Jalan Menuju Syurga Syafir

Jalan Menuju Syurga Syafir
Yes!!!


__ADS_3

Syafir diam saja setelah mengendarai motornya. Syaffa mengeratkan dekapannya dipinggang Syafir, berharap Syafir akan menggodanya. Setelah hampir setengah jam berkendara, namun suaminya tetap diam membisu. Ia mulai gelisah di cuekin


begitu.


" Parasaan saat dirumah wajahnya cerah, kok sekarang berubah mendung?


Malah bibirnya jadi bisu, padahal dada sudah sudah kumemet - mepetin, kue apem digesek- gesekin, kok dianya ngak bereaksi juga ya? Apanya yang salah? Syaffana bertanya- tanya didalam hati.


Syaffa sudah tak sabar didiamin, rasanya seluruh tubuhnya gatal, seperti anak kecil


yang baru ketumbuhan campak. Dicubitnya pinggang Syafir keras.


" Apaan sih? sakit tahu! " Keluh Syafir.


" Cihuy..." akhirnya ngomong juga. " Syaffana bersorak senang dalam hatinya.


Namun berikutnya Syafir kembali dingin.


" Sayang...Kok ngak ngomong dari tadi, salahnya apa?" Akhirnya Syaffana mempertanyakan langsung.


" Bukankah berkendara butuh konsentrasi, kenapa malah mempertanyakan lagi, bukankah disitu tahu aturan lalu lintas.Balas Syafir ketus.


cikk..Syaffa mendecak kesal. " Ngak gitu amat kali ya, konsentrasi bukan berarti ngak pake nyapa istri."


Motor melaju dengan kecepatan sedang, walau Syafir sedang marah dengan istrinya, ia tidak mau menyakiti Ibu dan calon babynya. Merasakan Syaffana berpegang kuat dipinggang nya hatinya senang, sebenarnya tidak kuat juga mencueki istri sendiri. " Ia sungguh keterlaluan, masak nanti malam ngundang kak Susi nginap lagi." Kesalnya


dalam hati mendengar tadi Syaffa ngomong ditelfon masih ngajak sepupunya itu menginap.


Sampai didepan rumah kontrakan bibi Rahmi, Syafir masih sibuk mengumpat didalam hati, wajah cemberutnya terlihat jelas Dimata Syaffana. Ia duduk dulu dibawah pohon mangga yang ada kursi santainya.


" Perbaiki dulu muka baru bertamu kerumah orang tua. " Ujar Syaffana mengingatkan Suaminya. Karna bibir Syafir masih mengerucut.


" Ngak mungkin aku pasang make Up, atau operasi memanjangkan dagu sebelum bertamu." Jawab ketus Syafir mengalihkan pandangan dari Syaffana.


" Waduhh...Salah ngomong lagi aku, lama- lama pusing juga punya suami tukang ngambek gini, aku yang hamil dia yang sensi. " Cerocos syaffa tak kuat lagi menahan hatinya yang sudah kesal dari tadi dicuekin dan dicemberutin Syafir.


Syafir menatap Syaffana dengan hati yang makin panas. " Ya tukang ngambek,


baru tahu gini sifatnya banci KW, sudah nyesal punya suami begini." Ujar Syafir membuat Syaffa tersedak angin. Sampai airmatanya dan hidungnya bersileweran.


Sontak Syafir mengusap tengkuk Syaffa, dipijitnya punggung istri dengan cemas.


" Sudah mendingan kan! " ucapnya setelah Syaffa nampak tenang, Syafir melupakan kesalnya karna itu.


Syaffa menyandarkan kepalanya didada Syafir yang sekarang bertambah lebar.


Secara fisik sejak nikah, Syafir makin macho, tubuh dan ototnya makin kekar.


Kadang Syaffa terkagum- kagum, bisa- bisanya tubuh suaminya nampak makin mantap hari kehari.


" Apa karna kak Susi mau nginap lagi ntar malam? " Syaffa mencoba menebak- nebak, rahasia dibalik dada yang sekarang terdengar gemuruhnya makin kencang sejak ia disandari.


" Masak mau tiap malam suami dicueki Karena sibuk tidur bareng dengan sesama jenis. " Jawab Syafir.

__ADS_1


" Suuut! " Jangan diulangi bicara begitu, nanti ada yang dengar dan salah sangka." Syaffa meletakkan Jari telunjuknya dimulut Syafir.


Syafir tersenyum, dimasukkannya tangannya keleher dibalik kerudung Syaffana.


" Kalau mau buka- buka jangan disini, tunggu ntar malam didalam kamar. " balas Syaffana dengan berbisik.Syaffa memijat paha Syafir, sedang pinggul makin dirapatkan keSibuyung.


" Ishhh... baru diumpan begitu kau langsung gelepar- gelepar, dasar belut sawah! mudah dipancing! " Cerca Syafir dalam hati pada sang belut yang sudah menggeliat dibawah sana.


" Ini ikan panjang ( Morea ) kayaknya sudah mintak makan ya bang..." Cicit Syaffa yang merasakan sesuatu yang mengeras dan menusuk gitar spanyolnya.


Mendengar belutnya disebut istri sebagai ikan Morea, hati Syafir makin berbunga. Tapi teringat istrinya bertamu lagi nanti malam ia terdiam.


Seperti tahu suami mau apa, Syaffa menggesekkan kepalanya kedagu Syafir." Ntar malam kita kasih makan sampai kenyang Morea, biar makin besar dan panjang. " Ujar Syaffana.


" Emang masih kurang ya Segede ini? " syaffir membalikkan tubuh Syaffa dan memangkunya, hingga kini dada Syaffa menempel didadanya. Syafir menekan hidung mancungnya kepipi syaffana yang kemerah- merahan karna malu. Untung dikawasan kos bibi Rahmi tidak ada anak kecil yang berkeliaran. Kalau orang besar mah tak apa, kan sudah boleh cari pasangan kalau ngak kuat nonton.


" Gimana tidak cemberut, istri secantik ini, malam hujan dan dingin tidur sendiri. " Ucap syafir dengan berbisik.


" Nanti malam ngak lagi dech..".


" Trus janji sama tamunya? Syafir bertanya dengan memelas.


" Diakan datang untuk mama, untuk adik kelas semalam cukup. " Ujar Syaffana.


" Teringat dulu pas disekolahan kita tak saling kenal ya, padahal satu sekolahan dan sama duduk dikelas yang sama, hanya beda ruang dan jurusan saja. " Ucap syafir mengingat- ingat.


" Untung ketemunya baru setelah aku lulus akademi dan pintar ngelus. Kalau dari dulu kan namanya kenakalan remaja.


" Kalau sekarang namanya kenakalan apa? " tanya Syafir gelisah karna syaffa mempraktekkan gaya gelus tempo dulunya.


" Kalau sekarang namanya kejahilan Umi- Umi." Jawab Syaffa masih ngelus.


" Sepertinya bibi sudah bisa menenangkan debaran hatinya. " Syaffa teringat tadi bibi Rahmi mengintip dari balik pintu, begitu melihat mereka mendekat, orang tua itu suruk kedalam. Sebab itulah Syaffana tidak protes suaminya duduk dibawah pohon dulu.


" Jadi bibi sudah tahu kita datang dan dia diam- diam didalam. Nampaknya setiap perbuatan yang sumbang itu, ngak ngenakin diri sendiri ya yang...Padahal kita datang niatnya cuma berkunjung saja. " ucap syafir lirih.


" Iya, Cuma ini yang ngak enak dilihat orang, tapi enak bagi yang buat." Ujar Syaffana masih meremas.


" Udah...Bibi mungkin sudah bisa menenangkan hatinya, ponakannya yang debaran hatinya sekarang kian kencang. " Ucap Syafir menarik lembut tangan istrinya. Jangan sampai Abang ngak nahan! " katanya lagi.


" He...He...Sory Abi...Sebenarnya umi juga sama. "


Merekapun mengatur nafas, sebelum berjalan menuju pintu rumah petak bibi Rahmi.


Syaffana yang mengucap salam, begitu mareka sudah tiba didepan pintu. Seorang laki- laki sebaya bibi Rahmi datang menyambut mereka. " Masuklah nak...bibi kalian lagi didapur. " Ucap pria itu dengan sopan. Ia sudah tahu dari istrinya kalau pasangan muda ini ponakan mereka.


Mereka berdua masuk dengan saling berpegangan tangan. Tatapan mereka menyapu seluruh isi ruangan. Hanya karpet yang terhampar, tidak ada kursi tamu, juga televisi diruangan ini, semuanya masih polos. Syafir dan Syaffa duduk bersimpuh dikarpet mengikuti lelaki yang mereka yakini suami bibi.


Melihat bibi Rahmi datang dengan membawa mempan minuman dengan tangan bergetar, pria itu langsung berdiri


dan mengambil mempan itu." Bibimu kurang sehat Syafir, jadi tubuhnya belum stabil berjalan." Jelas pria itu sembari mengatur kue dan minuman dikarpet.


" Disini belum ada apa- apanya, namanya saja baru memulai hidup." Ucap pria itu lagi tampak sungkan.

__ADS_1


Sedang bibi Rahmi duduk tertunduk disisi


suaminya.


" Bibi...Apa tidak mau melihat pasangan yang luar biasa ini, kami datang hanya untuk mengunjungi nenek bungsu sidedek. " Ucap syafir seraya mengusap perut istrinya.


Rahmi menegakkan kepalanya. Melihat Syafir dan syaffana nampak bersahabat, iapun memberanikan diri berkata." Maaf...bibi pergi tanpa pamit, bibi juga melakukan kesalahan, sudah membawa barang mamamu." Akunya menatap Syafir dengan perasaan bersalah.


" Kami kesini untuk berkunjung bi...Urusan dua kakak beradik, selesaikan


berdua, kami anak- anak hanya ingin melihat apa orang tua kami sehat- sehat saja, habis ini kami akan ketempat ayah. " Ujar Syaffana mengatasi kecanggungan bibi.


Bibi tersenyum kecut. " Ya, bibi memang orangnya kaku, tidak tahu anak- anak datang karna rindu." Timbal suami bibi.


" Kalau ngak salah bapak ini pak Ujang ya..." Guru seni kami waktu SMP." Ucap Syaffana mengingat- ingat.


" Ya...Tak salah lagi, tapi bapak tak kenal wajah kalian lagi, karna wajah kalian jauh berubah.


Detik berikutnya gelak tawa terdengar dirumah kontrakan itu.


Semua sudah diakui bibi Rahmi, ternyata ia mengambil perhiasan mama bukan untuk biaya nikah, bahkan suaminya terkejut, ia menjual perhiasan itu untuk melunasi biaya pembangunan kontrakan empat pintu ini.


Syafir bersyukur bibinya akhirnya punya tempat, aset sederhana dan suami yang setia. Mantan Guru seni mereka yang istrinya meninggal lima tahun yang lalu.


" Kenapa memilih bibi, kenapa tidak yang lebih muda agar diberi anak? " tanya mulut lancang Syafir.


" Bukankah sebentar lagi bakal ada cucu, bagi bapak ngak sanggup punya anak lagi, takut anak masih kecil kita sudah pulang, punya istri teman berbagi keluh dihari tua gini saja sudah syukur. " Jawab


paman Ujang atau pak Aswardi mantap.


Syaffana yang semula khawatir orang tua


itu akan tersinggung karna suaminya, akhirnya menarik nafas lega.


Sepanjang jalan pulang menuju rumah ayah Islah, Syafir cengar- cengir. " Tadi cemberut sejarah sumbringah. " Ujar Syaffa begitu mereka tiba dipelataran rumahnya.


" Dari dulu sampai sekarang emang bibi hobbynya yang gitu ya. " Ucapnya menahan tawa.


" Ya Banci KW! " Ujar Syaffa menunjuk hidung suaminya.


" Kalau ayah ngak ada kita cobain ranjang


pengantin kita ya sayang...Kan belum pernah jadi main disitu." Rengek Syafir.


Masak niat berkunjung, malah ngarap yang dikunjungi ngak ada. " protes Syaffa.


Ceklek...


Pintu terbuka, ayah Islah keluar dengan memakai pakaian kebesarannya.


" Hei...Ngapain bisik- bisik dipintu, ayah mau kekampung sebelah, ada pengajian takziah nanti malam, lokasinya jauh jadi perlu berangkat cepat, ayo masuk, maaf ngak bisa nemanin kalian. " Ucap sungkan ayah.


" Yes!!! " Syafir bersorak girang dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2