
"Aamir.. Bagaimana perkembangan Naisha? Sudah mulai ada perubahan belum?" tanya Pak Daud malam itu setelah Aamir selesai memberes - bereskan Mesjid.
Meskipun Aamir tidak lagi tinggal di Mesjid, tapi tanggung jawabnya dalam membersihkan Mesjid tetap ia lanjutkan. Padahal pak Daud dan Pak Marwan sudah mencari orang lain untuk menggantikan tugas Aamir, Namun Aamir malah tetap ingin melakukan tugasnya itu dengan sukarela. Karena hati Aamir sudah terpaut dengan Mesjid dan ia senang menghabiskan waktunya di mesjid.
"Maksud Pak Daud perubahan Naisha untuk menjadi seperti yang diinginkan oleh Pak Marwan kan?" tanya Aamir untuk lebih memastikan lagi.
"Iya, Aamir. Bapak mau dengar cerita kamu setelah seminggu menikahi anaknya Pak Marwan, si Naisha itu." kata Pak Daud dengan penasaran. Saat itu, dimesjid sudah sepi. Hanya ada beberapa anak dan remaja yang sedang tadarus disana.
"Jujur.. Sejauh ini belum ada perkembangan yang signifikan Pak. Aamir masih berusaha kmelakukan pendekatan dengan Naisha, karena..." Aamir menggantungkan kalimatnya sejenak, seakan menimbang - nimbang apakah seharusnya menceritakan hal itu ke Pak Daud atau tidak.
"Karena apa, Aamir?" tanya Pak Daud dengan penasaran.
"Ya..karena saya belum menemukan cara yang tepat saja untuk mendekatinya, saya sudah coba untuk memulai berbicara baik - baik dengan Naisha. Akan tetapi, masih belum direspon baik oleh Naisha. Ya.. Saya bisa memaklumi nya karena kami belum pernah kenal sebelumnya dan itu semua butuh proses dan waktu juga, Pak." jelas Aamir ala kadarnya. Aamir berusaha menjaga lisannya untuk tidak menceritakan kejelekan Naisha. Bagaimanapun Naisha kini adalah istrinya yang harus ia jaga dan lindungi sepenuh hatinya. Meskipun Naisha tidak pernah sekalipun menganggap Aamir sebagai Suaminya.
"Ya.. Kamu benar Aamir, semuanya butuh proses dan waktu. Yang penting kamu sudah mengusahakan yang terbaik, sama dengan apa yang telah dilakukan oleh Ghufron ke anak bapak waktu dulu. Gak ada yang instan, semua butuh proses. Yang penting kamu jangan nyerah dan tetap sabar." kata Pak Daud menimpali dan menyetujui perkataan Aamir tersebut.
Beberapa saat kemudian, Aamir izin pulang duluan kepada teman dan remaja yang masih tadarus dimesjid.
"Iyalah yang sudah nikah.. Pengantin baru, lebih betah dekat - dekat dengan istrinya seperti nya nih." ledek Furqon, teman dekat Aamir yang kebetulan sebaya dengan dirinya dan tinggal di lingkungan komplek perumahan itu juga. Aamir hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan Furqon tersebut.
Aamir pulang kerumah dengan berjalan kaki, walaupun jarak Mesjid kerumah Naisha lumayan jauh tapi Aamir lebih senang berjalan kaki. Padahal tadi ibu mertua nya sudah menawarkan Aamir untuk membawa motor yang ada dirumahnya namun Aamir menolaknya dengan halus.
__ADS_1
Saat di pertengahan jalan, tiba - tiba saja Aamir dikagetkan dengan bunyi klakson mobil yang kuat dan panjang dari belakangnya. Spontan saja Aamir langsung menoleh kebelakang dan mendapati sebuah mobil yang tidak asing baginya. Tentu saja tidak asing, mobil itu adalah mobil temannya Naisha, yang pernah beberapa kali berhenti didepan Mesjid beberapa hari yang lalu.
Mobil itu berhenti dipinggir jalan, namun Aamir tidak menghiraukannya. Ia tetap berjalan menjauh dari sana. Namun, langkah kaki Aamir berhenti ketika mendengar sebuah suara memanggil namanya.
"Hei, Aamir...!!" ucapnya dengan suara yang lantang. Dan suara itu.. Aamir langsung membalikkan badannya dan seketika itu pula ia melihat Naisha yang sudah berdiri disana dengan berkecak pinggang.
"Naisha.." lirih Aamir. Naisha kemudian berjalan mendekati Aamir dan diikuti juga oleh kedua temannya. Naisha terlihat sedang menyunggingkan senyum sinis nya kearah Aamir.
"Wahh.. Ada suaminya Naisha Nih, kok jalan kaki sih?" tanya Tari setengah meledek.
"Iya Ya, padahal kan punya istri dan mertua kaya raya tapi aku lihat penampilannya biasa saja, aneh banget!" Mely ikut menimpali dengan lirikan matanya memandang Aamir dari ujung kepala ke ujung kaki.
"Iya, lagi pula kamu sih Aamir gak tahu diri amat. Kepedean kali, kamu pikir hebat ya bisa menikah dengan Naisha? Iihh.. Ngaca donk Aamir, atau gak punya kaca? Nih aku pinjamin," kata Mely yang langsung mengeluarkan kaca miliknya dan kemudian mengarahkan kaca tersebut ketempat Aamir. Naisha dan Tari langsung tertawa lepas menanggapi ucapan Mely tersebut. Sedangkan Aamir lebih memilih diam dan kemudian memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya menuju kerumah. Ia berjalan dengan langkah yang cepat, sedikitpun tidak mempedulikan Naisha yang kembali memanggilnya.
"Hei, Aamir. Gak sopan kamu ya, main pergi saja. Aku belum selesai ngomong, dasar brengsek!!" teriak Naisha tatkala melihat Aamir yang pergi meninggalkan mereka bertiga tanpa berkata apapun. Naisha merasa dicuekin, amarah pun mulai memuncak diubun- ubunnya.
"Belagu amat tu anak, dia pikir keren apa bersikap seperti itu." ucap Tari yang tidak kalah geramnya.
"Awas saja... Setelah ini, Aku akan bukan perhitungan dengan kamu, Aamir." ketus Naisha dan kemudian mereka bertigapun masuk kembali kedalam mobil.
Aamir sampai duluan dirumah, ia pun langsung saja masuk dan menuju ke kamarnya Naisha dilantai atas. Saat diruang tengah tadi, ia sempat berpapasan dengan Umi Sofia yang bertanya tentang keberadaan Naisha. Dan Aamir jawab apa adanya, bahwa Naisha bersama dengan teman - temannya itu. Umi Sofia hanya bisa mengelus dada dan berharap agar Aamir bisa menasihati Naisha atau bahkan melarang dia untuk bertemu dan berkumpul dengan teman - temannya itu yang menurit Sofia merekalah yang memberi pengaruh buruk terhadap Naisha.
__ADS_1
"InshaAllah, Umi. Nantik Aamir akan bicarakan pelan - pelan dengan Naisha. Semoga saja Naisha bisa menerima nasihat yang akan Aamir berikan nantinya ya umi." ucap Aamir saat itu.
Setelah berada didalam kamar, Aamir masuk kekamar mandi dan kemudian berwudhu. Ia bermaksud ingin melaksanakan sholat witir sejenak, menjelang menunggu kedatangan Naisha.
Beberapa detik kemudian, Aamir pun sholat dengan khusuk. Namun, baru di rakaat pertama.. Tiba - tiba saja Naisha masuk seraya menendang pintu kamarnya dengan kuat.
"AAMIIR..." teriak Naisha yang seperti orang kesetanan. Amarah Naisha yang sudah membludak itu kepada Aamir, seakan tidak tertahankan lagi. Sampai - sampai, Aamir yang tengah berdiri sholat itu langsung saja ditolaknya dari belakang dengan sekuat tenaganya.
Lantas saja, Aamir langsung terjatuh dan tersungkur, Sholatnya pun menjadi batal.
"Astagfirullah, Naisha..." ucap Aamir yang tidak menyangka Naisha tega melakukan ini kepadanya, sedangkan Naisha memandang Aamir dengan wajah yang tidak bersalah dan berdosa sama sekali. Malahan, ia merasa puas sudah melakukan hal tersebut terhadap Aamir.
...💟💟💟💟...
BERSAMBUNG...
"MOHON DUKUNGANNYA DENGAN BERI LIKE DAN KOMENTARNYA YA, TERIMAKASIH SUDAH MAMPIR.."
.
.
__ADS_1