Jalan Menuju CahayaMu

Jalan Menuju CahayaMu
BAB 9 (PENOLAKAN NAISHA)


__ADS_3

"Abi, Abi jangan mengada - ngada ya! Jangan bikin Naisha tambah bete dan kesal, datang - datang kekamar Naisha malah menyuruh Naisha yang tidak - tidak. Apa tadi itu? Menikah? Aduuhh.. PLis deh Bi, jangan ngawur." kata Naisha dengan sangat ekspresif.


"Abi tidak mengada - ngada, Naisha. Abi serius." ucap Abinya seraya membetulkan posisi duduknya agar lebih dekat dengan Naisha.


"Abi ingin menikahi Naisha dengan seorang laki - laki yang bisa membimbing Naisha menjadi wanita shaliha." lanjut Abinya lagi yang langsung ditanggapi dengan tawa menggelegar yang keluar dari mulutnya Naisha.


"Hahahahahahha.... Abi mau menyuruh Naisha untuk menikah?? Lelucon apa ini, Abi?" kata Naisha yang masih tertawa terbahak - bahak sembari memegang perutnya.


"Nai, ini bukan lelucon. Tapi, ini adalah cara satu - satunya untuk membuat kamu bisa berubah, Naisha. Mana tahu dengan menjodohkan kamu dengan laki - laki yang Abi maksud tadi bisa merubah akhlak kamu menjadi baik," kata Abinya lagi.


"Ngak... Ngak.... Ngak.. Naisha gak mau berubah menjadi apapun itu, Abi. Naisha ingin tetap seperti ini, inilah Naisha.. Dengan segala kelebihan yang Naisha miliki dan kekurangan yang Naisha rasa tidak begitu mengganggu." kata Naisha dengan mencibir.


"Ada baiknya kamu pikirkan dulu, Naisha. Jangan cepat sekali bilang tidaknya." kata Abinya.


"Apa yang mau dipikirkan Abi? Abi ni aneh deh, gak ada yang perlu Naisha pikirkan. Tanpa berpikir pun, tetap Naisha akan mengatakan No, Tidak. Lagi pula, Naisha kan masih kuliah. Masak disuruh nikah, iihhh..." kata Naisha setengah meledek.


"Kuliah? Sejak kapan kamu peduli dengan kuliah kamu? Sekarang Abi tanya sama kamu, kapan terakhir kali kamu mengikuti perkuliahan Di kampus? Hayo kapan?" tanya Abi Naisha.


"Ee... Itu, Hhhmmm..." Naisha tampak sedang mengingat - ingatnya.


"Gak ingat kan? Karena saking sudah lamanya kamu tidak ikut perkuliahan." sindir Abi Naisha dengan tersenyum tipis.


"Ya, memang gak ingat." sahut Naisha akhirnya.


"Jadi tidak bisa lagi kuliah kamu ini dijadikan alasan ya Naisha. Sudahlah kUliah kamu diakhir saja, Abi juga gak akan menuntut kamu lagi untuk menyelesaikan kuliah kamu. Tapi, dengan satu syarat.." Abi Naisha berhenti sejenak berucap dan memasang wajah serius.


"Syarat apa, Bi?" tanya Naisha.


"Kamu harus mau Abi nikahi dengan laki - laki pilihan Abi." tegas Abi Naisha.


"Aduuhhh... Abi, kenapa syaratnya harus itu sih??" protes Naisha. Padahal dia sudah begitu seneng dengan perkataan Abinya yang tidak menuntut Naisha lagi untuk menyelesaikan kuliahnya. Karena itulah keinginannya sejak dulu. Dia yang sudah sangat jenuh harus belajar dan belajar.

__ADS_1


"Pilihan ada ditangan kamu, Naisha. Kamu pikirkan lah dulu. Karena setiap pilihan itu ada konsekuensinya. Harus ada timbal baliknya. Gak ada yang gratis dan instan, Naisha." tegas Abi Naisha.


"Aduuuhhh... Sudahlah Abi, Naisha mau tidur dulu. Kepala Naisha sakit, karena dipaksa mikirin yang tidak - tidak." kata Naisha seraya memijit - mijit keningnya yang mulai berdenyut.


"Abi mintak kamu pikirkan dulu ya, Naisha. Karena ini penting demi kebaikan kamu," ucap Abinya lagi sembari berjalan pelan menuju kepintu.


"Ihhh.. Gak ada yang perlu Naisha pikirkan Abi. Sudahlah, Naisha ngantuk mau tidur. Abi keluar ya sekarang," kata Naisha seraya mendorong pelan tubuh Abinya hingga kedepan pintu.


"Dah.. Dah.. Bye, Abi.. Sampai nantik..." kata Naisha lalu menutup pintu kamarnya.


"Aaghhh..." jerit Naisha seraya menghembuskan nafasnya dengan kasar.


...🌼🌼🌼🌼...


Menjelang waktu Berbuka, Aamir menyibukkan diri dengan membaca dan mentadabur Al-quran. Namun, baru saja ia memulai membaca Al-Quran dibaris pertama, tiba - tiba saja pikiran Aamir membawanya mengingat tentang Naisha, wanita yang beberapa hari ini selalu dijumpainya dimesjid.


Dan baru tadi pagi wanita itu berteriak dan marah - marah tidak jelas terhadapnya.


Sebenarnya Aamirpun tahu bahwa wanita itu tidaklah paham tentang bagaimana hubungan komunikasi antara lelaki dan perempuan didalam Islam. Apalagi dia meminta Aamir untuk mengajarinya tentang Islam, tentu saja Aamir menolaknya. Tapi, Aamir tidak menolak mentah - mentah begitu saja. Namun, ia memberikan solusi yang terbaik dengan menyuruh Naisha untuk belajar dengan Husna, wanita shaliha yang memiliki kecukupan ilmu yang baik tentang islam. Dengan harapan, nantik Husnalah yang menjelaskan kepada Naisha kenapa Aamir menolak untuk mengajarinya.


Tapi, ternyata niat baik Aamir tidak disambut baik oleh Naisha. Malahan Naisha memberontak dan marah - marah kepada dirinya dan juga Husna. Aamir menjadi tidak enak ke Husna karena dia juga terkena imbas bentakan dari wanita berparas cantik itu.


"Kamu kenal dia dari mana, Aamir?" tanya Husna saat itu dengan heran. Aamir pun langsung menceritakan awal pertemuannya dengan Naisha.


"Aku malah gak yakin dia benar - benar mau belajar, aku rasa dia cuman ingin mendekati kamu aja Aamir." kata Husna berpendapat.


"Ya, apapun niat dia.. Kita doakan saja yang terbaik ya, Husna." tutur Aamir dan langsung di aminkan oleh Husna.


Beberapa saat kemudian, lamunan Aamir tentang Naisha pun buyar ketika dua orang datang masuk kemesjid dengan mengucapkan salam.


"Wa'alaikumusalam..." jawab Aamir dengan suara yang pelan.

__ADS_1


"Aamir lagi apa? Kami boleh mengganggu sebentar?" tanya Seseorang yang datang itu yang ternyata adalah pak Daud dan pak Marwan.


"Oh, tentu saja boleh pak." kata Aamir lantas berdiri dan mengalami kedua tamu yang datang itu dengan sopan.


"Ini bapak datang bersama Pak Marwan, Aamir." kata Pak Daud lalu mengenalkan Aamir dengan Pak Marwan.


"Iya, Pak. Pak Marwan apa kabar?" tanya Aamir dengan ramah.


"Alhamdulillah kabar baik, Aamir. Kamu sendiri bagaimana?" tanya Pak Marwan balik bertanya.


"Alhamdulillah, dalam keadaan baik juga." jawab Aamir seraya tersenyum lebar.


Setelah mengobrol basa - basi sejenak, kemudian Pak Daud memulai pembicaraan yang serius ke Aamir.


"Aamir, menyambung tentang yang kemarin.." kata Pak Daud seraya melihat Aamir dan Pak Marwan bergantian.


"Sengaja Bapak bawa Pak Marwan langsung bertemu dengan kamu, agar kita bisa membahas bersama - sama tentang yang kemarin itu." kata Pak Daud.


"Iya, benar apa yang dikatakan Pak Daud itu, Aamir." kata Pak Marwan ikut menimpali.


"Lebih dan kurang saya sudah tahu tentang kamu, Aamir. Pak Daud sudah banyak cerita bagaimana keseharian kamu dan lain sebagainya. Dan.. Dari sana pula, Saya memiliki keyakinan untuk menjadikan kamu menantu saja." jelas Pak Marwan, kemudian berhenti sejenak untuk menarik nafas panjang.


"Dan besar harapan saya, kamu mau menerima perjodohan yang terkesan mendadak ini." lanjutnya lagi.


"Bagaimana Aamir, apakah kamu bersedia?" todong Pak Marwan langsung dengan wajah yang penuh harap. Aamir hanya bisa terdiam dan tercengang dengan pertanyaan yang ditodongkan oleh Pak Marwan tersebut.


...🌷🌷🌷🌷...


BERSAMBUNG...


.

__ADS_1


.


__ADS_2