya.
"Nah, disimpang itu belok kiri Sha. Rumah ibuk aku itu yang sebelah kanan.." tunjuk Aamir kesebuah rumah kayu yang jauh dari kata mewah. Naisha diam seribu bahasa melihat kediaman mertuanya itu.
Rumah kayu itu berukuran kecil dengan cat berwarna hijau yang sudah mulai pudar. Halamannya tidak begitu luas namun terlihat rapi dan bersih.
Setelah Naisha memarkirkan mobilnya didepan rumah tersebut, Aamir langsung bergegas turun dengan sebelumnya mengajak Naisha juga untuk turun. Namun, Naisha tidak serta merta mengikuti Aamir turun. Ia masih tetap didalam mobil dengan rasa canggung yang mulai menyelimuti hatinya. Sedangkan didepan pintu sana, sudah berdiri seorang wanita paruh baya yang bergamis dan berkerudung panjang serta seorang wanita muda yang lumayan manis. Naisha mengenali dua orang wanita itu, siapa lagi kalau bukan ibu dan adiknya Aamir.
Aamir tampak menyalami dan mencium tangan ibu nya dengan khidmat, si Ibu pun mengusap - usap lembut punggung Aamir yang membungkuk dihadapannya. Setelah itu, Aamir beralih ke sebelahnya. Si Adik Aamir yang bernama Syifa itu langsung saja menyalami dan mencium tangan abangnya.
"Kamu gak datang sendirian kan, Aamir?" tanya Ibunya seraya melihat kearah mobil.
"Tidak, Buk. Aamir datang bersama Naisha, istri Aamir." jawab Aamir dengan wajah sumringahnya.
"Oh ya? Dimana Naisha? Kenapa tidak turun?" tanya Ibu Aamir yang masih celingak celinguk melihat kekaca mobil yang berwarna gelap itu.
"Masih didalam, Aamir panggilkan Naisha sebentar ya buk." kata Aamir dan kemudian berjalan kembali ke mobil.
"Sha.. Kok gak turun?" tanya Aamir sembari tersenyum dengan manis.
"Eh, Iya. Ini juga mau turun, Aamir." jawab Naisha yang agak gelagapan. Dan setelah itu, wanita cantik itupun turun dari mobil.
__ADS_1
Naisha berjalan perlahan - lahan menuju kedepan pintu rumahnya Aamir. Disana, dua orang wanita yang ada di hadapan Naisha itu sudah menyambutnya dengan tersenyum lebar.
"Nak Naisha, MasyaAllah.. Kamu cantik sekali Nak." puji Ibu Aamir seraya menyodorkan tangannya kearah Naisha. Dengan sedikit ragu - ragu, Naisha langsung menyambut uluran tangannya lalu menciumnya seperti yang dilakukan oleh Aamir tadi.
"Kak Naisha, kenalkan aku Syifa kak. Senang bisa bertemu dengan kakak." kata Syifa dan kemudian menyalami dan mencium tangan Naisha dengan hangat.
"Eh, Iya.. Buk.. Syifa.." ujar Naisha yang entah kenapa ia seakan kehabisan kata - kata dan juga seakan mati gaya. Ia tidak tahu harus berbuat apa.
"Silahkan masuk Naisha ke gubuk kami ini," kata Ibu Aamir dengan menggandeng tangan Naisha dan membawanya masuk kedalam. Setelah berada didalam, Ibu Aamir mengantarkan Naisha ke sebuah kursi kayu dan Naisha pun duduk disana.
"Nak Naisha mau makan apa? Minum apa? Biar ibu dan Syifa siapkan. Tapi, ya.. Makanan yang ada cuman sederhana saja Naisha, ibuk gak masak bermacam - macam makanan. Cuman ada ketupat dan gulainya saja." kata Ibu Aamir lagi dengan tersenyum simpul.
"Ee.. Ngak usah repot - repot buk, Naisha sudah makan kok. " ucap Naisha menolaknya dengan halus. Kendatipun demikian, Ibu Aamir tetap membawa makanan, minuman dan kue keruang tamu kecil tersebut. Mereka melayani Naisha dengan sangat baik sehingga membuat Naisha merasa segan sendiri. Ia dilayani bak seorang putri raja yang kebetulan datang berkunjung kerumah mereka. Pembawaan ibu dan Adik Aamir yang bersahaja dan bersahabat itu, membuat hati Naisha tersentuh juga. Naisha merasa sangat dihargai dan disayangi oleh dua wanita tersebut. Padahal mereka baru hari ini bertegur sapa dan saling mengobrol.
"Alhamdulilah, Akhirnya nak Naisha sampai juga di gubuk ibuk ini. Ibuk minta Maaf ya jika keadaan rumah ibuk ini membuat Naisha gak nyaman, maklumlah Naisha bangunan rumah ibuk ini memang sudah tua dan reyot," kata Ibu Aamir dengan nada merendah.
"Ngak apa buk, Naisha gak pernah mempermasalahkan hal itu kok. Iya kan Naisha?" ujar Aamir seraya memandang Naisha dengan tatapan teduhnya. Naisha hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum tipis.
Jika diperturutkan egonya saat ini, Pasti Naisha tidak akan betah berlama - lama dirumah keluarga Aamir yang jauh dari pikirannya. Ya.. memikirkan untuk masuk dan berada didalam gubuk reyot ini saja tidak ada terlintas dipikirannya, tapi ternyata ia malah masuk dan berada didalam sini bersama Aamir dan juga dua orang wanita yang sangat ramah itu.
Sifat sombong dan angkuh sebenarnya tidak lepas dari diri Naisha yang memang biasa hidup mewah sejak kecil sampai detik ini. Dan seharusnya Naisha tidak menginjakkan dirinya dirumah tersebut apalagi sampai berjam - jam ia disana. Namun, lagi - lagi.. Naisha merasa ada perubahan sedikit demi sedikit pada dirinya. Sifat angkuh dan sombongnya itu perlahan - lahan mulai luntur dari dirinya. Entah karena bawaan ibu dan adik Aamir yang sangat welcome kepadanya, atau entah karena yang lain. Naisha sendiri pun tidak tahu.
__ADS_1
"Oya, Kak Naisha.. Alhamdulilah, MasyaAllah.. Baju gamis yang aku pilihkan untuk kakak ternyata benar - benar cocok dengan kakak. Kakak kelihatan sangat cantik, anggun dan mempesona. Pantasan dari tadi bang Aamir gak berhenti memandangi kakak." puji Syifa sembari menggoda Aamir. Dan seketika itu pula, wajah Amair langsung bersemu merah karena godaan dari adiknya itu.
"Kamu ini Syifa.." kata Aamir memandang protes ke adiknya itu, akan tetapi Syifa hanya tertawa kecil menanggapi protes abangnya itu.
Beberapa saat kemudian, Aamir izin keluar sebentar karena ada temannya yang datang bertamu tapi tidak mau masuk kedalam. Aamir melayani temannya itu didepan teras rumahnya, kebetulan ada dua kursi dan mereka duduk disana. Sedangkan Ibu Aamir pergi kedapur untuk membuatkan minuman. Jadi, tinggalkan NaisHa berdua saja dengan Syifa diruang tamu tersebut.
Ketika itu, Syifa tiba - tiba saja mendekatkan posisi duduknya ke tempat Naisha. Dengan wajah yang serius ia memandang Naisha.
"Kak Naisha.. Bang Aamir dan kak Naisha sama - sama beruntungnya lah.." kata Syifa yang membuat kening Naisha langsung berkerut bingung.
"Maksdunya Apa?" tanya Naisha.
"Maksud Syifa, kak Naisha beruntung bisa bersuamikan bang Aamir yang sholeh, baik hati, dan penyayang sama keluarganya. Pasti bang Aamir juga sayang banget sama kak Naisha. Begitupun bang Aamir juga beruntung banget bisa mendapatkan kak Naisha. Sudah cantik, baik dan shaliha lagi. Bang Aamir selalu cerita tentang kebaikan kakak dan yang terpenting juga bang Aamir sangat bahagia bisa menikah dengan kak Naisha. Semoga saja pernikahan kakak dengan bang Aamir langgeng ya, Syifa doakan yang terbaik untuk kakak dan bang Aamir.." ujar Syifa yang diakhiri dengan tersenyum lebar.
Naisha hanya bisa menelan ludahnya mendengar penuturan dari Syifa tersebut. Karena dari perkataan Syifa itu, sudah jelas sekali bagaimana Aamir tidak pernah mengatakan hal - hal buruk tentang dirinya terhadap ibu dan adiknya itu. Aamir menganggapnya wanita yang baik dan shaliha, padahal.. Naisha masih jauh sekali dari kata itu. Apakah ini berarti.. Memang sudah seharusnya Naisha berubah seperti harapan Abi dan juga.. Suaminya, Aamir??
...💕💕💕💕...
BERSAMBUNG..
.
__ADS_1
.
.