
"Sha.. Sayang... bangun yuk.. Sholat subuh dulu.." tepat saat adzan subuh berkumandang Aamir membangunkan Naisha yang masih tertidur dengan pulas. Tapi, Naisha tak bergeming. Ia hanya bergumam sedikit tanpa membuka matanya.
"Sha.. Ayo bangun.." ujar Aamir seraya menyentuh lengan Naisha yang ternyata terasa panas.
"Ya, Allah.. Badan kamu panas Sha.." kata Aamir dan kini tangannya berpindah ke dahinya.
"Kamu demam nih," lanjut Aamir lagi dengan wajah yang cemas. Naisha langsung membuka mata perlahan - lahan.
"Ya.. Bang, sebentar lagi lah sholatnya ya.. Badan aku lemas sekali nih rasanya.." kata Naisha dengan lirih.
"Iya, gak apa - apa... Aku ambilkan obat untuk kamu dulu ya.." kata Aamir dan kemudian turun kedapur mengambil obat untuk Naisha.
Selang beberapa menit kemudian, Aamir datang kembali dengan membawa air putih dan juga obat penurun panas untuk Naisha.
"Sha.. Yuk.. bangun sebentar, minum obat penurun panas ini dulu." kata Aamir dengan membangunkan Naisha yang masih juga belum bangun.
"Iya.. Tapi, kepala aku sakit juga ni bang.." kata Naisha sembari memegang keningnya.
"Iya, minum obat ini dulu ya. Obatnya sekalian untuk nyeri kepala juga nih." kata Aamir seraya menyodorkan obat tersebut ke Naisha. Dan Naisha pun menerima obat tersebut dan langsung meminumnya.
"Ya sudah, kamu istirahat lah lagi sayang ya." kata Aamir dan kemudian kembali membaringkan badan Naisha keatas kasur.
"Tapi, kepala aku sakit banget nih, bang.." kata Naisha dengan meletakkan kepalanya ditangan Aamir.
"Sini aku pijitin kepala kamu ya.." kata Aamir dan setelah itu memijit - mijit lembut keningnya Naisha.
Setelah itu, Naisha kembali tertidur. Aamir letakkan kepala Naisha keatas tempat tidur dengan pelan - pelan agar tidak membuat Naisha terbangun. Saat sudah memastikan Naisha tidur dengan lelap, Aamir kemudian keluar dari kamar dan menuju kebawah.
"Aamir... Mana Naisha?" tanya Pak Marwan setelah sampai dibawah Aamir langsung bertemu dengan pak Marwan yang akan keluar untuk berolah raga pagi.
"Naisha masih dikamarnya Abi, dia lagi demam." kata Aamir.
"Demam? Kenapa tiba - tiba mendadak demam? Padahal tadi malam kan baik - baik saja," tanya Pak Marwan dengan heran.
"Ya yang namanya sakit gak dapat juga di duga - duga datangnya, Pak." jawab Aamir seraya tersenyum tipis.
"Hhhmmm...Ya sudah, kamu jaga Naisha baik - baik hari ini ya Aamir. Kalau perlu dibawa klinik, bawa saja ke klinik kalau demamya gak kurang." kata Pak Marwan yang langsung diiyakan oleh Aamir.
Beberapa saat kemudian, setelah Aamir selesai sarapan pagi kemudian dia kembali ke kamar Naisha dengan membawa sarapan pagi untuk istrinya itu.
"Sha.. Sudah Bangun?" tanya Aamir setelah masuk kamar ia melihat Naisha sudah duduk saja ditepi ranjang dengan wajah yang kusut.
"Iya, sudah. Cuman kepala aku masih terasa berat banget ni sayang.." keluh Naisha dengan memegang tengkuknya.
__ADS_1
"Mau aku pijitin lagi? Tapi, sebelum itu.. Kamu sarapan dulu ya, biar aku suapin." kata Aamir lalu menyodorkan sendok berisi nasi goreng kearah mulut Naisha.
"Tapi, aku belum lapar.." kata Naisha.
"Makan sikit saja sayang.. Setelah itu aku pijitkan lagu kepala kamu ya.." bujuk Aamir dan akhirnya Naisha mau membuka mulutnya.
"Bagaimana, badan kamu masih panas?" tanya Aamir dan kemudian meletakkan tangan satunya lagi ke dahi Naisha.
"Oh.. Masih panas, Sha." kata Aamir.
"Setelah ini aku kompres kamu ya, biar cepat turun panasnya. Atau kalau gak kita ke klinik saja? Tadi Abi juga menyarankan untuk ke klinik aja kalau panasnya gak turun - turun." jelas Aamir.
"Gak usah ke klinik bang, aku istirahat dirumah saja." tolak Naisha.
"Oh yasudah.. Habiskan lah dulu makannya." kata Aamir dengan penuh perhatian.
"Aamir.. Tadi Abi tanyain aku gak, kenapa gak turun kebawah?" kata Naisha di sela - sela makannya.
"Iya, tapi kan sudah aku bilang kalau kamu lagi demam." kata Aamir.
"Ohh.. Ya, maksud aku.. Abi gak ada bahas - bahas tentang yang tadi malam? Mana tau saja Abi menagih untuk aku menjelaskan pembicaraan kita yang belum selesai tadi malam." kata Naisha.
"Abi gak ada tanya itu, Sha. Karena mungkin dia tahu kamu lagi sakit." jelas Aamir.
"Ooh ya sudah, aku pun juga malas menjelaskan ke Abi dan Umi." celetuk Naisha dengan tertawa kecil
"Bukannya gak mau, tapi.. Aku lagi malas saja berdebat dengan Abi, Sayang.." kata Naisha.
"Iya, aku tahu. Tapi.. Mau tidak mau kamu harus menjelaskan juga ke Abi sayang karena Abi juga berhak tahu, dia orang tua kamu.." kata Aamir dengan memberikan nasihat.
"Iya.. Iya deh.. Aku beritahu secepatnya, tapi.. Gak sekarang lah ya sayang, kalau kamu jumpa Abi tolong bilangin satu harian ini aku dikamar aja, istirahat.. Kalau dah agak mendingan nantik baru aku kebawah." ujar Naisha.
"Iya, sayang. Kamu istirahtlah ya.. Semoga nantinya saat kamu bangun keadaan kamu sudah pulih kembali." kata Aamir yang langsung diaminkan oleh Naisha.
Setelah Naisha tidur, Aamirpun keluar. Akan tetapi, setelah Aamir keluar dari kamar, Naisha malah membuka matanya. Ternyata ia tidak benaran tidur. Ada sesuatu hal yang tengah dipikirkan oleh Naisha. Sesuatu hal itu yang membuat dirinya sangat merasa dilema..
...π₯π₯π₯π₯...
"Aamir.. Bagaimana keadaan Naisha?" setelah selsai jogging, Abi Naisha kembali kerumah dan bertemu dengan Aamir diteras rumahnya.
"Badannya masih panas Pak, Sekarang ini masih istirahat saja didalam kamarnya." jelas Aamir.
"Oohh.. Kamu bawak dia ke klinik saja lah Aamir, jangan dibiarkan sakit lama - lama dirumah, kasihan juga Naisha nya.." saran Pak Marwan.
__ADS_1
"Iya, Pak. Setelah ini, Aamir akan ajak Naisha berobat." kata Aamir.
"Oya, Pak.. Mau sampaikan pesan Naisha sekalian, katanya mungkin dia belum bisa menjelaskan perihal yang tadi malam ke Abi maupun Umi. Tapi, nantik kalau sudah agak mendingan, barulah dia bisa cerita.." kata Aamir.
"Tapi, dengan kamu dia sudah cerita kan? Kalau sudah, kamu saja yang ceritakan ke kami Aamir.." pinta Pak Marwan yang membuat Aamir langsung terdiam.
"Kalau iya, ayok sekarang kita kedalam. Abu juga sudah penasaran sekali apa yang sebenarnya terjadi." kata Pak Marwan dan kemudian merangkul bahu Aamir menuju ke dalam rumahnya. Aamir akhirnya pasrah dan mengikuti langkah kaki mertuanya ke dalam sana.
Setelah didalam, Pak Marwan memanggIL Umi Sofia yang kebetulan lagi ada di dapur, ia panggil agar segera bergabung dengan mereka diruang tengah.
"Silahkan Aamir.. Kamu cerita, apa yang sebenarnya terjadi.." kata Pak Marwan dengan mempersilahkan Aamir untuk bercerita.
Aamir kemudian menceritakan semuanya kepada mertuanya itu atas apa yang ia dengar dari Naisha tadi malam. Pak Marwan dan Umi Sofia mendengarnya dengan seksama.
"Benar ternyata dugaan Abi, dia memang bertemu dengan laki - laki itu kan.." gerutu Abi Naisha setelah Aamir selesai bercerita.
"Ya, Allah.. Naisha, kenapa dia nekat seperti ini sih?" rintih Umi Sofia dengan wajah risaunya.
"Tapi, Abi tidak yakin laki - laki jahat itu bisa semudah itu menerima kompromian Naisha." kata Abi Naisha dengan wajah yang curiga.
"Apa Naisha tidak
ada cerita yang lain lagi?" sambung Oak Marwan lagi.
"Ngak ada, Pak. Cuman itu saja." jawab Aamir seraya menggeleng - geleng kan kepalanya.
"Apa kamu percaya 100% dengan istri kamu, Aamir?" tanya Pak Marwan ke Aamr dan melihatnya dengan tatapan agak lain. Pertanyaan
dari Pak Marwan seperti itu membuat Aamir menjadi meragukan Naisha.
"Kenapa Bapak bertanya seperti itu?" Aamir malah balik bertanya.
"Naisha itu anak saya, saya hapal betul bagaimana sikap dan sifat dia sejak dulu. Dan dari gelagat yang Abi lihat, Abi yakin ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan dari kita, tapi entah apa itu.." kata Abi Naisha dengan suara yang terdengar agak bergetar.
"Dan.. Itu tanggung jawab kamu, Aamir. Tolong kamu selidiki.." tegas Abi Naisha.
"I-Iya, Pak. Nantik akan Aamir selidiki.." jawab Aamir dengan gelagapan.
...πΏπΏπΏπΏ...
BERSAMBUNG...
.
__ADS_1
.
.