
Syafir singgah sebentar untuk Wudhu ditoilet Mesjid, Mengeluarkan cerek mungil dari jok Honda untuk diisi air.
Syafir meletakkan cerek mungil berisi air ditempat duduk anak, yang khusus ia pasang untuk anak Lin, karna motor itu ia beli untuk jalan- jalan dengan kedua anak yang sudah ia anggap ponakan itu.
Agar tak tumpah. Ia mengikatnya, Lalu dengan pelan dan hati- hati ia melajukan motornya menuju Pemakaman.
Syafir menompangkan motornya didepan rumah yang dekat dengan Pemakaman Umum itu. Kemudian ia membawa cerek yang berisi air itu menuju makam sang papa.
Tak lupa Syafir membaca Salam untuk Ahlal kubur.
Makam papanya Syafir. H. Azizan Ahmad Sekelilingnya dibeton, namun tengah makam, yakni tanah timbunan badan tetap dibiarkan tanah biasa. Karna menurut sang istri, asal tanah hanya akan
menyatu dengan tanah.
Kuburan nampak bersih, sepertinya mamanya masih sering mengunjungi tempat peristirahatan cinta pertama dan terakhirnya itu.
Syafir membaca Yasin dan berdoa.
" Papa... Syafir sudah menikah semalam, dengan perempuan yang ditinggal oleh calon suaminya, dimalam pernikahannya.
Entah siapa pria itu Syafir tak tahu, tapi namanya sama dengan Abang, tapi tidak mungkin Abang, karna mama tidak mengatakan apapun, dan dirumah kita tak ada acara apapun. "
Syafir kesini karna kangen papa...Restui Syafir ya pa...Syafir menikahi perempuan itu terima beres, tapi untuk mahar, Syafir tak mau punya pria itu. Syafir memberikan cincin berlian yang pernah papa berikan untuk Syafir, kebetulan pas dengan Syaffana. Makasih ya pa...Sepertinya papa sudah menyiapkan semuanya untuk Syafir sebelum pergi.
" Syafir sayang papa... " Ucapnya semakin lama semakin lirih, karna dadanya sudah sebak.
Syafir meninggalkan makam itu dengan perasaan lega. Tapi air matanya tak bisa ia bendung.
" Walau aku anak lelaki, bagiku menangis tidaklah naif,, inilah aku apa adanya, orang yang mencintaiku, akan menerimaku apa adanya. " Ucap Syafir lirih sembari menyeka air matanya.
********
Ia sampai dilokasi pestanya ketika jam tangannya menunjukkan pukul delapan pagi.
Didepan pintu kamar, Syaffa sudah menyambut Syafir dengan membenamkan diri kebalik dada Syafir.
" Kenapa lama? Aku takut! " Ucap Syaffa setelah Syafir mengurai pelukannya.
" Masak polisi takut?. Betapa lelaki yang ia cintai yang sudah berani meninggalkan , membuat gadis tegar ini jadi rapuh, Awas kau bila suatu hari kita bertemu, walaupun aku bukan lelaki yang kuat, aku pasti akan menghukummu, untuk membalaskan perbuatanmu pada Syaffa.
" Geram batin Syafir.
Ia sampai mengepalkan tangannya.
" Cepatlah mandi Syafir! Dan pakai ratumu yang pecemburu itu, sebentar lagi ia diarak dan Khatam Qu' an . " Ujar Linlin datang dari pintu yang diikuti oleh Heri mantan suaminya.
" Sejak kapan kalian seperti ini? Tak baik mantan lengket- lengket kayak gini! Kalau mau bersama nikah balik! " Ujar Syafir memelototi Lin dengan Heri.
__ADS_1
" Jangan banyak protes, kami kesini bukan untuk berkencan. Ia hanya ingin memaniku mengurus Wedding party Boss Wedding. " Ucap Lin enteng.
He...He .. " Iya, ya Lin...." Tawa Syaffa berderai.
" Tu kan istri dadakanmu bisa ketawa, karna ada aku mendampingi mantan sekaligus calon istriku disini. He...He.." Kekeh Heri cengengesan.
Eok ...Huek...." Lin melelet mantannya sekalian pura - pura muntah.
Semua yang ada dikamar pengantin itu tertawa, termasuk orang- orang yang melongok dipintu.
" Sudah kau bawakan Koperku rupanya Lin." Ucap Syafir mendapati kopernya didekat lemari.
" Kan aku asisten mu, apalagi kerjaku kalau bukan menyiapkan keperluan bossku. " Ujar Lin menggidikkan bahunya. Syafir pun tersenyum sembari membuka kopernya dan mengambil pakaiannya.
" Hey...Kamu mempelainya! jangan pakai baju yang berat dan tebal. Pilih yang ringan, biar ngak panas, karna akan dilapisi pakaian kebesaran pengantin pria! " Ujar Lin mengingatkan Syafir, karna melihat Syafir salah memilih kostum.
" Maaf aku lupa! Tolong telfon suruh cepat Fitri datang. Setelah istriku wudhu, tak mungkin aku yang akan meriasnya, bukankah ia akan khatam Qu' an dengan Guru dan Ibu- ibu Wirid? "
Tanpa ada yang menyadari, terukir senyum tipis dibibir Syaffana, katika Syafir menyebutkan kata istriku untuk dirinya.
" Ya Allah...Apa yang kurasakan? Bagaimana bisa aku begitu bahagia mendengar tuturnya saja. Apa artinya hubunganku selama lima tahun dengan bang Elang, kalau bersama Syafir aku begitu nyaman. Ih...Aku malu pada diriku sendiri, begitu mudah jatuh Cinta." Batin Syaffa.
" Aku sudah datang Bos! Masa aku berlama- lama baru datang untuk memakai istri Bos sendiri. " Fitri menyerobot masuk dan langsung menghempaskan pinggul gempalnya ditempat tidur pengantin.
NYut...
NYut...
NYut..
Ger....Semua tertawa geger melihat Ipit yang hampir terbenam didalam spring Bed. Lamunan Syaffa buyar, berganti dengan cekikikan.
" Is...Jelek sekali kwalitas Kasur KW yang kau beli Buk Polisi! " Ejek Fitri menatap sinis Syaffa yang tertawa sembari melongoknyo.
" Ayo! Bantu tarik Aku! " Geramnya menatap jengkel semua orang yang menertawakannya. Keempat orang itu menarik Ipit.
He...He....
" Sudah...Duduk dibawah! Badanmu yang kebesaran, nyalahin kasur orang! Untung tempat tidurnya dari jati yang kuat, kalau patah, bisa cidera tulang ekormu, main hempas sembarangan Ekor pusonya! " Geram Lin lin.
Ya udah, jangan berantam! Ntar ditangkap polisi kalian. Tuh diluar sudah datang Kasat Lantas dan Polres PsB. Ujar Syafir, yang membuat semua terdiam.
Syafir tersenyum puas ketika sudah berhasil membungkam mulut kedua ratu cerewet itu.
" Aku mandi dulu ya , cepat dandani istriku! " Titah Syafir kemudian.
Cie...cie...Istriku,...Apa bukan suamiku?
__ADS_1
" Ledek Fitri, kemudian menjatuhkan bokong besarnya kekarpet permadani pengalas lantai kamar Syaffana.
Syafir sudah tak menjawab lagi, karna ia sudah masuk keruang mandi.
πΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπΊπ·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·πΊ
Berbagai rangkaian acara pun dijalani dengan baik oleh kedua pengantin.
Pagi khatam alQuran sampai pukul setengah dua belas.
Siang jelang sore Mengantar dan manjawek Mempelai lelaki.
Syafir dibawa kerumah tetangga dekat, kemudian dengan iringan musik tradisional diantar kerumah mempelai wanita.
Setelah Iring- iringan pengantin bergandeng tangan diiringi dengan gendang dan Sanji, kedua mempelai duduk di pelaminan, sembari menyambut para tamu.
Ribuan tamu, dari jajaran kepolisian, hingga Bupati menghadiri pesta itu.
Hanya keluarga Syafir yang tak ada disitu. Tak ada seorangpun yang meragukan pasangan itu. Mereka semua menatap takjub pada pasangan pengantin itu, tiada yang menduga Syafir pengantin pengganti. Dari raut wajah tentu Elang Mirip dengan adiknya, hanya Syafir mulus, Elang berjambang.
Itupun ditempat kerja Syaffa tak banyak yang mengenal Elang, karna mereka pacaran jarak jauh. Paling bertemu pas pulang kekota ini, itupun enam bulan sekali.
Ada juga teman Syaffa yang bermata jeli.
" Suamimu pakai obat perontok bulu sebelum pestanya ya Fa? " Tanya Zeni.
" Kenapa? Iri ngelihat betapa beningnya lekes Aike! " Canda Syaffa menirukan bahasa banci yang pernah mereka Razia.
Zeni tak banyak komen lagi. Ia kemudian tersenyum berfhoto ria dengan kedua pengantin.
Zahran membatalkan kepulangannya pagi ini , melihat berita pernikahan adiknya dengan anak penguasa kota S.
Subuh- subuh ia menelfon Mia istrinya, sekalian menanyakan keadaan mamanya. Rencananya memang mereka akan tetap syukuran dirumah pengantin pria, tapi itu sehabis acara dirumah Syaffa. Kalau sudah batal ya apa lagi mau dibuat, orang adiknya sendiri menikahi orang lain.
Sebenarnya Zahran tak memilih siapapun
yang akan menjadi keluarga baru bagi mereka. Mau polisi, anak penguasa,
anak petani biasa, atau bahkan anak panti, yang penting orangnya baik dan dicintai oleh adiknya. Tapi Sikap Elang yang tidak Gentelmen, membuat Zahran tak habis fikir.
" Untuk apa pulang bang...Biar Mia dan anak- anak yang menyusul kesana. Pesta kita batal kok! Syaffa semalam menelfon menangis, tidak tahu kemana muka kami mau dibuat, kalau bertemu dengannya lagi. Tapi kudengar dari tetangga Syaffa Semalam ada yang menggantikan pengantin Syaffa, kata mereka
pria itu sangat tampan, bahkan lebih tampan dari Elang. " Ujar istrinya ditelfon.
" Syukurlah kalau begitu! Semoga Syaffa mendapatkan yang terbaik, Nanti kalau sudah lapang waktu, kita datang minta maaf secara pribadi. " Ucap Zahran dari sebrang telfon.
" Siapa yang tidak suka dengan gadis itu? Sudah berpangkat cantiknya level 10 pula, tapi menerima menikahi gadis dalam sekejap, itu tidaklah mudah, mungkin pria itu kerabat dekatnya Syaffana, hingga dengan mudah memutuskan untuk menikahinya. " Gumam Polisi tampan berpangkat letnan itu.
__ADS_1