Jalan Menuju CahayaMu

Jalan Menuju CahayaMu
BAB 45 (KENAK IMBASNYA)


__ADS_3

"Alhamdulillah.. Acara pagi ini berjalan dengan lancar. Saya ucapkan Terimakasih atas kerja sama teman - teman semua ya, semoga Allah membalas kebaikan kita dengan memberikan pahala disisiNya." tutur Aamir sesaat setelah acara selesai dan ia mengumpulkan panitia pelaksana sekaligus aktivis dakwah yang aktif mengikuti kajian dimesjid Takwa tersebut.


"Iya, sama - sama Aamir." ujar Rohan dan kemudian disambut juga dengan jawaban dari teman - teman yang lainnya.


Setelah semuanya bubar dan pulang kerumah masing - masing, maka tinggalah Amir, Rohan dan juga Farel yang masih berada didalam mesjid tersebut. Mereka tampak berbincang - bincang santai sejenak, namun Farel pamit duluan kekamar karena ada telpon dari orang tuanya. Dan tinggallah Rohan dan Aamir berdua saja didalam mesjid.


"Aamir..." panggil Rohan dengan wajahnya yang tiba - tiba berubah serius.


"Ya, Rohan.." sahut Aamir yang kemudian menatap Rohan dengan tanda tanya.


"Selagi kita tinggal berdua, aku mau cerita sedikit sama kamu ni, Aamir." kata Rohan dengan setengah berbisik dan matanya sempat melirik kearah kamar Farel untuk memastikan laki - laki itu tidak keluar dari kamarnya.


"Ya, Rohan.. silahkan, mau cerita apa?" tanya Aamir dengan mempersilahkan Rohan.


"Begini Aamir, aku sebelumnya ingin meminta pendapat sama kamu tentang.... Husna." kata Rohan dengan sedikit salah tingkah saat ia menyebut nama wanita itu.


"Husna? Kenapa dengan Husna?" tanya Aamir dengan ekspresi bingungnya. Rohan langsung menggaruk - garuk kepalanya saat Aamir bertanya seperti itu, padahal ia pikir Aamir langsung paham. Tapi, ternyata tidak.. Aamir yang ia kenal memang laki - laki yang polos dan bersahaja.


"Aku sebenarnya ada rasa terhadap Husna, Aamir." ungkap Rohan akhirnya dengan blak - blakkan.


"MasyaAllah... serius Rohan?" tanya Aamir tanpa sengaja malah membesarkan suaranya.


"Ssttt... Pelan - pelan, Aamir. Nantik Farel dengar!" kata Rohan yang memberikan peringatan kepada Aamir.


"Oh ya, Maaf Rohan. Jadi bagaimana tadi, maksudnya. ..kamu ada rasa ke Husna, itu berarti kamu mau melamar dia? Benar begitu kan?" tanya Aamir dengan suara yang pelan.


"Aku tertarik dengan dia, tapi.. Kalau untuk melamar aku belum siap sepertinya, Aamir." jawab Rohan.


"Lah, Bagaiamana ini? Jadi, mau kamu bawa kemana perasaan suka dan tertarik itu jika tidak diaplikasi kan dengan cara menikah, Rohan? Emangnya apa yang bikin kamu belum siap? Kalau dari segi umur, sudah cukup matang untuk menikah. Kalau dari segi pekerjaan dan rezeki, Alhamdulilah kamu sudah lebih dari kata mapan. Jadi, apa yang membuat kamu ragu lagi, Rohan? " tanya Aamir dengan pandangan protesnya.


"Itu masalahnya, Aamir. Aku ini tidak percaya diri untuk mengajak Husna ke hubungan yang serius. Bagaimana jika dia menolaknya karena dia tidak suka dengan aku? Aku belum siap untuk kecewa, Aamir. Itu sana masalahnya, aku belum siap sakit hati," ungkap Rohan dengan wajah yang datar.


"Kita tidak akan pernah tahu jika belum mencobanya, Rohan. Tidak ada salahnya kamu bertanya langsung, dari pada hati kamu menduga - duga sesuatu yang kamu sendiri tidak tahu jawabannya. Dan seandainya pun ditolak, kamu harus siapkan mental dan hati kamu untuk itu. Yakini saja, Allah pasti sedang menyiapkan jodoh yang terbaik untuk kamu." kata Aamir berpendapat.


"Ya aku tahu, Aamir. Makanya aku cerita sama kamu, agar kamu bisa membantu aku untuk mengutarakannya." kata Rohan lagi.


"Kenapa harus aku, Rohan? Kenapa bukan kamu sendiri saja yang mengutarakan langsung ke Husna dan juga orang tuanya?" tanya Aamir dengan heran.

__ADS_1


"Karena aku tau kamu itu lebih pandai berkata - kata dari pada aku, Aamir. Aku ini apalah.. Ngomong kadang masih berklepotan. Gimana bisa diterima, yang ada orang tua Husna langsung ilfil melihat aku berbicara." kata Rohan dengan menghela nafas pendek.


"Ya sudah, oke... Aku akan bantu kamu, tapi.. kapan kamu main ke tempat Husna?" tanya Aamir lagi.


"Nantik aku kabari kamu lagi ya!" kata Rohan yang langsung di iyakan oleh Aamir.


Setelah itu, pembicaraan mereka terhenti saat Farel datang kembali dan bergabung bersama mereka.


Tidak beberapa lama kemudian, Aamir pamit untuk pulang duluan. Karena Aamir sudah janji akan mengantarkan Naisha ke kampusnya siang ini.


"Ya... mentang - mentang sudah ada istrinya yang menunggu dirumah, jadi gak mau berlama - lama


ngumpul bersama kita disini ya, Farel." ledek Rohan ke Aamir yang akan pulang.


"Ya tentu lah, makanya.. Kamu cepat beristri Rohan, biar kamu juga merasakan bagaimana rindunya jika berlama - lama diluar tanpa ada istri yang mendampingi," ujar Aamir yang membalas ledekan dari Rohan tersebut. Rohan hanya tertawa terkekeh - kekeh mendengar ledekan dari Aamir tersebut.


Setelah itu, dengan mengendarai sepeda motornya, Aamir pun kembali pulang menuju kerumah mertuanya.


Sesampainya dirumah, Aamir mendapati Naisha yang sudah stay menunggu didepan rumahnya dengan berpakaian rapi.


"Maaf, Sayang.. Kamu sudah lama nunggunya ya?" tanya Aamir merasa tidak enak sudah membuat Naisha menunggu.


"Astaghfirullahalazim, maaf Naisha... Aku benar - benar mintak maaf, sekarang sudah jam berapa? Ini sepertinya jam tangan aku baterainya habis, pantasan sejak tadi kenapa waktu teras lambat." kata Aamir sembari memerikasa jam tangannya yang masih menunjukkan pukul 10 pagi.


"Terus HP kamu kenapa gak aktif sih?' tanya Naisha dengan kesal.


" Iya, Maaf.. Naisha, HP aku ini memang sudah bermasalah baterainya, jadi gak bisa tahan lama. Makanya cepat mati.." jawab Aamir apa adanya.


"Iiihhhh.. HP sudah jadul gitu kenapa gak diganti aja sih, malah dipertahankan, gak ada gunanya!!" kata Naisha yang seakan tak sadar dengan apa yang ia ucapkan karena sudah saking kesalnya.


"Iya, nantik kalau ada rezeki lebih akan aku ganti." tapi Amir tetap menjawab nya dengan tenang dan sabar.


"Ya sudahlah.. Antar aku sekarang juga!!" kata Naisha dan kemudian Aamir buru - buru memutarkan sepeda motornya.


Beberapa saat kemudian, merekapun sampai didepan kampusnya Naisha.


"Sha, Aku mintak maaf ya sekali lagi.." ujar Aamir setelah Naisha turun dari motor dan menyerahkan helm ke Aamir. Tapi, Naisha tak menjawabnya, ia tampak merengut dan cemberut lalu kemudian bergegas masuk kedalam kampusnya meninggalkan Aamir yang masih diam mematung ditempatnya.

__ADS_1


Setelah Naisha masuk dan tidak tampak lagi dari pandangan Aamir, barulah Aamir pergi dari sana.


Sedangkan didalam kampus, Naisha berlari kecil menuju ke dalam kelasnya karena ia sudah sangat telat sekali. Ujian pasti sedang berlangsung.


"Ini gara - gara Aamir..!!" ketus Naisha yang masih menggerutu didalam hatinya.


, 0


Saat di Koridor menuju ke kelas, Naisha berpapasan dengan teman satu kelasnya yang bernama Risa.


"Hai, Nai. Mau kemana buru - buru?" tanya Risa dengan bingung.


"Hai, Risa... Kamu sudah selesai ujiannya ya?" tanya Naisha dengan heran.


"Ujian? Kamu gak tau ya kalau ujian kita ditunda." kata Risa.


"Apaa??" teriak Naisha dengan ekspresi kagetnya.


"Siapa bilang ditunda?"


"Kamu gak baca WA group nih makanya ketinggalan info." kata Risa. Dan Naisha langsung nbergegas memerikasa pesan group di handphonenya.


"Ya Allah, aduuhh... aku terlewat..jadi gak baca pengumuman yang ini." keluh Naisha dengan menghembuskan nafas panjang.


"Hhmmm.. Pasti kamu buru - buru karena kamu pikir sudah telat kan Nai?" kata Risa. Dan Naisha hanya menganggukkan kepalanya dengan lemah.


Meskipun Naisha agak lega setelah mengetahui ujiannya ditunda, tapi.. Tiba - tiba ia pun teringat bahwa ia sempat mengerutu kesal dan marah - marah ke Aamir tadi.


"Aduuh.... Kasihan Aamir, gara - gara kesalahan aku malah dia kenak imbasnya." desis Naisha didalam hatinya.


Beberapa saat kemudian, Naisha pun menuju ke kantin bersama Risa dan tidak lupa pula dia langsung menelpon Aamir dan meminta maaf kepada suaminya itu..


...🍒🍒🍒🍒...


BERSAMBUNG...


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2